<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171</id><updated>2012-02-16T11:47:05.749-08:00</updated><category term='Nurel Javissyarqi'/><category term='Puisi'/><category term='Kritik Sastra'/><category term='Dami N. Toda'/><category term='Antologi Sarang Ruh'/><category term='William Shakespeare'/><category term='Catatan'/><category term='Suryanto Sastroatmodjo'/><category term='Ignas Kleden'/><category term='Kasparov'/><category term='Peribahasa'/><category term='Maman S Mahayana'/><category term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category term='Sapardi Djoko Damono'/><category term='Filsafat'/><category term='Brunel University'/><category term='Esai'/><category term='Taufiq Ismail'/><category term='Chairil Anwar'/><category term='Nigel Short'/><title type='text'>Nurel Javissyarqi Van Java</title><subtitle type='html'>foto ini tahun 1998-an di Kadipaten Kulon 49 c Yogyakarta</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>145</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-1112081226085624298</id><published>2012-02-06T01:36:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T13:56:11.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dami N. Toda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVIII kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="270" src="http://www.youtube.com/embed/-kDlXRa9HdA?fs=1" width="480"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i&gt;Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan&lt;/i&gt;. (Ibnu Sina)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selalu saja saat mengawali tulisan merasakan bergetar, untuk mengurangi debarannya saya mulai dengan kata pengantar demi meringankannya. Pada awalan ini akan bercerita pertemuan saya dengan tiga ‘orang gila’ (balutan fisiknya begitu); mereka merasuki jantung ini. Orang pertama sama dengan terceritakan di bagian VII, kali itu ia menuju ke arah barat seperti perjalanan saya, demikian juga orang kedua. Hanya jarak antara orang pertama dan kedua, satu kilometer-an. Yang ketiga di Bojonegoro tengah malam, ia meringkuk berlimutkan sampah plastik menghalau hawa dingin rintikan gerimis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beberapa hari sebelum di Bojonegoro, saya ke salah satu kampus di Surabaya, mengantar kakak ipar mencari bacaan Disertasi, lantas ke Jalan Semarang mencari-cari buku bekas, bertemu Fahrudin dan Ribut, tak luput ngobrol ringan disertai ngopi, tombo kangen. Ini mencairkan kepenatan di ruang belajar, namun sayangnya tidak berjumpa ‘orang gila’ di kota itu yang biasa memberi firasat. Ke Bononegoro berboncengan motor sama Denny, berjumpa Gampang, Bonari, Ragil, Timur, menyaksikan pentas teater yang pemainnya Sabrank, Wong Wing King dengan komunitas Suket di desa Jono. Oya terima kasih Mashuri, yang membawa buku pesanan saya karangan Dami N. Toda "Apakah Sastra?" disaat ia membedah antologi puisi "Kabar Debu" di Lamongan. Balik ke ‘orang-orang gila', sebab berkaitan penulisan yang getarannya kini hadir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jalan ke luar kota membuka denyar anyar, meski bacaan sama berpengamatan lain yang menghadirkan pengoreksian, ditambah fisarat meningkatkan drajad perolehan mawas. Siapa tahu mengurangi kecelakaan jika ada, sedari pandangan lalu ditetapkan sesuai timbangan tengah terlarungkan. 'Orang gila' awal masih akrab di batin ini, munculnya orang kedua membuat heran, sekurangnya keberadaan atmosfir jalan itu tercium olehnya. Orang kedua disaat saya berjalan hampir mendekati melecutkan pecut, maka saat melihat pementasan di Bojonegoro ada aktor membawa cambuk bersuara kilatan, saya tak heran. 'Orang gila' ketiga amat lain, di batin ini penasaran, apakah orang atau makhluk halus sedang membentuk sosok, saya melihat sebagian mukanya tertutupi bayangan rimbun pohon ditimpa gelap malam, seluruh badannya terselimuti plastik. Cukup itu gemetaran, seirama getaran permulaan kini menujah niatan, mengurangi dengan waswas sepadan dan berani melangkah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum pada paham Muhammad Iqbal, mari simak ungkapan SCB saat pidatonya Anugerah Sastra DK Riau 2000. Karena pemahaman "Kun Fayakun" agak panjang di sini, maka saya kutip lumayan melebar untuk tahu apa saja kisaran menurutnya soal tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, "Jadi maka jadilah!" Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Itulah yang ingin diraih penyair walaupun ia sadar sajaknya tak mungkin abadi. Walaupun tahu takkan sampai pada kebenaran mutlak kata, meski ia takkan dapat menggapai kemutlakan benar. Meski tahu walau hurufnya habislah sudah alifbatanya takkan sampai pada kebenaran mutlak, obsesi itu dilayaninya dengan girang, penuh antusiasme dan passion." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Sehubungan dengan kata, pada manusia -pada Adam- Tuhan mengajarkan pula nama benda-benda, merujuk pada pengenalan potensi benda-benda dan ihwal, mengakibatkan kehadiran ilmu dan penguasaan terhadap benda-benda dan ihwal." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Jika manusia wakil Tuhan di muka bumi, maka ia adalah khalifah kata-kata. Para penguasa dan pemuka (politik, sosial, ekonomi, militer) yang zalim cenderung sewenang-wenang memanfaatkan kata-kata untuk kepentingan sendiri. Itu sering mudah dilakukan, karena di samping mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan riil, juga karena kata-kata sebagai penanda sering sewenang-wenang." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Akibat tekanan kezaliman kata yang sebenar kata, kata yang benar, tergusur tidak muncul dalam permukaan luas masyarakat. Ia tampil dalam mimpi, jerit, gurau dan gelak igau yang tersembunyi dari para dhuafa." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dalam bait-bait puisi, kata-kata yang sebenarnya mendapatkan tempat pelarian (asylum). Bukan sekadar untuk disimpan atau dilestarikan, tetapi lewat puisi ia akan bisa memberikan penyegaran, pencerahan, dan perpanjangan kreatif dari pemaknaan manusia dan kehidupan."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk memasuki perlu juga menyerapi perolehan lalu, terpetik satu paragraf bagian XVII dalam merambahinya, oleh pantulan ini: "SCB menghilangkah kata kerja awalan dari firman tuhan sang maha penyair, dan tampak kata kerja perintah itu datangnya terlambat, dengan memunculnya kata-kata 'lantas jadilah.' Kemendadakan mencipta keterkejutan, seperti dalam ruangan tunggu atau firmannya menanti hadirnya (kata) benda itu jatuh; ‘kata adalah benda,’ menurutnya ‘adalah ikhwal’ (fenomena), fenomena itu sesuatu yang rumit, jamak, selalu berubah. Perihal tersebut masuk ke dalam ‘adalah makna,’ yang otomatis makna ini sesuatu amat rumit, jamak (banyak), serta senantiasa berubah, nilai yang bisa berkurang juga bertambah, lantas ‘adalah diri ekspresi’ dari benda-benda, kerumitan pun tidak tetap masanya di dalam ruangan bisa berganda pula, demi mewujudkan keberadaannya -jadi ‘adalah eksistensi.’"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali Sutardji menghadirkan Tuhan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Sang Maha Penyair”&lt;/i&gt; dengan firman &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;”ucapan”&lt;/i&gt; serupa sulapan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;”Jadi maka jadilah!" Itulah kata yang paling hakiki dari puisi”. &lt;/i&gt;Kata paling hakiki dari puisi itu wujud, jadi, ada, bukannya berangkat sedari napasan kerja perintah, tetapi benda itu hadir seperti barang itu ada. Misalkan wujud manusia gila saya temui di jalan kembara, ruh penggembol ketidaknormalan akal menurut pandangan umum, yang tidak terketahui muasal kejadian kenapa bisa gila? Sebab-sebabnya dihapus. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;”Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri.” &lt;/i&gt;Tak lain ‘orang gila’, dengan sendiri? Ataukah bawaan sejak lahir? Untuk pembaca yang sulit menangkap, sederhananya; bintang, bulan, matahari ada sendiri, pula seluruh benda-benda angkasa ada, jadi dengan sendirinya, muncul tiba-tiba oleh datangnya perintah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"maka jadilah!"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘Jadi’ menerbitkan ‘makna’ menghadirkan ‘diri’-nya. Benda itu, orang-orang gila pun yang normal ada seperti adanya, tiada jenjang sebelumnya, takdirnya mendadak menjadikan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Sang Maha Penyair”&lt;/i&gt; kewalahan, kaget, bingung atas munculnya kata benda, jadi, makna, diri. Bagaimana Dia berlaku serupa pesulap? Seperti melihat orang gila, tidak tahu kenapa gila? Selaras menyaksikan bintang, bulan, matahari wujud bersama makna terkandung di dalamnya? Tidakkah ini menempatkan Tuhan sangat rendah, menghadirkan sesuatu dari sebelumnya yang sudah ada? Yakni kata Jadi, wujud, ada, benda; orang gila / waras, bebenda angkasa seisi dunia. Seolah seniman berkreasi, pelukis menggurat gemintang, penyair kumandangkan keayuan bulan. Senada terima tanpa diperkenankan ketahui tahap kejadian, sebatas mengolah yang telah ada, berasal dari kata 'Jadi.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan terpaksa saya ambil terjemahan wahyu pertama, Surat Al 'Alaq (Segumpal Darah, Makkiyyah 19 ayat) di Kitab Tafsir Jalalain, ayat 1-5 yang turun di Makkah, yang dalam kurung artiannya, buka kurung tafsirannya: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1. (Bacalah) maksudnya, mulailah membaca dan memulainya (dengan menyebut nama Rabbmu Yang menciptakan) semua makhluk. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2. (Dia telah menciptakan manusia) atau jenis manusia (dari 'alaq) lafaz 'alaq bentuk jamak dari lafaz 'Alaqah, artinya segumpal darah yang kental. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3. (Bacalah) lafaz ayat ini mengukuhkan makna lafaz pertama yang sama (dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah) artinya, tiada seorang pun yang dapat menandingi kemurahan-Nya. Lafaz ayat ini sebagai Ha'l dari Dhamir yang terkandung di dalam lafaz Iqra'. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4. (Yang mengajar) manusia menulis (dengan qalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nabi Idris as. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;5. (Dia mengajarkan kepada manusia) atau jenis manusia (apa yang tidak diketahuinya) yakni sebelum Dia mengajarkan kepadanya hidayah, menulis dan berkreatif serta hal-hal lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan mari menimba petikan pemikiran M. Iqbal beserta beberapa ayat yang diketengahkannya. Saya hidangkan seperlunya kepahaman ini dari bukunya "The Reconstruction of Religious Thought in Islam" (Bookseller &amp;amp; Publisher, Kashmiri Bazar, Lahore, Pakistan (1930). Diterbitkan Tintamas Jakarta 1982, alihbahasa Ali Audah, Taufiq Ismail, Goenawan Mohammad, diterbitkan Jalasutra Yogyakarta, penyunting Muhiddin M Dahlan, 2002.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terlebih dulu simaklah penuturan Dr. 'Abdul Wahhab 'Azzam, yang untaian kata-katanya kerap mengharukan di bukunya "Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Syi'ruh" terbitan Mathbu'at Pakistan 1373 H / 1954 M, diterjemahkan Ahmad Rofi’ Usman, Ammar Haryono, penerbit Pustaka Bandung, cetakan awal 1985, hlm 14: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Kedua orang tua Iqbal terkenal dengan keshalehan dan ketaqwaan mereka. Ayahnya adalah seorang sufi, yang bekerja keras demi agama dan kehidupan. Dituturkan darinya, bahwa pada suatu ketika, sewaktu ia melihat Iqbal senang membaca al-Qur'an, maka katanya: "Bila kamu ingin memahami al-Qur'an, bacalah seakan ia diturunkan padamu."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allama Muhammad Iqbal menuliskan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Jadi, berdasarkan al-Qur'an, bagaimana sifat alam semesta tempat kita tinggal? Pada tingkat pertama, alam ini bukan hasil titipan sekadar main-main saja:" &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta segala isinya yang ada di antara keduanya itu untuk bermain-main. Kami ciptakan keduanya itu dengan maksud tertentu; tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. 44: 38-39).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nyatalah itu sama dengan: Sebenarnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berpikir. Mereka yang mengingat Tuhan ketika berdiri, ketika duduk dan berbaring, serta merenungkan penciptaan langit dan bumi itu seraya mengatakan: “&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"O Tuhan kami! Tidaklah sia-sia Kau ciptakan semua ini." (Qs. 3: 190 - 191)." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Begitulah alam semesta itu disusun demikian rupa hingga ia dapat diperluas:" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ia (Tuhan) menambahkan ke dalam ciptaannya itu apa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. 35:1).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Itu bukanlah sebuah alam cetakan, semua hasil yang sudah selesai, yang tidak bergerak dan tidak berubah. Jauh dalam wujud batinnya, barangkali terletak impian sebuah kelahiran baru:"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Katakanlah -jelajahilah bumi, lalu perhatikanlah betapa Ia memulai penciptaan itu; kemudian Tuhan menyusun sebuah ciptaan lain.” (Qs. 29: 20).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Sebenarnya ayunan dan tarikan alam semesta yang penuh rahasia ini, peredaran zaman yang dengan diam-diam menjelma di depan kita, makhluk manusia, juga peredaran gerak siang dan malam, oleh al-Qur'an dimaksudkan sebagai tanda-tanda Tuhan yang paling akbar." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tuhan memutarkan peredaran malam dan siang. Disitulah terdapat pelajaran bagi mereka yang luas pandangan.” (Qs. 24: 44).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lebih maju Beliau menguraikan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Tidaklah Tuhan akan mengubah nasib sesuatu kaum, kalau bukan kaum itu yang mengubah nasibnya sendiri.” (Qs. 13 :11).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Kalau ia tidak mengambil inisiatif, kalau ia tidak mau mengubah keadaan batinnya, kalau ia berhenti merasakan deburan batin hidup yang lebih tinggi, maka ruh yang ada dalam dirinya pun akan mengeras menjadi batu dan dia merosot turun ke tingkat benda mati. Tetapi hidup dan kemajuan ruhnya itu amat bergantung kepada terbentuknya hubungan dengan kenyataan hidup yang dihadapinya. Yang membentuk hubungan-hubungan demikian itu pengetahuan, dan pengetahuan ialah cerapan penginderaan yang dipupuk dengen pengertian." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tatkala Tuhan mengatakan kepada para Malaikat: "Aku hendak menghadirkan seorang khalifah di atas bumi ini." Mereka berkata: "Adakah hendak Kau tempatkan seseorang yang akan membawa bencana dan akan menumpahkan darah, padahal kami, dengan rasa syukur memuja-Mu dan menjunjung-Mu?" Ia berkata: Akulah yang tahu apa yang tidak kalian ketahui." Dan diajarkan-Nyalah semua keterangan itu kepada Adam, kemudian semuanya itu ditunjukkan-Nya pula kepada para Malaikat, seraya kata-Nya: "Sebutkanlah nama-nama semua itu jika memang kalian mengetahui!" Mereka menjawab: "Maha sucilah Kau. Kami memang tidak mengetahui, selain yang pernah Kau ajarkan kepada kami, Engkaulah sebenarnya yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." Ia berkata: "Hei Adam, sebutkanlah nama-nama itu kepada mereka." Setelah ia memberikan keterangan-keterangan itu kepada mereka, berkatalah Ia: "Bukankah sudah Kukatakan kepada kalian, bahwa Akulah yang mengetahui rahasia-rahasia langit dan bumi, mengetahui semua yang oleh kalian dinyatakan atau disembunyikan?” (Qs. 2: 30-33).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Pokok dari ayat-ayat itu ialah bahwa manusia telah dianugerahi dengan kecerdasan pikiran untuk menyebutkan nama-nama benda, artinya untuk menyusun pengertian-pengertian tentang benda-benda itu, dan menyusun pengertian yang demikian berarti menguasai benda-benda itu. Jadi sifat pengetahuan manusia ialah konseptual, dan dengan bersenjatakan pengetahuan konseptual inilah manusia berkenalan dengan aspek Kebenaran yang bisa diselidiki. Yang perlu sekali dicatat adalah al-Qur'an menekankan semuanya terletak pada aspek Kebenaran yang harus diselidiki." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Hlm 37-38, 41-42 dari buku saya sebut paling permulaan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini izinkan menuangkan gambaran dari pokok-pokok di atas. Karen Armstrong betapa indah memaparkan ‘kedatangan Kerasulan’ Muhammad saw. dalam bukunya "Muhammad: A Biography of the Prophet" Phoenix Press, London 2001, diterjemahkan Joko Sudaryanto, penerbit Jendela 2004. Dengan tarikan berbeda saya tuangkan; sekitar tahun 610 dalam Gua Hira’ di lembah Makkah 17 Ramadhan, dikala Nabi saw. terjaga dari tidurnya, didatangi Malaikat Jibril as. yang menaburkan kalam fitri, firman Allah swt. yang pertama, "Iqra'" (Bacalah). Hentakan keras datangnya sebuah kata kerja perintah, Fi'il Amar, seakan meringkus tubuh Sang Nabi saw. hingga mengucurkan keringat dingin, demam tidak tertahan di sisi waswas mendera. Ada tiupan ruh lain dari biasanya, hembusannya bergema ke dinding seluruh gua, tidak sekadar sekujur jiwa raganya bersaksi, namun segenap hidup sebelum-sesudahnya. Tidak hanya bintang kemukus memberi janji, seluas semesta raya tak terketahui batasannya, kecuali Sang Maha Kuasa memahami hukum-hukumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Iqra'" selurus "Kun Fayakun" tidak dapat diganti apa pun, siapakah pendukung firman Allah swt. dijelmakan dalam kata benda? Tidakkah sudah terpaparkan, dan kehilafan disengaja di mana saja sembunyi ke sudut terpencil akan ketahuan! Ilmu pengetahuan bukan tempat beralibi, tapi kelenjar sejarah berdaya tariknya selalu membuncah, memukul mental nanggung tidak meruhaniahi menjadikan tempelan. Maka bisa sulapan, mensejajarkan para ulama' dengan orang-orang ‘terlena,’ namun takkan lama pengadaan semu menyeruak, dan para pendukungnya patut bertanggungjawab pada imbasnya? Para tukang syair mengamini kekaryaan sedari pusaran tidak sadarkan diri bukan lantaran tingkatan 'Jadab.' Menjadikan teringat makolah, ‘kezaliman terorganisir itu membahayakan’, meski berbentuk permainan jemari!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bacalah dengan ruhmu dan jantung memompa segumpal dagingmu! Bagaimana berleha-leha membetulkan kemengslean kalbu sekadar kesalahan ketik misalnya, padahal jelas-jelas keinginannya? Katanya penyair sufistik, hingga berani menyebut Allah swt. bersifat "Sang Maha Penyair." Penambahan kemuliaan kepada-Nya ternyata punya maksud seperti menyuap Tuhan, menyogok kaum beriman, agar pensifatannya bisa meloloskan pengertian Tuhan "Sang Maha Penyair" juga membikin sesuatu yang telah ada, memunculkan barang tercetak, wujud, "Jadi maka jadilah!" Sungguh manis ungkapannya. Mungkin baginya Tuhan seolah redaktur koran atau dirinya yang mudah meloloskan maksud tertentu, terlepas logika serta tidak Ilahiah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak ayal &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri."&lt;/i&gt; Para penyair diserukan ‘Raja Mantra, Presiden Penyair Indonesia,’ juga untuk dirinya menuju "Sang Maha Penyair", obsesinya meraih kata bermakna hakiki yakni sulapan pertama di dunia Sastra Tanah Air. Puncak keblingeran itu menandakannya penggerak angkatan susastra, tentu menggenapi lipatan sejarah kesusastraan, dan pendatang baru tersirap manggut manut lewat pembetulan seadanya, tersebab sudah terpampang di buku pelajaran dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah menyematkan "Sang Maha Penyair" berucapan rendah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Jadi maka jadilah!" &lt;/i&gt;Lalu melangkah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Itulah yang ingin diraih penyair walaupun ia sadar sajaknya tak mungkin abadi."&lt;/i&gt; Sutardji menempatkan Tuhan muasal hadirnya (bukan terciptanya) segala sesuatu, dan sebab penyair takkan bisa menerbitkan bulan, bintang matahari, tapi sekadar melukiskan dengan kata-kata. Para penyair dihimbau ke jalan keabadian sulapan di setiap ungkapanya, meski tak abadi. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Walaupun tahu takkan sampai pada kebenaran mutlak kata, meski ia takkan dapat menggapai kemutlakan benar. Meski tahu walau hurufnya habislah sudah alifbatanya takkan sampai pada kebenaran mutlak,"&lt;/i&gt; Gaya naik-turun ini hampir sama melodinya dengan Taufiq Ismail bagian X, pribadi penyair diangkat tinggi, tapi oleh karena sadar takkan mungkin dan jadi bahan tertawaan yang memperjelas maksudnya secara tiba-tiba. Maka diturunkan nyanyiannya, agar diterima khalayak seturut hukum alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"obsesi itu dilayaninya dengan girang, penuh antusiasme dan passion."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Tepat menyelidikan sebelumnya, SCB sedang membetulkan paham "Manusia diberkahi untuk bebas." Pengertian insan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi dirombak sesuai kebutuhan dirinya dalam meloloskan paham nan dianggapnya bisa menyenangkan; membuat girang berdaya antusias penuh gairah, serupa temuan-temuan pesulap David Copperfield yang dikaguminya misalkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jenis penulisan tersebut amat umum, tinggal melihat yang terlebih dulu diayunkan, tentu mengetahui dimana letak pemberhentiannya, dari titik-titik tenggang yang disebarkan di atas tempo diharapkan. Dan senandung umum dapat membentuk kenetralan seperti warna putih pada cat, memudahkan nilai-nilai apa saja setelahnya masuk, SCB menulis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Sehubungan dengan kata, pada manusia -pada Adam- Tuhan mengajarkan pula nama benda-benda, merujuk pada pengenalan potensi benda-benda dan ihwal, mengakibatkan kehadiran ilmu dan penguasaan terhadap benda-benda dan ihwal."&lt;/i&gt; Kesadaran di sana sungguh nyaring, lagi-lagi berbalik ke sebelum yang diketengahkannya. Sutardji menulis perihal M. Iqbal bertitel "Mengenang Iqbal" hlm 418 di buku "Isyarat", ia tidak memberi sodokan seperti kepada Derrida, dapatlah dikata mengamini atau segan mengoreksinya mungkin tulisan Iqbal terlalu terang. Kalau berkehendak memengslekan akan ketahuan khalayak, tidak seperti tulisan Derrida, Ibnu ‘Arabi, tentu menimbulkan polemik dan syah jikalau lepas tangan, sebab telah banyak yang menyalahartikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allama Iqbal berujar, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"alam ini bukan hasil titipan sekadar main-main saja" &lt;/i&gt;Bukan jenis akrobatik, namun mereka mengira seperti sulapan kejadiannya, semua peristiwa dianggap 'mak bedunduk' lalu "Sang Maha Penyair" kelelahan setelah berucapan "Jadi maka jadilah!", maka dihadapanya seolah sia-sia, dari kesia-siaan itu disurunya gembira, girang beralibi. Dan untuk menutupi maksudnya SCB menuliskan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Jika manusia wakil Tuhan di muka bumi, maka ia adalah khalifah kata-kata."&lt;/i&gt; Sebagai khalifah kata-kata dari-Nya, seakan tak masalah diganti sepadan kepentingan khalifah tersebut, seperti wakil Tuhan yang dikiranya sekedudukan wakil presiden yang bisa membelot presiden, mungkin semacam itu nalar Sutardji. Lalu ia melanjutkan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Para penguasa dan pemuka (politik, sosial, ekonomi, militer) yang zalim cenderung sewenang-wenang memanfaatkan kata-kata untuk kepentingan sendiri."&lt;/i&gt; Sepertinya mau membalas, karena kata-katanya kalah ampuh dengan para politikus, sosiolog, ekonom dan militer. Dengan berpribadi penyair, memakai cara-cara girang merombak "Kun Fayakun" bahkan merasa dirinya lebih hebat, sebab Tuhan saja manggut manut tinta penanya, Naudubillah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada paragraf yang sama menuangkan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Itu sering mudah dilakukan, karena di samping mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan riil,"&lt;/i&gt; Sebagai pemuda saya heran, masak minder? Ternyata merombak lafaz-Nya menjadikan merasa bersalah, dan kemampuan berdalih merontok pula, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"juga karena kata-kata sebagai penanda sering sewenang-wenang."&lt;/i&gt; Tidakkah ini membalikkan fakta, Sutardji sewenang-wenang terhadap firman-Nya, mengganggap orang lain seenak udelnya? Tapi pemerintah mencium baunya, Presiden SBY memberinya penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma. Ini terbalik namun diingini, sebab kalah dibanding politikus, apalagi negarawan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dirujuk bonggol kefatalan dimula dan simak penurutannya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Akibat tekanan kezaliman kata yang sebenar kata,"&lt;/i&gt; SCB sepertinya sangat menyadari "Kun Fayakun" yang pas menurutnya "Jadi maka jadilah!" sampai berani melanjutkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Kata yang benar, tergusur tidak muncul dalam permukaan luas masyarakat."&lt;/i&gt; Yang menurutnya paling tepat kata 'Jadi', ada, wujud, kata benda, cetakan, bukan ‘jadilah,’ tidak ‘wujudlah.’ Maka dirombaklah, alih-alih mengembalikan ke bentuk asalnya yang dianggap terkena penggusuran (kezaliman versinya), seolah mensucikan lewat mengembalikan, senada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Jadi adalah Jadi itu sendiri."&lt;/i&gt; Kata ‘Jadilah’ / "Kun" dipandangnya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Ia tampil dalam mimpi, jerit, gurau dan gelak igau yang tersembunyi dari para dhuafa."&lt;/i&gt; Padahal ajaran Islam Rahmatan Lil'alamin, semua umat boleh memeluknya dari seluruh lelapisan masyarakat di dunia, tak membedakan kelas sosial, kulit, bangsa dan lainnya. Tidak harus membeli karcis seperti menonton sulap di bangku berkalas-kelas!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sutardji teringat tulisannya yang lain, digaritlah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Dalam bait-bait puisi, kata-kata yang sebenarnya mendapatkan tempat pelarian (asylum)." &lt;/i&gt;Ignas pun menunjuk pada paragraf awalnya tentang, "puisi adalah alibi kata-kata." Saya harap pembaca teringat "Puisi Konkrit" yang diungkapkannya, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Bukan sekadar untuk disimpan atau dilestarikan, tetapi...” ..."Sutardji Calzoum Bachri menampilkan sebuah kanvas yang digantungi sekilo daging segar. Darah daging itu dibiarkan mengucur di atas kanvas. Ada tulisan grafis berbunyi "Luka ha ha". Abdul Hadi WM menampilkan kertas poster dengan gambaran silhuet seekor sapi dan pengendaranya. Wujud silhoutte pengendara sapi ditulisi grafis: "k sapi p/ jak sapi per/ ajak sapi pera/ jak sapi per/ ak sapi p/ sapi perah/ sapi perah sajak sapi perah/ sajak sapi perah/ sajak sapi perah/ sajak sapi perah/ ..." dan seterusnya. Silhuet sapi ditempeli guntingan berita surat kabar, guntingan "kepada berita" (head line), foto-foto. Ada misalnya guntingan kepada berita yang berbunyi, "Ancaman Komunis Pada ASEAN Semakin Deras", "Jepang Ingin ASEAN untuk Bisa..." (teks aslinya dicoret dan diberi tanda panah ke arah kepada berita lain yang berbunyi "Terharu Memandang Wajah-wajah Lapar".&lt;/i&gt; (Dami N. Toda, Hamba-hamba Kebudayaan, hlm 105).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pelarian (asylum), siluman, alibi sudah terbongkar di bagian awal. Sejauh-jauhnya berlari membawa kekeliruan memengslekan lafaz-Nya pastilah ketahuan, karena keshahihan Al-Qur' an terjaga serta terpelihara sepanjang masa (jaman). Simak ayat di bawah ini saya ambil dari Kitab Jalalain: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“(Sesungguhnya Kami-lah) lafaz Nahnu mentaukidkan atau mengokohkan makna yang terdapat di dalam isimnya Inna, atau sebagai Fashl (yang menurunkan Adz Dzikr) Al-Qur’an (dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya) dari penggantian, perubahan, penambahan dan pengurangan.”&lt;/i&gt; [Surat Al-Hijr (15):9]. Mereka yang cerdik berseberangan pun menghindari pemalsuan, kebanyakan dipilih menafsirkan sejenis serampangan. Sebab kan mudah ketahuan merombak lafaznya, atas terpelihara kesuciannya, pula selalu terawat oleh para penghafiz Al-Qur' an. Mungkinkah sikap SCB sama persis dengan Abdullah ibn Sa’id, mantan juru tulis Kanjeng Nabi saw?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“lewat puisi ia akan bisa memberikan penyegaran, pencerahan, dan perpanjangan kreatif dari pemaknaan manusia dan kehidupan.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti daging segar darahnya dibiarkan mengucur di kanvas, lalu setelah pameran dikonsumsi mencerahkan pandangan, perpanjang proses kreatif menjaga tubuh kemanusiaan dalam kehidupannya. Atau pembaca tak perlu kaget para kritikus Indonesia kebanyakan latah, mungkin istilah 'latah' berasal dari salah satu dewa (Lata) yang kepalanya dipenggal Nabi Ibrahim as. Latah mengkritisi dengan angin analisa musiman, jika musim puisi konkrit maka konkritlah gayanya, dikala musim puisi sufistik, sufistiklah dedahannya. Mungkin juga karyanya bersimpan nilai universal; ini hebat, tapi dalam naungan mitologi susastra Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum menjalar saya beri garis tebal Sartre "Manusia dikutuk untuk Bebas" merujuk pada sejarawan perempuan asal kelahiran Wildmoor, Worcestershire, Inggris, Karen Armstrong yang berkata: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dalam sebuah ayat yang luar biasa dalam al-Qur'an, Tuhan menawarkan kebebasan kepada seluruh makhluk-Nya, namun mereka menolak. Hanya manusia yang memiliki keberanian untuk menerima: &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanat pada langit, bumi, dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan bodoh." [Surat (33) al-Ahzab: 72]. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Akan tetapi, Tuhan tidak membiarkan manusia tanpa bimbingan. Dia mengutus banyak nabi kepada setiap komunitas di bumi sehingga mereka mengetahui apa yang Dia maksudkan bagi mereka. Namun semenjak Adam, nabi pertama, manusia menolak untuk mendengarkan wahyu-wahyu tentang kehendak Tuhan tersebut ."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (Hlm 286 - 287).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menukik lebih dalam, selepas melihat paragraf-paragraf SCB. Lalu menengok ayat-ayat ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"(Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini) dalam hal kefasihan dan ketinggian paramasastranya (niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain") saling bantu-membantu. Ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan mereka, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya (QS 8 al Anfal, 31): Kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini (al-Qur'an).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; [Qs. al-Isra' (17): 88] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"(Dan Kami tidak mengajarkan kepadanya) yakni kepada Nabi saw. (tentang syair) ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang kafir, karena mereka telah mengatakan, bahwa sesungguhnya al-Qur'an yang didatangkan olehnya adalah syair (dan bersyair itu tidak layak) tidak mudah, ada yang menyebut tidak pantas (baginya). (Al-Qur'an itu tiada lain) apa yang diturunkan kepadanya, tiada lain (hanyalah pelajaran) nasehat -peringatan- (dan Kitab yang memberi penerangan) yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan lain-lainnya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; [Qs. Ya'sin [36]: 69).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setahu saya pada karya penyair Muhammad Iqbal maupun sebelum-sesudah Beliau, tidak saya temukan himbauan senada paragraf SCB untuk mencari inti "Kun Fayakun" di dalam memanjati pengetahuan mengenai puisi / syair dari Kitab-Nya, yang serasa dekat kedua ayat tersebut. Namun para ulama’ menggali nilai-nilai terkandung di dalamnya yang Insya Allah tiada niat sekecil pun "mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri" dari “Kun.” Nada-nada syair dan karya para beliau menebarkan syiar dari ayat-ayat-Nya, bukannya meringkus dijelmakan ke syair. Lebih kacau mempereteli alunan lafaz-Nya demi kepentingan ‘mitos puisi mantra’ yang dibela?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi tidak perlu abang-abang lambe, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Meski tahu walau hurufnya habislah sudah alifbatanya takkan sampai pada kebenaran mutlak"&lt;/i&gt; Padahal perihal itu dekat keterlenaan. Mari perhatikan Surat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ath thu'r &lt;/i&gt;dan Qa'f berikut (saya rujuk ke Kitab Tafsir Jalalain) atas urutannya Ibn Taimiyah dalam tulisan Beliau "Tangga Pencapaian." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"(Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun) tanpa ada yang menciptakannya (ataukah mereka yang menciptakan) diri mereka sendiri. Dan tidak masuk akal ada makhluk tanpa penciptanya, dan tiada sesuatu yang Ma’dum yakni yang asalnya tiada, dapat menciptakan. Maka makhluk itu pasti ada yang menciptakannya, yaitu Allah yang Mahaesa. Mereka tetap tidak mau mengesakan-Nya dan tidak mau beriman kepada rasul dan kitab-Nya.” [QS. Ath Thu'r (52): 35]. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"(Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama?) maksudnya, Kami tidak merasa letih / lelah dengan penciptaan yang pertama itu, demikian pula Kami tidak merasa letih untuk mengembalikan mereka. (Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu) yakni berada dalam keragu-raguan / kebingungan (tentang penciptaan yang baru) yaitu membangkitkan mereka menjadi hidup kembali pada hari berbangkit nanti." [Qs. Qa'f (50): 15].&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk mendaki lengkungan dinding-dinding terpancang jua sebagai kupasan paragraf muakhir Muhammad Iqbal yang telah tertancap, hamba penuh dosa dekat kebodohan ini kan berikhtiar menggapai melalui Surat Ath Thu'r (Bukit Thu'rsina, 52): 29-31:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"(Maka tetaplah memberi peringatan) tetaplah kamu memberi peringatan kepada orang-orang musyrik dan jangan sekali-kali kamu mundur dalam hal ini hanya karena mereka mengatakanmu sebagai seorang penenung lagi gila (dan kamu disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah) karena limpahan nikmat-Nya kepadamu (seorang tukang tenung) menjadi Khabar dari Ma' (dan bukan pula seorang gila) lafaz ayat ini diatha'fkan kepada lafaz Ka'hinin."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"(Bahkan) lebih dari itu (mereka mengatakan:) "Dia (adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya") malapetaka menimpanya lalu ia binasa sebagaimana nasib yang dialami oleh para penyair lainnya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"(Katakanlah: "Tunggulah) oleh kalian kebinasaanku (maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu pula bersama kalian") menunggu kebinasaan kalian; akhirnya mereka disiksa oleh Allah melalui pedang dalam perang Badar. Makna Tarabbush adalah menunggu."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam batas-batas tertentu saya kerap berdoa kala menulis semacam kritik ini: "Ya Allah, jikalau tulisanku menimbulkan fitnah, hentikanlah jemari ini melangkah, tentu Engkau berkuasa apa saja untuk menghentikannya. Namun jikalau ada hikmah, atau Engkau menghendaki menunjukkan ke jalan lurus, mudahkanlah menelusurinya." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini tidak tersangka seperti Babad Nuca Nepa, menggali prasejarah bertemu bebayang masa depan dan kini seolah tak terhindari berjumpa ayat-ayat suci sejalur harus dilewati. Hanya kemurahan-Nya melalui para pendahulu, saya berikhtiar menulis beberapa hal yang meski para beliau berbeda pendekatan, Al-Kindi, Al-Asy'ari, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghozali, Ibn Rusyd, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, Muhammad 'Abduh sampai Muhammad Iqbal misalkan. Olehnya saya haturkan Al-Fatiha sebelum teruskan langkah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dapatlah ini menyempurnai sebelumnya kisah Nabi Musa as. sebagai melodi luarnya, dan getaran kisah dihadapi seelusan uraian masalah terkandungnya. Sebelum Musa di jabbal Thur (Bukit Thu'rsina). Lahir di Mesir dalam tekanan jaman jahiliyyah, bayi-bayi terlahir lelaki harus dibunuh atas perintah Raja oleh bisikan para penujum yang dipercayainya, periode diwajibkannya membunuh bayi laki-laki, lantaran kelak menghalangi kewibawaan kekuasaan kerajaannya. Namun takdir menyelamatkan bayi Musa dihanyutkan ibunda dalam peti di Sungai Nil, yang alirannya menuju pemandian istri Fir'aun, sedang ibundanya menanti-nanti berhati cemas apa yang kan terjadi? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bayi mungil Musa mentautkan hati istri raja, Fir'an sendiri terpesona paras tampan sang bayi. Lalu datanglah sayembara menyusui, para ibu di Mesir dikumpulkan, tapi tiada dimaui bayi mencecapi puting mereka, hingga tiba ibunda Musa sendiri mendengar kabar, dengan hati takut anak dan dirinya dibunuh jikalau ketahuan. Diberanikannya ke Istana beralur indah, Fir'aun tidak curiga, Musa dapat menyusui ibunda tercintanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lambat laun beranjak bocah digendong sang raja menjambak jengget raja Mesir membuat geram, kala menginjak remaja kerap bersinggungan ayah angkatnya. Suatu hari dikisahkan, Musa melerai dua penduduk tengah berselisih paham, yang salah tak mengakuinya, ditempeleng orang itu seketika mati. Para penduduk mengetahui tiada yang berani melapor ke pemerintahan, desas-desus berkembang sampai Fir'an mendengar, maka dikerahkan bala tentaranya untuk menangkap Musa saat itu juga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam pelariannya jauh tengah padang gersang dilihat berdesak-desakan manusia mengantri air, diamatinya dua gadis kesulitan di kerumunan menjemput giliran, pemuda Musa menawarkan tenaga, hewan-hewan gembalaan dua gadis serta mereka tak kehausan lama. Pulanglah kedua gadis tersebut melamporkan kejadian ke orang tuanya, Syu'aib as. memahami soal terjadi, diperintah anak gadisnya menjemput Musa untuk bersinggah di kediaman mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Musa di tempat pelarian pada negeri Madyan, selalu teringat ibunda serta saudaranya Harun, meski tiap hari melihat gadis-gadis rupawan anak Syuaib. Musa dipekerjakan tuan rumah mengembala, dan diberi tongkat yang biasa dipegang Syuaib manakala mengembala semasa dulu. Ketekunan, kejujuran di sisi ketampanan Musa membuat mereka terpikat, Nabi Syuaib as. tak ragu-ragu mengikuti rencana Tuhan melamar bagi suami dari salah satu anaknya. Musa dibilang kesepian selain gundah merindukan keluarganya sedikit terobati. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maharnya mengembala selama delapan tahun, karena Musa rajin diketahui Syu’aib kerap menambahi sesuatu pekerjaan yang baik, diperintahkan menambah sendiri jumlah mahar sampai sepuluh tahun. Waktu berjalan, siang-malam berputar; kata penyair. Jatuh tempo diselesaikan indah oleh Musa, Nabi Syuaib memberi pilihan tetap di negeri Madyan atau kembali. Dipilih mengunjungi orang tuanya, bersama istrinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di tengah perjalanan dengan belahan jiwanya kemalaman di kaki bukit, mereka mengalami kebingungan arah ke kota Mesir. Setelah lewati senja menggenapi gelap malam, bintang-gemintang berbiak di langit. Waktu sulit dipahami serupa sepertiga malam, dilihatnya di ketinggian bukit ada cahaya berkilauan, disurunya sang istri tak beranjak ke mana-mana, Musa ke atas bukit mendatangi muasal Cahaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalui jurang terjal bebatuan cadas di ceruk dalam, ia hampiri pohon zaitun rindang di sisi Cahaya sedari tadi disaksikan dari kaki bukit Tursina. Kelak pohon itu bersebut "Syajar Musa." Alhamdulillah beriring-iring menyambut hari kelahiran Nabi saw (12 Rabiul Awal) ini mengalir seingatan masa kecil, sebentar lagi merayakan ‘Maulud Nabi’ di Jawa demi memuliakan kelahiran Sang Nabi saw.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Istilah Syajar Musa dapat dimaknai sejarah awal kenabian Musa as, pada dinaya tertentu seperti Nabi saw di Gua Hira.' Dalam al-Qur'an disematkan peristiwa di bukit Sina dalam Surat Ath Thur, saya kutip ayat 1-4 berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1. (Demi Thur) Thur nama sebuah bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa as.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2. (Dan demi Kitab yang ditulis). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3. (Pada lembar yang terbuka) yakni kitab Taurat atau kitab Alquran. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4. (Dan demi Baitul Makmur) yang berada di langit ketiga, atau keenam atau yang ketujuh, letaknya persis berada di atas Ka'bah; setiap hari diziarahi oleh tujuh puluh ribu malaikat yang melakukan thawaf dan shalat di situ, dan mereka tidak kembali lagi kepadanya untuk selama-lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau tak luput, Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berujar, 'seorang ahli ilmu tak kan bosan menyimak keilmuan meski diulang-ulang, sebab dibacaan serupa selalu menemu penyingkapan bertambah.' Saya harap ini pula pada kisah Musa di atas. Ibn 'Arabi dalam Fusus al-Hikam memaknai 'ruh Musa merupakan kumpulan sedari ruh-ruh bayi terbunuh di masanya:' &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Musa adalah suatu peleburan setiap kehidupan yang diambilkan manfaatnya, dan segala sesuatu disiapkan untuk setiap anak menurut penerimaan spiritualnya, lalu, diletakkan pada Musa. Bagi Musa, ini adalah suatu anugerah Ilahi khusus yang tidak diberikan pada seorang pun sebelum beliau.”&lt;/i&gt; Tulisan saya yang lain, 'anak yang selamat dari bencana akan menyelamatkan bangsanya.' Walau Allah swt membentangkan alur Musa sangat elok tak luput hukum alam (sunnatullah), bahasa Muhammad Iqbal saya kutip, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pengetahuan manusia ialah konseptual, dan dengan bersenjatakan pengetahuan konseptual inilah manusia berkenalan dengan aspek Kebenaran yang bisa diselidiki. Yang perlu sekali dicatat adalah al-Qur'an menekankan semuanya terletak pada aspek Kebenaran yang harus diselidiki."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;'Keputusasaan' ibunda memasukkan peti bayinya merupakan kasih sayang paling ganjil demi nyawa Musa, meski firasat 'penyelamatan' nyata dalam keyakinannya, seperti 'keputusan' Nabi saw berhaji dari Madinah ke Makah menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah, membuat para sahabatnya mengalami keraguan, tak luput Umar bin Khattab. Mungkin bagi sebagian peneliti, perihal itu bukan didasari wahyu atau Sang Nabi bertindak bersandar rabahan kemanusiaannya, dan Allah swt mengabulkannya berhaji tahun depannya, sisi lain sikap Umar dianggap cerdas, namun dalam Kitab Suci menyingkapnya kemenangan, sesuai jalannya sejarah. Situasional tertekan kerap mendatangkan keputusan menghawatirkan, hanya dengan langkah terbuka pintu lain, pilihan mengurangi sekecil-kecilnya kefatalan, jalan diperhitungkan tetap diamati seksama, diselidik masak-masak di balik peristiwa tengah berjalin, sebab berjalannya semesta laksana timbangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Peti pembawa bayi Musa. Ada riwayat saat melaju di air melawan arus dan mengelurkan sinar, jelasnya ke Istana Mesir. Di mana pembantaian bayi-bayi lelaki masih terus saja dilakukan, dalam pertimbangan jaman masih percayai keajaiban, istri Fir'aun terpikat bayi mugil di balik darah kian mengucur atas perintah suaminya, demikian jua dialami Fir'aun terperdaya suasana melupakan ucapan penujum. Di suatu makolah disebutkan, informasi penujum terperoleh dari bisikan jin mendengar rencana Tuhan. Namun ini dapat dikembalikan segenap sesuatu ditentukan-Nya, tidak laksana sulapan atau tengok QS. Ath Thu'r (52): 35 di atas. Elusan Ilahi sangat manusiawi memasukkannya bayi Musa dalam lingkungan kerajaan yang ketat laksana nyamuk tak sanggup menembus. Dalam didikan sepadan para pangeran, Musa yang diberkahi kepandaian menangkap situasi terus mempelajari kejadian, apalagi ibundanya sendiri menceritakan, makin terkuak merasa beruntung di antara bayi-bayi semasanya. Kepercayaan diri meningkatkan indranya mencium peristiwa jadi bertumpuk nilainya, dikala menginsyafi keterbatasan sebagai anak angkat raja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya percaya, pembaca bisa ambil hikmah terudar ke permasalahan sastra. Terbentuknya angkatan, pelopor susastra dilanggengkan para kritikus dalam berita tulisannya, kerap kali kesampingkan orang sekitar. Periodenya selalu disebut, namanya diperbesar beristilah semangat kepahlawanan, kebangsaan, ini mengukuhkan beberapa gelitir nama menyingkirkan lainnya, lebih fatal mengada, saat dibentur kekisaran sejarah tak sebanding, tengok bagian XI. Penggalian kekaryaannya pun lebih pujian yang menumpulkan kekritisan generasi selanjutnya. Ini dialami orang-orang tua yang bayinya diserahkan / menguburnya sendiri, ketakutan berlebih dalam menyuarakan kebenaran tertinggal menjaga wibawa penguasa sampai keropos nyalinya, ide-ide besar tak sepaham ditumpas di meja redaktur laksana algojo membantai bayi-bayi Mesir. Untung kemajuan sarana penyebaran jaring saiber atau saya teringat keberanian bangsa Sparta, sisi lain perang Badar / kekuasaan menyimpang dapat balasan setimpal, jika tak mau membenahi keadaan semisal sulapan dangkal "Jadi maka jadilah!" bersama orang-orang menyaksikan dan mengamininya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam volume tertentu, kintirnya peti Musa membentuk takdir lain semasanya dalam pengejaran tentara dan peroleh tempat bertenduh di kediaman Syuaib. Ringan tangannya menolong anak-anak gadis mengambil air diantrian panjang sejelas keputusan orang tua Musa menghanyutkannya di Nil, itulah nada irama perikehidupan diudar setarikan hidup sungguh berharga meski di dalam 'kutukan,' Adam diturunkan ke Bumi bersama Hawa, Tuhan menurunkan para nabi memberkati penerang (paham ini bukannya sepakat mengenai dosa turunan, namun demi kehati-hatian bersikap). Allah swt menundukkan daratan serta lautan agar manusia kembangkan fitrohnya, begitulah naik-turunya melodi hayati dapat dirunut muasanya seturut timbangan masa ditentukan-Nya, mukjizat Nabi Musa as mengimbangi keahlian para penyihir Raja Fi'aun, mukjizat al-Qur'an sebagai jawaban persoalan di depan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia menganugerahi keistimewaan tongkat Musa pun bersebab-musabab, tidak asal-asalanya sebatang kayu ditemukan di jalan, silsilahnya dari Nabi Syuaib as, yang mana tongkatnya setiap hari untuk menggiring gembalaan. Para petani pun pengembala dapat disebut berikhtiar dalam hidupnya secara langsung dari-Nya yang bergantung turunnya hujan, sunnatullah, 'firman yang bergerak serta tampak', mendorong perubahan alam ciptaan-Nya. Kesabaran Nabi Syuaib mendidik putri-putrinya, melangsungkan hidup secara halal beternak, keuletan sungguh di dataran gurun pasir menuwai berkah, diangkatnya menjadi utusan-Nya juga kepada menantunya, Musa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1980-an di bencah tanah Jawa pinggiran Pantura, Para Kyai masih memandang / mencari menantu yang ahli keagamaan, ‘berapa kitab sudah dihapal, berguru kepada siapa saja,’ serta ‘ketawadhuan terhadap keilmuan dipetik setiap harinya,’ yang tidak mementingkan lahiriah demi kelanjutan syiar sudah dilakoni. Kehusyukan ini tercermin dalam sikap Musa terhadap Syuaib, orang ‘diselamatkan’ dari pengejaran tentara Fir'aun, diamankan dari tangan kejahiliyaan, merasa berhutang budi, maka sebaik-baiknya berserah kepada-Nya. Di suatu makolah disebutkan, ‘lelaku istikomah (ajek, tekun, gerak bersifat kontinyu) lebih baik dari seribu karomah. Dan "nalar yang hidup" istilah yang kerap dipakai KH Abdul Ghofur, Pengasuh Pesantren Sunan Drajat, “akan senantiasa berkembang.” Ini sejauh insan memekarkan kesadaranya di setiap tingkap persoalan dihadapi, senada petani mengolah tanah menuai hasil, dengan tak melupakan rasa syukur meski tak seberapa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Syuaib as mewariskan tongkatnya kepada Musa pun tidak sekenanya berucap “Ini tongkat keren, sakti!” Namun hukum-Nya beriringan siklus alam yang diciptakan-Nya. Musa mungkin tak menyadari tongkat setiap harinya digunakan mengembala, kelak jadi penentu jalan takdirnya. Saya percaya Musa tidak picik berpandangan kalaulah tuan rumahnya seorang penyihir, tapi bebulir nilai kebeningan dari pancaran pikirannya menaburi pengertian benderang, limpahan kurnia hadir atas ketabahan dua generasi 'pengembala,' berikhtiar langsung di hadapan-Nya sebagaimana sunnatullah di atas. Keterangan semakin jelas di puncak bukit Sina kala melihat Cahaya-Nya, versi cerita Tuhan bertanya kepada Musa, 'Apa yang kau bawa?' ‘Tongkat nan biasa buat saya mengembala’ jawab Musa. 'Lemparkan ke tanah!' Setelah dilempar menjelma ular besar sampai Musa ketakutan sangat, lalu Tuhan menghiburnya dengan memerintahkan ular tersebut dipegangnya, kan berubah menjadi tongkat seperti semula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu Musa memohon kepada-Nya agar Harun juga diangkat sebagai utusan. Dikabulkanlah doanya lantas meneruskan perjalanan bersama istri tercinta ke Mesir, menemui ibunda serta menjumpai Nabi Harun as untuk memerangi Raja Fir’aun, sedang kekisah berikutnya seperti terdapat di bagian XVII. Untuk persingkat waktu saya petik Hadits berkenaan permasalahan di atas, dan mengenai kisah Nabi Musa as selanjutnya, tidak menutup kemungkinan tertuang di bagian lain. Ada sebuah Hadits yang kerap mendampingi Surat Asy Syu’ara ayat 225-227 manakala para ulama ketengahkan pembahasan syair pun susastra. Hanya saja saya belum menemukan jalur-jalur perawinya, para beliau kebayakan menyebut langsung ‘sabda Rasulullah saw.’ Dan yang terjumput ini sedari sambutan Sayid Ali Al-Bablawi, Guru Besar Universitas Al-Azhar dalam kitab "Jawahirul Balaghah" karya Sayid Ahmad Al-Hasyimi, diterjemahkan Drs. M. Zuhri Dipl. TAFL. dan K. Ahmad Chumaidi Umar, terbitan Darul Ihya' Indonesia dan Mutiara Ilmu Surabaya, Mei 1994. Haditsnya berbunyi:&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; "Sesungguhnya sebagian dari perkataan yang fasih itu ada sesuatu yang mempesona laksana sihir. Dan sesungguhnya sebagian dari sya'ir itu terdapat hikmah."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tak segan memberi misal kesabaran 'Majnun Layla' dalam salah satu pegajiannya bertitel "Cinta Allah" yang terkumpul di kitabnya "Al-Fath al-Rabbani wa al-Fayd al-Rahmani," diterjemahkan Kamran As'ad Irsyadi, terbitan Pustaka Sufi, 2003. Pun menuturkan ungkapan indah seorang penyair, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Ketika nafsu mendorong pada cinta (hawa), Maka ia menjadikan manusia seperti besi yang dingin.” &lt;/i&gt;Hassan Hanafi dalam karangannya "Min al-'Aqidah ila al-Tsawrah" pula mengamini para cendekia mengenai syair, merupakan amal saleh pendorong ketakwaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adalah tiada larangan mempelajari syair, bertekun-tekun mencipta karangan indah, pun tiada anjuran secara khusus bersastra kecuali sebagai alat menuju ketakwaan, lantaran di sisinya ada arus mudah menggelincirkan laksana sihir nan mencipta keterlenaan. Tantangan besar diberikan Al-Qur'an dalam Surat al-Isra' (17): 88 teruntuk para penyair yang bernafsu mendekati / menyaingi ketinggian, berikhtiar menggapai kemuliaan, berhendak menuju / menyepadani kesucian al-Kitab, tentunya sudah diwaspadai para beliau agar tidak terperosok ke jalan tersebut. Lebih tegas Surat Ya'sin [36]: 69 Allah swt berfirman &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Dan Kami tidak mengajarkan kepadanya tentang syair, dan bersyair itu tidak layak baginya. Al-Qur'an itu tiada lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan."&lt;/i&gt; Maka kiranya perlu sangat berhati-hati mendedah, apalagi menghimbau yang jelas-jelas para beliau, Rasulullah sendiri tak memerintah langsung. Nabi saw dan para sahabatnya dalam beberapa riwayat, suka alunan syair yang di dalamnya menunjukkan ke jalan keagungan-Nya, apakah menggambarkan kecantikan ciptaan-Nya, kerinduan terhadap kota suci Makkah dan seiramanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh disayangkan SCB mengungkapkan perihal ini, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, "Jadi maka jadilah!" Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri. Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri."&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, "Jadi, lantas jadilah!" Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri."&lt;/i&gt; Alhamdulillah sudah saya udar di bagian XVI, XVII dan XVIII ini, kiranya uraian saya terdapat kekeliruan, sungguh sangat senang mendapat teguran, namun alangkah elok jikalau ada kebenaran dikumandangkan. Dan kekeliruan disengaja, setengahnya pun tak disengaja, semoga kembali ke jalan keselamatan, serupa pertaubatan masa akhir hayatnya Abdullah ibn Sa’id, yang pernah merubah Firman-Nya, 'alimun sami'un' menjadi 'alimun hakimun' dikisahkan Karen Armstrong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai pengelana, saya tak pantas menuangkan ini, namun terdorong suara-suara para beliau seakan terpaksa menulis beberapa ayat-ayat dari Kitab Suci untuk menerangi paham kelewat berani terlampaui nekat sampai-sampainya merombak lafaz-Nya. Yang mana tulisan saya kebanyakan dapat dibilang jarang mencantumkan firman-Nya kecuali terpaksa mendedah tulisan yang menyebut / terkait dengannya, kebanyakan tulisan saya mengutip pandangan para beliau sebagai rasa hormat, karena tiada keberanian menilai kandungan al-Qur'an secara langsung / berpedoman dengan langkah sendiri, tapi jua tak menutup rahmat bahwasannya ini teguran bagi saya sebagai langkah awal ke muka lebih baik. Hanya dengan izin-Nya lelembaran ini terlaksana dan saya bukan hakim penentu, semuanya saya serahkan ke hadiran pembaca yang memiliki kepahaman lebih daripada pengelana. Kini saya tutup, jika ada batasan belum jelas, Insyaallah di bagian berikut mendekatkan kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;6 Februari 2012, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;13 Robiul Awal 1433 H, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Senin Kliwon 13 Mulud 1945.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Lamongan, Jawi Syarqiyah, Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-1112081226085624298?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/1112081226085624298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/02/surah-at-tur-mount-heavenly-recitation.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/1112081226085624298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/1112081226085624298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/02/surah-at-tur-mount-heavenly-recitation.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVIII kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/-kDlXRa9HdA/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-4918647376770354096</id><published>2012-01-17T06:10:00.000-08:00</published><updated>2012-02-08T18:54:11.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='William Shakespeare'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Brunel University'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVII kupasan ketiga dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"A masterpiece always moves, by definition, in the manner of a ghost" (Jaques Derrida, Spectres of Marx).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lumayan lama tak melanjutkan tulisan, terhitung setengah bulan lebih. Kini menginjak angka 17 nomor saya sukai, bilangannya sama bertanggal kemerdekaan Republik Indonesia tujuh belas, (Agustus 1945). Setelah membenamkan diri beberapa masa, membaca ulang membenahi tulisan lama, Alhamdulillah cara belajar ini mengalami peningkatan. Melodinya sedari awal terlihat kemajuan, sedeburan gelombang mendedah kesaksian. Ke pepuncak tertakar, pun lebih sadari kelemahan, juga beberapa temuan mengecewakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum masuki soal, ingin bermanja terlebih dulu. Kangen bercuap-cuap sambil memancing kata bercanda akrab, memeluk mesra sekecup kasih nan tertunda, sekarang masanya merasa. Hawa senja angin tropis musim penghujan, ada beberapa bacaan belum rampung nan menggantung, sketsa tipis menebal, kejelasan di sisi temaram, tanpa beban selain kebodohan diri, helahan napas bebulir kemungkinan. Serupa Bengawan Solo mengalir entah kapan tiba ke laut keutuhan, jelasnya ada tantangan berlebih, kecurigaan bertumpuk, waswas mendera, cahaya berkilau sepelangi melenakan sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktu-tempat tertera dari beberapa data lagu jemari melangkah, sekurangnya jadi patokan secermin keliling melihat kematangan, atau pun kedangkalan terbit darinya. Iramanya menguntungkan berbolak-balik membaca diri, tertambah komentar kawan nan perjelas bibit rahmat perolehan. Sayang tulus bersinggungan, jarak simak perbedaan, permainan licin antara keberanian menyuarakan realitas, menyadap sedap searoma rokok terhisap, kepulannya seperti pejaka melanglang buana. Yang terkata menyauri hutang kepada Sang Pemilik Nyawa, meski selalu nonggak, mungkin sering merasa sibuk pun menyibukkan diri sampai abai. Tidak lebih ingin berpulang berkeadaan tampan bermuwajahah&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;oleh tiadanya menyia-yiakan kesempatan, jumlah usia direstui-Nya. Hanya doa sebalutan kata saya, tidak lebih baik dari pedagang keliling kehujanan-kepanasan demi keridhoan, mendambakan kemurahan tuhan tercurah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam turun pelahan teringat beberapa masukan kawan semua saya tampung, diletakkan di beberapa tempat sesuai kemampuan warna tengah membentuk gugusan. Tentu tidak membiar tarikan sendiri lewat pendekatan teryakini bisa menyusupi rerongga masa meski berbeda, selama yang terpunggah tak mencederai sketsa tegasnya. Berharap seturunnya kalam fitri serta tafsirannya, meruang-waktu peristiwa mendiagnosa, dialog jiwa dan raga, badan lain tak teraba, sefirasat atau hal kecil mempengaruhi letak; bergeser, menekan pun naik mengikuti hukum timbangan semesta, antara terlihat mata dan maya. Kekhusyukan ingin bawa kesaksian murni, bercengkerama realitas menyimak alur-alur perubahan, mendudukan disepadankan siratannya. Maka tetap fokus segambaran perbandingan memperkaya kelapangan jiwa, demi membuka lelembaran kebenaran nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sepertinya hawa angin bagian ini segera masuk, padahal masih berkeinginan melantunkan kata memenuhi halaman panca indra, agar tak tegang berakibat persinggungan tajam, meski ada. Setarik ulur ini, lantaran ragu belum membaca ulang bebahan hendak disuguhkan olehnya mengambang, belum bercorak terang sepantasnya menghadirkan penegasan. Maka saya hentikan sementara sambil mengikuti larutnya malam, menghitung angka kalimat kemungkinan lain dari pidato SCB sebelumnya. Lewat kekuatan-kelemahan bahasa yang saya timba dari karya-karya mengguncang dunia, bukan polesan mengada, tapi luapan besar; pergolakan sungguh terbitnya sejalur cahaya matahari menghadiahi reribuan manfaat bagi terpancari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rembulan nampak purnama tanggal 15, namun terlihat limbung di arah barat sepertiga malam musim dingin, sedangkan tubuh ini mengalami kehangatan kembali, terkenang beberapa lingkup penelusuran lalu. Jadi, bila ada pernyataan terlihat asing seloncatan, diri memaklumi karena anda tak membaca dari awal, sebab saya tak memanjakan lawatan menunjukkan sketsa sedurungnya kecuali sekadar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Derrida memulai bukunya "Spectres de Marx: l'état de la dette, le travail du deuil et la nouvelle Internationale" terbitan Éditions Galilée 1993. Masuk ke Indonesia melalui "Specters of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning, and the New International" Routledge, New York, 1994, pada penerbit Bentang, Juni 2000, penerjemah Hartono Hadikusumo. Derrida memetik sandiwara tragedi Hamlet karya William Shakespeare dengan 'kata perintah' “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hamlet&lt;/i&gt;:... Bersumpahlah. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hantu&lt;/i&gt; [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;di bawah&lt;/i&gt;]: bersumpahlah.” Meski dari dua pengucap berbeda 'badan,' masih mengandung perintah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;'kutukan'&lt;/i&gt; (Sartre), menciptakan nafas hidup di ruangan lain, atau Adam digelincirkan ke bumi bersama Siti Hawa. Tiada ampunan kecuali yang berpegangan pada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘dahan istighfar’&lt;/i&gt; (Ibnu 'Arabi), mencari obat penyesalan sakit dan mengharap kesembuhan, bukan hidup yang diberkahi untuk bebas!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini tak mendangkalkan sejenisnya atas kitab suci, hanya saya percaya, sastrawan ampuh pun kritikus berjiwa tanggung, mendasari karyanya lewat sejarah yang tak menutup kemungkinan terpikat kitab-kitab suci yang berpengaruh besar penduduk di bumi. Sejumputnya marah, tertawa, berimajinasi pula bersikap lain tetap di alam akli, pangkasan utuh membikin bangunan dialog berjenjang, tak mudah ambruh pun bolak-balik. Shakespeare mendialogkan badan kasar, badan halus; Hamlet dan Hantu. Jika merujuk ungkapan “Kun Fayakun” terbalik, tetapi tepat bagi Derrida membongkar Marx lewat ini, yang condong tak mempercayai tuhan, atau imajinasi tentang tuhan ialah bikinan manusia. Di mana ucapan Hamlet di alam realitas, Hantu berucap di ruang turunan berbeda, perintah sedari akal untuk yang tidak terjangkau nalar. Namun satu peristiwa memulai terciptanya sebuah tragedi, drama menggetarkan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketidakmasuk-akalan SCB juga tidak Ilahiah, memunculnya ‘kata benda yang diperintah’ "Jadi, lantas jadilah!", "Jadi maka jadilah!" Sulapan kelas dangkal! Kalau melekati jiwa seniman, maka dasar-dasar logikanya ngawur tidak dipikirkan, otomatis jika menelusuri hasil karyanya terlihat karya kegagalan. Andai dirasa cukup berhasil sebab telah banyak dukungan, tentu banyak faktor, misalkan: Di mana khasana keblinger itu tumbuh? Siapa saja penopangnya? Secorak apa pula yang keluar darinya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mula Derrida menguji nyali atau membuahi kekritisannya lewat menampilkan judul dari ‘kata-kata benda’ "Hantu-hantu Marx," seakan menunjukkan permainan dunia orang berakal dan tidak, mungkin juga menertawakan diri sendiri. Jalan alot itu memaksa mengoreksi tempat duduknya; apa ada paku membahayakan, banjir tiba-tiba atau perbedaan dapat merusak gagasannya. Ketika dirasai kehabisan tenaga, dipanggil Shakespeare, Hamlet tepatnya demi menyelesaikan soal menghalangi penelitiannya. Tengok 'evolusi (kata) benda' Derrida di hlm 15-16, singkatnya: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Maka, apakah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tiga hal dari benda&lt;/i&gt; ini? 1. Bagi karya belasungkawa tidak ada yang akan lebih buruk lagi ketimbang kekacauan dan kesangsian: orang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;harus tahu&lt;/i&gt; siapa yang terkubur di mana –dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;memang perlu&lt;/i&gt; (untuk tahu – untuk memastikan) bahwa, dari apa yang tersisa darinya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;dia tetap tinggal di sana.&lt;/i&gt; Biarlah dia tinggal di sana dan tidak berpindah lagi! 2. "&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hamlet:&lt;/i&gt; Tengkorak itu memiliki lidah, dan dulu bisa bernyanyi. 3. Akhirnya (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Marx qui genuit Valery...&lt;/i&gt;), benda itu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bekerja,&lt;/i&gt; apakah ia mengubah atau mengubah dirinya, membentuk atau mengurai dirinya: ruh, "ruh dari ruh" adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kerja."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada masalah besar, dikata kecil juga boleh; SCB mengganti arti dari teks aslinya, bukan teks asli dibongkar, dirombak atau diselewengkan secara cerdas berdasar akli menggugah kesadaran lain. Ini belum pernah saya temukan pada sastrawan dan filsuf (intelektual) beneran, kecuali adanya alasan pengelabuhan, dan Tardji tidak ketengahkan itu, seperti sadar setiap olahannya dipastikan diterima siapa pun. Maka permainan sulapan dilakukan demi melegalkan beberapa kesannya pada dunia. Seorang pesulap atau pun penyihir, memang diharuskan terampil membelokkan perhatian atau pandangan mata, seolah yang terjadi menakjubkan, dinaya kejutnya diberikan bagi mereka yang terpesona dan media massa juga para pengagumnya, cukuplah menopang gaya sihirnya. Seperti ular-ular para tukang sihirnya Fira’un mengelilingi Nabi Musa as., bebentuk tingkah pola ular-ular maya bisa terlihat hasil para kritikus pembelai puisi-puisinya yang dikatakan puisi mantra, tetapi tidak! Karena setiap mantra bisa disebut puisi, menurut rupa serta bebunyiannya, dan bertuah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dua kemungkinan jika bukan Musa as. yang menghadapi peristiwa tersebut. Pertama ia berlari tunggang langgang, keduanya masuk perangkap alam bikinan tukang sihir. Yang terbirit menghindar dapatlah mengumpat, ngedumel lantas mengatakan ‘buah itu tak nikmat, sebab tidak bisa memetiknya.’ Atau tercenung di sulut kamar memikirkan yang terjadi, berheran hingga kerasukan; ngomel sana-sini karena tak mampu melihat realitas -semu kejahiliyahan. Yang terjerat kurungan sihir terpesona mengagumkannya, keheranan atas kesaksiannya diceritakan ke banyak orang, seperti kritikus yang kurang memiliki pegangan kuat atau iman berkesenian. Di tambah tekanan pamor Fir’aun tak sekadar raja tapi juga tuhan; raja berwewenang seolah tangan tuhan, tuhan memiliki kekuasaan menghapus derajad tuhan lain yang menyainginya. Maka perubahan "Kun Fayakun" dimenjelma "Jadi, lantas jadilah!", seperti tak masalah baginya, mungkin begitu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagaimana kisahnya andai Nabi Musa as. diabaikan tuhan, tidak turun perintah untuk melemparkan tongkatnya? Tuhan membiarkan saja tidak bertanggungjawab pada nasib Musa, juga sebagian umat beriman? Tuhan iseng tak bertanggungjawab sambil melihat gelagat raut muka Musa. Atau usil menyuru lempar tongkat tetapi tidak diwujudkan menjelma ular besar? Karena tuhan tak bisa diminta pertanggunganjawaban atas ciptaannya, seperti tuduhan SCB di esainya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;--"Sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya"--&lt;/i&gt; (Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair)? Tidakkah tuhan di sana 'semau gue' istilah Jakarte. Lalu takdir Musa sialan, sia-sia memberantas kegelapan, mungkin diperolok-olok tuhan dari ketinggian langit hayat, dan Raja Fir’aun pengaku dirinya tuhan makin keren di hadapan pengikutnya. Maka tak sekadar tepuk tangan panjang, juga beberapa penghargaan memayungi wibawanya. Tuhan Allah swt. pun melanggengkan jasadnya, tetapi bukan sebentuk penghargaan, apalagi penghormatan, tidak! Namun peringatan bagi orang-orang setelahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ternyata (kata depan ini mengingat- anak saya yang belajar mengarang, tetapi kebanyakan kata 'ternyata') Allah swt. menjelmakan tongkat Nabi Musa as. yang mematuhi perintah-Nya, tongkat dilempar membentuk ular besar sebagai bukti kemukjizatan kenabiannya. Karena Fir'aun dan para tukang sihirnya telah buta mata hatinya, perihal itu dianggapnya sihir, serupa pekerjaannya berpropaganda. Muka Raja Mesir merah marah terhadap sekutunya, mengumpati para tukang sihir yang senantiasa dimanja ketenaran juga kekayaan pandangannya berbeda, daripada raja-raja lainnya. Sementara Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal ‘Presiden Penyair Indonesia, Raja Mantra,’ terpukau kagum pada sulapan menyihir David Copperfield. Sampai gegaya puisinya lain daripada perpuisiannya sebelum menyaksikan pementasan "David Copperfield, Realities '90." Ia terjebak ke dalam alam bikinan pesulap, hingga memberi kesaksian lewat puisi gaya barunya. Dan otomatis para kritikus mengudar perubahan drastisnya, terpesona 'anak pesulap' itu, serupa ketakjuban tukang-tukang sihir terhadap mukjizat Nabi Musa as. yang dikiranya –sekelas sulapan sihir juga!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah lewati separuh kurang melingkar, saya teruskan disertai suara ti’k-ta’k gerimis di luar, demikian jika divisualkan. Bagian ini mengambil garis Derrida, dan Insyaallah bagian selanjutnya XVIII melalui pemahaman Muhammad Iqbal, entah terjumput motodenya. Yang jelas, saya terpengaruh ruang lingkup aktivitas keseharian, mungkin kurang peduli pendekatannya, kecuali bergayuh seirama prosesi menuangkan ini. Dapat dibilang kini masih kupasan lingkup dalam dari paragraf IK pun yang nanti. Mari baca Bismillah, senada kumandang musik ‘Queen,’ "Bohemian Rhapsody."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini saya jumput paragrafnya SCB dari Mastera: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, "Jadi, lantas jadilah!" Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri" &lt;/i&gt;(Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera, Bandar Seri Begawan 14 Maret 2006, ‘Isyarat’ hlm 20).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘jadi’ atau wujud atau ada; setingkatannya atas firman permulaan sedari Tuhan Sang Maha Penyair, lengkapnya "Jadi, lantas jadilah!" Merupakan wujud, sesuatu yang sudah ada, benda telah jadi; tuhan di sana mungkin juga heran keberadaan benda tersebut tiba-tiba hadir di hadapannya, bercuriga adanya tuhan selain dirinya. Sebab benda itu tak diwujudkannya, tapi diwujudkan yang lain atau wujud sendiri, hadir terbit sendirian di depannya, dan tuhan sang maha penyair tinggal mewujudkan ulang dengan kata-kata 'lantas jadilah.' &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda" &lt;/i&gt;tak lain tak bukan adalah kata 'jadi.' Sesuatu yang ajaib, tuhan sendiri terkagum serasa dipaksa benda itu untuk dijadikan ulang dengan kata 'jadilah.' Keterpaksaan dari sebuah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;keutamaan&lt;/i&gt; yang datangnya tiba-tiba, laksana kejatuhan pulung tiada tahu siapa peniupnya, siapa penggeraknya semula?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;SCB menghilangkah kata kerja awalan dari firman tuhan sang maha penyair, dan tampak kata kerja perintah itu datangnya terlambat, dengan memunculnya kata-kata 'lantas jadilah.' Kemendadakan mencipta keterkejutan, seperti dalam ruangan tunggu atau firmannya menanti hadirnya (kata) benda itu jatuh; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘kata adalah benda,’&lt;/i&gt; menurutnya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘adalah ikhwal’&lt;/i&gt; (fenomena), fenomena itu sesuatu yang rumit, jamak, selalu berubah. Perihal tersebut masuk ke dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘adalah makna,’&lt;/i&gt; yang otomatis makna ini sesuatu amat rumit, jamak (banyak), serta senantiasa berubah, nilai yang bisa berkurang juga bertambah, lantas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘adalah diri ekspresi’&lt;/i&gt; dari benda-benda, kerumitan pun tidak tetap masanya di dalam ruangan bisa berganda pula, demi mewujudkan keberadaannya -jadi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘adalah eksistensi.’&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika ditarik kembali ke titik semula, yang menurut kosmologi matematis Frank J. Tipler&amp;nbsp; ‘Omega Point Theory’ disebut titik singularitas ialah titik omega, dalam karya-karya Al-Hallaj pun lainnya bersenandung demikian. Saya lanjutkan, tuhan di sana (paragraf di atas) serupa pesulap atau pencipta sedari sesuatu yang sudah ada; menyelesaikan kasus-kasus telah ada; tuhan belajar dari banyaknya kerumitan, kemakna-gandaan dan sebagainya; sinahui perubahan benda-benda yang tidak diciptakannya; tuhan menjadi penyelesai kasus, hakim mengudar soal, perampung masalah yang tak dibikinnya. SCB lalu berkata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri"&lt;/i&gt; Untuk penyair dapat saja menciptakan sesuatu dari yang sudah ada, namun tak bisa dimasukkan ke dalam firman Allah swt. "Kun Fayakun." Ungkapan Sutardji senada esainya Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Peran penyair menjadi unik, karena — sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya — secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya."&lt;/i&gt; (Orasi budaya dalam Pekan Presiden Penyair, Republika 9 September 2007).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada kritikus mengibaratkan saya seperti semut dalam Aqua jika berhadapan SCB, jadi anggap semua tulisan ini monolog semut-semut hitam merayap. Memang tak saya pungkiri keberadaan diri ini di dunia sastra Indonesia bukan apa-apa, apalagi bertatapan sejarah sastra yang hampir semua kritikus telah mengokohkan karyanya. Tetapi saya tidak minder sama sekali apalagi mundur, tidak! Sebab apalah bagi saya kalau sampai ugal-ugalan merombak firman-Nya, meremehkan-Nya dijadikan sekutu manggut manut pada syair dan pemikirannya! Tak lain, saya ingin meluruskan pemahaman, selaras persinggungan saya dengan Leo Tolstoy nan menghadirkan buku "Kulya Dalam Relung Filsafat" 2004. Sebab apalah hidup tanpa keyakinan, menggadaikan pada yang fana, sebentar-sebentar lenyap!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jiwa ini amat labil, hingga kerap mengadu kepada-Nya lewat sampiran kata&lt;span lang="IN"&gt;, saya harap tak merusak tuangan malam ini. Balik ke soal, kalau menyebut istilah 'takdir' atau pun 'nasib', maka yang terbayang sedari benda-benda disebut SCB melalui tuhan sang maha penyair, seolah berjalan kaki sendiri-sendiri. Mengingat beberapa kajian sastra yang ditulis Sutardji pula para pengupasnya; takdir kata-kata bergerak jempalitan, mondar-mandir bisa membunuh dirinya sendiri, mengobok-obok nasibnya, meracau ke depan-belakang, tersebab tuhan telah membebaskan demi mencari makna lewat nada dering "Jadi, lantas jadilah!" Bisalah itu terjadi, menengok penggalian mereka pada puisinya yang katanya puisi mantra, generasi pulang kampung ke akaran, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada Derrida yang saya namai 'evolusi (-kata-) benda' tepatnya ke angka 3. Akhirnya (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Marx qui genuit Valery.&lt;/i&gt;..), benda itu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bekerja,&lt;/i&gt; apakah ia mengubah atau mengubah dirinya, membentuk atau mengurai dirinya: ruh, "ruh dari ruh" adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kerja&lt;/i&gt;." Kurang lebih perembesan dari ungkapan Valery: Manusia &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"suatu upaya untuk menciptakan yang saya sebut ruh dari ruh." &lt;/i&gt;(di hlm 7). Lalu kita bandingkan ‘kata benda’ perkataan SCB, "(Jadi), lantas jadilah!" merupakan ‘kata benda’ yang dipekerjakan. Bukanlah: "ruh 'ruh dari ruh' adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kerja&lt;/i&gt;:" Kata benda ini memiliki riwayat, "1. Belasungkawa. 2. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Hamlet:&lt;/i&gt; Tengkorak itu memiliki lidah, dan dulu bisa bernyanyi." Yakni kematian menuju belasungkawa -sebuah benda- tengkorak yang dulu berlidah serta bisa bernyanyi. Dulu sekali, sebab ternyata tengkorak tidak punya lidah, dan tidak mungkin dapat berlagu. Maka yang muncul kenangan, sejarah masa hidupnya kata benda, "Hantu-hantu Marx" yang (dari) di masa hidup Karl Marx menuliskan “Das Kapital,” Manifesto Komunis tersebut kini, (sedang) menghantui. Kata benda ini bersilsilah ruang-waktu, yang menyeret bayangannya kepada sejarahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lebih jauh Derrida menemukan istilah 'azali' atau saya mempercayai sebagai azali, dari ujarannya: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Bahkan bila masa depan itu merupakan asal-usulnya sendiri, masa depan itu harus, seperti semua asal-usul, mutlak dan tak terubahkan lagi, masa lalu." &lt;/i&gt;(xxviii, Eksordium). Kini tengok kata-kata SCB di hlm xix di bukunya "Isyarat" sebagai awalan guratannya, setelah esai pembuka “Ihwal Personal” xv tertulis singkat: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"KATA-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata adalah pengertian itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia bebas. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Kredo Puisi, 1973)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maka jelaslah SCB berpengertian demikian: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, "Jadi, lantas jadilah!" Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi." &lt;/i&gt;Tapi sangat keliru perihal itu dirujuk ke firman "Kun Fayakun" yang sudah saya terangi, juga senapas Derrida pula Valery: "ruh 'ruh dari ruh' adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kerja&lt;/i&gt;." Bukan seperti pemahaman Tardji &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"di mana kata adalah benda."&lt;/i&gt; Tetapi ruh tersebut &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"merupakan asal-usulnya sendiri"&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"masa depan itu harus, seperti semua asal-usul," &lt;/i&gt;ini &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"mutlak dan tak terubahkan lagi, masa lalu"&lt;/i&gt; di atas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"ruh 'ruh dari ruh' adalah kerja."&lt;/i&gt; Sejurus jumputan saya terdahulu, ruhaniah kata kerja’, fi'il amar, atau perintah pada kata “Kun.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Umpama dibolak-balik jempalitan membacanya, ini pula menyenggol yang mengkritisi buku saya “MTJK SCB” Wawan Eko Yulianto memesankan saya pada ulasannya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"saya menyarankan kepada Nurel agar membandingkan dulu pandangan Tardji yang dulu dengan yang sekarang tentang mantra."&lt;/i&gt; Kenapa saya yakin meski lewat dua potong esainya SCB waktu itu? Sebab konsep (kalau pantas dibilang konsep, tepatnya kesan pada kehidupan), kalau kesan tersebut dangkal, kemana pun tetap mentah. Apalagi bagi jiwa-jiwa sudah merasa mapan, dimapankan keadaan; kritikus memandulkan kreativitasnya lewat perbandingan muluk, tetapi nyatanya njomplang? Sebagaimana perhitungan gemintang serta hukum-hukum baku digenggam semesta alam, serta mereka turut menelitinya sampai menjelma rumusan kalender, membaca musim, cuaca dsb. Begitu yang terketahui, dari buku saya baca meski belum lapang. Setidaknya dari beberapa suara masuk menjadi pemacu diri terus belajar, memahami yang sudah dipelajari mereka. Diri ini cuma meluruskan yang sudah-sudah, dengan kadar apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ruh daripada ruh dari ruh ialah kerjanya Marx, Valery, Derrida. Kata benda 'hantu-hantu' yang menghantui. Atas proses panjangnya memuara pada karyanya sastrawan besar Inggris William Shakespeare berlabel ‘Hamlet’ seperti terhidang ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hamlet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;:...Bersumpahlah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hantu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;di bawah&lt;/i&gt;]: Bersumpahlah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mereka bersumpah&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hamlet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;: Tenang, tenanglah Ruh yang terusik!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi Tuan-tuan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan segala kasihku aku unjukkan diriku padamu;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan walau semiskin ini &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hamlet&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menyatakan kasih dan handaiku padamu,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Insya Allah, tidak akan kekurangan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Marilah jalan bersama,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan letakkan jari-jarimu pada bibirmu, kumohon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktunya tidak nyambung: Oh jahanam terkutuk,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang aku dilahirkan untuk membetulkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak, ayolah, pergi bersama [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Keluar&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;--Babak I, adegan v. (halaman 3).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum mengudar karya Shakespeare, meski agaklah malu terdahalui Jacques Derrida. Oya, barusan saya baca esainya SCB seperti ngemil pagi ini, serasa 'ngemput' jagung. Esainya bertitel "Puisi Muncul Dan Penyairnya Mati --Polemik Puisi Gelap: Sekilas Jawaban-- hlm 168 - 181 buku "Isyarat," Republika, 20 Maret, 27 Maret, 3 April 1994, tampak keangkuhan meremehkan Derrida seolah dirinya paling! Ini lucu!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin baginya wajar, firman Allah swt. saja dipreteli seperti sulapan "Jadi, lantas jadilah!" saya rasa seluruh dunia terpingkal-pingkal olehnya! Shakespeare mengawali dialog Hamlet dan Hantu, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hamlet&lt;/i&gt;:...Bersumpahlah. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hantu&lt;/i&gt; [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;di bawah&lt;/i&gt;]: Bersumpahlah [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mereka bersumpah&lt;/i&gt;]. Hamlet tidak mendekte Hantu dengan menyebut kata benda 'Sumpah', tapi kata kerja perintah yang dalam nahwu shorof, alat baca kebahasaan arab, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;fi'il amar&lt;/i&gt; 'Bersumpahlah', Hantu menyerukan sama. Meski pada derajat berlainan, tapi masih dalam tataran akli kebahasaan, "Kun Fayakun" bermakna "Jadilah," maka jadilah ia." Dua kata kerja besar, menggerakkan suluruh peradaban dunia akhirat seisinya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adalah kosong "Jadi, lantas jadilah!" &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mak bedunduk nunut ngeyop,&lt;/i&gt; abrakadabra, barang sudah jadi dimunculkan, David Copperfield menerobos tembok, atau semua memukau dunia lahir-bathin SCB dan pengagumnya. Jadilah sastra bim sala bim, puisi mantra priketiwi tidak bertuah! Atau Tardji bingung membaca Derrida? Dikarena nasibnya sudah di atas angin kritikus handal di Indonesia sampai dataran Asia? Maka tidak perlu perevisian, sudah merasa dinaungi dewi fortuna, dewa-dewi mendiami mitologi. Olehnya makin kuat sejarah sastra Indonesia, sebagian masuk menghidupi pekabutan mitos?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang tertuang ini anggap memakai pendekatan bersap-sap gelombang, ondak-ondakan untaian rambut memanjang bidadari mandi keramas di sendang. Saya bukan FPI, diri ini mengamini ungkapan almarhum Gus Dur; “Tuhan tidak perlu dibela,” menerima perbedaan tentunya berlantaskan pengetahuan, tidak asal njeplak. Hanya pengelana ingin selalu belajar, tak takut bersinggungan daripada mendiami ruang-ruang pembodohan! Maka bersiaplah berkedip-kedip membacanya. Tengok ulang sajak SCB "Enso!" atas petikan A. Rahim Abdullah yang menurut saya belum!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Enso!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Qur’an kini hanya aljabar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beratus persamaan-persamaan tersamar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku tak mengurusnya lagi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jemu. Cahaya sebentar datang,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu hilang kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terbayang SCB linglung sehabis baca Al-Kitab beserta artiannya, bisa jadi, yang terpegang hasil penerjemah kurang paham tradisi Arab, pembaca tahu tersebut? Pula sangat sembrono, andai tidak merujuk ke Asbabun Nuzul-nya. Sutardji membolak-balik lembar Kitab Suci, ditengok terdapat keserupaan di Surat Al Hijr ayat 61-75 dengan Surat Hud ayat 77-83, mengenai kisah Nabi Luth as. Lantas ditemukan Surat Al A'raf ayat 109 dengan Surat As Syu'ara ayat 34 mengenai Nabi Musa as. Adanya kemiripan lain ‘pengucapan,’ di Surat Al A'raf yang menuduh Nabi Musa tukang sihir ialah kaum Fir'aun, sedangkan di Surat As Syu'ara yang mengatakan demikian Raja Fir'aun sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sutardji terus berpusing-pusing lontang-lantung menimbang isi Kitab Suci lewat pelbagai bacaan sejarah menerangkan Para Nabi, ditemukan ‘ada kemengslean.’ Dibacanya asatir (legenda), tumbuh dalam kitab tersebut, ada pula surat-surat alunannya berkisah semata di hadapannya, misalkan Surat Yusuf, Al Anbiya', Al Qasas, serta Nuh. Menurut A. Hanafi, M.A. pada bukunya "Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-kisah Al Qur'an,” diterbitkan Pustaka Alhusna Jakarta, cetakan I, 1984 lebih jauh menyebutkan: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dari keseluruhan surat Al Qur'an, maka 35 surat memuat kisah, kebanyakan adalah surat-surat yang panjang. Jumlah ayat-ayat Al Qur'an yang dipakai untuk kisah menurut penelitian saya sepintas lalu, lebih kurang 1.600 ayat, dari keseluruhan ayat Al Qur'an yang berjumlah lebih kurang 6.342 ayat. Jumlah 1.600 ayat itu hanya mengenai kisah-kisah sejarah yang berkisar Nabi-nabi (Rasul-rasul) terdahulu dengan tidak mengikutsertakan ayat-ayat yang berisi kisah-kisah perumpamaan (tamtsilliyah). Tentunya jumlah itu akan menjadi lebih besar apabila kisah-kisah lain dimasukkan. Bahkan, jika dibandingkan dengan ayat-ayat hukum yang berjumlah lebih kurang 330 ayat, maka nampaklah kepada kita betapa besar perhatian Al Qur'an kepada kisah-kisah itu."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (Hlm 22)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin (-Wallahu a'lam bishawab) dibayangkannya Al-Kitab menyerupai antologi cerpen atau sejenisnya, lantas muncul sajak Enso!-nya. Alangkah indah kalau SCB menulis esai atas letupan kegalauan temuannya, dan kita dapat menelusuri jejak pun peroleh manfaatnya. Terbayang di pikiran saya, Tardji menulis puisi kerap berkeadaan mbulet tidak mampu mengurai, tak elok mengangkat benih-benih puisi dalam dirinya. Cermati berkaca mata bening antara karyanya, dengan karya para tokoh dunia yang oleh para kritikus disejajarkan padanya, tentu membuang ketakutan terlebih dulu, kalau kelak anda tak diterima warga sastra INA, karena Sutardji sudah disematkan. Apakah SCB hawatir disebut penceramah, umpama nulis esai keagamaan? Tidak timik-timik berlari di beberapa esainya, dengan menjawil nada-nada Hadits Qudsi kesana kemari semaunya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum merantak ke petikan naskah Hamlet di atas, lepas keraguan dunia Internasional, minimal di Inggris sendiri mengenai keaslian karya-karya Shakespeare, yang membeludak pun memukau semua kalangan. Pendapat saya, seorang aktor yang hidup berpindah-pindah antar panggung, bernapas dengan para pemain serta penontonnya, keluar masuk atmosfer, kelas-kelas sosial diserapnya menjelma bahan penting mengudar kegalauannya. Meski saya tidak memungkiri adanya beberapa penulis memanfaatkan namanya, demi meloloskan karyanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Walau terlahir dari keluarga buta huruf, serta bukti lain semisal wasiatnya tidak menunjukkan ia penulis handal, kurang bijak jika dirinya tidak diperhitungkan sama sekali. Dapatlah terjadi beberapa temuan senada temuan lain, yang oleh para peneliti meragukannya; surat-surat Ludwig van Beethoven atau penulis nan paras tulisannya memberi ilham selanjutnya, misalkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sang aktor menghisap seluruh kekayaan nilai dunia panggung; celoteh, umpat, sangkalan, dedahan, apa saja menggiringnya berkaya. Sebab, alam ditelusurinya senantiasa beredar di setiap ubun-ubun penggemar. Jika berasas kemungkinan, dapat saja Shakespeare dalam semalam atau sepekan, bersama bangsawan Italia nan kagum kepiawaiannya, memberi banyak informasi nuansa perikehidupan bangsawan Italia. Ini terus beredar atau mengedarkan pengamatan demi hasilkan karya bergairah sesyair-syair panjangnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gaya hidup menyerapi segenap bebuliran embun kehidupan; desir angin, kerinduan mendera nan harapan bergejolak meningkatkan setiap jenjang masa dilayari, segugusan agung dalam pribadinya. Inilah pembentuk jiwanya dengan seluruh wacana, sebab kasih sayangnya menyebar tanpa sekat batasan, selalu mematangkan kemungkinan. Menurut saya arti kemungkinan ialah rahmat tuhan bagi jiwa-jiwa membuka kelapangan menuju pencerahan. Inspirasi tersebut mengalir sejauh dirinya mampu bertahan dalam gelombang badai kesunyian, gemuruh kesedihan, di atas hidupnya yang miskin betapa mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekecilnya Shakespeare bertubuh tampan nan berwibawa, jelas ini memudahkannya masuki setiap lapisan. Dan tuturannya menggoda, dapat melancarkan pikatnya untuk memetik kembang pengetahuan, menggayuh bibir-bibir informasi senantiasa bergetar di hadapannya. Maka nilai kejujuran lunglai di hadapan pesona sang aktor. Seorang terlahir di kota Stratford-upon-Avon tersebut begitu lihai memasuki bilik-bilik hati, tanpa perlu mengutarakan isi hatinya. Sehingga muncullah ungkapan, "Apalah arti sebuah nama?" Jikalau dilesatkan, "Apalah makna sebuah kelas sosial?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan terus sejauh mampu manfaatkan keberuntungan (rahmat tuhan). Ini dialog terdalam dikala menerobos lelipatan waktu, naik-turunnya masa. Saya kira, reruang nalarnya membentang panjang meski di ruang sempit belakang rumah, kandang kuda disaat memesrakan segenap perikehidupan, menuju dataran tinggi angin ke puncak inspirasinya. Maka mudahlah menggayuh sang matahari harapan, memetik bintang mimpinya sebagai oktor tersohor atas ganjarannya membuka ruang hati seluas-luasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalbu membuka, menyibak ladang kemungkinan, sehingga yang diragukan misalkan tiadanya catatan mengenai dirinya menerima bayaran atas karyanya. Petikan kata indah, hasil karyaannya tiada pada surat wasiat; tak mengurangi nilai kehidupan sang aktor yang melangkah seperti gembel jalanan. Bathinnya sudah sedemikian kaya, pada keluarganya kekayaan tersebut diwariskan, atau lewat kaca mata lain; kekayaan pada karyanya adalah nilai dunia yang diharuskan pada turunannya untuk mencari sendiri sebagaimana dirinya. Begitu warisan abadi, lelaku pencarian pengetahuan nan bertarung dengan jamannya, Shakespeare memulai perikehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tonggak kokoh itu mematangkan gurat tulisannya tercurah sedari jemari terus menari. Dan apa yang dituangkan seakan bukan dari dirinya semata, oleh serapan di bawah sadar selepas senggolang, berkecup hangat realitas sosial. Maka kekaryaanya daya dinaya kumpulan suara hiruk-pikuk, dipilih satu-satu dalam perenungan malam-malam, serta pekik angin daerah-daerah disinggahi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin ini sedikit mengurangi yang diragukan warga Inggris, dunia sastra pada umumnya, khususnya Brunel University di London. Atau patut menyimak ulang gugurnya Brigadir Jenderal Mallaby, di sini orang Jawa menerima orang besar yang datang sedari kalangan bawah, Ken Angrok dan Gajah Mada misalnya. Sebab penelitian tak sekadar mendasar juga menukik ke dalam; mencurigai kelemahan, kepahitan, kemalangan sang aktor. Ini dapat diawali meneliti kehidupan Sir Derek Jacobi, Mark Rylance sendiri! Sebelum menengok ke cermin besar kehidupan William Shakespeare. Mungkin juga perlu melihat gaya hidup Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud, Charlie Chaplin, selain jua Christopher Marlowe, Edward de Vere, Francis Bacon demi masuki pola hidup sang aktor dengan sketsa yang seimbang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baca Derrida, menjalarkan saya menyimak kritikus Christopher Norris pada bukunya "Deconstruction: Theory and Practice" Methuen &amp;amp; Co. Ltd., 1982 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE, diterjemahkan Inyiak Ridwan Muzir, Penerbit Ar-Ruzz Jogjakarta, 2003 "Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida." Komentar singkat saya, anda tidak cukup 'gila,' belum cukup 'waras' atau belum sangat 'sehat' menghadapi mereka -'sport jantung'- membaca teks-teks Derrida, sampai mempersoalkan di balik proses penulisan lewat menyarankan bermain billiard seperti Home. Yang terurai tak terdengar, serupa halaman masih kosong yang patut anda pijak sendiri. Derrida memang bunuh diri, tetapi teksnya sengaja diabadikan 'ritual' tersebut, yang mengusik dan menyiutkan nyali sehingga 'kebeningan kosong' tampak di lelembar-buku anda. Ataukah sebagai filsuf tangguh, anda belum cukup siap?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan lewat musik “Queen” yang menyuarakan "We Will Rock You" atas karangan Brian May, saya baca teks “Hamlet.” Takdir ini belum dibayangkan Shakespeare pula Derrida.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hamlet&lt;/i&gt;:...Bersumpahlah.” Bermusiklah, keraskan suaramu sekalimat sumpah serapa. Telah menjadi takdirmu bersumpah, pantul sejauh kemampuanmu sanggup memberkati hidupmu sebagai orang-orang bersumpah. Takdir yang jauh tampak dekat, sedekat hentakan musik dalam jiwamu, debaran perasaan engkau tunggu datangnya. Sejajarkan kumandang sejantung nyawa, dan tak perlu mengelaknya atau menghindar, sebab nasib merestuimu. Kini menyentuh tepat ubun-ubunmu!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hantu&lt;/i&gt; [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;di bawah&lt;/i&gt;]: Bersumpahlah.” Hantu berderap naik, menanjak seolah membungkus ruhnya dengan jasad atas asap menebar pada panggung. Secara sadar atau tidak, berangsur berdaging, dimulai dari kepala pelahan sampai ujung kaki. Meski dalam batas di luar logika, Hantu mengedarkan penalarannya, mengikuti ucapkan Hamlet. Dia balikkan seruan memantulkan perintah, atau bersumpah butuh kebersamaan jiwa-raga, kesaksian purna tak hanya panggilan juga ungkapan dasar hati, tapi dimaklumatkan dalam tekad suara. Sisi lain; ‘bersaksilah,’ kini berada di panggung lebih besar nan terang lampunya, dialog nyambung sama-sama berkesegaran, gairah harus diuntahkan, sebelum para penyusup mengacaukan. Tiada pertanyaan, tak membutuhkan komentar atau penyangkalan. Ini bukan kekacauan, tetapi takdirnya sudah datang, dan tiada waktu lagi untuk dibenahi, kecuali melakukan kegilaan sepadan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hamlet sadar ada Hantu di bawah, Hantu pahami Hamlet mengajak bersumpah, memerintah dengan paksaan, barangkali suara Hantu sekadar pantulan suara Hamlet di ruangan. Ataukah ini suara terdalam Hamlet? Tidak! Hantu hadir beserta suaranya, serupa keriuh-ramaian penggemar ‘Queen’ sedang mengikuti lagu "We Will Rock You." Meski di sekitar keremangan cahaya, penonton itu ada dan lengkingnya menyibak nada-nada musik keras sedari atas panggung. Bagaimana kata kerja perintah, 'Bersumpahlah' meneror dunia, mendesak menggencet otak hingga semua orang harus turun tangan, jalan kaki ke dalam gelanggang. Kerumunan perjelas di depan, walau terompet kiamat sudah dikumandangkan. Apa lagi yang akan terbit, selepas musik berakhirnya sejarah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎[&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mereka bersumpah&lt;/i&gt;] Bersepakat sekesatuan bulat, seirama garis kurva menaikkan lengkingannya, suatu barisan mengungguli tafsir diperkirakannya. Ada, -yang diperkuat kesadaran-nya; kerja; "suatu upaya menciptakan yang saya sebut ruh dari ruh" Valery, "ruh dari ruh" itu kerja" Derrida. Hentakan keras memaku kayu-kayu dijadikan kursi dan meja, menggergaji bilah-bilah ditancapkan perkokoh dialog. Bukan kata benda 'sumpah' atau 'jadi,' tetapi 'bersumpahlah,' 'jadilah', kewajiban tak boleh ditangguhkan, sebab sudah menunggu sekian lama hingga kesemutan membatu. Hantu telah menanti Hamlet dalam kegelisahannya amat sangat, Marx mengetahui takdir hari depannya, Sartre menolak Nobel Sastra, Yukio Mishima menjemput mautnya. Manusia berakal Hamlet, mencetuskan kata sumpah dengan perintah kepada Hantu yang mengikuti patuh, atau sekadar menyenangkan di balik yang tak dilihat Hamlet, setidaknya pada kejadian tersebut bersepaham.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini bukan mendangkanlan firman Tuhan; "Jadilah, maka jadilah ia." Namun meluruskan paham yang keliru pada kalimat, "Jadi, lantas jadilah!". "Jadilah," maka jadilah ia" adalah dua kata kerja perintah menghidupi alam-alam terkandung di dalamnya, dan hanya Tuhan lebih mengetahui, sedang para ahli tafsir berupaya mendekatkan firman-Nya melalui jalur rujukan menjurus atasnya. Sebuah firman tunggal dari Sang Maha Esa, keagungan luhur tak dapat diwakilkan siapa pun juga meski oleh manusia utama. Sedang bentuk lain yang rendah dekat kerumpilan, bobot alam maya mengisi dunia, mencoba "menciptakan ruh dari ruh" ciptaan ingin merakit, insan berhasrat memeriahkan hidup dengan dialog kerja di atas kesangsiannya, hingga harus dan nyata perlu mengundang hantu, ini tepat dalam ajaran Marxisme. Hamlet di hadapan Derrida tidak percayai adanya tuhan atau menyebut tuhan sekadar sampiran pengganjal, dalam meleburkan yang 'masih di cari’ di sisi luar kesadaranya. Agama adalah candu yang tumbuh dari mitos jikalau perihal itu terlanjur menjangkiti tubuh Marx. Pun Hamlet-nya Shakespeare, dan Faust-nya Goethe, lebih mempercayai hantu daripada tuhan. Lebih sadari yang bergentayangan terjangkau meski dekat kesangsian wajar, atau dianggapnya norma?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Marx, Derrida, lebih condong pada bayangannya yang menghantui hidupnya, mencintai hantu muncul dari kematiannya. Sebab setiap tubuh napasnya ditempakan cahaya pusat langit tidak membentuk bayangannya sama sekali, mereka jadi deladapan. Kesaksian pada pancaran selain kepribadiannya disangsikannya, ditolaknya mentah, dianggap kosong, tak melihat bayangannya di kaki-kakinya, padahal bayangan bergetar, tak kuat menanggung keraguan mereka. Lantas menyulutkan kata kerja 'bersumpahlah' menjadi pegangan, serupa kemungkinan asap mengepul di atas panggung teater mewujudkan hantu berjasad, dan bersuara seperti yang sudah disuarakan manusia Hamlet. Yang berpegang teguh nalar, lebih meyakini bayangannya, percayai hantu. Di bidang lain berarti ketakutan-ketakutan yang diakrapinya, daripada Tuhan Yang Esa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya tak bisa bayangkan jika ini yang terjadi; SCB percayai adanya tuhan dengan catatan berkompromi, mengikuti pandangannya yang takjubi dunia sulapan. Saya harap itu hanya kehilafan, atau menginsyafi yang sudah, demi kembali memahami sebenar-benarnya. Tidak balik seigauan sajak-sajaknya, seperti yang bertitel "Orang Yang Tuhan" misalnya. Atau perlu menyimak karya para ulama, khususnya tegurannya keras Ibnu Taimiyah, jikalau masih suka-ria menebar kesalah-kaprahan! Sebab kata-kata bertuah, bukan lantaran alunan suaranya, tapi makna terkandung di kedalamannya. Begitulah mantra / puisi mantra, seperti mantra-mantra diambil dari Al Qur'an ialah doa, yang menghidupi kemantaran berbahasa Jawa maknanya. Suara biasa berbeda, tetapi dinaya makna mendorong menjadikan mantra bekerja: ruh dari ruh" (Valery), "ruh dari ruh" adalah kerja" (Derrida).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Shakespeare melalui mulut Hamlet, tak langsung mengatakan kata-kata sumpah, kalimat tersebut ditundanya. Kenapa? Atau disimpan lalu disusupkan ke dalam pengertian lain. Ada apa? Ia berkata, "Tenang" berarti ruh, hantu, atau pengisi ruangan sangat berisik, mungkin berjubel "Hantu-hantu Marx." Ini situasi tak diperkirakan Hamlet, sebab kata 'tenang' bukan dimuka kata 'bersumpahlah' tapi setelahnya. Ada sesuatu yang dipaksa, hingga tidak jadi tenang dengan munculnya kata 'bersumpahlah', ada yang tidak setuju, tak sependapat, atau kaget? Kenapa harus bersumpah? Bisa terjadi, ungkapan Hantu mengikuti kata Hamlet sejenis keterlepasan baru disadarinya, setelah kata mencelat sedari mulutnya. Volume tinggi, kondisional tergencet suhu panas, menjadi mereka gerah menyusupi segenap penjuru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata 'tenang' dirasa kurang logis meski sudah diawali kata kerja sedurungnya (bersumpahlah), atau kata 'tenang' segambaran penekanan, demi menenangkan suasana setelah kata perintah dirasa mendadak. Kata 'tenang' pertama semacam menaruh lengan tangan di udara, suatu isyarat agar Hantu tenang, tapi dirasa belum cukup bekerja, dilanjutkan, ini menerangkan kata 'tenang' dimuka juga akibat kata 'bersumpahlah.' Maknanya, Hamlet memerintah Hantu ‘tenang’ menerima kata-kata sumpah, meski tidak cukup. Kenapa tidak? Karena paksaan sepantas di sisinya ada imbalan, ganjaran, namun Hamlet mencukupi bertanda seru, sejenis hardikan dalam pengucapan, terbayang warna ancaman. Jika ungkapan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Hamlet: Tenang, tenanglah Ruh yang terusik!" &lt;/i&gt;berkelembutan, maka terpancar wajah penuh wibawa, kharisma bisa menciutkan nyali, dengan sendirinya diterima meski ada kemungkinan ngedumel di dasar kedirian Hantu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di panggung berbeda, Hamlet seakan berkata 'tenanglah Norris', 'tenanglah kritikus sastra', "tenanglah Ruh yang terusik!" Derrida tinggal tengkoraknya, dan Nurel sekadar pengelana. Sumpah ini hanya meluruskan dari masa dimengslekan, waktu dipermak ke dalam persekutuan makna jahiliah. Kami cuma bersaksi di dalam lingkaran nyala api sendiri, mengambil bahan kalian yang tangguh sebagai rasa hormat, ternyata rapuh. Kami sekadar menunjukkan hukum-hukum pernah menimpai, kita di jalur jaman logis sampai lelingkup luaran, tertimpa berkali-kali, perang tidak habis selesai, pembantaian, manipulasi. Dan apa saja menjatuhkan buah kentil itu, berasal suara-suara sumbang, angin bikinan seperti hujan buatan, jelas tidak kondisikan alam lestari melalui penumbuhkan pohon-pohon. Tapi pohon plastik sekarang sudah menjelma penghijauan semu pada setiap kota-kota di kepala, yang tak memunculkan daya kekritisan, dinaya berontak atas fitrohnya sebagai insan merdeka; kemenjadian dipurnakan dari kasus-kasus untuk diselesaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"Jadi Tuan-tuan, Dengan segala kasihku aku unjukkan diriku padamu;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Di belahan berbeda, Hamlet seolah unjukkan Derrida, lebih jauh dan atau kepada Hantu-hantu Marx. Di sebelahnya Nurel menggugat makna kata "Kun Fayakun" yang dijelmakan arti "Jadi, lantas jadilah!" Jadi Tuan-tuan, oleh segala keluguan saya, segenap ketumpulan pena ini. Di manakah jari-jemari biasa menari, apakah sebatas 'kebeningan kosong' Norris? Di bingkai lain, kenapa anda kurang bijaksana, tidak seperti suara-suara Sartre dalam pengantar bukunya Frantz Fanon "The Wretched of the Earth"? &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Dan walau semiskin ini Hamlet" &lt;/i&gt;Keterbatasan Derrida, bubarnya Uni Soviet, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Menyatakan kasih dan handaiku padamu," &lt;/i&gt;bahwa kemenangan global perekonomian pasar bebas, jika tanpa koreksi tajam, segera tergelincir ke jurang perbudakan, perang tidak bisa dihindari saat sekecil-kecilnya datang diabaikan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"Insya Allah, tidak akan kekurangan:"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Tidakkah akan sampai Presiden Barrack Obama berkunjungi ke Bali di bulan kemarin, Pemerintahan Republik Indonesia takkan menambah hutang lagi, jikalau para aparatnya sadar diri. Pertumbuhan ekonomi dihadapi berkesadaran mawas, bukan awas! atau ancaman seperti anak kecil tidak memiliki mainan tak dijadikan sekutu, atau menguasai pasar secara tidak sehat. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Marilah jalan bersama,"&lt;/i&gt; :kata Hamlet. Kebijakan terbuka, membuka diri seluas-luasnya sebagaimana kemungkinan rahmat Tuhan, tapi perlu menyempal dedahan pengganggu berakibat condongnya batang pohon kesatuan; kemanusiaan, selurus tegak nilai bersegenap kemungkinan indah menjulang ke puncak matahari kemerdekaan. Pertumbuhan alami dari pohon sungguhan, tidak plastik atau pun alibi! Yang digagas para pendahulu, tak lupa mengamati firasat Francis Fukuyama pula Derrida, atau Prabu Jayabaya, R. Ng. Ronggowarsito, Mpu Prapanca, Mpu Tantular, misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"Ndilalah kersa Allah, Begja bejane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (Namun sudah menjadi kehendak Tuhan, bagaimana pun juga sebahagia-bahagia yang lupa diri, masih bahagia yang senantiasa ingat serta waspada). [Serat Kala Tida, Sinom VII, R. Ng. Ronggowarsito], &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Dan letakkan jari-jarimu pada bibirmu, kumohon."&lt;/i&gt; Sumpahnya mengajak jemari bekerja itu menyentuh bibirnya, agar merasai ludah basah sedari kata-kata sumpah; ingat dan waspada guna setiap lipadan rapi menandakan bulir-bulir air kesaksian. Atau Hamlet memerintah menyentuh bibir sebagai perlambang kesadaran, sumpah ini terjadi pada mulut yang ‘tersadar,’ rongga napas saat itu jua. Permohonan tulus tidak untuk dirinya sendiri, tapi mereka yang bersumpah pula melaksanakan kesaksian; luka-luka di kaki tak hanya diamati, tapi lebih sempurnahi diri perasaan, dielus-elus selaku keterlibatan, menjenguk tanda mata kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bibir-bibir gemetar oleh pengucapan sumpah, merasai jemari sekujur tubuh menggigil panas dingin demam. Di ketinggian panggung, Hamlet peragakan jemarinya disentuhkan ke bibirnya, hawa udara sesak memanas, menjambak kulitnya mengucurkan air keringat, terus menyerukan kalimat. Dan para penonton ‘Queen’ bersorak-sorai khidmat di dalam sepaduan nada seimbang "We Will Rock You." Tapi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Waktunya tidak nyambung: Oh jahanam terkutuk," "Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun"&lt;/i&gt; (Jaman yang dilalui itu memang jaman gila, untuk menentukan sikap repot sekali. Akan ikut gila (menggila) seringkali hati tak tega. Namun apabila tidak mengikuti, tidak akan mendapatkan hasil akhirnya kelaparan. [Serat Kala Tida, Sinom VII, R. Ng. Ronggowarsito, di buku “Raden Ngabehi Ronggowarsito, apa yang terjadi?” Disusun Anjar Any, penerbit Aneka Ilmu, Semarang 2002]. Maka bacalah selepas sorak-sorai, keheningan suara-suara ganjil, tak dipatenkan berdiam diri, tetepi pembongkaran demi mendewasakan jenjang ingatan, ini pembetulan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Yang aku dilahirkan untuk membetulkannya." &lt;/i&gt;Hamlet melanjutkan: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Tidak, ayolah, pergi bersama"&lt;/i&gt; [&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Keluar&lt;/i&gt;], melaksanakan sumpah, merasai kutukan Sartre, menebar ruh dari ruh Valeri, setindak kerja Derrida!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;NB: “Serat Kala Tida” bagian VII di atas sengaja dibalik, setelah bersepakat dengan Beliau; R.Ng. Ronggowarsito. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allahumma sholli alaa sayyidina Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-4918647376770354096?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/4918647376770354096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/4918647376770354096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/4918647376770354096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_17.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVII kupasan ketiga dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-388585211286562005</id><published>2012-01-06T21:54:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T21:55:59.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dami N. Toda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVI kupasan kedua dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000. Yang meloloskan pengertian "Kun Fayakun" dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; "Jadi, lantas jadilah!" dan "Jadi maka jadilah!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, "pasti pidatonya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mbeneh&lt;/i&gt;, bukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;awut-awutan,"&lt;/i&gt; nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;cuntel&lt;/i&gt; keilmuan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagian XVI ini berkehendak mengupas paragraf tiga dan empat tingkatan kedua esainya Ignas. Sengaja membabar kandungan lebih dulu, sebelum lingkaran luar. Secara tak sengaja temukan kefatalan sangat pada data saya telusuri. Terus terang agak canggung mengudar sastra ke wilayah agama, di sisi usia belum genap matang pun keilmuan durung mencukupi dalam mewedarkan. Lantaran ini soal serius dan seperti belum ada ahli bahasa memperkarakannya. Mungkin dianggap kesalahan ketik, kewajaran dari kenyentrikannya, jangan-jangan takut keliru meluruskannya. Ataukah begitu, "Kun Fayakun" dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia, menghilangkah ‘ruhaniah kata kerja’, fi'il amar (‘perintah’ pada kata 'Kun'), sehingga tampak sulapan ‘jadi’-nya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya kira sudah banyak pembaca bukunya Sutardji "Isyarat" pun membeludak mengutipnya, mungkin telah berjubel buku-buku turunan mengamininya. Tidakkah hal tersebut merusak nilai-nilai Al-Qur'an dalam pemaknaan, disaat benih-benihnya menyebar ke seluruh dataran subur Nusantara? Jika hendak ambil khasana luar, berhasrat mencawuk ujaran tertentu, sepantasnya tak mengurangi pun melebih-lebihkan, apalagi bersumber dari agama. Di sana sering saya singgung, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;asal tempel!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Padahal firman Allah swt. mengenai "Kun Fayakun" telah mengispirasi para ulama' nan tertera dalam kitabnya, ada dikhususkan tersendiri semisal Ibnu 'Arabi pada kitabnya “Syajaratul-Kaun.” Dari mereka, mewujud gugusan ilmu pengetahuan, bukan alibi kata-kata. Yang dari huruf ‘kaf’ dan ‘nun’ atas kata ‘Kun’ merambahi dataran firman-firman-Nya, pula hadits-hadits ke tingkatan perciptaan awal, Isra' Mi'raj, di atas jagad kecil dan besar, juga di luarnya dalam lingkup kekuasaan-Nya. Saya tak sanggup membayangkan, kata ‘Kun’ diganti lain dengan merangkaikannya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2006 serta Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000, menghargai ayat-ayat Al-Qur'an sebagai Kitab Suci. Sepertinya teks-teks pidato tersebut wajib direvisi, yakni mengenai "Kun Fayakun" ['Kun (wujudlah), maka ia pun jadi (wujud), terjemahan ‘Syajaratul-Kaun’ Ibnu 'Arabi, penerbit Risalah Gusti, Surabaya, 2001: “Syajaratul-Kaun dan Hikayat Iblis” (Mesir: Mushthafa al Babi al Halabi wa Auladuh, 1360/1941)] (makna wujud / jadi di belakang, sebagai pemberhentian bacaan). "Kun Fayakun" [“Jadilah," maka jadilah ia, penghujung Surat Yaasiin ayat 82, penghujung Surat An-Nahl ayat 40, dari terjemahan "Kitab tafsir Jalalain," Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin As Suyuti, diterbitkan Sinar Baru Algensindo, Bandung]. Bukan "Jadi, lantas jadilah!" atau "Jadi maka jadilah!" Ini kesengajaan SCB demi menopang pahamnya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mari simak paragraf-paragrafnya: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Pada mulanya Tuhan Sang Maha Penyair berfirman, "Jadi, lantas jadilah!" Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi. Kesanalah penyair menuju-sebagai pedoman-mencoba meraih kata yang adalah makna itu sendiri"&lt;/i&gt; (Sambutan Sutardji Calzoum Bachri Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera, Bandar Seri Begawan 14 Maret 2006, ‘Isyarat’ hal 20).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Pada mulanya Sang Maha Penyair berucap, "Jadi maka jadilah!" Itulah kata yang paling hakiki dari puisi. Kata adalah makna itu sendiri. Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri. Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (“Bukan” Sutardji Calzoum Bachri -Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000-, "Bentara" Kompas, 11 Januari 2003, ‘Isyarat’ hal 22).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"Jadilah, maka jadilah ia" atau 'Kun (wujudlah),’ maka ia pun jadi (wujud; pemberhenti dalam bacaannya) adalah kalimat sempurna, hukum ketentuan. Sedang "Jadi, lantas jadilah!" atau "Jadi maka jadilah!" Ialah bukan jumlah mufidah (tidak kalimat sempurna); cabang kering tak berbuah, mentah rontok sebab batang pohon kejadian dihentakkan tangan memaksakan diri membebaskan setelah kata 'jadi.' Mencerabut akar, kematian, bebijian kering, lebih tepatnya membusuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Presiden sungguhan misalkan SBY punya sekretaris, mungkin SCB yang melantik dirinya sendiri sebagai presiden penyair, punya sekretaris juga. Benarkah ini kefatalan bawahannya? Karena "Jadi, lantas jadilah!", "Jadi maka jadilah!" Masih gelap, jadilah apa? Toh sebelumnya sudah ‘jadi’? Kalau di permainan sulap bolehlah, sebab barang dimunculkannya sudah ‘ada’ sebelumnya! Bandingkan dengan kalam mufidah (kalimat sempurna) dalam Al-Qur'an: "Jadilah, maka jadilah ia," sederhana lagi, "Jadilah, maka jadilah." Di sini jadilah apa? Yang terjadi, ‘keterangan kata kerja’ sedurungnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kenapa SCB menyematkan kata ‘jadi,’ bukan ‘jadilah,’ ini sengaja memegang ujung kata yang selanjutnya berbunyi "kata adalah benda", "Jadi adalah Jadi itu sendiri"? Seperti ungkapannya yang terkenal pun didukung sebagian kritikus, kalangan penyair, bahwa "Pada mulanya adalah Kata. Dan kata pertama adalah mantera." Padahal mantra sendiri suatu ritual, tidak patung, mematung, pula bukan 'puisi kongkrit' yang pernah dipamerkannya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tuhan Allah swt. berfirman mengenai "Kun Fayakun" tidak dengan kata lain. Sepengetahuan saya terdapat di dua surat, berikut lantunan ayatnya. Yang dalam kurung terjemahannya, yang di luar tafsirannya dari Kitab tafsir Jalalain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami meghendakinya) artinya, Kami berkehendak untuk mengadakannya. Lafaz Qauluna adalah Mubtada, sedangkan khobarnya (Kami hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia) artinya, maka sesuatu yang dikehendaki-Nya itu ada seketika. Menurut qiraat lafaz Fayakuunu dibaca Nashab sehingga menjadi Fayakuuna karena di'athafkan kepada lafaz Naqula. Ayat ini menunjukkan makna menetapkan kekuasaan Allah di dalam membangkitkan mahkluk. (Surat ke 16 An-Nahl (lebah) ayat 40, termasuk surat Makkiyyah. 128 ayatnya, kecuali 3 ayat terakhir Madaniyyah yang turun sesudah surat Al-Kahfi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Sesungguhnya perkara-Nya) keadan-Nya (apabila Dia menghendaki sesuatu) yakni berkehendak menciptakan sesuatu (hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah", maka terjadilah ia) berujudlah sesuatu itu. Menurut qiraat yang lain lafaz Fayakunu dibaca Fayakuna karena di'athafkan kepada lafaz Yakula. (Surat ke 38 Yaasiin ayat 82, termasuk surat Makkiyyah. 83 ayatnya, kecuali ayat 45 Madaniyyah yang turun sesudah Surat Jin).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibnu 'Arabi dalam mengawali kitabnya "Syajaratul-Kaun" memilih ayat yang terdapat di Surat An-Nahl, mungkin se-tindak kehati-hatian demi 'mengurangi' bentuk penguat di hadits maudhu’ menurut sebagian ulama.' Seperti berikut artinya, "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, sedangkan hatinya Al-Qur’an ialah Surat Yaasiin. Barang siapa membacanya, maka seakan-akan ia telah membaca Al-Qur’an sebanyak sepuluh kali". [HR. At-Tirmidziy di dalam As-Sunan (4/46), Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (2/456)]. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dapat pula pilihan itu lantaran lantunannya berkelok, tak menohok seharum kembang menyengat aromanya. Atau didasari kesastrawiannya, yang napasannya lebih mudah dimengerti semua kalangan. Lantas timbul pertanyaan; apakah 'tanda seru' pada kata-kata SCB; "Jadi, lantas jadilah!", "Jadi maka jadilah!" sudah mampu menggantikan kata 'kerja awal' pada kata 'jadi', sebagaimana 'jadilah'?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini seperti bukan soal salah ketik pun bukan ketidaktahuan para kritikus. Itu saya sesalkan kenapa para ahli kritik tidak memperotes, sedang mereka mengantongi keilmuan, malah melapangkannya di beberapa tempat. Jika saya tak luruskan kasus Asy-Syura yang diselewengkan tafsirannya, kayaknya langgeng juga. Mari tengok Kitab Suci Al-Qur'an di hadapan SCB, dikutip dari esai A. Rahim Abdullah "Sutardji Calzoum Bachri: Penjatidirian Dalam Proses Pembangunan Negara Bangsa"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sebagai penyair yang jujur dapat kita tangkap sikapnya pada sajak “Enso!” walaupun Sutardji dianggap semacam sangsi dengan peranan kita suci (al-Qur’an)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Qur’an kini hanya aljabar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beratus persamaan-persamaan tersamar.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku tak mengurusnya lagi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jemu. Cahaya sebentar datang,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu hilang kembali.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebenarnya dia bukanlah sangsi terhadap kesucian al-Qur’an, tetapi disebabkan ayat-ayat dalam kitab itu juga tidak lebih daripada menyuarakan Tuhan secara samar-samar belaka (Nyoman Tusthi Eddy, 1980:4). Bagi penyair ini, kitab suci belum tentu mampu menjadi jaminan bagi hasrat manusia yang ingin menemui Tuhannya. Dengan sikapnya ini mungkin Sutardji dituduh murtad. Namun, esensi hubungan antar makhluk dengan Khaliknya tidak selamanya berlangsung dalam kitab suci. Setiap orang (sebagai makhluk) bebas mencari hubungan dengan Khaliknya. Dilihat dari aspek nilai spiritual, hubungan di luar kitab suci tidak berbeda dengan hubungan yang dijalin dengan kitab suci. Sebaliknya, hubungan yang bersifat bebas dan pribadi mungkin dapat menumbuhkan kenikmatan spiritual yang lebih besar (ibid).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (halaman 224 – 225, buku “Raja Mantra Presiden Penyair,” terbitan Yayasan Panggung Melayu, Juli 2007).”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lagi-lagi saya suka kaum sastrawan pun kritikus, tersebab lihainya bercakap. Bagaimana SCB menghadapi firman "Kun Fayakun", dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna: "Jadi, lantas jadilah!" dan "Jadi maka jadilah!" Di bawah ini agak saya urai dengan harapan kelak ada sikap kehati-hatian dalam mengartikan ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur'an. Dari segi alat baca (nahwu shorof), yang tak ada sedetik pun maksud saya mendangkalkan kesuciannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata 'jadi' sebelum kata-kata 'lantas jadilah!', apalagi tanpa tanda koma lalu 'maka jadilah!' merupakan fi'il madhi, artinya pekerjaan yang sudah terjadi dan tulisannya tak sebagaimana 'Kun,' tetapi 'kana.' Bayangkan jika kelak ada yang lebih ugal-ugalan dari SCB, merombaknya ke fi'il mudhore' (pekerjaan baru terjadi) seperti 'Yakuuna', makin rancu jadinya. Apalagi dipolitisir membentuk fi'il nahi bersuara 'La Yakuna' (menunjukkan larangan), maka kacau bukan? Padahal dalam kitab tafsir pun kitab-kitab para ulama yang membahas 'Kun', tidak hanya menulis 'Kun' semata, tapi sering dibarengi tanda petik saat memasuki terjemahan Indonesia. 'Kun' adalah kata perintah, ‘Jadilah.' Bukan 'jadi' yang merujukkan kata benda!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bandingkan kata 'jadi' dengan 'puisi kongkrit' yang saya singgung. Kalau SCB memperhatikan 'teguran samar, dukungan samar' dari Dami, sedikit banyak kemungkinan membenahi pandangan, berhati-hati sebelum bukunya diterbitkan. Dami mengatakan: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Sutardji pun kelihatan menghindari definisi itu, kecuali menerangkan soal proses kreatifnya," &lt;/i&gt;paragraf sebelum kalimat di atas isinya hampir sama pada awal esai Tardji bertitel “Sekitar Puisi Kongkrit:”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Kembali pada pokok yang disinggung pada awal pembicaraan ini, lalu apakah definisi "Puisi Kongkret" mereka itu? Seperti halnya penegasan Ikra Negara dalam sebuah koran ibu kota ketika itu, bahwa Definisi tidak perlu! Dengan kata lain, "definisi" karya-karya itu adalah sebagai "penampilan" yang begitu itulah. Tetapi mungkin tidak salah agaknya, kalau kita pun mendengar apa penegasan Sutardji Calzoum Bachri dalam pengantar pameran tersebut. Kata dia "salah satu elemen yang menyebabkan timbulkan puisi kongkrit ialah ide untuk membikin kata atau bunyi menjadi berwujud dan kehadiran kata yang tidak begitu saja menerima kehadirannya dalam gramatika, di samping huruf sebagai gambar dari kata yang diusahakan tidak bersifat netral untuk mengantarkan kata-kata."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (‘Menonton dan Mendengar Puisi Kongkrit,’ di buku “Hamba-hamba kebudayaan” Dami N. Toda, terbitan Sinar Harapan 1984).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Paragraf kedua dari akhir esainya SCB: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Bagi saya mantera adalah puisi kongkret paling berakar dan orisinal yang kita miliki. Konstelasi kata-kata atau bunyi dari mantra menimbulkan bentuk yang unik yang hanya berfungsi dalam keutuhan konstelasinya sendiri dan bisa diharapkan menimbulkan komunikasi atau efek tertentu. Situasi (tempat) di mana mantera itu diletakkan (tertulis) atau diucapkan banyak menentukan sampai atau tidaknya komunikasi atau efek yang diharapkan. Mantera adalah puisi terpakai (applied poetry) yang pada masa kini peranannya antara lain diambil alih oleh puisi kongkret dalam periklanan.”&lt;/i&gt; (‘Isyarat’ hal 110).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jelas, kata 'jadi' diingini tumbuh dari kata 'Kun', itu kesengajaan luar biasa nekat demi "menumbuhkan kenikmatan spiritual yang lebih besar" (A. Rahim Abdullah), yang dipatenken seturut melanggengkan gagasannya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Jadi adalah Jadi itu sendiri. Dalam dan pada Jadi itulah dunia dan makna menghadirkan diri. Ke sanalah penyair menuju, terobsesi mencoba meraih kata yang makna hakiki itu sendiri"&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Itulah kata paling utama dari puisi di mana kata adalah benda adalah ikhwal adalah makna adalah diri ekspresi adalah eksistensi.”&lt;/i&gt; (petikan paragraf di dua pidato SCB).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kenyataannya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ngawur,&lt;/i&gt; merombak 'kata perintah' menjelma 'kata benda.' Lebih serampangan tanpa perhitungan matang, mendingan para orientalis yang licin sekali pun. SCB tak sekadar menyelewengkan tafsir, juga gagah merombak susunan Kitab Suci Al-Qur'an demi kenikmatan berdalih atas nama sastrawan! Pembikin 'suara palsu' yang menyesatkan pembaca tidak kritis mengamini karyanya, seolah dari kitab agamanya! Pada kesempatan ini saya teringat ungkapan penyair sekaligus ulama’ Mustofa Bisri, yang mengistilahkan 'bolo' pada sesama Muslim. Karena ini saya anggap masalah serius, olehnya diketengahkan di sini!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lebih menyedihkan ‘pesulap kata-kata’ Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal Raja Mantra, Presiden Penyair Indonesia, perombak sekaligus penghancur pesona "'Kun,' Fayakun" diturunkan rendah, dihapus maknanya sekelas permainan kata-kata: "Jadi, lantas jadilah!", "Jadi maka jadilah!" Kenyataannya terpukau pesulap kelas dunia 'David Copperfield' yang tampan dan kaya, dibandingkan aura agung firman Allah swt. Mari simak paragraf lain esainya A. Rahim Abdullah, hal 132-233:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Sajak-sajak terbaru Sutardji sudah berubah bentuk tipografinya, ia seolah-olah kembali pada bentuk puisi konvensional. Ini terlihat pada "David Copperfield, Realities '90", "Tanah Airmata", dan "Jembatan" (Horison, XXXII. Juni 1998:28-29), bagaimanapun sajak kedua dan ketiga dihasilkan sejak 1993-97. Dalam "David Copperfield, Realities '90" Sutardji melahirkan rasa kagumnya setelah menonton pementasan "Illusion '90" oleh tokoh silap mata itu di Jakarta, antara lain seruannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku dipukau David Copperfield &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku dicekam Haudini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku terkagumkan sama pesulap kakap.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku terperangah melihat pesulap&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ngubah derita jadi gedung gemerlap&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku tercengang menyaksikan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;luka jadi waduk raksasa.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku heran nonton pesulap&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mampu mengkristalkan air mata kita&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jadi etalase indah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di berbagai plaza.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;aku kagum pesulap&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;yang bikin rimba&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jadi emas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;membuat hutan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jadi-pasir.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;inilah tardji&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terperangah takjub&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;heran daif&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terasing tumpul dan takut&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di negeri sulapan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setidaknya SCB berbahagia, sebab telah berhasil menyulap "'Kun,' Fayakun" menjelma arti "Jadi, lantas jadilah!", "Jadi maka jadilah!" di muka dunia kesusastraan Indonesia atas kritikus silap, di depan para penyair pengagum akrobatik kata-kata!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Secara umum terketahui Al-Qur'an ialah firman Allah swt. yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. dengan lafaznya yang hingga kini menjadi pembacaan kaum Muslimin sejagad. Sejak diwahyukan sampai sekarang, bahkan ke akhir zaman mempertahankan bentuk keasliannya. Tidak mengalami perubahan tambahan atau pengurangan, walau sehuruf pun. Sebenarnya tak diperkenankan mensitir ayat-ayat Al-Qur'an dengan hanya menyebut arti juga maksudnya tanpa menyertakan lafaz aslinya. Namun, rujukan saya kemukakan setidaknya jadi pegangan untuk dibuka, dibaca ulang, dibenahi jika terdapat kesalahan. Selain menghindari bentuk fatal salah cetak, kala berubah layout di percetakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu apakah MASTERA, Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau dapat menjamin ungkapan SCB "Jadi, lantas jadilah!" dan "Jadi maka jadilah!" bukan berasal firman Allah swt. "Kun Fayakun"? Bagaimana kalau dipakai para pengutip di Indonesia, kebanyakan latah tidak mencari rujukannya? Sebab begitu percaya ketokohan seseorang, misal; Menurut SCB, "Jadi, lantas jadilah!" Seperti yang pernah saya jumpai di salah satu buku mengambil kata-kata Sutardji, tapi tak menautkan akarnya. Andai soal ini dilepas dari agama, saya pikir lebih terhormat pelukis Van Gogh yang memotong telinga sendiri, tak pengambil ayat-ayat kitab suci, apalagi dipenggal seenaknya. Agak ‘genap’ memang, mencari legitimasi kepenyairan dalam kitab suci. Tapi fatalnya ketika al-Kitab tak sesuai pandangannya, lantas dirombak semaunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau SCB menulis "kun faya kun" seperti di esainya "Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair," agaklah aman daripada kedua pidatonya tersebut. Dan jika berwawasan luas yang bisa dipertanggungjawabkan, tentu teks itu diperluas rupa ceramah ‘Mochtar Lubis’ tanggal 6 April 1977 di bukunya "Manusia Indonesia." Yang pasti tidak kebanyakan kata 'adalah'! Kita kerap memaklumi kesalahan senior, membetulkan tempat duduk kita disesuikan mereka, sehingga terlupa kursi sebenarnya! Tidakkah ini racun mematikan kreativitas pula membebalkan kefitrian kalbu pikiran dari-Nya? Nalar jadi tumpul, otak beku mengamini, dianggap lumrah kehilafannya? Sampai membuang susunan firman-Nya demi segelintir manusia-manusia fana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini bukan masalah kajian modern, postmodernisme, hipermodernisme, transformer-post-hipermodern dan sebangsanya. Tapi rujukan-rujukan itu tentunya tidak berbeda, tak berubah daripada kemunculan awalnya. Kalau hendak menciduk kekayaan lain, seyogyanya memakmurkan lewat bacaan berkisar di antaranya, bukan asal &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;njeplak &lt;/i&gt;serupa sulapan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mak’ bedunduk!&lt;/i&gt; Coba semisal ungkapan filsuf René Descartes (1596 - 1650), "Cogito ergo sum" artinya "aku berpikir maka aku ada" lantas dirombak "aku pikir maka aku ada." Tentu seluruh dunia terpingkal-pingkal menertawakan anda sambil berkata, "orang Indonesia sok cerdas ya!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pun tersebut tak sama derajadnya, tapi sepantasnya menghargai suara keasliannya. Pula dirunut ke dunia filsafat adanya kata benda, sifat dan seterusnya kerap saling membuai, tetapi suara asli tetap sebagai kunci keluar-masuknya gagasan! Kalau kunci duplikat lurus nan tak merusak lubang keasliannya, paling dianggap pembobol! Celakanya, kunci duplikat merusak tidak bisa dipakai lagi. Maka pepintu mengalami kejadian sama menyesatkan banyak orang, para pengunjung berjumpa jalan buntu! Terus di mana letak kearifan khasana sastra, melihat demikian nan tertera?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Padahal sebuah teks pidato kebudayaan, penghargaan sastra, pidato kepala pasar sekalipun tetap ditimbang, dihitung pengucapnya secara matang. Serupa catatan kesaksian, pandangan ideologinya, sikap berpendirian dari pergolakan proses kreatif. Entah dongengan perebutan wilayah pasar tradisional, peta susastara dirambahnya yang seruannya dihajatkan gemilang, agar kelak tiada pemberontakan. Maka dipilih ‘kata-kata’ kokoh berwibawa sebagai penanda capaian dilarungnya! Teksnya bisa diambil pedoman, rujukan, setidaknya keseluruhan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;laku&lt;/i&gt; terpancang pada ungkapannya. Senyawa teks telah membulatkan tekad, membaja di keseluruhan jiwa-raga seperti janji setia, sumpah ditanggung atas kepenuhan hidup. Saya teringat “Sumpah Palapa” yang diserukan lantang Gajah Mada pada pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka /1336 Masehi. Yang menelan tumbal seketika itu juga pada jiwa-jiwa tanggung mengejek tidak percayai maklumatnya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Andai kaum kritikus, para sastrawan Indonesia pula MASTERA, menerima dengan jujur teguran realitas dari Sang Maha Realitas, atas kesembronoan yang disengajakan di tiga teks pidato SCB, "Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair (1)," "Sambutan Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera (2)," serta "Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau (3)." Insya Allah, hikmah musibah tersebut terbuka manfaatnya. Di sana, gumpalan materi padat kegagalan dirinya sebagai sastrawan. Gagap meramukan konsepnya menjelma utuh. Lalu mencari-cari kepurnaan lewat ayat-ayat sedari kitab suci, yang disunat maknanya serta susunannya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bolehlah di kelas-kelas SCB mengatakan kata 'jadi' di awal kata-katanya tersebut menunjukkan 'kata kerja perintah' meski bukan! Lewat tekanan nada tertentu, kata 'jadi' di dalam lingkaran ataupun perkumpulan para penjudi dadu misalnya! Atau kata-kata 'sim sala bim' di dunia pesulap yang membuatnya terpukau pingsan, tercekam melotot, terkagum terbirit-birit, terperangah mendelik, tercengang geleng kepala sampai heran sepuyengnya bintang toedjoe umpamanya! Namun jangan samakan firman Allah swt. yang agung mengenai "Kun Fayakun" di ruang-ruang kelas itu! Kalau memang sastrawan jempolan, tentu paham membedakan teks-teks dunia gelap di sebelah yang bercahaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum masuki kilau cahaya kekaryaan Ibnu 'Arabi. Mungkin ada baiknya saya turunkan sedari dua teman, satunya semasa di Madrasah Ibtidaiyah, Ahmad Munib Junaidi yang sama penuturannya dengan saudara Muflih Khoiri. Mereka tidak bertitel Prof pun Dr., jadi anda tak perlu sungkan jika ingin mendampratnya. Kata 'Kun' yang pertama menunjukkan azali, tiada kata depan 'jaman' di muka kata ‘azali’, sebab belum menunjukkan masa (kata Muflih). Dan 'Kun' yang kedua merupakan peristiwa di alam dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini saya rujuk ke Hadits Qudsi: 55 di kitabnya Muhammad Tajuddin Bin Almanawi Alhaddadi, alihbahasa H. Salim Bahreisy, terbitan Bina Ilmu halaman 38, tahunnya tidak tertera, sebagaimana berikut; Al-Umamah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Allah ta'ala berfirman: Akulah "Allah" tiada Tuhan melainkan Aku. Aku telah menciptakan dan menakdirkan kejahatan, maka celakalah orang yang telah Ku-takdirkan kejahatan baginya dan melaksanakannya. (R. Albaihaqi). Yakni, yang "telah menciptakan dan menakdirkan kejahatan," dapat dimasukkan di azali, dan "maka celakalah orang yang telah Ku-takdirkan kejahatan baginya" sebentuk tarik-menarik antara tentara setan dan bala tentara malaikat di dunia. Sedangkan kata-kata "dan melaksanakannya." merupakan wujud kemenangan atau kekalahan di atas takdir tersebut. Wallahu'alam Bishowab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah lewati gerhana bulan total kedua tahun ini, pertama 16 Juni 2011, kemarin 10 Desember 2011, sesuai perkiraan Hakim L. Malasan atau baca bagian XIV Babad Nuca Nepa (Flores). Dan malam senin wage kini 16 Muharrom 1433 /16 Suro 1945, pelahan saya ingin memetik hikmah "Syajaratul-Kaun" buah ilmu manfaat sedari Penghimpun Agama (Muhyiddin), Ibnu al-'Arabi. Semoga Allah swt. meridhoi hambanya sangat hina ini di dalam meneguk hikmahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Asy-Syaikh al-Akbar Ibnu al-‘Arabi pada kitab saya pegang, mengawali cahaya inspirasi dengan firman Allah swt: "Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tertancap kuat dan cabangnya (menjulang tinggi) ke langit." (Q.s. Ibrahim: 24).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atas keluhuran itu sepantasnya yang percayai berhati-hati dalam penulisan, apalagi terjemahannya. Tidak membolak-balikkan ‘kata kerja’ menjadi ‘kata benda’ dan seterusnya. Umpama di suatu negara yang kerap melihat kritik dianggap pujian, maka dengungan keras pantas disuarakan. Sekiranya luput terlepas kembali ke jalan keselamatan. Bukan malah mencari pembenaran lewat dalil akli demi menutupi malu. Karena apalah perangai dunia, toh sebentar lagi semuanya binasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau (Ibnu 'Arabi) memuja-muji kebesaran-Nya, selantunan harum melati suci pula mawar sedap dipandang, indah didengar telinga: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Dia menciptakan segala di alam raya dengan kata 'Kun' (Wujudlah), tiada pernah apa pun wujud kecuali keluar dari hakikat tersembunyi dari kata 'Kun,' sementara tiada sesuatu pun tersembunyi kecuali dari rahasianya yang selalu terjaga.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ditulislah Surat An-Nahl ayat 40 yang menyebut "Kun Fayakun." Beliau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“merenungi alam raya, pembentukannya, memperhatikan yang tersimpan.”&lt;/i&gt; Lantas bersaksilah, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“keseluruhan tersebut suatu Pohon, pangkal cahayanya berasal satu benih ‘Kun’ dimana Kaf; al-Kauniyyah, dikawinkan dengan serbuk benih 'nahnu khalaqnakum' Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya (Q.s. al-Qamar: 49). Dari sini muncul dua dahan berbeda dari satu akar. Akar tersebut al-Iradah (Kehendak), sedangkan cabangnya al-Qudrah (Kuasa).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya sendiri merenungi dalam, teringat gagasan Nietzsche pada 'Kehendak Berkuasa,' lalu evolusi Darwin mementingkan fisikal. Tetapi semuanya lebur serupa keraguan saya ludes di ujung tahun 2001, satu jam sebelum berangkat ke Solo demi pementasan bersama komunitas Lapen 151. Terus ditempa pemahaman dikala membaca bulir-bulir mutiara Al-Hikam buah karya Ibn Athaillah. Alhamdulillah ungkapan saya; “bila Tuhan masih ada, Ia punya rencana!” (Balada di Bukit Pasir Prahara, 21 September 2000, Parang Tritis Yogyakarta), telah terjawab sudah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali ke petuah Beliau, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“‘Kaf’ dari kata ‘Kun,’ memunculkan dua makna. Pertama ‘Kaf’ al-Kamaliyyah (Kesempurnaan), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu." (Q.s. al-Ma'idah:3). Dan ‘Kaf’ al-Kufriyyah (Kekufuran), "Maka di antara mereka ada yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kufur." (Q.s. al-Baqoroh: 253).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sementara dari jauhar (esensi) ‘Nun’ dari kata ‘Kun’ muncul ‘Nun’ Nakirah (ketidaktahuan) dan ‘Nun’ Ma'rifat (pengetahuan tentang Tuhan). Ketika ditampakkan mereka dari ‘Kun’ ketiadaan pada hukum yang dikehendaki oleh keqadiman, maka Dia memercikkan sinar pada mereka dari Sinar-Nya. Yang terkena sinar kemudian memandang gambaran "Pohon Kejadian (Alam)" yang tumbuh dari benih ‘Kun,’ akan bahagia di dalam rahasia ‘Kaf’-nya sebagai gambaran firman Allah swt. "Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." (Q.s. Ali Imron: 110). Dan tampak jelas ‘Nun’-nya pada (Q.s. aZ-Zumar:22).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Yang tak terkena sinar, lalu diminta mengungkap makna dari kata ‘Kun,’ maka akan salah dalam mengejanya dan nista dalam harapannya. Melihat bentuk ‘Kun,’ mengira ‘Kaf’ Kufriyyah (kekufuran) dengan ‘Nun’ Nakirah (ketidaktahuan), karena ia termasuk kelompok orang kafir.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau terus berujar: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“nasib (bagian) setiap mahkluk dari kata ‘Kun,’ sesuai yang diketahui dari pengejaan hurufnya, disaksikan dari rerahasia terkandung di dalamnya. Sabda Rasululloh saw.: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Dia memercikkan kepada mereka dari Sinar-Nya. Barangsiapa terkena Sinar tersebut akan mendapatkan petunjuk, sementara orang yang luput dari percikan Sinar tersebut akan sesat dan menyimpang." (Lihat H.r. at-Tirmidzi, Kitab al- Imron: 2566).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tatkala Adam as. melihat lingkaran wujud, menemukan segala wujud berkisar di lingkaran kejadian; Satu terdiri api, yang lain tanah (thin). Adam melihat lingkaran berada dalam rerahasia ‘Kun.’ Bagaimana pun berputar tetap mengikuti, dimanapun terbang tetaplah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(tidak kan lepas, tak kan berubah). &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Satu di antara mereka menyaksikan ‘Kaf’ Kamaliyyah (kesempurnaan) dan ‘Nun’ Ma'rifat (pengetahuan tentang Tuhan), yang lain menyaksikan ‘Kaf’ Kufriyyah (kekufuran) dan ‘Nun’ Nakirah (ketidaktahuan). Sehingga kebijakan hukum padanya akan kembali di titik lingkaran ‘Kun.’ Yang diciptakan (al-mukawwan) tidak pernah melampaui yang dikehendaki Dzat Yang menciptakan (al-Mukawwin).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apabila anda memperhatikan berbagai macam dahan ‘Pohon Kejadian’ dan jejenis bebuahnya, akan tahu sumber utamanya berasal dari satu benih ‘Kun’ yang jauh berbeda. Ketika Adam as. diajari seluruh nama, melihat misal 'Kun' lalu menyaksikan yang dikehendaki Sang Pencipta melalui apa yang diciptakannya, menyaksikan "Sang Guru" dari ‘Kaf’-nya ‘Kun,’ ‘Kaf’ al-Kanziyyah (Gudang Rahasia) "Aku adalah Gudang simpanan rahasia yang tersembunyi dan tidak dikenal, lalu Aku lebih suka diketahui.” (al-Hadits). Melihat rahasia pada ‘Nun’ al-Ananiyyah (Keakuan) "Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku." (Q.s. Thaha:14). Ketika pengejaan itu benar dan harapannya terealisasi, maka "Sang Guru" mengambilkan suatu intisari dari ‘Kaf’ al-Kanziyyah, suatu ‘Kaf’ al-Takrim (pemuliaan) "Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (Q.s. al-Isra': 70) dan ‘Kaf’ al-Kuntuyyah (Keakuan) "Aku akan menjadi Pendengar, Penglihatan dan Tangan baginya." (al-Hadits).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dari ‘Nun’ al-Ananiyyah (Keakuan), "Sang Guru" mengeluarkan untuk Adam ‘Nun’ an-Nuriyyah (pencahayaan) "Kami menjadikan sinar untuknya." (Q.s. al-An'am: 122). ‘Nun’ tersebut bersambung ‘Nun’ Ni'mah, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menjumlahnya dalam hitungan tertentu." (Q.s. Ibrahim: 34). Sementara iblis -semoga Allah melaknatnya- selama empat puluh ribu tahun memahami huruf-huruf ‘Kun.’ "Sang Guru" telah memasrahkan segala padanya, menyerahkan segenap upaya, kekuatan pada kekuatannya sendiri. Maka iblis melihat bentuk ‘Kun,’ menyaksikan ‘Kaf’ Kufriyyah (kekafirannya), lantas sombong, membangkang dan merasa paling besar. Ia juga menyaksikan ‘Nun,’ ‘Nun’ Nariyah (api asal kejadiannya) "Engkau menciptakanku dari api." (Q.s. al-A'raf: 12). ‘Kaf’ kekufurannya bersambung ‘Nun’ keapiannya, maka dimasukkan dalam neraka, "Maka mereka dijungkir-balikkan ke dalam neraka." (Q.s. asy-Syu'ara': 94).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kala Adam melihat perbedaan terjadi pada Pohon ini, berbagai macam bunga dan bebuahnya, ia berpegang erat dahan, "Sesungguhnya Aku adalah Allah Tuhan semesta alam." (Q.s. al-Qashash: 30). Lalu Adam dipanggil, "Makanlah dari berbagai buah tauhid dan teduhlah di bawah Naungan Yang Mahatunggal." Selain perintah ada larangan, "Janganlah kalian mendekati pohon ini." (Q.s. al-Baqoroh: 35 dan al-A'raf: 19). Tapi iblis menginginkan Adam sampai ke dahan, "Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka (Adam dan Hawa)." (Q.s. al-A'raf: 20). Mereka memakan buah terlarang, membawanya tergelincir ke tempat-tempat menggelincirkan, "Dan 'durhakalah' Adam kepada Tuhannya dan 'tersesatlah'." (Q.s. Thaha: 121). Tetapi Adam tetap berpegang teguh dahan istighfar (Lihat Q.s. al-A'raf: 23). Akhirnya merunduk dan turun untuknya buah dari Tuhannya: "...Allah menerima tobatnya." (Q.s. al-Baqoroh: 37).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum meneruskan untaian mutiara Ibnu 'Arabi, saya tulis beberapa paragraf. Siapa tahu berjembatan untuk yang menganggap kekaryaannya sulit dipahami. Atas sebagian orang, karya-karya ulama’ berat dimengerti, sebab beliau-beliau kerap menerapkan berbagai jenis pendekatan. Kaum terpelajar, mungkin mengistilahkan bertumpuknya metodologi seperti "Syajaratul-Kaun" ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi pembaca berpikir runut bisa-bisa deladapan lantas mengiranya karya ‘gelap.’ Ringkasan alunan di atas saya penggal, karena di letak ini Beliau bikin sambungan halus antara pandangan sebelumnya menuju cara pandang lain. Yang dapat mengecoh apalagi tanpa dilandasi keheningan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang saya udar sekadar dinaya tangkap, lain soal pancaran hikmah yang butuh pengekangan lebih. Memang tak semua karya mereka berat, ini bukan berarti menganggap ringan, tidak! Karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, atau yang berada pada keilmuan secara umum, para santri kaum terpelajar tentu bisa mengendarai. Yang sulit bercampuran “filosofis, sufistik” pada karya Ibnu Rusyd (Averroes), Al-Hallaj, Ibnu 'Arabi, Mulla Shadra, Suhrawardi, Ibnu Sina, Ibnu Atha'illah, Rumi... Ini juga bersifat kecenderugan serta perlunya ‘kebeningan,’ selain pengetahuan tak bisa lepas keilmuan lain ibarat lingkaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat baca karyanya namun kurang buku-buku pendukung, diperkirakan bernapas di ruang 'gelap.' Ini bukan spekulasi, tapi sesimbul terikat kedudukannya, yang kadang berbeda letak di hadapan mereka. Kesuntukan dituntut ingatan kuat pada kisaran pemikiran mereka. Di sana meraba memahami waktu khusus dan tiada beban selain keilmuan. Demi peroleh kesaksiannya betapa berwarna-warna setangguh keinsafan kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebaiknya santun meski berbeda paham, serupa ketawadhuan para santri sebagai alat kepada pendekatan mereka. Mungkin berwudhu sebentuk menghargai keilmuan, pun bulir airnya mengurangi kantuk, bosan, ringankan lelah. Saat bersihkan sesuatu, merapikan kitab di rak, menyapu atau seluruh gerak betapa nikmat sambil mengingat. Untuk yang percayakan nalar, sepantasnya beningkan pikiran, guna yang masuk berkeindahan tanpa bayangan. Pastilah kemauan keras demi paham tidak menganggap ringan, meski di hal tertentu patut diseimbangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karya nan sulit dimengerti biasanya terdapat beberapa ‘kata kunci’ memindahkan soal. Ini dapat dicermati pada ahli tafsir mengurai sesuatu. Terkadang bukan sebuah kata, tetapi huruf semisal karya Ibnu 'Arabi ini. Mungkin kurang tepat karyanya dibebani benang metodologi, persisnya ialah warna jenjang penyingkapan hijab dibukakan Sang Pemilik Ilmu. Mari baca pendapat Masataka Takeshita terhadap karyanya Ibnu ‘Arabi;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sebagai seorang sufi sejati, dia menulis berdasarkan inspirasi. Kemudian ide memancar dari penanya, laksana air yang mengalir dari sebuah mata air. Sistematisasi yang sederhana dari sebuah karya yang sesungguhnya tidak pantas baginya. Sekali ia tersistematisasi, ia kehilangan dinamikanya dan menjadi sebuah mistisisme skolastik yang statis.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (terjemahan Moh. Hefni MR, “Manusia Sempurna, menurut konsep Ibn ‘Arabi,” terbitan Pustaka Pelajar 2005). Dan saya pikir, Louis Massignon, William C. Chittick, Karen Armstrong, Sachiko Murata, Annemarie Schimmel, R. A. Nicholson... punya wewaktu khusus menenangkan diri di dalam menghargai ilmu diteguknya, sehingga merambahi dataran bencah pemikiran atas kalbu hayatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atau kaum filsuf tiada jemu menggali hikmah, kadang sedari sepeleh jatuhnya daun. Karena bacaan meluas diperolehnya percik kilatan cahaya referensi saling bergesek. Pesonanya menguraikan pikiran, lalu jawaban muncul berbeda dari sebelumnya. Saya condong menganggap meraka tidak terpengaruh 'langsung.' Nyata punya jalan sendiri, oleh kesungguhan menggali kedirian serupa penyaksi lainnya. Kalau terdapat kesamaan ibarat berpapasan di tikungan, tampak tulisannya mengeduk pribadi keilmuan. Bukan sulapan bacaan atau mencari-cari bentuk di lelembar penyesuaian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang agak sulit dipaksa 'gelombang' atau mengawali bacaan kuranglah elok dipaksakan, jika dirasa belum tepat masanya. Ini berdekatan kejiwaan sehari-hari. Maka seyogyanya perkirakan ruang-waktu, kesibukan mengelilingi tidak mengganggu dan menentukan yang dibaca pada kondisi itu. Ini berkaitan irama batiniah pikiran percepatan, kelambanan, kepadatan, longgar; semua dihitung semisal naik bus ke suatu kota membuka buku mana dan apa saja ke depannya. Merasai kehadiran mereka sewaktu belajar pun tempat lain memungkinkan berdialog dalam ‘pikiran.’ Sehingga perpindahan masa terisi kegalauan mereka dan kita di antaranya serasa maya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kekhusukan itu biasanya bisa keluar-masuk gelombangnya di mana saja, tinggal menyetel. Kala mendapati beberapa gelombang, maka ambil demi meningkatkan ombak mengalami debaran kepada taraf pemahaman. Kesimpulan ibarat tapak langkah dilanjutkan, sambil tak lupa menyapa situasi. Saya pikir benda-benda dapat diajak akrab, merasakan tekstur guratan nasibnya, misal kayu terkena hujan kedinginan. Kelembutan sedikit-banyak membantu mengelus batin memasuki batiniah teks-teks mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada pula diharuskan kala volume gelombang jiwa dengan buku terbaca sesuai, sepantasnya dilanjut meski dipukuli kantuk walau sedang sakit. Kondisi itu pengetahuan masuk berakar membekas daripada sekadar ingin tahu sejalan baca pengantar. Mungkin merasakan cukup kebutuhan hidup dapat meringankan diri dalam pengoreksian oleh bacaan. Selalu tenang meski kurang waktu atas percepatan terlalu bodoh hingga mewajibkan belajar. Keakraban ini merangsang haus jika tak membaca. Gesekannya menimbulkan kepekaan dalam memudahkan paham kepada karya sulit dimengerti. Tidakkah enak membaca ulang karya mereka, dalam perenungan kita?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambil menutup jarutan kata, mari masuk pelahan ke karya Beliau lagi. Antara bagian saya penggal dan di bawah nanti, Ibnu ‘Arabi tak memberi batasan jelas yang dapat membuat pembaca kebingungan, kalau tidak cermat seksama. Padahal uraian sebelumnya, dengan bagian belakang terang berbeda. Sederhananya, awal menyebut dua dahan namun lanjutannya tiga, padahal satu pokok masalah. Ini bukanlah menghapus pengertian semula, di antara keduanya punya referensi serta saling menopang kuat. Pula tidak berjalan di dua arus, namun sejenis lelipatan penyingkapan, jenjang kesaksian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan jujur Beliau mengawali benang sambungan lewat memunculkan “hari kesaksian” di dalam paragraf depannya. Ini jalinan lembut sedari kata-kata “berbagai macam dahan” dikala menerangkan Adam as. di muka. Selain kata ‘hari kesaksian’, Beliau menaburkan pengertian di dalamnya, sehingga saling memperkokoh untuk masuki pandangan berikutnya. Jika pada filsafat materialisme ilmiah, bagian pertama seperti inti atom terdiri dua jenis nukleon; proton dan netron. Maka dapat dimengerti berikutnya partikel-pertikel quark yang diawali munculnya tiga dahan. Kepada kelembutan jiwa, penyingkapannya pasti didukung data. Di bawah ini benang halusnya, meski sebentuk ringkasan semoga tertangkap pembaca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau berkata; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Ketika dipanggil di hari kesaksian di depan mata para saksi untuk dimintai kesaksiannya, "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" (Q.s. al-A'raf: 172). Masing-masing memberi kesaksian dengan kadar ia saksikan dan ia dengar, semua menjawab, "Benar, tentu Engkau Tuhan kami." Tapi perbedaan terjadi dari sisi kesaksiannya. Yang menyaksikan ber-Keindahan Dzat-Nya, memberi kesaksian tiada sesuatu pun yang sama dengan-Nya. Yang menyaksikan-Nya ber-Keindahan sifat-sifat-Nya, bersaksi tiada Tuhan selain Dia, Yang Raja lagi Mahasuci. Yang menyaksikan-Nya di atas keindahan pada makhluk-Nya, kesaksiannya berbeda akibat berbedaan yang mereka saksikan. Sekelompok orang menjadikan-Nya terbatas, yang lain menganggapnya tiada, lain lagi menjadikan-Nya batu karang yang keras. "Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami." (Q.s. at-Taubah: 51). Kebijakan hukum ini hanya dapat diketahui rahasianya tersimpan dalam kata 'Kun,' yang akan berputar di titik lingkarannya, tertanam kokoh di pangkal benihnya.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sebutir benih ini bibit Pohon Kejadian, cikal bakal buah, dan makna bentuknya, saya &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Ibnu ‘Arabi)&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; berkeinginan menjadikan yang dibentuk suatu misal diwujudkan menjadi gambaran. Berbagai ucapan (firman), pekerjaan dan kondisi muncul di dalamnya kita jadikan jalan mencari pengertian. Kemudian saya mencontohkan sebatang Pohon tumbuh dari sebutir benih 'Kun.' Yang terjadi pada alam ini dari berbagai fenomena baru; kekurangan, kelebihan, pertumbuhan, yang tak bisa disaksikan (ghaib), yang dapat disaksikan (syahadah), kufur dan iman, muncul sedari berbagai kegiatan, pembersihan tingkah laku, atas ucapan indah, kerinduan, perasaan, berbagai pengetahuan rumit, yang tumbuh oleh kedekatan terhadap Tuhan (al-muqarrabin), kedudukan orang-orang bertaqwa (al-muttaqin), derajad kejujuran (asy-shiddiqin), berbisik (munajat) para arif (al-'arifin), 'musyahadah'-nya kaum pecinta Allah (al-muhibbin). Semua itu buah dihasilkan Pohon ini dan mayang serbuk yang dimunculkan Pohon Kejadian ini.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau... (sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada penerjemah buku terbitan Risakah Gusti, Wasmukan. Meski tak memberinya pengantar, tapi hasil terjemahannya masih menunjukkan kata-kata penting, yang Alhamdulillah dapat saya telusuri). Beliau Ibnu ‘Arabi menghadirkan kata “hari kesaksian,” seakan tengah dibukakan lelembar makna dari Sang Pemilik Ilmu. Pelahan ‘bergeser,’ pastinya merasai perubahan besar di batinnya terangkat secahaya kepastian lebih. Saya ibaratkan gambaran lalu; pohon memunculkan dua dahan sedang berada di kaca cermin, dan Beliau diperlihatkan lukisan sejati berasal kasih sayang dari Sang Maha Realitas, hingga ‘penglihatan’ bertumpuk mematangkan imannya. Mungkin teks asli dua paragraf tersebut sehalaman nan menampung persoalan rumit mengudar lelapisan cahaya, pula tak terkena goncangan keraguan sedari pancaran awal. Ibarat mengendarai percepatan mempertebal udara pengertian, mengisi seluruh relung jiwanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meski ada kemungkinan 'perpindahan' yang Beliau olah dari penyesuaian besar dalam jiwanya atas teks para ulama lama. Namun alur tenang berketetapan nikmat, setanggungjawab kekasih kepada pasangannya. Raga-batin menempa dibeningkan air berkah, maka kitab-kitab terbaca bercahaya memberi terang jalan keberadaannya. Seperoleh kebugaran lebih menggetarkan dari mula mengawali karangannya. Keringat dingin melebihi harum lama mendidih atas perangai firman-Nya, teringat masa-masa kembara di tanah kelahiran Andalusia, menuju Sevilla, Córdoba, Maroko, Mekkah, Romawi, Mesir, Syria, Aljazair, Baghdad, Mosul hingga Asia Kecil. Angin bertakbir, daun-daun bertasbih. Perubahan iklim yang rukuk, burung-burung bersujud, belulang berserak. Kala melihat rembulan teringat Rasulullah saw. Semua mewarnai pelajaran kalbu kediriannya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Bersahadat &lt;/i&gt;ke dalam penciuman lama di tanah yang dipijaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Makna kata-kata bersap-sap ditopang data akurat, ingatan memadatkan wujud dan keyakinannya menyelubungi setiap arti diguratnya. Umpama bayu diterbangkan daun tak terasa mencipta pembaca melarut, sehingga kerap membingungkan. Pribadinya bukan seperti al-Ghazali menerangkan lekuk detail tingkatan penyingkapannya sampai pada umatnya. Barangkali kelancarannya bertutur menyamai ‘ilmu laduni’ Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, tak ada penyangkalan, setatapan khidmat tertunduk di hadapan kata 'Kun.' Sebuah kata kerja besar perintah, prosesi agung yang tak pantas dibolak-balikkan dinaya suara serta wujud keasliannya. Nafasnya teratur sedari sejarah panjang peribadatan, memaklumatkan denyar sampai ricikan tak terdengar selain dalam gelombang sama. Berkali-kali terpancari hikmah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;surat pembuka&lt;/i&gt;, menggenapi kesilapan sedari bisikan lain, dipukul mundur di atas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kursi&lt;/i&gt; keilmuannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hafalannya pada kitab suci &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;segembelan&lt;/i&gt; mushaf emas memantulkan sinar, huruf-hurufnya kecil rapi laksana ‘stambul’ ajaib yang terbuka dalam mimpi berkeadaan suci. Jika di dunia pesantren ada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;unen-unen;&lt;/i&gt; seorang santri yang pernah ditemui harimau berbulu putih, maka perihal hafalan sudah teratasi. Komunikasi terjaring tak cuma dari orang-orang masih hidup, sebab cinta taklah mampu menampung jasad bernyawa. Dan cintanya pada para pendahulu, direstui jalan-jalan tak tersangka. Memudahkan lelangkah kasih serta pemikirannya menguliti bulir-bulir masalah sebawang putih tinggal intinya. Raganya memasuki lautan hikmah, gayuhan jemari memberkah melajui sampan hayati. Gelombang demi ombak diarungi, karang jahiliah badai memamah kandungan dirasuki sesikap pembenahan. Maka diudarlah misal-misal manusia dari rimba belantara ke padang keangkuhan hingga gemawan memayungi, setebal hujan memberi pengertian di ladang kemakmuran jiwa. Kelapangan berpikir, pilihan bukan berasal kemauannya, tapi dari dorongan gaib nan mengetahui segenap kerahasiaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kesadaran Beliau menginsyafi gambaran masa lalu diperoleh laksana turunnya wahyu kepada para nabi, tak langsung ke bentuk hukum. Paham ini diperkuat ayat-ayat berikut yang nanti saya tulis seperlunya. Lukisan di kaca cermin semakin jelas, misal batang pohon rindang di tengah malam dikelilingi gemintang. Dedahan, reranting serta dedaunannya bercahaya sepohon putih penghasil minyak, yang di sekitarnya bebatuan memantulkan cahaya purnama. Kembali Beliau digetarkan perenungan, dirasakan akar-akar Iradah bertenaga besar menyapa cecabang Qudrah dari sebutiran benih 'Kun' di genggamannya. Lewat susunan kalimat cahaya sambungan pada dua paragraf, menterakan kemungkinan sayap-sayap sholawat menduduki pengertian lebih berkelembutan, longgar lagi menjulang kesaksiannya di bawah nilai penuh keyakinan. Mari mengaji pancaran dari penglihatan lepas lirikan pandang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau malanjutkan: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Pertama kali yang dimunculkan Pohon berasal dari benih 'Kun' ini tiga dahan; satu mengarah ke kanan (ashhabul-yamin), kedua ke sebelah kiri (ashhabusy-syimal), sedangkan dahan ketiga lurus menjulang tinggi, mereka para pendahulu memiliki kedekatan dengan Allah (as-sabiqun al-muqarrabun). Kala dahan kokoh batang menjulang tinggi, muncul dari ranting-ranting bagian atas dan bawah, suatu alam bentuk dan alam makna, kulit dan tutup bagian luar yang tampak alam al-Mulk. Isi terpendam, inti makna-makna tersembunyi itu alam Malakut, sementara air mengalir melalui jaring-jaring urat nadi penunjang hidup tumbuh serta tingginya Pohon, memunculkan putik bunga, memekarkannya, mematangkan buahnya adalah alam Jabarut, yang merupakan rahasia dari kata 'Kun.'”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Pohon ini dikepung dinding dibatasi oleh bebatas, gegaris tertentu, batas tersebut arah; atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang. Yang atas pembatasnya bagian atas, yang bawah batasnya bagian bawah, sedangkan gegaris pembatasnya ada di dalamnya, dari berbagai orbit serta bebenda langit, segala hak milik, berbagai ketentuan hukum, jejak para pendahulu juga para tokoh, maka tujuh lapis langit ibarat daun digunakan berteduh, gemintang bersinar ibarat bunga di atas ufuk, malam-siang ibarat dua helai selendang; satunya hitam kelam dikenakan menghalangi pandangan mata, yang lain putih dikenakan menampakkan diri (tajalli) pada orang-orang sanggup melihatnya. 'Arasy rumah menyimpan segala kekayaan juga senjata Pohon ini, darinya diperoleh berbagai manfaat yang dikendalikan pelayannya; "Dan engkau akan melihat malaikat-malaikat melingkar berputar di sekeliling 'Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya." (Qs. az-Zumar: 75).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Allah swt. mewujudkan 'Arasy hanya untuk menampakkan Asma' dan sifat-sifat-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Beliau mengudar panjang lebar sebelum-sesudah kalimat itu lalu berujar; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Dia menciptakan Lauh Mahfuzh dan al-Qalam ibarat Buku Sang Maha Raja, di dalamnya terdapat berbagai keputusan hukum. Yang dibatalkan, ada pula ditetapkan, ada yang diwujudkan, ditiadakan, yang keluar dari kebaikan-Nya, pemberian nikmat, pahala, siksa. Sedangkan Sidratul-Muntaha ibarat batang dahan dari dedahan, di bawahnya malaikat yang mengabdi-Nya, "Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan tertentu." (Q.s. ash-Shaffat: 164). Dan Sang Maha Raja memerintahkan mereka untuk dikirimkan ke salah satu dari dua gudang penyimpan buah Pohon ini. Gudang itu antara lain surga dan neraka; buah yang baik di simpan di surga, "Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam surga 'Illiyyin." (Q.s. al-Muthaffifin: 18), buah yang jelek dimasukkan ke neraka, "Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang durhaka tersimpan dalam neraka Sijjin." (Q.s. al-Muthaffifin: 7).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelembar saya lalui tak menuangkan di sini, sampai filsuf Andalusia berkata; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Orang yang pertama kali berbuat di sekitar Pohon ini untuk mencapai asal benih 'Kun' -ia memeras unsur terbersih, menyarikan, memunculkan buihnya, menyaringnya hingga murni dari unsur-unsur yang membahayakan itu hilang. Sari sangat murni ini ditambah Sinar Hidayah-Nya, menerbitkan jauhar-nya, lalu ditenggelamkan dalam lautan ar-Rahman sehingga keberkahannya merata. Dari proses ini diciptakan Nur (cahaya) Nabi Muhammad saw., lantas dihiasi sinar alam arwah seterang mulia. Dijadikan-Nya Nur Muhammad sebagai asal-muasal segala cahaya -dialah orang pertama tercatat dalam Kitab-Nya, yang terakhir kali muncul, pemimpin di hari Kebangkitan, pembawa kabar gembira, menemui para manusia bersenang hati. Ia dititipkan di 'kebun, damai menggembirakan.' Nilai-nilai spiritualnya ditutupi fisiknya, alam Syuhud ditutupi alam wujudnya. Ia dilahirkan ke alam dunia yang juga karenanya alam ini diwujudkan.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau terus mengudar panjang-lebar dengan data maksimal, dari firman-firman-Nya maupun hadits-hadits, sampai menerangkan Nur Muhammad diciptakan pada kening Adam as. hingga pada puncaknya mengisahkan Isra Mi'raj. Tuturan naik-turun kekisah sesuai irama telah dikehendaki takdir-Nya pada Asy-Syaikh al-Akbar tersebut, kekisarannya sekaki melewati titian panjang di bawahnya jurang neraka, pada jalan lurus munuju ke surga. Di sana tanggungjawab kelak mengsle atau selamat ialah pertarungan iman, serta rayuan menjerumus ke tempat-tempat menggelincirkan. Baktinya tulus terhadap ilmu tak menimbang sejumput pun dedebu duniawi, karena apalah kejayaan fana pasti lenyap tertelan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika boleh menarik benang simpul, mungkin Beliau pancaran lain sedari Ibnu Rusyd. Yang agaknya condong kepada Imam Tirmidzi, seperti kata penelitiannya Masataka Takeshita pada bukunya "Ibn 'Arabi's Theory of Perfect Man and Its Place in Islamic History." Mungkin juga "Syajaratul-Kaun" ini digarap di antara penulisan kitabnya yang terkenal, "al-Futuhat al-Makkiyyah" mulai disusun di Mekkkah tahun 598 H / 1202 M, selesai di Damaskus tahun 629 H / 1231 M. Ataupun sewujud lentikan ilhamnya sedurung "Fushush al-Hikam" yang khusus mengetengahkan dahan ketiga menjulang tinggi sebagaimana di atas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya jika ada kesalahan mohon ditegur keras, tapi tentu dengan sumber lebih meyakinkan! Jikalau ada kebenarannya, kenapa tidak ditindaklanjuti? Saya pikir semua berharap hasil bacaan dapat bermanfaat yang tidak ‘saling memangfaatkan!’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari Jum’at Pon, 20 Suro 1945 Saka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;16 Desember 2011, Lamongan, Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-388585211286562005?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/388585211286562005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_154.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/388585211286562005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/388585211286562005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_154.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XVI kupasan kedua dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-7021937999510651337</id><published>2012-01-06T21:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T21:48:41.944-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XV kupasan pertama dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Esai-esai (godaan subyektivitas) Ignas Kleden, semacam obrolan menggurui, bertele-tele dengan tempo lamban, musik orang mapan (cocok bagi pemalas), seperti lagu kenangan &lt;i&gt;-nglokro.&lt;/i&gt; Bukan keroncong atau musik klasik, meski pelan berjiwa keterlibatan. IK berjarak demi peroleh pandangan obyektif, maka yang terjadi tulisannya semi-semi ilmiah. &lt;img height="1" src="file:///C:/DOCUME%7E1/NURELJ%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" width="1" /&gt;Mungkin hanya satu saya suka, yang sedang terkupas kini agak lain dari kebiasaannya bercuap-cuap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;” Komentar saya tersebut tak lebih sepantulan daripada IK kritik sendiri: &lt;i&gt;“...ada pula penulis yang mencoba menulis esai, tetapi tulisannya lalu berubah menjadi tulisan ilmiah yang tanggung dan bertele-tele, entah karena lemahnya spontanitas sehingga sikap penulisnya bahkan terasa mengganggu karena tampak seperti usaha menonjol-nonjolkan diri. Pada titik ini terlihat betapa pentingnya kepribadian seorang penulis untuk menghasilkan suatu esai yang berhasil.”&lt;/i&gt; (halaman 462-463, di buku "Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan," penerbit Grafiti, Juni 2004). Sebagai sosiolog ia telah berhasil mencerahkan nalar-nalar manja, para mahasiswa yang kecanduan dicekoki.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terus terang sejenis tulisan IK saya kurang berminat, tiada hentakan! Mendingan Dami agak berangasan dengan referensi cukup mengundang penasaran. Entah sudah terlanjur kecanduan para pakar, orang-orang kampusan penjebol tanggul pagar-pagar ilmu pengetahuan; Camus, Sartre, Nietzsche, Barthes, Derrida, agak-agak Tagore, Iqbal, yang jelas sudah lewati jamannya, redupnya, reinkarnasi gagasannya. Mungkin saya tak pantas demikian, toh bukan penulis handal, sekadar pengelana suka mencatat, hitung-hitung mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Maka dari tulisan tak harap banyak pembaca, tapi sayang sangat yakin, tulisan saya lebih banyak yang baca daripada saya pada buku mereka. Atau lebih suka pembaca sedikit tapi berjiwa berani, daripada meluber mengamini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hadirnya tulisan tak lebih atas persinggungan, tapi bagi ‘penemu,’ niat saja sudah menghisap seluruh kekayaan, keyakinan nanggung tersedot. Apalagi menggerakkan untaian kalimat, tercengang bak menyaksikan gerhana matahari total. Totalitas hidupnya mencecapi kemewahan alam betebaran, membaca kitab semesta, menjadikan tidak cengeng. Bagaimana tertarik membaca ulang yang mengelus keindahan dari keinginan dianggap atau pengadaan kemayu. Pribadinya bukan sekokoh pohon jati meski kemarau kerontang tetap bertahan. Karya Marx, Nietzsche pun lelukisan Van Gogh tidak laku di masanya, serupa dedaun rontok tengah berpuasa, menggiring kepahaman mereka yang terselimuti kebebalan -angkuh, tapi sedikit curah hujan, dendam mereka terbalaskan. Mungkin Hitler jika tak berkuasa, buku “Mein Kampf” takkan sanggup dicetak banyak, seperti awal nasibnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Takdir mula Socrates, Plato sampai Voltaire hanya menghidupi nafas kecil lingkungannya, demikian Tolstoy. Sedikit untung Hegel, Machiavelli, Freud, beruntung sedikit sialan W. Said. Dewi fortuna mungkin pada Fukuyama, Foucault, yang berujung maut Derrida. Atau hampir semua penegak satu tiang keadaban, kata-kata bukan sekadar anak karya, ruh karya, namun nyawa dirinya diperebutkan bersama perubahan dilakonkan. Saya tersadar keanggunan maut di jantung Yukio Mishima, Yasunari Kawabata, menancapkan gagasan selaksa ungkapan perjuangan di masa penjajahan merah di tanah air kita; Merdeka atau Mati. Al-Ghozali tak jenak dikampus lalu ngelutus seperti ulama lain, atau bertapa sama santrinya; Abd al-Qadir al-Jailani, Nawawi al-Bantani. Ibnu Sina, Ibn 'Arabi, menghantui murid-muridnya di kemudian hari. Percakapan ricik memutiara lebih bernilai daripada busa melimpah dari tendangan bergelombang abadi menggempur karang tanggung kebisuan menerima. Gairah hidup ialah gelombang, ombak memecahkan reribuan kapal, banjir bandang, gunung berapi aktif selalu menggedor hawa kerinduan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lebih baik baca buku-buku terjemahannya buruk tapi bersimpan jiwa penulisnya handal, musik warga lapar. Daripada membaca ulang ‘tulisan indah’ namun menjemukan, menjerumuskan pandang. Inti sepercik menggugah, meledakkan dada-dada pembaca hingga merombak pemahaman sebelumnya. Sementara musik mengamini, tak lebih kekaguman mematikan nalar, padahal di sebalik pesona itu harusnya gelombang tersebut berbalik serupa surutnya ombak ke dasar laut sambil menggerus pasir pantai perasaan kaum beriman, memunculkan kepekaan makna baru, bukan serasa sarapan pagi setelah semalaman bercinta. Saya lebih suka tulisan orang-orang sok, tapi membuktikan data-data kegairahan maksimal, dan bukti referensi terkuat dirinya di atas bumi. Setiap hembus nafasnya arsip-arsip terpenting dirinya pun orang lain. Ia bukan benalu tapi memberi kesempatan benalu menghisap sebagian cabangnya, ia tidakkan mati oleh parasit. Apakah kritik saya parasit? Jangan-jangan malah sejenis parasetamol pereda demam-nyeri susastra. Karena tidak lagi menggunakan cara-cara mengelus, memoles, apalagi membenarkan penyakit dari Tuhan semata; tiada kecuriagan sendiri, meski paling lembut sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya tahu banyak yang tidak paham tulisan saya (ini muncul dari keluhan kawan), yang pernah mengupas mungkin dengan jiwa terpaksa hingga sakit kepala, di sisi serangan kantuk berat dari kebingungan sangat. Tapi alangkah lucu ketika saya paham tulisan mereka satu paragraf menjelma tujuh esai misalnya? Tidakkah di sana kesuntukan saya lebih daripada mereka baca ketakpahaman dalam dirinya? Mungkin mereka baca buku tak sampai pening, apalagi mabuk belajar, hanya pelesiran seperti tulisannya. Padahal membaca buku berkeadaan sakit, ke ambang sakit jiwa -mungkin, membentuk kesaksian luar biasa, ingatannya tak sekadar kata-kata, sampai ruh penulisnya. Ketika sanggup melewati sakit berbaca, kelak dipastikan diganjar kepadatan makna, bertumpuk pengertian, tak sekadar lawatan pengantar. Kesaksian itu membuka lelembar cahaya anyar, melihat kemungkinan lebih, kadang tak diperkirakan pengguratnya. Jangan kira saya berhutang kepada yang saya kupas, malahan memberi peluang jika mereka sadar. Jika dianggap iri hati, dengki, tidaklah mungkin dapat menulis panjang-lebar, paling umpatan, hasutan tanpa referensi atau pengadaan data mudah terjungkal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini sekadar pengingat pribadi sebelum ke paragraf IK, saya singgung mula penulisan beberapa tahun di status facebook. Yang awal tulisan tangan di lembar kertas, pada mesin ketik manual, dan tak ada mata-mata melirik gerak-gerik. Senyap dikelilingi hantu, sosok-sosok penggerak keadaban dunia, selaksa bebayangannya berjejer melingkari. Mereka hadir senantiasa dikala menulis pun membaca, kadang hendak tidur, lebih kacau bertemu di mimpi, tapi suka. Awalnya ragu, apakah dapat berkonsentrasi menuang langsung di komentar? Lantaran niat belajar, maka yang muncul memalukan, tentu penting bagi kebaikan selanjutnya. Mungkin yang saya lakukan segambaran “dunia gulat” bebas, salah satu esai Barthes. Ketika tubuh serasa tak muat kata-kata, lalu memuntahkan bertubi-tubi kalimat, tampak menghimpun gugusan, sedikit revisi sana-sini sedurung diposting. Di mana sorot cahaya monitor, lampu menggantung di kamar, semisal pentas teatrikal. Bukan kesombongan, tapi ingin menjejal buruknya spontanitas, konyol, sebab malu, dipermalukan ialah jamu mujarab. Dan efek terterima hadirnya keangkuhan, otomatis bebal. Di sini bertarung percepatan, beradu jotos radiasi, berkelahi waswas mendera, keraguan memucat, lalu diri kembalikan sebagaimana kelak di kubur sendirian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Permainan ini sedikitnya mengundang resiko, mungkin ada menganggap sok, tapi di balik itu peroleh masukan. Setidaknya kecelakaan, cedera yang terjadi menguatkan beberapa kecurigaan diri, minimal tak canggung menelanjangi diri sendiri. Atau ini bisa menggerus mitos di balik penciptaan, karena tak menutup berdiam somse seperti watak sebagian senior atau yang merasa. Saya kira tindakan ini menghapus muka kepurnaan semu dari cara sulapan. Dan bisa belajar dari komentar kawan, lewat saling menimba pengetahuan di sisi jangkauan bacaan, pun pribadi tak saya miliki berusaha dipahami, pula bentuk lain tak ada dikala menulis di sudut terpencil. Mungkin ini sejenjang yang kelak saya tinggalkan. Hal terburuk dalam proses kreatif ialah rasa malu, takut &amp;amp;ll. Kalau dilupakan, diendapkan dalam, maka tinggal bersuntuk perbaiki cacat mental, cacat tulisan, dengan menerima masukan dukungan yang diyakini. Maka pengetuk palu pengalaman, bukan bertanya yang kadang tak sesuai jalan sepantasnya dijelajahi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini selami paragraf IK ketiga: &lt;i&gt;"Sebuah kata, dalam pemikiran Sutardji, diberi beban makna oleh berbagai kekuatan, yang dalam proses selanjutnya tidak mau bertanggung jawab lagi tentang makna yang mereka berikan dan memindahkan tanggung jawab tersebut pada kata yang telah diasosiasikan dengan makna tertentu."&lt;/i&gt; Karena paragraf selanjutnya semacam sambungan penting melengkapi sebelumnya, maka saya untahkan pula: &lt;i&gt;"Adapun kekuatan-kekuatan yang dianggap menindas kebebasan kata-kata dengan memberinya beban makna bisa berasal dari dalam bahasa, seperti semantik atau sintaksis, tetapi dapat pula berasal dari lingkungan luar bahasa, seperti konvensi sosial, kekuasaan politik, atau norma-norma moral."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Saya kira setiap sajak yang saya tulis, saya usahakan ada artinya!"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Ini jawaban grogi SCB selepas baca puisi di Yogyakarta. Sebagai catatan kaki Umar Junus, Dami mencupliknya tanpa judul tulisan. Di sini Dami "cukup sportiflah." Kata "cukup sportiflah" pernah diutarakan Dami kepada kritikus yang tidak sepaham dengannya, A. Teeuw.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebenarnya ingin melanjutkan kupasan paragraf ketiga sambil ke empat. Tetapi lumayan tergoda kemegalomaniac'nya SCB bersama pengikutnya nan membetul-betulkan Kredonya, tafsiran kerap tidak sejalan ungkapan Tardji sendiri. Karena ini senada rasa paragraf yang hendak ditelusuri, sepantasnya pula ditaruh di sini. Mungkin dibilang kecelaannya Dami, memberi data sepadan hampir lengkap pada esainya berjudul "Puisi-Puisi Luka Sutardji Calzoum Bachri" pada bukunya "Hamba-Hamba Kebudayaan (HHK)" penerbit Sinar Harapan, 1984. Saya seakan setengah niatan ini semoga terpenuh nanti. Karena kelak berkeinginan membongkarnya juga, maka sekadar beberapa halaman demi bagian XV.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dami, melibatkan sepenuhnya Kredo Puisi disertai lampiran pula dalam menopang keberadaan Tardji. Seakan kepenyairan SCB tak boleh dilepas dengan Kredonya! Namun alangkah berwibawanya pamor para sastrawan di Yogyakarta, salah satu kawah candradimuka susastra Indonesia, sampai-sampai suara riuh kredo yang dikeramatkan para kritikus penyokongnya diabaikannya jua. Kredo tertulis 30 Maret 1973, dan waktu kegrogian sedang sumekar kembangnya, tapi gagal beberapa bulan saja. Yang sialnya mendatangi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi penyuka Tardji, saya juga namun dulu sekali tak ternging kata-kata dalam kredonya; "Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mari simak penuh satu paragraf Dami di judul esai di bukunya tersebut: &lt;i&gt;“Sebagai catatan kaki buat Umar Junus, mungkin berguna kalau diturunkan di bawah ini apa jawaban Sutardji ketika dalam acara baca puisi di Yogyakarta (September 1973), salah seorang pendengar/penonton menuduhkan bahwa sajak “Pot”, “Shang Hai”, cuma permainan kata-kata, tidak ada artinya! Sutardji menjawab lantang kepada penanggap, “Tidak benar! Saya kira setiap sajak yang saya tulis, saya usahakan ada artinya! (Lihat Sinar Harapan, 22 September 1973). Pendirian Sutardji yang lain, dapat dibaca dalam pengantar kumpulan “Kapak” (stensilan), ditulis 17 Mei 1979, antara lain, “Menyair adalah suatu pekerjaan yang serius bila kau sedang menulis sajak, kau harus melakukan secara sungguh-sungguh, seintens mungkin, semaksimal mungkin. Kau harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus menemukan bahasa. Yang tidak menemukan bahasa takkan pernah disebut penyair. Saya menyair, karena itu saya menemukan bahasa saya.”&lt;/i&gt; (halaman 156 HHK).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya penasaran pada kata “stensilan” yang ditandai kurung pemilik wawasan luas, referensi melimpah Dami N. Toda. Karena ungkapan SCB yang terakhir, banyak dijumpai di buku Dami yang terbit pertama tahun 1984. Pernyataan itu hampir senada deringan umum, yang pernah ditulis komposer sekaligus kritikus Amerika, Roger Sessions (28 Desember 1896 - 16 Maret 1985): &lt;i&gt;"Dewasa ini seorang diwajibkan menemukan 'bahasanya' sendiri, sebelum dia menyelesaikan penguasaannya atas 'bahasa' itu."&lt;/i&gt; [esai berjudul “Penggubah Lagu Dan Pesannya: Roger Sessions,” halaman 84, tepatnya kalimat tersebut di halaman 90 dalam buku “Proses Kreatif,” judul asli “The Creative Process,” disusun penyair Amerika, Profesor Brewster Ghiselin (1903-2001) dari Universitas Utah USA, penerjemah Wasid Soewarto, penerbit Gunung Jati Jakarta, cetakan awal Januari 1983, tidak mencantumkan tahun berapa mengambil terjemahannya]. “Saya kira” SCB mengambil istilah umum itu dimasukkan dalam pendapat pribadinya, sebab O Amuk Kapak: Tiga Kumpulan Sajak, Sinar Harapan, terbitan pertama tahun 1981. Dan ternyata setelah menelusuri google, tulisan pertama Roger Sessions, aslinya di sini: “The Composer and His Message.” In The Intent of the Artist, edited by Augusto Centeno, pp. 101-134. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1941. Saya menemukannya melalui catatan kaki halaman 40 di books.google.co.id atas penyusun yang sama, cetakan University of California Press, 22 November 1985. Ini kejadian mirip bagian XII, antara pemikiran C.G. Jung (26 Juli 1875 – 6 Juni 1961) dan kepahaman SCB?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanda kurung dilakukan Dami ada dua kemungkinan, pertama menancapkan atau memberi daya sugestif demi dipercayai tanggal yang diterakan SCB pada [“Kapak” (stensilan), ditulis 17 Mei 1979]. Namun tidak menutup kemungkinan Dami membikin kode rahasia dengan tanda baca “()”! Karena semacam ini pun saya melakukannya, setelah belajar dari karya-karya R. Ng. Ronggowarsito, yang memberi huruf besar untuk menutupi namanya dalam karyanya. Karena sejenis ini mudah ditebak kini, maka saya memakai cara lain dengan beberapa susunan kata yang kuat; minimal dua tiga kata, ini bisa anda cermati ketika tulisan saya mendedah seseorang khususnya. Saya memakai tersebut, karena pengalaman rasa lebih membekas, minimal tanda itu berguna jika tulisan dijegal seseorang misalnya untuk berbalik lawan. Pengetahuan tersebut diperkuat bacaan di buku George Jonas, berjudul “Penuntut Darah,” Pembantaian Atlet Israel (Kisah Nyata Sebuah Tim Kontrateroris Israel), judul aslinya Vengeance, diindonesiakan Sartono Basuki, editor Bernadette Thio dan Hendarto R., terbitan Widya Pustaka, 1986, juga bukunya Harry A. Poeze berlabel “Tan Malaka,” pergulatan menuju republik 1897-1925, judul asli “Tan Malaka, Strijder voor Indonesie’s Vrijheid Levensloop van 1897 tot 1945,” cetakan kedua, Maret 2000, penerbit Grafiti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karena kata-kata bagian depan sangat menggelitik juga berpantul lawan kredonya, ingin mempretelinya pelahan. Siapa tahu menjelma nilai seni yang katanya karya harus menghibur semisal berjingkrak-jingkrak di panggung setarian ngebor, patah-patah, dangdut koplo juga boleh. Setidaknya ini lebih sopan daripada ujaran &lt;i&gt;“Putu Arya Tirthawirya dan Suharianto cukup sengit mengejek, bahkan menyesalkan majalah sastra Horison yang mau mempublikasikan sajak-sajak "kentut" yang demikian"&lt;/i&gt; (HHK, halaman 126). Pun barangkali semaraknya dangdut koplo adalah berkah manggungnya, seperti katanya otonomi daerah di atas imbas gerak angkatan kepenyairannya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika Tardji saya dudukkan penyair cerdas, lumayan agak teringat kata ‘alibi’ yang diugeminya. Dengan kata "saya kira," dirinya tengah berkelit antara kesadaran sebagai sastrawan dengan beberapa materinya yang ngambang, belumlah membeber konsep (setidaknya buku Isyarat berkesempatan memasukkan gagasanya, entah ikhtisar dari para kritikus pemangkunya, sehingga tampak benderang yang diperjuangkan atau njomplang?), tidak hanya saat ada yang tidak sepaham dianggapnya bodoh, serupa cuplikan paragraf Dami, serta watak megalomaniac'nya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dalam sebuah pembicaraan dengan Sutardji, Leon Agusta ("Sutardji Tentang Sajak-sajak Barunya. Upaya menangkap Tuhan, Sinar Harapan, 24 Januari 1976) mencatat tanggapan Sutardji terhadap M.S. Hutagalung yang meremehkan. Di zaman modern seperti ini, adalah mustahil mengembalikan puisi kepada mantra. Konon jawaban Sutardji melalui Leon Agusta"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dan kalau kau, Leon, mau menulis, tulis saja begitu. Hutagalung nyata tidak mampu menangkap apa-apa yang saya maksudkan dengan sesungguhnya!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“...puisi harus dikembalikan kepada mantra itu jangan ditafsirkan secara harafiah semata. Kalau cuman begitu, tentu dia akan kering. Yang pokok ialah menyerap sifat sugestif dari mantra-mantra! menangkap ritmenya dan ekpresinya yang tajam!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bila mantra misalnya, bisa menurunkan hujan ataupun menahannya, maka puisi setidaknya mampu membuat kita merasa bagaimana hujan jadi reda atau hujan turun di hati kita sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (halaman 161-162, HHK).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau kepenyairan SCB mencecapi ruhaniah mantra Riau, Jawa, Arab, atau apalah! Tentu tahu, mantra terkait erat makna-kata dalam rajahnya, ini sangat bertolak sedari Kredonya! Tapi nyata ungkapannya di atas seperti menghalalkan segala, kalau puisi mantra begini-begitu. Padahal kita tengok puisi lain bukan 'ala puisi mantra,' sudah terkandung "sifat sugestif, ritme pula ekpresinya yang tajam." Karena mantra pada dasarnya juga karya puitis, dan puisi-puisi SCB bukan puisi mantra! Tapi sulapan, mengejek kaum kritikus serta sastrawan. Ugal-ugalan tersebab ingin selayaknya disebut-sebut mantra, dengan seenaknya berpandangan lain. Dan karena tidak bertuah, tetapi masih berharap dianggap puisi mantra. Ah terngiang saja kata-kata Mochtar Lubis, “…bim salabim, nah… keluar kelinci dari dalam topi." (lain lengkapnya di buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri”).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagaimana pribadi plin-plan ditokohkan sebagai pendobrak salah satu angkatan penyair, meluruskan gagasannya saja, keder? Bagai air di daun talas, dan (kurang) ajarannya para kritikus memaknai puisinya, padahal yang punya karya telah 'berpasrah membebaskan kata-kata dari beban makna' (&lt;i&gt;Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera&lt;/i&gt;: SCB, Kredo Puisi, 30 Maret 1973)? Ini yang solokoto siapa? Ini salah kaprah memuteri keliling alun-alun sampai masuk buku ajar. Maka meneballah pengertian di Babad Nuca Nepa, mensejajarkan kejahilian teori evolusi Darwin dengan ulahnya. Jikalau pada Darwin ada istilah 'the missing link' yang temuan anyar kian menggila tak jelas juntrungnya. Kepenyairan Tardji tampak gagal merapuh saja bangunan sesyairnya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semakin jelas saya dengar suara Afrizal waktu itu, seperti catatan harian ini: "Kemarin malam 4 November 2011 selepas adanya pentas "bintang hening", dilanjut diskusi di T.B. Surakarya. Lantas ngobrol di depan pintu teater arena, bersama Dwi Cipta, Halim HD dan Afrizal Malna, dalam posisi berdiri juga sama mondar-mandir, setelah saya peroleh buku "Hamba-hamba Kebudayaan" Dami N. Toda dari Bandung Mawardi (terimakasih). ‘Dami’ menurut Afrizal (saya sedikit lupa istilahnya, kurang lebih 'dimasa pujian', 'periode pujian') ataupun 'orde pujian' menurut saya saat itu juga menimpalinya. Lalu tubuh Afrizal bergeser ke samping kanan, mundur dua, tiga langkah, semacam ada kehawatiran ungkapannya saya jadikan bahan, lelangkah menyamping serta agak mundur tersebut seakan-akan ingin menghapus istilah yang barusan dia ucapkannya. Adakah penyesalan? Sekadar ingin bergeser? Atau entah... (ini pernah saya jadikan status facebook dan Dwi Cipta berkomentar; lelangkah mundurnya Afrizal, sebab ingin melihat anak saya mengejar kucing yang terhalang-halangi tubuh besar saya, lantas tertawa).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Turun sedikit lalu agak naik, tepatnya mundur pada kata-kata Dami: "Sutardji menjawab lantang kepada penanggap." Bagaimana Dami berkata ungkapan itu lantang? Coba kita simak kembali:&lt;i&gt; "Tidak benar! Saya kira setiap sajak yang saya tulis, saya usahakan ada artinya!"&lt;/i&gt; Padahal kelantangan ini secerminan dari sikap kegusaran. Bolehlah kata "Tidak benar!" dan selanjutnya bernilai lantang karena tanda seru sebagai tekanan. Seperti seorang berada di bawah todongan pistol, tapi coba cermati kata-kata berikutnya; "saya kira," "saya usahakan" sungguhlah jelas sekali perkataan ‘melempem’ kurang berkepribadian. Tak berpikir, hanya perkirakan, cuma mengusahakan, tidak maksimal. Karena bentuk ucapan SCB melalui tulisan, maka tak bisa dihindari di sana adanya perhitungan efek, tatkala kelak berkehendak disebar luaskan pada pembaca, atau tidak langsung keluar sedari mulutnya? Andai pun asli, tetaplah merupakan bentuk-bentuk grogi! Getaran yang tampil dari kalimatnya sangat terasa dari jiwa tengah dirundung keragu-raguan, antara ikhtiarnya bersajak dengan kredonya. Maka yang terbit jikalau masih memakai istilah 'lantang' merupakan kelantangan wagu, lucu, konyol, tapi sedikit menghibur diri SCB, serta pendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alangkah dahsyat jika SCB menarik energi 'lantang' menurut Dami, dijelma segenggam lelembar gagasan. Yang tak sekadar mendokumentasi serpihan 'rancu' di bukunya “Isyarat.” Sehingga saya turut bangga kalau ada penyair ampuh di Indonesia! Tapi nyata masih jauh perolehan dibanding tokoh-tokoh dunia yang oleh para kritikus disejajarkannya. Karena belum memberi jempol pada SCB, kelantangan wagunya saya tafsirkan lain: Tekanan kuat dua tanda seru dari Tardji pun Dami, masih sebatas mendatar. Tidak melantang benar atau sebenar-benarnya lantang! Kalau lantang tentulah ini: "Tidak benar! Karena setiap sajak yang saya tulis ada artinya!" Saya pikir itu baru jantan. Karena Dami tidak memberi lampirannya, malahan lampiran biografi SCB, jadi sebatasnya saya maknai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin ada benarnya, kalau dalam kata “saya kira, saya usahakan,” itu bersimpan konsepnya soal puisi ialah alibi kata-kata? Yang sudah saya penggal di bagian terdahulu. Ternyata, bayu kesusastraan Yogyakarta demikian ampuh mencerabut akar-akar nanggung, penyair tanggung. Padahal seyogyanya menancapi bendera kepenyairan, terlebih dulu kudu menempa berulang membaja di dalam proses kreatif sampai 'nggetih,' istilah Jogja 'berdarah-darah.' Tidak hanya ucapan pun kata-kata, tetapi juga perbuatan, sehingga terbit aura terang. Meski dihempas badai taupan, terjangan halilintar, dan petir menggelegar dari serangan lawan. Tidak membetul-betulkan kredonya yang mengsle dari kritikus, serta watak kemegalomaniac'nya. Karena isi kepenyairan bukan sekadar otot nalar, syarat-syaraf mengencang serupa tangan terkepal, tapi jua bening pikiran, tampan perangai nurani embun diperebutkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terus terang matahari kemarau berbinar cemerlang! Kerap saya timbang watak seseorang dari mentalitas untuk memasuki karyanya. Karena otomatis kejiwaan pencipta bertaut erat hasil-hasil diwedarkannya. Tak saya temukan karya langgeng dari pecundang! Tetapi tempaan hidupnya, nasib buruk mereka, dikejar-kejar bala tentara, diusir dari negerinya, kembara tak tentu arah sampai ke ujung seppuku atau harakiri. Terkucil, mengucilkan diri, wewatak berangasan namun tetap memegang kecerdikan, kenekatan selalu menimbang laksana alat timbangan, ayunan hidup antara waswas bergetar hebat. Pahit malam, gelap siang, mendung nasib buruk atau terbaik memayung-mayungi di setiap kembaraannya. Cengkraman hujan deras sahabatnya, sentakan haus di tengah jalanan menjelma nyanyian. Rindu kepada orang-orang tercinta, pukulan hinaan mendewasakan, bukan menganggap enteng lewat berkilah. Dan halil-halil mereka pegang hukum alam, tanda berulang dititahkan Tuhan, serupa hitungan perbintangan mengatur drajad pikir menentukan pilihan. Baca tulisan saya yang lain &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2008/08/ras-pemberontak/"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://sastra-indonesia.com/2008/08/ras-pemberontak/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; saya masih ingin bercuap-cuap!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau kaum kritikus menenggelamkan penelitiannya lebih dalam pada watak para penyairnya, sebelum menjelentrekkan karyanya, tentu tidak pangling, deladapan ketlisut tertipu. Dan panji-panji kejayaan generasi-generasi kokoh dapat ditegakkan! Bukannya plagiat menjadi pelopor, bukan berkepribadian plintat-plintut dimasukkan tokoh generasi tertentu. Seperti mata kiri dan mata kanan sastra berkaca mata hitam tebal angkuh, jangan-jangan seperti peminta-minta di jalan buta. Bagaimana kesusastraan Indonesia diakui seantero jagad, jikalau yang dipilih tokoh-tokohnya cacat karya? Kritikus di luar yang pernah menyuarakan masih kelas cekeremes, padahal sepantasnya mereka tidak hanya menebar bahasa, namun gaung atas kaki-kaki analisanya menancap dalam memunjeri sejarah susastra! Bukan tempelan dibuat-buat, kutipan disangkuat paut tidak sekelas disandingkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya teringat saran kawan-kawan agar menghentikan kegiatan ini, lalu fokus pada pernik keadaban di Lamongan. Jikalau di sini boleh bersaran, tentu bukan porsinya kritikus, sekadar pengelana: “Rongrong saja pemerintahan korup untuk menerbangkan Budi Darma ke Amerika lagi, demi menulis sejarah susastra, Faruk H.T. ke Inggris, Suminto A Sayuti ke Prancis, Halim HD ke Cina, Goenawan Mohamad di Tanah Air sajalah dengan Tempo-nya, Saut Situmorang ke Jerman, Abdul Hadi WM ke Iran, dan seterusnya. Lalu mereka 'berkelahi' dengan para kritikus di sana, seperti Dami N. Toda yang meski penelitiannya belum matang kurang jeli, dan terlanjur cepat Tuhan menjemputnya. Kata "belum matang kurang jeli" bisa dibaca esainya bertitel "Kesibukan Hamba-Hamba Kebudayaan," lalu sejenis 'esai pertaubatannya' dimuat Kompas 17 September 2006 berlabel "Pengakuan Anggota Waffen-SS," disebut juga oleh Afrizal Malna di Tempo, 20 November 2006 berjudul "Sejarah dalam Kulit Bawang," dengan satu kunci perjalanan hidup pemenang Nobel Sastra 1999, Günter Grass.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini tidak memakai catatan kaki, baca dan hantam saya lewat karya, biar bisa belajar sedari anda! Dan sepertinya indah dihentikan di sini, terus besoknya bagian XVI. Selamat merenungkannya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-7021937999510651337?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/7021937999510651337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_9425.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/7021937999510651337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/7021937999510651337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_9425.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XV kupasan pertama dari paragraf tiga dan empat) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-2748972937632973563</id><published>2012-01-06T21:07:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T21:28:01.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dami N. Toda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XIV kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiganya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahrheiten wollen erkannt und festgestellt, eben bewahrheitet sein; die Wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewährt, was irgend als wahr erkannt sein und gelten soll.” “Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak perlu akan itu, karena ialah yang menunjukkan, apa yang diketahui benar dan harus berlaku."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (Paul Natorp, Individuum und Gemeinschaft, terjemahan Dr. Mohammad Hatta).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah menggurat judul di atas, tiba-tiba kantuk datang menyerang. Ketiba-tibaan ini, entah disergap angka nol atau imbas bagian XIII nomor sialan. Yang alirannya mengajak menjerumuskan jiwa saya meneliti jauh menyoal alam mitos menuju dataran purba. Yang saya alamatkan ke bencah Flores, dimana Ignas Kleden dilahirkan di sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meski radak ragu, naluri pengelanaan saya menjangkau hal-hal berpenghayatan lembut menembus masa lampau. Kehendaknya sekeluar bertumpuk lingkaran sampai membuka paragraf IK ketiga. Untunglah mempunyai beberapa buku lama, di sisi informasi terbuka melebar oleh jasa google.com. Maka menggurangi bentuk hayal demi membuka lelembar kemungkinan. Dan dinaya bertuah bisa dibangun ulang. Sepertinya, mulai mencium daun-daun kering di tanah yang didiami hewan Komodo, Bangau Raksasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memang serba hawatir menyibak ilalang Indonesia timur, dengan kedipan mata kata-kata. Selain belum ke sana juga jarak penciuman jauh di seberang tempat duduk saya. Tapi lantaran ada peribahasa negerinya menyebut peradaban Jawa, tempat kelahiran saya. Rasa percaya diri timbul menundukkan waswas berbayu sentausa. Pribadi saya merasakan diberkahi menelusupi segenap debu purba, diterima bangsa mengakui perhelatan lama, rasa hormat sesamanya. Di mana kelenjarnya kini, saya tarik-tarik untuk sesuatu pencarian; darah nan menetes di bumi menjelma kurban tak terhindari, selembut ide syukur perjuangan. Meski tak menyaksikan itu ada, seperasaan tawadhuk atas cermin kedirian berhadap-hadapan; penerimaan ibarat ganjaran dari kelembutan budi lama, turut menyimak meski berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya turunkan saja peribahasanya tidak mengudar, hanya bangga khasana bencah Dwipa diterima para insan di daratan Flores nan adiluhung pula. Ini kidungannya: "Lewo teti perik nope piga Sina, tana teti lota nope makok Yawa, kala lewo haka kai, kala tana aen gere." Artinya: "Tanah airku bersusunkan pinggan Cina dan mangkuk Jawa, akan kujalankan hasrat serta keinginannya." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maka yang menjadi kerentekan hati terlaksana: NUCA NEPA, kini dikenal bersebut Flores. Beratus kali ribu lipat lebih purba masanya dari peristiwa banjir besar jaman Nabi Nuh AS. Di dataran berbukit, gunung-gemunung, lebat popohon hutan. Dihunilah makluk besar dan kerdil sebangsa manusia, mungkin sebelum Fu-Hi di dataran Tiongkok memimpin bangsa "Berambut Hitam."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada kemungkinan mereka tak menetap lama gemar kembara. Belum bisa didekati bahasa apa digunakan, lantaran durung menetas jaman keemasan. Pun pekabaran para arkeolog saling-silang sengkarut jika menengok masa-masa di bencah lain di belahan dunia; Mesir, India, Babilonia &amp;amp;st. Olehnya, dengan memaklumatkan jemari menelusuri, mungkin saya kini merapalkan Teori Lubang Cacing yang diujarkan fisikawan Hawking. Debaran keraguan, inikah kesungguhan halus, nampak cahaya menembus batas-batas maya dan nyata memasuki kurungan realitas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika pujangga R.Ng. Ronggowarsito seorang santri Tegalsari Ponorogo, pernah merapal meletusnya Gunung Krakalau. Sekarang atas perangkat lunak lebih maju dekat kehilafan. Mencoba mencium ruhaniah masa silam nan terpendam ketulian, percepatan perubahan sebab hukum dialut semesta alam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh berat langkah bertenaga, laksana daging buruan di masa itu atau sedang saya tulis ini. Hiduplah hewan-gemewan besar menyusut ukurannya, pun berbalik mengembangkan kuasa oleh keadaan iklim serta ganasnya saling rebut wilayah di rimba belantara. Kawanan gajah, bangau putih raksasa, komodo, serangga dan makluk sejenis manusia mendiami dataran bertuah. Sempat saya kerutkan dahi memandang ciut nyali meneruskan. Lantaran dalam dimensi lain mewedarkan, selamatlah kembangkan sayap senyuman, tatkala melihat aliran sungai-sungainya bening berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bebayang itu cepat melintas, padahal belum genap saya hatamkan napas-napasnya beraroma gaib. Terkadang membuat terjerembab pada kebisuan nyata. Pesonanya berkandungan berbeda, lain dikemudian seangka berabad-abad berjalan sedikit sempoyongan mengimbangi drajad kesadaran di lubang kemungkinan. Di sini diingatkan penelitian Harun Yahya mengenai semut juga sel-sel darah menyimpan berjuta-juta informasi. Sebagai bukti, kelak ada pertanggungjawaban. Dan seperti diguyur hujan deras menunjukkan angka 300.000 sebelum masehi. Berlalu sekehendak terbenam lama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bertemulah saya dengan Rera Wulan Tana Ekan, penguasa langit-bumi di Nuca Nepa. Namun ada yang mengsle, lantaran di langit-langit pendengaran saya, bergantung buku sejarah yang ditulis Jawaharlal Nehru kepada putrinya. Atau ini kesamaannya, saya terbenam lama sementara dia dalam kurungan penjara. Tetapi bukan, dia mencapai ujung abad moderen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali saya bersila khusyuk menghadap kepadanya. Tubuh besar tersebut menggerakkan jemari tangannya menunjuk ke pegunungan tinggi Kelimutu. Isyaratnya jelas, ia tengah mengetahui persisi pergeseran patung Sphinx di Mesir nanti? Umpama televisi rusak diliputi berjuta semut, pandangan saya kabur atas beberapa buku sejarah yang buruk susunannya. Lalu perteguhkan langkah ini sekadar dongengan, sambil menyapa beberapa perihal pokok terang sumbernya. Semisal Muqoddimah Ibn Khaldun, tapi ini jauh di ujung tanduk kebodohan, lelembarnya tebal tiada informasi didapat, kecuali menghimpun perasaan, jatung hati membetot semesta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Datanglah angin lebih sepi dari kesunyian kuburan, dipenuhi kunang-kunang. Mendadak Rera Wulan Tana Ekan menjelma ular besar, saya ditelan masuk ke mulutnya yang lebar luas di dalam. Seperti ada anak bermain seruling di sana. Ini aneh, tidak masuk akal, tetapi baiklah saya coba memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di dalam perut ular ada semacam perpustakaan, buku-bukunya dapat disebut langkah atau tidak pernah saya lihat sebelumnya. Ada beberapa kemiripan dengan kamus kepurbakalaan al-Kitab yang menerangkan kota, temboknya, menara, persantapan, alat-alat berburu. Oh, saya mendapati pula gambar menyerupai timbangan, pengukur, penggiling, cara mencari ikan di arus menderas, dan menjinakkan hewan liar, manik-manik perhiasan, prasasti &amp;amp;ll. Naskah saya buka lembarannya kusam merapuh, ada lukisan berjenis-jenis perahu, alat peperangan, upacara berkabung, pepohonan langkah belum saya jumpai. Tempat peribadatan dikeramatkan, letak agung disucikan bersama patung-patung penanda masa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya taruh buku itu lalu mengambil yang lebih tinggi letakknya di rongga dada ular. Sedang si bocah bermain seruling masih berdendang. Kami sama merasa asing seakan jarak ribuan tahun tak dikenal yang kini sedang saya dapatkan. Pembaca tentu bertanya, apakah dalam perut ular ada cahaya dan kapan saya mengisi lapar? Jangan heran, mainkan saja imajinasi anda lewat terapan penalaran, meski agak-agak miring. Seperti seorang memaknai puisi yang kata-katanya tak ada sumbernya, tetapi memikat kedahagaan anda? Ah lupakan, atau cukupkan di sini. Namun saya tetap meneruskan, itung-itung pelesiran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum berlanjut saya berdehem. Yang jelas pikiran anda sedang tidak tepat di masanya, berada dalam ruang-waktu maya, begitulah dilipat-lipat persoalan masa. Sedangkan ular jelmaan penguasa Nuca Nepa menggerakkan badan merayap, saya kesulitan menggapai buku tebal di pojok samar. Saya naiki tulang iganya bercukup tenaga, demi menyabet naskah, tetapi membuyar di lantai dinding kedalaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya jumputi serpihannya, gerakan ular kian menggeliat liar, jangan-jangan ada bencana di luar. Tidak tahu persis, sudah menempuh waktu berapa bersama si bocah. Ia merasai ketakutan, mendekati saya merangkul cepat, mendadak menghilang ataukah masuk ke dalam diri saya seutuhnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengalami kebingungan sangat tak peduli lembar-lembar tercecer, mungkin sejaman Nabi Nuh AS membelah gunungan gelombang dengan kapal besar. Demikian teringat runutan peristiwa di alam nyata; waktu 13.000 tahun SM, tapi tak mungkin secepat itu. Tiba-tiba saya tak sadar diri, oleh kebingungan sulit ditundukkan, atau terkena sirep nyanyian seruling si bocah dalam diri saya, terlelap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah siuman, teringat beberapa bentuk kebingungan berasal teori Darwin yang menyesatkan, perihal itu saya biarkan. Seperti anda melalui tukang cerita membius penalaran menerima saja berakibat tumbul berabad-abad. Demikian kemustahilan mencengkeram, tidak memangfaatkan daya selidik berontak. Menelan pengetahuan memasuki nalar, malas mengamati kemungkinan mengelilingi. Terlalu percaya dengan menganggurkan otak laksana bejana, padahal syarafnya bisa mengangkut sekuat tubuh berolah. Mampu mengangkat batu besar sebab latihan, yang bengong tidak melihat puncak kreatif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti mustahil membekukan teori evolusi Darwin, pun puisi mantranya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sutardji Calzoum Bachri&lt;span class="login"&gt; (SCB) dari bangku sekolah. Setidaknya memberi mengetahuan lain, dihadapkan temuannya untuk perbandingan. Begitulah pendidikan sepihak tidak memberi peluang penalaran berbeda, dipastikan ketinggalan bangsa lain di dunia. Baiklah saya lanjut, ini peringatan; jangan terima sebelum lengkap memahami kisarannya, agar tiada tampak sedongengan duga menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal tidak terketahui nyata saat-saat terlelap, memasuki dimensi halus setirai-tirai mimpi terbuka pelahan. Saya mendapati sudah terlepas dari perut penguasa Nuca Nepa, terdampar di padang rerumputan. Ular itu menyusuri menjauh, lagi-lagi saya dalam posisi kagum sekaligus heran terus-menerus perbaharui kesadaran, guna pebekalan melangkahkan kaki lagi. Betapa sulit di kedalaman ruang-waktu berbeda, apalagi belum menemui penandanya. Jika puluhan ribu tahun sebelum masehi, masih ada beberapa kemuncul ke permukaan. Tetapi sejauh ini menunjuk angka ratusan ribu tahun sebelum masehi, hanya praduga. Laksana membentangkan benang laba-laba sejauh-jauhnya, sambil menaruh beberapa benangnya ke titik-titik kunci gemintang mendiami angkasa, bersama watak nasibnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perangkat pendeteksi mulai diketemukan semisal daun bercakap mengawinkan pepohonan, penginderaan tanaman, perangainya di musim tertentu. Di sebalik itu ruang-waktu nyata penentu masa bertepatan perihal senapasan kodratnya. Seiring lalu berkembang; tetumbuhan, gemewan, bebatu mengalami penuwaan, ranting-tulang diserang bayu perubahan. Memadat jelma inti bermekaran, menemui takdir digariskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh takjub fosil-fosil dikeduk, bangunan purba diperkirakan di letak tertentu lalu dibongkar dari kedalaman sambil mencari padanan sesuai. Apa saja pematang kebekuan, tipisnya desir bayu serta bergerombol, juga kering menyengat kulit. Di carinya gegaris ketinggian, kemiringan; semua berjalin merangkul dan membeletat, memeluk bersidekap pun lepas lingkaran, sehabisnya energi bintang tidak lagi memijar-patulkan cahaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebanding pergolakan ombak, lengkung planet, batas pandangan mengerami pemahaman, mendiami sudut-sudut pilihan. Mungkin keterbatasan bahasa yang hidup di jaman purba, darinya ada yang condong memikirkan. Wewarna lembah, bebukit, gegunung, bening sungai, bebatu licin, hingga tragedi mematikan serangan kawanan lain. Dipelajarinya teliti yang jamak menelan kurban. Ini mengalir bertahun-tahun, beratusan tahun, dan reribuan tahun lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya tidak bercerita makluk luar angkasa, kemungkinan fosil terganjil pun berasal hewan purba yang telah binasa tak berketurunan. Dimensi kematian dan kehidupan sangat dipengaruhi jarak ketinggian, keuletan, kecerdikan. Pula bisa saya katakan mereka tak sebodoh kita gambarkan, adalah semua terpancang pada tiang-tiang derajat diikhtiarkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Batas tertentu kelemahan jelma kekuatan, kelebihan menyusut keterlenaan. Nafas hidup itu wajar, dapat diusap-usap sambil perkirakan kemungkinan dipastikan. Perihal sederhana bebatu ditumpuk menjadi bangunan, keseluruhan berasal menjajal. Pada beberapa masa lebih maju menyelidiki tetumbuhan getir, pahit juga mengenyangkan. Keterbatasan untuk memerdekakan jiwa-jiwa, bukan lantas menghalalkan segala, tetapi mencari celah demi lanjut usia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memang hukum alam berangkat dari awam, namun sudut sinahu berbeda lain terapan. Maka tak bisa digebyah uyah, semua harus diselidiki, jikalau berharap sampai tujuan berkelanggengan. Sudah banyak asal-asalan menyia-nyiakan waktu. Di dinding keinsafan mereka hadir kembali, tangisan sesal berjejak perasaan nalarnya membidik dimaui. Dan keberhasilannya ditentukan Sang Penguasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali ke dongeng saya ceritakan, selepas dari mulut ular penguasa Nuca Nepa. Di sini saya ambil ‘Syair Bikon Blewut,’ versi Krowe-Sikka, sebagai garis ke masa silam, masanya, hingga tuntas inilah kisah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saing Gun Saing Nulun &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saing Bikon Saing Blewut &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saing Watu Wu’an Nurak &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saing Tana Puhun Kleruk &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;De’ot Reta Wulan Wutu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terjemahan bebasnya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak zaman purbakala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ketika bumi masih rapuh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;batu berupa bebuah muda&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tanah sekuntum baru sumekar,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tuhan di angkasa menciptakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bumi, matahari, dan rembulan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk memudahkan riwayat saya jumput terlebih dulu sepadan purba. Saya ambil dari buku "Sejarah Tiongkok Selayang Pandang" karangan Elizabeth Seeger, diterjemahkan bebas oleh Ong Pok Kiat dan Sudarno, terbitan J.B. Wolters ~Groningen, Djakarta 1951. Mengisahkan Fu-Hi pemimpin pertama bangsa "Berambut Hitam" yang juga dikenal "Keluarga Seratus," yang menuturkan adanya orang sakti bernama Pan Ku sebagai tuhan mereka. Beginilah terciptanya alam semesta dengan gubahan saya, atau tengok di halaman 13-14 di buku tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ketika bumi, langit dan air &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;masih bercampur menyatu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;belum ada matahari juga rembulan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pan Ku berdiri di tengah-tengah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengan sebuah pahat serta palu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mencipta langit, memahat bumi. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara ia bekerja&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tubuhnya membesar;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;akhirnya mengangkat langit &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;diletakkan pada tempatnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pun membentangkan bumi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tangan kiri memegang matahari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tangan kanan memegang bulan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sesudah semuanya selesai &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengan teratur dan tertib,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;matilah Pan Ku;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tetapi kematiannya itu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bahkan menyempurnakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pekerjaannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kepalanya menjadi gunung&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;napasnya menjelma angin dan awan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;suaranya membentuk gedoran guntur &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;darahnya mewujud sungai-sungai&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lalu dagingnya adalah tanah;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tulang-belulangnya padat membatu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sumsum-tulangnya menjelma logam &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;serta batu mutiara; yang tersimpan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;di kedalaman gunung tersebut."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kembali tubuh saya bergetar bergejolak. Deru angin bau batu, decak air tanah liat melumpur meluap merajalela. Tiba-tiba menemukan versi lain bagaimana keluar dari mulut penguasa Nuca Nepa. Untuk yang pernah dicekoki teori evolusinya Darwin, model perubahan ini tidaklah sulit diterima, simaklah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya jumputi lelembar naskah tercecer di lantai kedalaman perut ular. Getaran berasal, dikala membaca Syair Bikon Blewut bersama pendar nyanyiannya; sedari huruf-huruf ganjil. Tubuh Rera Wulan Tana Ekan penjelma ular kepanasan, menggeliat keras. Atau inikah kata-kata menggetarkan ketertinggalan masa? Ataukah pegapesane terjamah kesungguhan purna, berdecak mengundang balak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dirasai tak mampu lagi sembuyikan saya, dilempar persis di lereng gunung. Tubuh ular besar panjang itu melingkari gugusan pulau, kepalanya ditaruh di Gunung Kelimutu. Ada yang berubah, gunungnya tidak setinggi sebelum saya masuk ke perut Nuca Nepa. Seperti habis meletus, serpihan debunya masih melayang di angkasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Entah berkekuatan apa, mungkinkah terselubungi Lubang Cacing Hawking? Sebab tak bisa berpelesiran ke sini tanpa suatu pun; ruh-mengudara, sedang tubuh di lereng bebatu. Ruh membaca ketinggian Kelimutu; ada dedanau wewarnanya indah berbeda rupa. Terlintas segerombol manusia ketakutan, Kelimutu masih menggelegarkan suara. Sedang saya takjub danaunya, saya tulis beberapa kata merekamnya; ruh mengudara serupa menggunakan layang-layang raksasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tubuh saya di lereng bebatu berkekuatan lain daripada waktu-ruang nyata. Bukan berlari namun jalannya cepat, pembaca coba membayangkan lajunya rekaman film. Demikian berkomunikasi dengan apa saja yang saya temui, memberikan kabar tanpa kendala adalah bencah Nuca Nepa telah merestui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Burung-burung kabarkan keadaan Gunung sebelum meletus, pepohon lewat dedaunannya tersadar dari sekarat, mengisahkan betapa daun-daun sengsara tertimpa musibah, tapi ada merasai nikmat kematian. Saya berjumpa kepala suku Naru, yang hendak berselametan demi kembalikan daya bumi sehabis bencana. Tubuh ini lantas bergerak melesat, ruh tetap melayang mengudara sejenis pengendali jarak di alam nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedari suku Naru dititipi sebilah keris berbahan perunggu, saya tak tahu persis apakah sudah masuk jaman perunggu. Yang jelas dari senjata itu, diperintahkan kepala suku untuk diberikan kepala suku Larantuka. Kelak jauh terbilah tahun 1952, keris tersebut diketemukan Peter Mommersteeg SVD yang masih di daerah Naru, Ngada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya melintasi padang memantabkan keyakinan, masuk wilayah Ola Bula mendapati bergerombol gajah raksasa. Ini agaknya lain daripada kawanan gajah kerdil yang sebelumnya berjumpai di perlintasan. Gajah terbesar mengajak menunggangi punggungnya yang bidang. Saya turuti sambil mendengarkan suaranya parau menyibak pepohonan, menyusupi pinggiran hutan, ruh serasa senang menyaksikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di hutan lebih sedap pandangan, hewan tetumbuhan menakjubkan sewarna mimpi. Bunga-bunga liar menghiasi celah renggangnya pepohonan, lengkap surga di pelupuk kagum. Aliran air gunung bening memberi kabar gembira, semua terekam seluruh tubuh berniatan ruh bercampur kejadian, kesaksian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selepas lawatan di punggung gajah menuju daratan Sikka, muasal Syair Bikon Blewut diwedarkan sang empu pemilik mana luar biasa. Sekokoh magnetik tebal menjamah sekujur badan dirasai ruhiah udara, saya hadapi tetuanya demi mohon restu teruskan kembara. Di kediamannya dihidangkan sejenis minuman toak paling nikmat sebelum lanjutkan langkah, didekatkan ubun-ubun saya diasmak. Tiba-tiba sampai di Lia Natanio, Ngada, kembali di pungguh gajah, menyaksikan orang-orang besar bekerja membangun tempat ibadah. Saya kedipkan mata kepada mereka, sepadan pandangan pertama langsung sejantung nyawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak jenak di punggung gajah, melesat menyerupai terbang menuju Gua Liang Bua, di dekatnya rawa-rawa dihuni bangau-bangau besar berwarna putih. Oh, limpahan Nuca Nepa memberi nirwana tiada duanya. Kawanan bangau itu tidak mampu terbang jauh. Setidaknya kalah cepat, dibanding lesatnya raga ini dikala ruh mengudara. Menurut arkeolog, kemungkinan masa saya tempuh memasuki bilangan angka lima puluh ribu atau dua puluh ribu tahun sebelum masehi. Saya girang mengingat itu, setidaknya mendekat masanya, meski waswas berarti banjir di jaman Nabi Nuh AS belum datang. Yang imbasnya sampai Sumatra, Kalimantan, sewaktu pulau tersebut satu akar. Ataukah perlintasan ini tak runut kejadiannya? Saya tak bisa katakan lebih kebenarannya persis, sebab berada dalam kenikmatan kembara. Jangan-jangan yang suka berimajimasi, sebagaimana saya rasai kini? Ah bukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karena beberapa hari saya tinggalkan catatan ini ke luar kota, olehnya bertutur pelan sebelum kembali; memberi kabar prosesnya terbentuk 'dongengan purba.' Setidaknya mengingat kemarin menyusupi lelipatan waktu bersama ruang antara perlintasan peristiwa. Siapa tahu mewujud cermin kekayaan demi mengolah jarak pengalaman terikat keterbatasan. Atau kemungkinan tumbuh luar biasa, kala dipikirkan jauh membentang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jalan ke luar kota mengakrapi bayu lebih dekat daripada angin duduk dalam perpustakaan, seperti gerak mencipta perubahan. Kita terkurung ruang-waktu ataukah ruang-waktu terlepas, ataupun berpindah-pindah searah hasrat dari topangan napas, agar tidak menuju pembusukan. Di sini perkiraan disebar namanya 'nasib.' Walau tak dapat menghidangkan separipurna atas suara kata-kata, meski dengan sorot benderang pada obyek garapan. Semisal tidak tahu warna energi magnetik secara langsung di sebelah batang besi yang bergetar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di keheningan bersuara nging di telinga. Lembar bacaan berenergi sama saya dekat-rekatkan, kondisi kejiwaan memaksa memahami jalan kesungguhan. Lelintasan dedaunan, pepohonan, pebukitan, batu terjal, pegunungan kapur digergaji persegi empat besar-besar diangkut truk ke kota-kota besar, tambang pasir dikeduk habis-habisan membuat sedih laksana pembantaian untuk keindahan? Alam dirusak sangat sadis oleh makluk berkaki dua; manusia. Detik-detik itu saya dilempar ke masa silam, tiada yang tahu kecuali ingatan ganjil menyelubunginya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bayangkan kisah di atas saya hentikan di sini. Tentu rerongga dada pembaca sesak lantas mengumpat kecewa? Begitu pun saya dihadapkan kebuntuan, dimana sebelumnya pepintu ke masa silam terbuka hingga masuk hidup di sana? Maka merawat ingatan, persis mengelus nafas berharap usia panjang. Umpama tiba-tiba meninggal dunia atau data ini lenyap, tidakkah menjadi hantu, teror memperkuat mitos? Atau kecelakaan memberi goresan abadi. Tapi karena masih bernapas, ruh berdendang seikat daging menggumpal, darah mengalir segemericik ketinggian air menghidupkan pegunungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum menulis semua dipersiapkan di letak tertentu demi pendukung, memilih rokok dihisap pun menjelma rumusan. Dengan batas kegusaran menangkap kelupaan, juga ungkapan kawan masih bertengger membentuk gugusan, atau diapungkan bersama kesunyian perjalanan diam. Wewaktu mengikuti perkiraan; lambat, cepat, mengalir atau menggelantung mandek sekeraguan mendera, dan ruangan menghadiahi butir masalah. Keduanya membentuk peristiwa; ruang-waktu menafsirkan, jalan cerita diteruskan. Tentu dalam kondisi berbeda, pun tidakkah kekhusyukan berarti sama?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Duduk di tempat lain sambil menggembol sebuah pikiran, cecabangnya bertemu jumpa taksiran sebelumnya, kecuali hianat sedurung tuntas. Dan menghafal rasa tertentu, penting bagi manfaat kesadaran. Atau ia hadir di atas keterjagaan sejauh jala terlempar. Umpama kasih sayang kerinduan, kata-kata sehangat ketenangan indah selepas pergumulan dari jalan-jalan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kondisi ragawi memungkinkan derajad kepada gejolak kejiwaan, maka saya teruskan sebelum mati rasa, menarik jala menemukan gemilang. Harapannya ke alamat baik memadatkan ingatan. Duduk tenang dalam pikiran pembaca penasaran; begitukah kasih yang engkau impikan? Menuangkan kelanjutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bebayang gambaran silam seperti di layar televisi; kemudahan hadir setelah napas rapat menemui perkiraan purba, ataukah terperangkap di dalamnya? Dengan diam menulis serupa sebelumnya ramai di dalam kesunyian suci, setingkat kesaksian peneliti meninggalkan jejak tanda, menanjak naik-turun dengannya. Tanda dan bentuk rekaman memperkaya kedudukan ingatan lain, ada napas berbeda terlewat juga bersisipan menyapa. Dan sepertinya dengan cuap-cuap ini pembaca sudah puas jika dihentikan. Tapi tentu tak keberatan diteruskan, demi melengkapi penasaran yang sama? Ataukah bertambah dari waktu mengalir pelahan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai sketsanya saya ambil keterangan dari buku karangan Prof. H. Muhammad Yamin, bertitel "6000 Tahun Sang Merah-Putih," diterbitkan Balai Pustaka Djakarta 1958, halaman 342 seterusnya; isinya Tarich Sang Merah-Putih. Saya menjumput seperlunya dibutuhkan tambahan yang saya tuliskan pula, sebelum menjelajahi kekisah di kedalamaannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tarich Sang Merah-Putih: I. Pra-sedjarah Indonesia. Sebelum Nabi Isja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;600.000 tahun dahulu. Orang Modjokerto (Homo Modjokertensis). Tengkorak anak ini didapat di Djetis dekat Modjokerto. Inilah bekas tulang tengkorak manusia yang tertua dalam sedjarah dunia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;300.000 tahun dahulu. Orang Terinil dekat Ngawi (Pithecanthropus erectus) dan Orang Sangiran dekat Surakarta (Meganthropus palaeojavanicus). Kedua orang ini sama tuanja dengan Orang Peking (Sinanthropus pekinensis).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;40.000 tahun dahulu. Orang Ngandong (Homo Soloensis). Orang ini meninggalkan beberapa perkakas batu dan tulang, jaitu benda kebudajaan jang tertua diatas dunia. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;15.000 tahun lalu. Orang Pelaut (Oceania; Indonesia-lama) bertebaran mengisi ruangan Austronesia, menurut pendapat sardjana Perantjis Rivet.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;12.000 tahun lalu. Orang Wadjak (Homo Wadjakensis) di sebelah tenggara kota Madiun. Orang ini ialah aslinja penduduk Australia dan Tasmania asli. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎6.000 tahun dahulu. Perpindahan orang Purba-Indonesia dari Asia-Tenggara melalui Semenandjung-Sumatera dan Filipina-Sulawesi. Mereka itu menghormati warna Merah-Matahari dan Putih-Rembulan. Dari zaman itulah berasalnja penghormatan Aditia-tjandera, jang bertebar di Nusa Indonesia dan diseluruh kepulauan-Austronesia di lautan India dan Pasifik.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4.000 tahun dahulu. Perpindahan-kedua orang Purba-Indonesia dari Asia-Tenggara menudju Indonesia. Ketiga lapisan (Orang-asli Purba-Indonesia, Purba-Indonesia gelombang pertama dan Purba-Indonesia gelombang kedua) berpadu mendjadi Bangsa Indonesia, sebagai petjahan-djurai rumpun-bangsa Austronosia. Tanah-airja ialah Nusa Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎1.500 tahun s.n.I. Bangsa Austro-Asia, petjahan bangsa Austria dan belahan rumpun-bangsa Austronesia (Purba-Indonesia), bertebar dari benua Indo-tjina menudju ke tanah India, yang pada waktu itu belum lagi didatangi bangsa Arja.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1000 tahun s.n.I. Bangsa Arja (Hindu) pandai menulis dan membatja bahasa Sangsekerta berpindah dari benua Asia sebelah ke pusat benua Asia menuju ke arah selatan tanah dataran jang dibasahi sungai Indus dan Gangga; perpindahan ini mendesak bangsa Austro-Asia berpindah ke pihak pegunungan India, sampai sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎500 tahun s.n.I. Gelombang pertebaran bangsa Austronesia menudju ke arah kepulauan Austronesia dan Nusa Indonesia. Sebagai hasil perpindahan bangsa di atas ini, maka pada penghabisan zaman pra-sedjarah Indonesia didapatlah penghormatan warna Merah-Putih di seluruh kepulauan Austronesia, terutama di daerah Nusa Indonesia. Di kaki gunung Dempo (Sumatera-Selatan) didapat petilasan-waruga terbuat dari pada batu jang berlukiskan berwarna-warna dan seorang perwira memanggul bendera Merah-Putih; dalam kuburan purba kala itu didapat manik-tanah berwarna Merah-Putih pula. Sesudah pra-sedjarah ini maka bermulalah babakan mula-sedjarah (proto-historia) Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan saya petik pula dari pelbagai sumber guna mendekatkan pengamatan di dataran Nuca Nepa (Flores):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Didapati fosil gajah raksasa di Ola Bula, Ngada, 1956 oleh Tim Ekspedisi Verhoeven. Fosil ini dinamai Stegodon Trigonocephalus Florensis karena ditemukan di Flores. Diperkirakan hidup pada periode 400.000 sampai 10.000 SM. Fosil tersebut juga ditemukan di Mengeruda, Matamenge, dan Boaleza di Ngada. Lokasi penemuan dari satu titik ke titik lain diperkirakan seluas 10 kilometer.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD dan Ansel Doredae SVD, menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, 12 kilometer dari lokasi fosil Stegodon di Ola Bula.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Theodor Verhoeven SVD, tahun 1954 menemukan fosil manusia purba penghuni goa di Liang Toge, utara Manggarai berbatasan Riung, Ngada. Fosil sejenis manusia kerdil. Usianya diperkirakan di atas 40 tahun dengan tinggi 46 sentimeter. Fosil itu diperkirakan 300.000 SM.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Profesor Huizinga dari Universitas Utrecht Belanda dan Prof Koeningswald menyimpulkan; fosil ini berasal dari jenis manusia ras Negrito yang pernah berdiam di Flores. Karena jenisnya lebih tua, maka disebut Proto Negrito. Lalu menurut Zoological Journal of the Linnean Society, fosil bangau putih raksasa ditemukan di Pulau Flores, diberi nama Leptoptilos robustus, tinggi 1,8 meter, berat hingga 16 kilogram.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Paleontolog Hanneke Meijer dari National Museum of Natural History di Leiden, Belanda, menemukan fosil tersebut bersama koleganya, Dr Rokus Due dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jakarta. Mereka menemukan empat tulang kaki di Gua Liang Bua. Tulang-tulangnya diyakini bagian dari seekor bangau yang hidup antara 20.000 dan 50.000 tahun lalu. Adapun Homo Floresiensis ditemukan tahun 2004. Sampai kini para peneliti memperdebatkannya. Apakah manusia kerdil yang hidup 12.000 - 8.000 tahun lalu itu termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulang bangau putih raksasa seperti juga gajah kate serta manusia kerdil, ditemukan di bawah lapisan tebal debu vulkanik. Kemungkinan ada erupsi gunung api. Kedua, bangau putih raksasa dan makhluk sezamannya punah sebelum manusia modern muncul di gua itu," pungkas Dr Meijer.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Catatan ini banyak menyerupai kata pengantar, maafkan. Tak lebih betapa sulit memasuki abad-abad sebelum masehi. Pun kondisi kejiwaan, tepatnya ruh dalam diri betapa berpengaruh luar biasa kala menuliskannya. Mungkin pembaca tak menyangka, setiap kata-kata tertuang berimbas besar, minimal bagi yang tercinta. Ketika saya ungkap kata ‘alibi’ di bagian lalu, kejadiannya pun muncul. Saat terjerumus ke masa lampau kini, serasa kalbu terdekat menjauh, serupa resiko yang harus ditanggung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kondisi sekarang sangat parah sehingga saya mengambil ruhnya sementara, saya ganti ruh dirinya daripada milik saya dengan kesementaraan pula. Agar paham betapa jalan di alas tali keseimbangan amat ngeri. Di samping beban berat juga waswas tergelincir yang pasti menentukan laju tulisan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Sampailah ruh saya pinjam memasuki pedalaman suku Manggarai. Orang-orang daerah ini menyebut pulau Nuca Nepa dengan perkataan Nuca Nepa Lale atau Pulau Ular yang Indah. Melalui lelangkah kaki asing, karena ruh tersebut belum terbiasa menjelajah jauh. Tapi atas keayuannya semoga lekas sampai. Bertemulah ia dengan kepala suku yang bertuturkan legenda; kenapa pulau ini dinamai Nuca Nepa Lale. Kenapa orang Ngada dan Ende menyebut Nusa Nipa. Juga hikayat pada suku Larantuka menuliskan Nuha Ula Bungan yang maknanya Pulau Ular yang Suci. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia (ruh pinjaman) banyak menimba pengetahuan mereka; rahasia ungkapan sakral penentu denyut alam sekitarnya, serta misteri lain menyelubungi takdir manusia. Ibarat gunung terselumuti ketinggian kabut, cahaya kesadaran prosesi perubahan, mematangkan jenjang usia pemikiran. Atas terbang berbeda ruh membaca, sementara kaki-kakinya masih menginjak tanah melincah, gemulai membawa berita. Menembus pekabutan menyusupi lelapisan cahaya rasa nan suara makna. Untaian rambutnya kini taklah panjang selepas dipangkas, sesyarat memasuki napas suku Manggarai. Mempermudah menyusuri padanan daun-daun jua kerikil bergetar oleh perangainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ahai, ia akrab mengisi raga saya dan padanya ruh saya dirasai. Dengan lesatan seperti burung terbang tercepat yang belum pernah ada manusia menyaksikannya. Ruh berpindah-pindah dari Gunung Ranaka, mencapai ubun-ubun Mandosaawu, dilanjutkan kepada puncak Inerie. Menjamahlah kelembutan alam Ruteng, kesuburan pegunungan Ambulembo. Sampai di Pulau Sumba dengan napas santun menggapai suara Gunung Wanggameti merdu desir anginnya. Keheningan khusyuk melagukan dendang keceriahan menemui kepemudaan segar serasa terlahir kembali; alisnya melengkuk tebal menandai setiap perjalanan bagi tafsir hukum alam. Pipinya sintal senyuman menawan, bersedekah untuk siapa menyaksikan. Hidung tidaklah mancung menambah sedap dipandang. Yang bibirnya aduhai isyarat pengetahuannya telah tanak menyeluruh ke bagian tak terjamah, kecuali diapungkan rahmat merindu balasan. Janggutnya seimbangkan seluruh air muka mengharuskan wibawa turut serta, dikala kedipan matanya memudahkan segenap diingini. Dan satu andeng-andeng menikam kata-kata mengejawantah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Dengan perangai itu kedirian ruhnya meneruskan kembara menuju Gunung Anajeke, memetik peputik kembang bersenda ria dengan kupu-kupu ribuan warna. Tanah subur memercikkan sedikit lumpur ke pakaiannya dibiarkan, mungkin amat bahagia. Tiada terasa sampai Gunung Iwing, dilanjutkan ke Kabaau, tidak luput ke Pahulubandil. Tiap-tiap detakan lelangkah, jantung blingsatan, mukanya kemerah jambu matang. Sementara ruh saya yang dirasai tenang menyelidik apa gerangan dipikir, disaat cerita ini melaju berkehusyukan. Senada bercampurnya pasangan, timbul-tenggelam di kedalaman kerahasiaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Babakan berlanjut menghirup napas menghimpung segenap pengalaman, memasuki panca indra dijadikan kekayaan. Pengetahuan yang kelak tidak habis dipunggah untuk puisi-puisinya mendatang. Ruh bersama jasadnya terbang ke Pulau Timor mendaki Gunung Mutis diiringan bayu sedenyar gending Jawa mengalungi lembah. Ia teringat masa-masa kecilnya di kampung halaman bermain jaratan, dakon. Dan nyanyian yang disyiarkan Kanjeng Sunan Kalijogo; ler iler.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wewaktu dilipat-lipat, diudar sesuai kalbu kayungyung berat. Sebab apalah saya tanpa kebesaran kalbunya merelakan dengan tidak menyebut namanya nan elok sehingga saya segan menyapa. Senandung ini seberkas sinar cahya menggelinjak menemui Gunung Nefomat. Tidak lama kaki-kaki gemulainya dengan ruh pesonakan mata telinga ke punggung Kekneno, sebelum ke batas Wehaf, dan Gunung Timau yang anggun serta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Sedurung ke Pulau Alor saya berujar; entah reaksi apakah percampuran ini atau perpindahan beransur cepat. Berbolak-balik berkelembutan tak tampak mata. Memberi efek berlimpah tak terdetak sebelumnya. Jika memakai kata 'gentayangan,' tetaplah fokus merajalela, sekuat tanda berbauran memberkah. Rasanya diruapi ketinggian agung memendarkan lapisan nikmat sel-sel darah berdenyut kencang sekaligus pelan tak terbantah. Mengikuti bintik-bintik air menuangkan senjakala mulai temaram di sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Sebelum berhenti di tenggang masa yang masih bergelayut dalam selubung ruang-waktu demi maujud bagian nol ini. Pulau Alor sebagai titik tolak ruh menyimak denyutan air sungai-sungai menghidupkan kepulauan keramat Nuca Nepa. Ruh saya pinjam beranjak ke Gunung Muna, merasai lembut bersentuh lelapisan mega, tepatnya malam diterangi rembulan juga kunang-kunang dihiasi padang dataran. Langkahnya pelahan kelelahan, bau keringat nikmat dijilat angin tipis sedataran tinggi, setepat masa takdir menuntunnya berkeadaan bijaksana. Sebajik nilai utama diperdengarkan orang mulia yang ditemuinya di jalan kembara. Dengan kesadaran imbang, kepak sayap-sayap nalurinya menciumi Gunung Apengmana serta Blikmana. Sebelum hentikan lawatannya paling ganjil namun genap makna pada Gunung Fokala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hikayat lain disebut raganya hanya berada di ketinggian Gunung Ranaka, sementara ruhnya senantiasa mengembara separas di puncak kegilaan. Jari-jemarinya menuang apa saja didengar telinga, dipandang batinnya berdecak dalam. Dapat dikata banyak versi mengenai lawatannya, ada mengatakan di muara Sungai Aisesa. Begitulah legenda menutupi kekurangajarannya lewat misteri nan membalut, mempurna menggumuli alam dikandugnya. Di muara Aisesa ia pelajari masa memantul-mantul oleh cahaya surya, seumpama hati terpaut dedaun pagi memelanting embun kelembutan belia. Betapa jujurnya waktu memberi bacaan membening sehingga hijab semesta terbuka mewah merestui indranya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Ruh terus membaca alam menyimak nyanyiannya di arus Sungai Reo. Ia diajarkan memperteguh hati-pikiran, menyikapi bebatuan terjal terpukul kesungguhan dari kelembutan. Kepatuhan hukum alam membuka lembar kitab menyelidiki ayatnya kepada biru langit membentang. Desiran bayu, cecabang pepohonan lentur mencium kening permukaan sungai. Peputik kembang berjatuhan mengikuti arus. Suara-suara hewan liar menambah derajad kesaksian. Ketakjuban selalu melekati batin mempertebal iman. Keyakinan bertumpuk setinggi tapakan ruh mengejawantahi keseluruh dirasa. Bersyukur meningkatkan pemahaman perdalam penyelidikan, menguras rasa memakmurkan jiwa kesejatian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Manakala tibanya di Sungai Moke, berjalan cepat di muka air berselancar seimbangkan gravitasi ondakan angin. Firasatnya cemerlang mengedarkan cabang isyarat yang diberikan padanya. Waktu dilewati berkemantaban tiada sedikit pun tercecer. Bagai santapan lezat bagi ruhani terus dahaga, diserang kehausan rindu mendera. Kangennya ke alamat-alamat ceruk terdalam, celah daun sorotan cahaya. Dan ruang tempat penyadaran kala semua digerakkan. Maka tidak sekadar pesona diperoleh, namun jua martabat sedari tirakat di atas tabaruknya, kepada keseluruhan hidup menghidupkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teringat dirinya, kelembutan Sungai Leo Ria nan pernah berpapasan gadis-gadis ayu sama dengannya. Menikmati untaian tubuh di dalam tarian syukur kehadirat Yang Esa, pemberi berkah panen berlimpah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;span class="commentbody"&gt;Sampailah ke Sungai Jamal, di sana ia mengunci diri. Merasai dingin menggigil oleh kesaksian, meringkuk di bawah pohon. Setingkat pulung kapujanggaan menimpanya, pencerahan mengisi sekujur ruh berhawa batin menyejukkan sukma. Makna-makna bersusulan menghampiri. Permudah penalaran meneliti hayati sedari keuletan menghayati tetingkap nyawa. Semua di luar jangkauan saya, yang diberi sejumput di sini. Tak ada lain ketulusanlah pemampu memerdekakan ruh di ambang batas tak terkira, yang masih dalam lingkup kuasa Pencipta. Lalu senyala perintah mengulangi lawatannya ke Pulau Sumba, mungkin hanya ingatan-ingatannya dilayarkan ke sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="commentbody"&gt;Di muara Kambaniru dari kelokan memanjang, ia diberi penghormatan para penduduk dengan menampilkan tari-tarian Kandingangu. Upacara adat demi memohon kehadiran pencipta alam semesta. Tak dilupakan kebiasaannya di bencah Jawa ‘mengampuh;’ menjumput tanah dikunyah demi restu moyang merambahi partikel pribadinya sampai ke warna alami. Yang sisa tanahnya diambil sedari mulut untuk diusapkan di kening. Selepas itu memancarkan cahaya ke mereka di sekitanya. Mereka terus menarikan tarian Yappa Iya nan cekatan menggambarkan masyarakat Mbarambanja menangkap ikan. Dan tetarian lain dengan ditutup tarian Hedung Buhu Lelu dari kampung Lembata. Nan mengisahkan betapa erat kekerabatan penghalusan larikan kapas dipisah dari bijiannya. Para gadis-gadis menerbangkan sampurnya berwarna-warni menandai kemakmuran. &lt;/span&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum menuju Sungai Kadaha, badannya ditaburi kembang dari berbagai jenis. Mungkin sebagian kini tak tumbuh di sana yang aromanya menambah restu bumi atas kaki memakmurkan langkah. Menapak tilas dongengan ini yang masih cikal bakal menghiasi telinga-telinga merindu kedamaian. Di Sungai Melolo didapati beragam bunga-bunga putat -kalau di Jawa. Yang bergelantungan menyentuh aliran air sebagian dicecap ikan-ikan berenang menambah sedap pandang halus berbinar mempertajam matanya memaknai air hidup, rahmat sekalian alam. Tidak kecuali di Sungai Baing berjenis-jenis kembang menjalarkan lentik cecabangnya. Isyaratkan cahaya surya menanak perikehidupan, untuk turut rela kesaksiannya kepada ruh pererat sendi-sendi yang ada pada diri paling berserah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya ke Sungai Kalada yang kanan-kirinya ditanami palawija nun jauh di antara penyeberangan. Ia berniat ke Pulau Timor demi mengulang balik ingatannya terawat, mengekalkan pengetahuan yang sebelumnya didamba. Misalkan membuka lelembaran buku pernah ditelusuri jauh kala keraguan menggoda. Dan kini peroleh kemantaban tampan keayuan mekar semerah senyuman kelopak-kelopak kembang membuat kekumbang hutan kepincut menghisapnya. Turunlah ruh pelahan di ujung Sungai Benain, segambaran Dewi Kwan Im berselendangkan sutra halus permai, atau separas arca Ken Dedes di Candi Shingosari. Meski jarak waktu berbeda jauh, kelembutan bermakna sama. Seni paling unggul atas tahap pengetahuan, sebagaimana umat manusia merindu ketentraman dibalik runcingan tajam mata. Waktu berlenggang ataukah bersijingkat dalam hutan menyibak ilalang menanjaki bukit terjal. Jika ada luka serta darah tercecat, dianggap ganjaran lain oleh pesona kekayaan direguknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada kupasan sepadan menyebutkan, ketika ruh saya pinjam menyentuh lapisan Sungai Mina, dipandangnya selaksa cermin menghadap kedirian. Tiap denyut alirannya merambah kerling gaib sekembaran rahayu napas-napasnya sebuhul sama dalam tarikan sentausa. Kesamaan waktu tapi lain wujudnya saat berada di Sungai Termanu, Muke dan Mena. Lantas hadirlah hentakan keras di hati tidak siap. Belum merela dicabut secepat kilat, tiba-tiba di ketinggian Kelimutu. Ada suara riuh seramai sedekah bumi di sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum memasukinya, saya kan menguak selubung kepercayaaan sedaya bantul penalaran jaman prasejarah akhir. Ini menyeluruh atau tak hanya di Nuca Nepa. Ingin mewujud cerita seluruh, tentu memakan waktu panjang. Sementara sudah menelan luas halaman, padahal niatnya sekadar sampiran memahami pola penalaran di kemungkinan lain berdetak nyata terkandung dalam pun pula lama mengerami bumi yang melahirkan IK. Tulisan ini bisa dikategorikan abstraksi, setidaknya gemawannya nan berkreasi dapat ditarik menjelma hujan pengetahuan awal pada sistem kesadaran. Atau saya sering mengganggap temuan filsuf pertama yang mewedarkan jagad raya, serupa kejelian bocah pertanyakan bulan, matahari, bumi, gemintang dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin suku Sikka atau jangan-jangan penduduk Larantuka, peranakan manusia dari dataran Asia Kecil (Asia Minor, Anatolia) lebih jauh bangsa Grik yang suka kembara. Atau orang-orang pedalaman Manggarai pernah menimba pengetahuan di Yunani? Barangkali juga, paham hikmah begitu fitri berasal kandungan hati pikiran tercerah. Selepas memandang gunung warna lembah, pula keajaiban alam rupa-rupa meniup kabar meluas bagi yang insyaf; bahwa kehidupan di jagad raya ada penciptanya. Temuan-temaun awal betapa serempak memberi makna ataukah mereka takjud perikehidupan. Didesak kesaksian dahsyat, hujan menderas menderai, kemarau melandai dataran berpasir, pun temuan lain sebatuan digesek memercik api. Pegunungan berapi, batuan granit, dan sebangsanya. Pola-pola tersebut tertanam di benak; dibalik benda ada kehidupan. Puncaknya bersebut Animisme.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ditemukan besi berani, batuan penyimpan magnetik. Dan kesunyian malam bergemintang menghadiahi kesegaran nalar. Selalu diteliti di musim tertentu gemintang berubah arah, kemuncul dongengan sebelum alat tulis didapatkan. Atas ketakjuban dan tak puas terawat di tiap generasi, mematangkan jenjang selidik, sebagian hianat didorong dahaga yang lambat laun pasti pergeseran ada. Dapat dibilang filsuf Thales yang mengatakan asal semuanya dari air ataupun di bawah garis tekan semuannya satu. Ketetapannya tak lebih hasil lawatannya kerap melihat permukaan air, pun kembara ke Mesir mendapati sungai Nil menghidupi orang-orang sekitar alirannya. Pola itu sedaya pantul terus meneliti setingkap kejadian lalu dirumuskan menjadi kebakuan temuan bagi sesama. Ada melalui dongeng, bisik merebak pada keseluruhan telinga takjub perkirawan awal sebelum terbentuknya bumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat banjir besar melanda, pepohonan tumbang, bebatuan berbenturan keras, gunung meledakkan dadanya. Tetumbuhan disebarkan samudra ke dataran lain dan tumbuh di lahan baru, demikian peputik bunga ikut terhempas. Di senggang masa, beburung lain warna-jenisnya mendiami kepulauan baru. Semua beranak pinak di rimba belantara berbalik melebatkan dedaunan. Perubahan menetaskan telur pekabaran, terus digali yang suntuk mengisi kalbu pikirannya melewati penyelidikan berlarut. Kadang lupa makan mata berkunang, kejadian itu juga diselidiki sebelum Aristoteles memberi cabang Psikologi pada jejiwa letih pengetahuan, kedahagaan fisik serta kekenyangan biologis. Saya teringat ungkapan Herakleitos; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Hidup berpikir ialah pangkal kesenangan"&lt;/i&gt; (Alam Pikiran Junani, susunan Dr. Mohammad Hatta, terbitan Tintamas Djakarta, cetakan ketujuh Desembar 1964).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang berpaham semuanya berawal air, masih ikan-ikan yang hidup di sana (semasa Thales, 625-545 SM). Ketika para pelayar mendapati kejadian ganjil di laut lepas, mungkin sebangsa jin menyerupakan dirinya menjelma manusia, kini umum bersebut dongengan putri duyung. Atau sesuatu yang tidak ternama muasal kehidupan. Menurut Anaximander (610-547 SM) adalah "Apeiron," ini menambah yakin kelas-kelas mempercayai teori evolusi Darwin, jenjang sedari ikan sampai terbentuknya tubuh manusia kini. Baca sanggahan saya di sini &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2009/06/bahasa-kausalitas-yang-rahmatan-lil-alamin/" style="background-color: yellow;"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;http://sastra-indonesia.com/2009/06/bahasa-kausalitas-yang-rahmatan-lil-alamin/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2009/08/kajian-sebab-atas-subyek/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2009/08/kajian-sebab-atas-subyek/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebuah bangsa terbit makmur atas penduduknya tekun perpikir giat bekerja. Senantiasa mencari kebenaran terdekat menggayuh alam besar (semesta raya, makrokosmos), memeluk alam kecil (diri, mikrokosmos) antara itu direntang benang-benang keseimbangaan. Namun hadirnya keserakahan, menggalang kekuatan bersenjata ribuan pasukan merebut wilayah lain. Kerap menghapus temuan meruntuhkan nilai sebangsa banjir besar, musibah mencekik leher kehidupan. Muncul watak perbudakan, penjajahan, kembali berpegangan pada bau tahayul semisal datangnya Ratu Adil. Pendangkalan tidak lebih tekanan keterbatasan yang dibumihanguskan musuh besar kemanusiaan; ketamakan, licik, adu domba &amp;amp;ll. Hanya berjarak di bidang penelitian di bangku keobyektifan, di bawah lampu temaram sunyi dari keriuhan tapi ramai membuka hijab terahasia. Berbekal niatan bening meluruskan nilai, mereka mengembalikan yang terhapus atas berkah indra tajam dari malam berlarut siang ditangkap keselebatan. Sehingga pengetahuan berkumandang sekarang, dengan kepurnaan menakjubkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini saya dihardik keraguan besar. Lawatan saya timba bukan melalui Lubang Cacing Stephen Howking, yang mungkin ada kesamaan manakala menyebut pikiran Tuhan? Namun saya sebut melalui Lubang Kesucian, ini barangkali meretas di alam kandungan ibu, yang kelak tercermin pada jalan takdir menempuh hidup di bumi. Ada jangkauan harap, ikhtiar kuat menggali kemungkinan. Menyebarlah rahmat pemahaman bagi turut menggaduk lahan nurani sebagai ciptaan-Nya. Pembaca bisa merujuk ke buku ‘Filsafat Shadra’ yang dipengantari Armahedi Mahzar, terbitan Pustaka Bandung 2000, karya Fazlur Rahman, judul aslinya "The Philosophy of Mulla Shadra," diterbitkan State University of New York, Albany, New York, 1975. Ringkasnya, agar tidak merambah ke mana-mana yang dapat lepas terlupa pokok paragraf IK ke tiga juga telisikan mesrah akhir prasejarah. Saya jumput sepucuk paragraf pengantarnya serupa keragu-raguan, ataupun keyakinan terlepas Howking?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Jadi, menurut filsafat proses yang benar-benar ada adalah peristiwa-peristiwa dan hakekat proses itu adalah kreativitas. Tampaknya dengan ini, semua terjelaskan dan bisa memuaskan semua orang. Yang ideal dan yang material tak lain dari aspek-aspek saja dari setiap proses. Bagi orang yang beragama jika proses itu adalah semesta, maka keseluruhan hukum-hukum alam merupakan aspek ideal bagi alam semesta. Dan ini menurut ilmuwan atheis Stephen Howking, dapat diibaratkan sebagai pikiran Tuhan."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan atas lawatan saya peroleh di bukunya Muhammad Yamin serta temuan fosil-fosil di Flores sebagai jembatannya. Sebelum mematenkan beberapa kemungkinan penyelidikan. Inilah yang terterakan sebentuk pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah kebudayaan hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, hal ini bisa terlihat pada bagian badan Sphinx yang jelas sekali ada bekas erosi. Diperkirakan akibat banjir dahsyat tahun 11.000 SM? Menurut sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa banjir Nabi Nuh terjadi sekitar 73.300 tahun yang lalu (: Forbidden archeology)? Sementara wikipedia menyebut keberadaan Adam (sekitar 5.872-4.942 SM)?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berdasarkan metode analisis radioaktif, diketahui batuan bulan, meteorit dan batuan bumi tertua, pernah ditemukan berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Dan Nabi Nuh (sekitar 3993-3043 SM) (:wikipedia)? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Siapa Swalle Rubich? Siapa Abu Said El Balchi? Siapa pula Dr. H.M. Nasim Fauzi yang merayakan teorinya Stephen Hawking menyoal Isra' Mi'raj Rasulullah? Bumi-Bulan-Matahari bertanggungjawab atas terjadinya fase-fase Bulan yang berulang setiap 29,5 hari (periode sinodik) (: wikipedia).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai akhir pertanyaan saya petik ungkapan teorinya Roger Penrose: “Bintang yang telah kehabisan bahan bakarnya akan runtuh akibat gravitasinya sendiri serta menjadi sebuah titik kecil dengan rapatan, dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, sehingga menjadi sebuah singularitas di pusat lubang hitam (black hole).“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Secara garis besar kerap terjadi perbedaan jauh; hasil penyelidikan mengenai tahun antara arkeolog, paleontolog dengan sejarawan. Yang satu berdasarkan analisa radioaktif, geologi, stratigrafi atau studi komposisi umur relatif serta distribusi perlapisan tanah, dan interpretasi lelapisan bebatuan menjelaskan sejarah bumi, disamping keimanannya turut menentukan jawabannya. Dan para sejarawan lebih condong temuan teks (tak luput keimanannya andil). Sebalik itu ada kemungkinan lain misalkan teks terbentuk atas dongengan pujangga, tertulis setelah kejadian, apalagi sebelum kejadian serupa teks penujuman. Di sini terlebih condong hasil-hasil teks, hikayat lama, selain tatapan astronomi, antropologi, pun penggalian alam penalaran filsuf yang didedikasikan demi martabat manusia atas tetahap pengetahuan digalinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan botani, dapat bilang menyukai tetumbuhan; berinteraksi, lebih khusus kala bertamu ke rumah kawan, ke tempat-tempat baru yang saya singgahi. Dari kedekatan batin ke tetumbuhan menghadirkan banyak informasi yang kerap persis jika ditanyakan pada tuan rumahnya. Lewat diamlah menyapa atau dengan membawa jiwa merasa kosong tidak memiliki suatu apa, dapat menyerap lebih terkandung alam sekitar, begitulah saya belajar. Mungkin di antara pembaca berminat meneliti usia bebatuan yang merujuk data sejarah; jalan yang pernah saya tempuh membaca buku-buku menyoal peninggalan bersejarah, sambil mengamati seksama misalkan karakter batuan di Candi Prambanan, Borobudur, Shingosari, &amp;amp;ll. Membaca ulang lembar riwayat berdirinya percandian, maka segera terbit kejelian sederhana dari wewarna kerutan, teksur bebatuan di atas usianya, untuk meneruskan penelitian pada bangunan walas lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari bentangan sebelumnya, dilihat dari populasi gajah di jaman purba pada bencah Nuca Nepa. Ada dugaan Pulau Jawa gabungan Sumatra tidak sebatas di ujung dataran dihuni suku Osing (Banyuwangi). Namun melingkupi Pulau Seribu Pura (Bali) hingga Nuca Nepa yang kemungkinan pulaunya berwujud cincin atau ular. Di antara pulau Flores, Alor, Timur, Sawu dan pulau Sumba menyatu. Yang lepasnya semua itu sederajatan meletunya Gunung Kelimutu. Lebih jauh kalimat saya senada perkataan Prof. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D. kala mengemukakan buku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-style: normal;"&gt;Atlantis, The Lost Continent Finally Found&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="st"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; {The &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-style: normal;"&gt;Definitive Localization&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="st"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; of Plato's &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-style: normal;"&gt;Lost Civilization, 2005&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="st"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;}&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; karangan (temuan) ilmuan Arysio Santos menyoal benua Atlantis, ini ringkasannya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/ Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/ posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, ”Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya, ”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil, Arysio Santos menenggelamkan usianya dalam pelitian tersebut selama 30 tahun. Dan saya dapat dibilang sekadar menjumputi permukaaannya saja, baru melewati putaran bulan mengelilingi bumi yang hampir genap dua kali pada kisaran Nuca Nepa. Kebetulan tahun ini kan terjadi gerhana bulan total dua kali, melingkupi wilayah Indonesia. Pertama malam 16 Juni 2011 lalu (tulisan di bagian kedua) pun kan terjadi gerhana bulan total lagi tanggal 10 Desember 2011 nanti, menurut Hakim L. Malasan.&amp;nbsp; Ini mengingkatkan penujuman gerhana matahari awalkali dilakukan filsuf Thales ke tahun 585 SM. Ingatan-ingatan, informasi bertebaran menguatkan rerabahan (remote sensing, penginderaan jauh). Kecondongan saya lalu selaku penelitian M. Yamin, kalau kita berasal bangsa Austronesia, dan bangsa Grik kian jauh kemungkinannya. Ataukah napasan berbangsa di bumi tuhan sangat berkait kala pada derajat tertentu menyembulkan pengertian. Dan selisih paham dapat dilarungkan teruntuk rahmat terindah penelusuran berliku di kedalaman insan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mula saya simak esainya IK dalam kurun kemarau hingga mengawali ini (akhir tulisan sebelumnya bagian XIII terposting di facebook 28 Sep 2011). Kini musim penghujan merambati bencah saya diami. Hawa angin sumber mata air mengendus ke permukaan. Sekelebat bayang Dami N. Toda (1942-2006) menghampiri, ia sedaerah Ignas Kleden hanya lain suku. Terekamlah lawatan saya sebelumnya di sukunya Dami, Manggarai. Kini mari mendekat walau pun sepintas warna budaya di sana. Setelah lalu mencium ketinggian pegunungan, juga desir arus sungai-sungainya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di atas pelbagai bacaan di jendela maya, khususnya blog dikelola Marsi Ragaleka yang memosting catatan Inang, dari buku "Hidup dan Baktiku" Penerbit TP. PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur1989, Penyunting: Alo Liliweritaman sebagai sketsa. Maka saya beranikan menghentak, seperti duga tak bersalah ataupun kemungkinan lain merambah mengejawantah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di pulau Adonara, Solor dan Lembata didiami suku berbahasa Lamaholot. Suku pendatangnya Mehen, disusul Ketawo. Ada ungkapan indah di dalam kekerabatan bermasyarakatnya: “Ola tugu, here happen, ILua watana, Gere Kiwan, Pau kewa heka ana, Geleka lewo gewayan, toran murin laran.” Artinya: Bekerja di ladang, mengiris tuak, berkerang (mencari siput di lautan), berkarya di gunung, melayani keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi kepada ibu pertiwi atau tanah air, menerima tamu asing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jantung kitab mitos membuka lelembarannya di hadapan saya. Ujung senjakala di bencah tanah Jawa beristilahkan “Sandi Olo” yakni dekat keburukan. Kisah Rera Wulan Tana Ekan semakin mematangkan kesakralan, penguasa langit bumi tersebut sedang bercinta demi sempurna esok harinya. Suara-suara burung petang mendengkur, ratusan kelelawar menebarkan pesona. Penduduk menutup pintu rapat-rapat, hawatir mengganggu para dewata tengah memadu asmara. Ini tak berlangsung lama, sampai ujung tombak tak tampak di jarak sasaran. Mulailah mereka keluar menikmati malam, sebab para dewa sudah menaburkan bintang-gemintang keceriahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rera Wulan Tana Ekan, dewa agung bersifat dualistis. Rera Wulan (rera = matahari, wulan = bulan) penguasa langit. Tana Ekan (tana = dataran, ekan = bumi) dewi bumi. Hubungan ini menyerupai pasangan suami-istri. Keduanya bercinta di petang masa, waktu tidak pantas untuk dewata. Karena melanggar pantangan janji keduanya, lahirlah putra-putra dewa yang kelak menciptakan bencana. Mitos berkembang menjelma sandungan bagi pernah mendengar tetapi melampauinya, menjadi nyanyian gunda untuk para empu waskito.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tatkala mitos suku-suku berjalin, ruhnya pertebal cerita, bernafas di setiap degup dada percaya. Keyakinan menambah takjub memenuhi sambungan nyawa. Saat orang-orang tua tak lagi menuturkan sebab kesibukan di ladang, malamnya lelah istirah. Tinggal sebagian bebocah mendengar itu kisah, pun melalui jalur-jalur lupa hingga sebagian terhapus dari ingatannya. Kesibukan ragawi menuai ganjaran hampa. Tiada berdaya nyanyian lama lenyap ditelan hawa pancaroba, kini tinggallah tulisan tak bermakna, kecuali hiasa semata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Membaca suku Sikka yang saya perkirakan tertua dari suku di sekitarnya, lapisan sosialnya terbagi tiga derajad, pertama Ine Gete Ama Gahar terdiri para raja dan bangsawan. Tandanya memiliki pemerintahan tradisional dan harta warisa moyang. Lapisan kedua Ata Rinung bercirikan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan, melanjutkan amanat terhadap umat lapisan ketiga para insan awam; Mepu atau Maha. Secara umum masyarakat Sikka terinci beberapa suku; ata Sikka, ata Krowe, ata Tana ai. Di samping suku pendatang; ata Goan, ata Lua, ata Lio, ata Ende, ata Sina, ata Sabu/ Rote, ata Bura. Mata pencaharian mereka umumnya bertani. Saya sebut tertua tersebab menemukan sistem penanggalan pertanian: Bulan Wulan Waran - More Duru (Okt-Nov); bulan membersihkan kebun, menanam. Bulan Bleke Gete-Bleke Doi - Kowo (Jan, Peb, Maret) masanya menyiangi kebun (padi, jagung) memetik. Bulan Balu Goit - Balu Epan - Blepo (April - Juni) masa memetik juga menanam palawija. Dan akhir kelender kerja di bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agu - Sep).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wengi sempurnakan gelapnya, tetua ahli di bidang perbintangan terus mencermati edarannya. Dupa kemenyan mematangkan mantra, asapnya melekat ke dedaun pandan. Mata terjaga, alis melirit sebilah sau (pedang panjang) memasukkan kekayaan dewa langit ke tengah malam kesaksian, jauh dari nyala obor perkampungan. Beberapa empu berada di ketinggian gunung memetik kemungkinan awan mencium pucuk bibir perbintangan. Ada kesurupan tiba, suara-suara dewata ke ragawinya memberi penujuman mulia. Kisah lain disebutkan mereka berendam di sendang hangat, sambil membawa beberapa kayu ditancapkan sebagai tanda letak bebintang dan pergeserannya. Hikayat berbeda mengatakan di tengah padang, dengan tongkat bersimpan mana, mengatur derajat tertentu perpindahan edarnya gemintang. Sebagian membuat gundukan tanah, menggaris hasil-hasilnya. Ini dilakukan sampai purnama dua belas kali rasanya. Sementara ibu-ibu menyiapi perbekalan, anak-anak bermain di pelataran. Yang menginjak dewasa menjaga batas-batas perkampungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Membiaknya suku di kepulauan Nuca Nepa tak lebih pertemuan penduduk setempat dengan pendatang. Meski menaruh kasih sayang, kecurigaan pun datang, lantas terpenuhi kala sama beradu kesaktian. Hasilnya perundingan menjelma pecahan sepadan. Di antaranya, terbentuk gugusan pengetahuan atas persilangan pengalaman. Batu diruncingkan seujung mata panah demi menghalau suku di luar lingkaran Sikka. Para pemuda dilatih ketangkasan berkuda. Kaum pemudi menggiling hasil pertanian, mereka beranak pinak. Hanya peperangan ataupun bencana memburaikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini ke dataran Ende dan masyarakat Lio, paku buminya Gunung Kalimutu, Detusoko serta Welamosa. Nama Ende ada menyebutkan Endeh, Nusa Ende, dalam literatur kuno Inde atau Ynde. Ada dugaan nama itu diberikan sekitar abad XIV, sewaktu orang melayu berlayar memperdagangkan tenunan besar, Tjindai yang sejenis sarung patola. Ende ataupun Lio sering dikata kesatuan tidak terpisah. Meskipun demikian sikap ego menyebut diri sendiri; Jao Ata Ende atau Aku ata Lio, menunjukan batas jelas kekhasan keduanya. Walau bermukim dalam batasan terang, nyata wilayah kebudayaannya lebih luas Lio daripada Ende. Pola pemukiman mereka umumnya dari keluarga batih atau inti baba (bapak), ine (mama), ana (anak-anak) dan diperluas sesudah menikah, anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk. Rumahnya terbuat bambu beratap daun rumbia, alang-alang. Lelapisan bangsawan Lio bertitel Mosalaki ria bewa, bangsawan menengah Mosalaki puu, Tuke sani kaum biasa. Pada Ende bangsawannya Ata Nggae, turunan raja Ata Nggae Mere, yang menengah Ata Hoo, dan budak dati Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mencermati Endeh saja betapa lapisan masyarakat bertumpuk membentuk kebudayaan. Endeh ialah letak pembuangan beberapa tokoh politik semasa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya Soekarno yang sempat membikin panggung teater di sana. Ikatan bathiniah memberkahi kesungguhan dan kesantausaan kala menyulam pengertian merentangkan sayap kemungkinan. Menerbangkan wujud kemakmuran sedari penghayatan hidup rukun saling menopang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kerasnya watak kukuh menentukan pilihan menjelma identitas-identitas sama mengikat satu tujuan. Tajamnya pemikiran, lembutnya penyelidikan, perasaan kasih sayang disisi kecurigaan dalam, demi menutupi kelemahan membentuk segugusan pengetahuan. Semuanya berkebaikan menginsyafi tapak langkah kemanusiaan. Ruh mengendarai makna berjalin hingga fajar kebaharuan. Memajukan kemurnian, kecuali dihempaskan bayu kesilapan yang meruntuhkan bekal sebelumnya membuyar tak tersisa. Maka ikatan batin berhadap tenggang rasa ialah pranata menimbang, menerbangkan, melebur bersesuaian hukum alam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atas tanah Endeh dan Soekarno. Saya pernah menggurat sepucuk puisi, setelah membaca buku tebal susunan Cindy Adams bertitel "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang tertulis diawal tahun semasa saya di Yogyakarta, berikut nyanyiannya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;SANDIWARA SOEKARNO DI ENDEH FLORES&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menyaksikan kulit-kulit lumut terkelupas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dari daging karang atas sobekan mentari.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Batuan cadas terlempar membisu panas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ditempa besi baja tapal kuda ke jalanan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semakin jauh pilunya seperti para janda&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tetangkai kelapa diderai angin kembara.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melumpuhkan debu-debu kemarau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;tangisannya sampai daun rumput&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pulau Bunga.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nafas tersengal udara menyumbat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lempengan padat awan-gemawan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terhempas ke kaki-kaki senjakala.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menapaki tanjung ujung pesisir&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;atas tubuh lusuh tenggelam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dalam riak duri-duri malam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tanpa peduli gemintang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bulan berkaca samudra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kala danau matanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;menjadikan muara.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu wilayah Ngada ada daerah bernama Bajawa. Kini sebagai ibu kota di ujung bukit seribu meter atas permukaan gelombang laut. Masyarakatnya dikenal empat kesatuan adat memiliki tanda berbeda; antaranya Nagekeo, Ngada, Riung, Soa. Semua pertahankan ciri kekerabatan dengan mendukung tanda kesatuan. Arti kekerabatan Ngada umumnya selain terdekat berbentuk keluarga inti Sao. Lebih luas satu simbol pemersatu (satu Peo, satu Ngadhu, Bagha). Ikatan nama membawa hak kewajiban. Anggota kekerabatan dari kesatuan adat harus tunduk kepala suku, terutama atas tanah. Masyarakat pendukung berumah adat dengan seorang mengepalai pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu. Rumah tradisional disebut juga Sao, bahanya seperti di Ende / Lio. Rumah adat ditandai Weti (ukiran). Terdiri dari tetingkatan; Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu, Sao Dawu Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda. Pelapisan masyarakat teratas Ata Gae, menengah Gae Kisa, terbawah Ata Hoo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sumber lain menyebutkan tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, golongan rendah (budak). Ada membagi empat strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), Bheku (bangsawan keempat). Para istri lapisan terutama atas dan menengah dinamai Inegae / Finegae bertugas mengepalai rumah memutuskan segala sesuatunya. Masyarakat Nagekeo berkebudayaan Paruwitu (berburu), Soa pendukung Reba (tahun baru, pesta panen), yang bertani dalam arti luas Ngadhu / Peo, terjadi di sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada. Setiap wilayah memiliki adat istiadat serupa musim membentuk pelapisan tanah yang dihinggapi. Perubahan hadir atas persinggungan selempeng tanah bergeser adanya gempa, derasnya tsunami. Manusia mendiami bumi menua langit merapuh, tersebab hukum waktu berjalan. Melingkar ukurannya mengikuti gejala perjanjian mewujud cabang teori pembiakan juga pemusnahan. Tetonggak tersebut diuji kekekalan masa berkendara beringas bersama deru yang kerap menghardik kemanusiaan tersentak terperanjak. Ada tafakkur memunajat demi aturan keseimbang terpelihara, demikian nyanyian dirindu di sebidang tanah anak manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedari tak mengerti bergiat memahami hayati dan titik-titik pemberhentian bukanlah saklek rupanya. Karena ruh pengetahuan terus menafaskan makna untuk kesegaran batin dahaga menyambut ikatan perbendaharaan kebenaran. Begitu pun alat musik, tari-tarian mengalami kenaikan drajat oleh pencarian. Kesuntukan mengudar benang panjang kemungkinan bagai dituntun rahmat agung. Pelahan memastikan bekas perjalanan meninggalkan tanda, dipelajari demi tingkatan makmur, memperkaya sandangan jiwa raga. Budhi pekerti membuka selubung khijab agar bayu kemungkinan bertambah. Seluaslah padang perubahan mendekatkan ruang-waktu pada sebuah inti pengertian, bahwa bebangsa mendiami jagad ini bersaudara. Sedangkan perbedaan bahasa, karakter ucapan tetap menujah damai berangkat dari ketulusan. Tiada penyangkalan, kecuali adanya melenceng perlu ditegakkan kukuh pada perenungan dalam; sesal mempurnakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya menuju tanah kelahiran Dami Ndandu Toda (Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 20 Sep 1942 – meninggal di Leezen, Jerman, 10 Nov 2006). Wilayah Manggarai bisa dikata subur, areal pertanian meluas perkebunan kopi membentang mewah, curah deras hujan sejukkan mata. Terletak seribu dua ratus meter atas ombak lautan, di bawa kaki Gunung Pocoranaka. Bentuk keluarga batih terdiri bapak, mama, dan anak-anak disebut Cak Kilo. Perluasannya klen kecil Kilo, kemudian klen sedang Panga, klen besar bertitel Wau. Beberapa istilah dalam sistim kekerabatan; Wae Tua (turunan kakak), Wae Koe (turunan adik), Ana Rona (turunan mama), Ana Wina (turunan saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan bapak), Ema Koe (adiknya bapak), Ema Tua (kakaknya bapak), Ende Koe (adiknya mama), Ende Tua (kakaknya mama), Ema (bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), Enu (saudara wanita atau istri). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Strata masyarakatnya ada tiga; Kraeng (Raja / bangsawan), kedua Gelarang (menengah), kelas ketiga Lengge (rakyat jelata). Raja mempunyai kekuasaan absolut, upeti yang tidak dapat dibayar rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut upeti dari Lengge. Para Gelarang merupakan penjaga tanah raja, penyambung lidah golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge selalu terancam, karena harus membayar pajak, pekerja rodi. Dan kemungkinan besar menjadi hamba sahaya, sewaktu-waktu dibawah ke Bima, kebanyakan tidak bisa balik melihat kampung halaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam bukunya Muhammad Yamin, “6000 Tahun Sang Merah Putih,” di halaman 91 tertulis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Lemang-tjerai Merah-Putih di pulau Flores:” Sedjak berapa lama sudahlah ada perhubungan baik antara daerah Goa (Gowa) dipulau Sulawesi Selatan dengan tanah Manggarai dipulau Flores. Begitu pula sangatlah rapi perhubungan daerah itu dengan keradjaan Bima. Perhubungan dengan Goa dapat dibuktikan karena adanja beberapa gendang pusaka (gendang-gelang), jang biasanja dimiliki oleh tua tana. Selainnja dari pada gendang-gelang itu, maka kepada kampung Lema dekat Leda Liur diberikan oleh Tiwu kerajaan Goa setangkai bendera sebagai tanda mendapat djawatan gelarang. Perhubungan adat menyampaikan persembahan kepada Goa barang-barang hasil bumi seperti ubi merah (uwi wara dan sedjan wara), selendang pampang dan makanan berwarna Merah Putih, jang bernama dea naa lone dalo belang wara; hidangan ini jalah nasi putih bertumbuk dalam bambu berwarna merah (belang wara = bambu merah; wara, warangan, barang, bang, abang = merah). Pusaka dan upeti diatas menunjukkan bahwa Merah Putih memang dihormati pula pada perhubungan daerah dengan daerah di Indonesia Timur.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak terasa musim hujan menancapi jari-jemarinya, halaman ke halaman bertambah. Yang awal niat catatan ini singkat saja, telah menempuh dua puluh halaman sudah. Di kala memasuki lelapisan pertama, seolah sulit merambah dataran masehi. Tapi kebenaran data, menyeret dalam kesadaran luar biasa. Tidak tersangka yang meski ada sangkaan sebelumnya; gumpal tekat menujah kandungan alam. Mungkin yang tertulis semacam Babad, Lontara, Tambo, Hikayat atau Me-mitos (kerja meranggeh, merangkai, menggayuh aura lama). Lalu terbentuk formula, serupa kemendadakan atas rentangan sayap kata-kata terudar sedari mulanya. Meringkus ruang-waktu berabad nyata pun belum ter-nyana, memang berat jikalau menginginkan kepurnaan. Setidaknya keraguan selalu menguntit jiwa oleh sapaan ini ke ubun-ubun pendengar?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada bayang lembaran ini saya namai "Babad Nuca Nepa" atau "Kitab Rera Wulan Tana Ekan." Ya, itulah godaan kemarin, meski lembarannya belum rampung, tapi rayuannya harus ditulis kini, agar tak menghentikan langkah. Demikianlah energi melimpah sekitar diri, menarik-narik hingga sulit apa yang dilaksanakan dulu, kadang malah hal tersebut menyumbat kreatifitas. Gelombang deras disusul data-data menerjang pola penalaran, seakan tidak berdaya, terperanjak, umpama linglung mabuk kepayang. Syukurlah bertetap duduk di kursi kesadaran. Meski abstraksi terbangun sejenis tambal sulam membuka kemungkinan lain, ada rabahan meyakinkan itu yang diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Harapan meringkas ruang-waktu satu sentuhan napas kalimat menempuh kurun masa setahun dari 600.000 tahun dahulu misalnya, ialah kebodohan, mungkin? Tapi betapa meriwayatkan sesuatu kehendaknya mencecap madu perih terkandung, jelas memakan rentang umur dunia. Kian cepat daripada dibungkus keraguan terlalu, kefanatikan buta, sikap menutup rahmat sebesar-besar-Nya. Apalagi data tidak sekadar teks, pula pesona jernih menebarkan cabang penginderaan tinggi sejauh membumbung. Sekelembutan bayu sepoi kerlingan mata takjub, air mata menetes terharu. Keinsyafan menjaga detik jiwa merambah dataran gurun nyata. Kadang diri berpikir kata ‘tersesat’ pun ‘menyesatkan’ yang menelan ruang-waktu berlebih. Meski peroleh limpahan hikmah menjumputi wewarna tercecer, ini melenceng dilihat garis ketetapan alami. Namun semua kembali dalam diri, nyatanya kepercayaan mendiami reruang pribadi, terahasia bagi senantiasa merenungi nasib besar manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ingin setiap kata bersimpan tetumpukan partikel aura tidak bosan-bosannya dipelajari. Sekali renung membuka rerongga ruh kelenjar bernapas di alam pemikiran, sampai drajat tertentu menyetujui larik-larik dipunggah. Dialog nyambung pun yang mengsle bergayuh, sehingga getarannya mempurnakan batuan magnetik hati juga isi kepala. Umpama gasing pada loncatan pertama ada kemugkinan belum jenak nasib di putaran akhir pada satu titik. Apalagi lapangan belum terkuasai, meski bertenaga jika kasar papannya, terjungkal tak lama. Tetapi jika medan tak halus terketahui, barangkali sedikit-banyak mampu menguasai seberapa jauh napas ditempuh daripada takdir permainan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya teringat beberapa tulisan Dami N. Toda yang bertebaran bersimpan mawujud filsafat proses yang awal tiupan terompetnya oleh Alfred North Whitehead (1861–1947), juga rekannya Henri Bergson (1859–1941), yang ujung-ujungnya pada Stephen Hawking? Mungkin hanya itu kesamaan atas saya. Karena di antaranya manakala menyoal mantra rasa plin-plan; antara mengandung mana di sisi lain tampak profan. Maka kemungkinan selepas mengupas esainya Ignas Kleden, kan berlayar ke sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya ingin menelepon dia, tetapi selalu saja tak mampu berkata-kata. Ini menyakitkan, menyebalkan, membosankannya -mungkin. "Tapi sungguh saya merasa senang dengan perasaan kepadanya," dan berharap dia (ruh yang pernah saya pinjam), menjadi guru menunjukkan kepada saya tentang Alam dalam keselarasannya di kedalaman Rasio, mengenai tujuan khusus setiap fenomenon partikular serta dalam keseluruhannya, tujuan agung Alam Semesta. Saya tidak akan melepaskan harapan ini. Namun betapa murung kali ini, mungkin karena kesalahan saya seperti kefatalan yang dilakukan Anaxagoras, sehingga dia kecewa (mengoplos kerkataan Sokrates dari buku karangan Hegel yang berjudul The Philosophy of History).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya jumput kata "pohon,” yang di bencah Jawa disebut "wit-witan" dalam arti lain "permulaan, awal kejadian." Jika saya masukkan dalam peristilahan "sejarah" adalah tepat, sebab memiliki akar, batang, dedahan, reranting, dedaunan, bebuahan. Kita ambil sepintas, dedaunan masa menebar kabar menjadikan pohon mendewasa, akhirnya melahirkan kuntum kembang juga bebuahan segar sekaligus menantang. Misalkan dedaunan di sebrang dataran Cina bersebut Lao Tse (604 SM), Confucius (551 - 479 SM), sisi lain Thales (625 - 545 SM), Anaximandros (610 - 547 SM) pada rating Yunani. Sekitar 600 SM dalam upacara keagamaan mengadakan festifal tarian dan nyanyian demi menghormati Dewa Dionysius. Menyelenggarakan sayembara drama untuk dewa tersebut pada 534 SM di cabang Athena. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara itu Muhammad Yamin menyebutkan 500 SM di kaki gunung Dempo, didapat petilasan-waruga terbuat dari batu berlukiskan berwarna-warna dan seorang perwira memanggul bendera Merah - Putih; dalam kuburan purba kala itu didapat manik-tanah berwarna Merah-Putih, pula dedahan lain di sebatang pohon sejarah dunia. Di antaranya belahan dahan cecabang lain mengalami kekosongan buah kenabian; Nabi Sulaiman (1034 SM mendirikan masjid) sampai Nabi Isa terlahir (1 M); terisi dengan tertancapnya kekuasaan Siria yang mengalahkan bangsa Israil (740 SM), Nebukhadnezar menjadi raja Babilonia (625 SM), berdirinya kekuatan Persia (539 SM), Raja Cyrus menguasai Babilonia 537 SM, merupakan cabang dedaunan juga. Lantas terbit bangsa Griek dibawah Iskandar Zulkarnain 332 SM, hadir kerajaan Rumawi (63 SM) merebut Palestina dari cengkeraman Griek, pula bermakna sama sepohon kejadian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh mengakhiri tulisan ini terasa menyakitkan, seumpama perpisahan atau lenyapnya cita-cita, meski diganjar legenda. Perubahan terus memulai ataukah akhir mengiris hati. Setidaknya saya sudah membuat riwayat Nuca Nepa yang tentunya bukan murni. Hanya sejenis refleksi atau jangan-jangan kekisah yang mampu memilah, menembus batas kesadaran ke ambang dasar pemikiran. Guna tak kecewa berat, saya turunkan dongeng ini menghadirkan ruh saya pinjam bersama saya. Yang sempat tersentak demi memasuki pesta sedekah bumi, ataukah pelepas sebelum semuanya balik ke hadirat pembaca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan mengendarai desiran angin muson, saya diingatkan seorang bocah peniup seruling nan pernah bertemu dalam perut Rera Wulan Tana Ekan. Ia kini berdendang, sambil melantunkan untaian kata: "Di keropon tawa gere ipek gike sulung Sina" artinya "Sebagai pemuda yang telah tumbuh gigiku, kutiup seruling Cina dengan mulutku sendiri." Bersamaan itu suara riuh dan umbul-umbul terangkat tinggi. Lalu ritual persembahkan tarian kepada saya yang gundah. Ataukah wujud lestari sedurung pulang ke kampung halaman?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wajah bulan sabit mengecil, dan hampir dua kali memutari bumi. Gong, gendang juga tambur ditabuh, para penari Hopong dari penduduk Helong mewujud upacara tradisi yang mengijinkan kaum petani menuai panen di ladangnya. Syair-syair dikumandangkan atas syukur kehadirat Tuhan serta kepada nenek moyang. Para tetua adat, dan lapisan masyarakat berduyun-duyun berkelompok diterangi nyala api obor. Kawasan Gunung Kelimutu benderang atas lidah api menyala-nyala, asapnya menuju puncak. Pemilik jemari lentik melentur menyabit udara, memetik bayu, diangkutnya ke pundak halus sentausa menjaga keseimbangan, sedalam kedipan mata pecinta. Tarian ini biasanya dilakukan di sebuah rumah yang sebelumnya disepakati warga. Namun kini ada semacam ritual besar-besaran, jikalau di Yunani pada ketinggian Gunung Olympus demi penghormatan dewa Zeus, sang penguasa halilintar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dilanjutkan tarian Manekat (pemberian tempat sirih berisi pinang, sirih beserta kapurnya) oleh para penari dari suku Dawan (salah satu suku asli penghuni daratan Pulau Timor); melambangkan penghormatan, memberi harkat martabat seseorang. Sekuat kepulan dupa kemenyan meningkatkan kesakralan. Membumbung menarik janur angkasa, membelai usapan tipis sewarna garis katulistiwa. Ada raut sulit terbaca seakan takdir entah; masa silam bangkit dari kandungan alam. Sederet kemungkinan welas asih tanda kepatuhan pada yang dialamatkan. Dedaun sirih aromanya menyambut ruh moyang. Menebalkan udara meninggikan hisapan, serasa candu dikulum dalam jumlah besar kesungguhan. Bau pengurbanan atas para kesatri, bau keberaian menyusupi tiap derap langkah kepanditaan. Dan tiada lain yang mati diruapi ribuan kembang kepahlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tari Peminangan ala Dawan, pakaiannya terlihat rapi selenggok gemulai penari setandan pisang tersusun agung mengungkap perasaan sayang tulus. Kepolosan kalbu sepasang kekasih yang mengikat junjungan nasib sepenuh guratan telapak tangan terbuka. Pun bermakna penyambutan kehadiran tamu istimewa. Jenjang kaki lentur cekatan, merawat tekukan lengan tangkas memakmurkan persilangan lahir-batin mengisi ruang kosong diberkahi persetujuan kelembutan penerimaan; sulaman benang berwarna-warni tenunan maha karya abadi. Napas-napas menggiring ke ujung jawaban, diperkuat hadirnya kebaktian sukma kayungyung mengeruk pembuktian. Sapaan mesrah merestui mimpinya menggugah harapan timbul-tenggelam pada kelurusan pandang. Bayang menegakkan isyarat lingga kekayaan untuk cawan-cawan merindu perjumpaan hangat, menanti elusan mata air gunung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini persembahan dari masyarakat Belu, Atambua, menarikan tari Likurai, para gadis selebah keluar sarang. Sayap sampur berkelembutan menyambut senyuman tamu terhormat, pahlawan sepulang dari medan perang. Adanya keceriahan berasal ikatan terpendam kekangan kuntum kembang semerbak. Menawarkan nirwana kemenjadian keluhuran pekerti selalu dirawat setiap lipatan. Umpama kertas ungu dibentuk angsa-angsa kecil digantung udara. Bayu muasal percepatan, kaki-kaki gemerincing berbinggel di atas goyangan kepadatan pinggul. Suhu menapaskan ruang-waktu percampuran menitahkan sepadu padan memberkahi keterjagaan. Melumat keraguan, waswas digerus tuntas. Kelopak kemerdekaan terbukanya timbangan keadilan yang berayun dalam kewaspadaan, di titian terang disoroti keseluruhan cahaya kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari dataran Alor, penarinya menunjukkan tarian Dodakado (di tanah Jawa permainan ini bersebut engkle). Dibawakan muda-mudi dengan keceriahan utuh, kesantunan guyub berlompatan pada persilangan bambu dimainkan. Bersyair pada lompatan kecil antara jepitan bilah bambu selalu bergerak. Setiap gerak menyandang ketepatan hitungan menjaga kumandang syair, berputar menerus sebelum berganti lawan pemain. Senyum simpul tanda kesejahteraan, keayuan elok kebahagiaan takdir ketundukan ritme. Musik disepakati memakmurkan nilai-nilai pekerti, memantabkan makna tanggul kecermatan. Yang telah meruh dalam persetubuhan senyawa, pandangannya seolah mengejek, kadang malah pemain bambunya serba salah. Dan sangsi diberikan berbatas penyadaran. Kepatuhan nyanyian alam melestarikan hukumnya mendiami keadiluhungan permai tergayuhlah kemakmuran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Disusul tarian Teotona dari kerajaan Oenale (tari perang suku Rote Oenale) di Rote Ndao. Termasuk upacara sakral menyambut kaum pria sekembali berlaga, seperti Likurai dari Belu. Pria-wanita menunjukkan kegembiraan, bergerak ekspresif bercampur genderang alat-alat ditabuh. Penyambutan pahlawan, para pencari jejak patriotik nenek moyang. Bukan kegaduhan tatkala denting menyerap bersesuaian irama tubuh memeluk kedalaman. Setingkat ruh pada lawatan tak terkira, tapi bertetap hati penjaga pikiran. Isyarat dan strategi, luk badan tekukan kaki. Untaian lengan memainkan jemari, meloloskan perikehidupan setatap peribadatan persembahan. Bagi pemberani mematuhi garis wilayah, benteng pertahanan, jalur kuasa. Nama-nama diabadikan, peristiwa berdarah ditulis ulang demi membuka lembaran baru. Sejarah berangkat dari tekad membulat, kesempurnaan ragawi berolah mentalitas menyibak semak terdepan, rupa bebatuan terjal menyobek daging, menyerikan tulang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ditingkatkan tarian Ledo Hawu dari Sabu Raijua yang melambangkan upacara kematian kepala adat atau penghormatan akhir. Juga mengusir dedemit di tengah laluan para leluhur. Agar perjalanan arwah kehadapan Pencipta tidak dihadangi. Auranya beruapan spiritual, aroma angker kental mewarnai makna diigelarnya. Istilah lainnya bersebut penyapu jebakan, air bersimpan mana selepas diasmak mantra penghalau, dicipratkan. Kembang kejayaan berbau keabadian mengisi sudut penciuman. Menidurkan kelicikan, melenakan kepicikan, menyilapkan telik sandi sederap kemajuan. Bukanlah kesedihan tapi keteguhan, bukan rasa takut tapi keberanian terima kekalahan, demi langkah balasan merawat tanah nan dijanjikan. Burung gagak berkoak memusar di ubun-ubun cakrawala. Pakaian serba gelap sematang keteguhan, setua hasrat merangsek mencecap menghirup bertuah. Sedalam sedap maut menitisi bayi terkandung gunda gulana. Pancaran mata harapan tidak habis-habisnya, krentekan kalbu mengawali terbitnya cahaya. Ibunda matahari bagi bersikap merdeka dari penjajahan ruang-waktu pembodohan, menutup mata acuh tak acuh atas penguasa keblinger disusupi hantu serakah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam-malam menanjak sesiang menanak keberhasilan. Suku Sikka Krowe tampilkan tari Leke, diiringi tabuhan Gong Waning bersetia berkumandang mengikuti lantunan syair adat. Awal tariannya seakan kurang teratur, setiap penari mengikuti kemandirian tubuh masing-masing diri. Tapi masih dalam ruh ritmis kebahagiaan, keceriahan naik sederap alat musik ditabuh ke batas maksimal menyatui melodi. Para tetua yang pandai bersyair berganti-ganti membaca ayat-ayat babad suci. Lembar demi lembar memberikan wejangan pekerti bagi kelangsungan tradisi. Ketika untaiannya tersimak seperti alam bergetar bersaksi atas kandungannya mewedarkan keunggulan dewa-dewa komodo. Kekuasaan elang, kecantikan bangau putih, pun kekokohan tebing menjulang serta sifat gotong-royong semut hutan. Tak luput kesaktian dewa ular pun kesunyian batu terudar di dalam kalimatnya. Betapa ibunda pertiwi memberi gambaran melalui wakil-wakilnya di bumi. Orang utama direstui memetik kemuliaan demi kelangsungan keadaban bersambung-sinambung ke depan terpijak kini. Malam memberkah, terbukanya kerudung rembulan menuangkan hidup berkasih sayang tulus ke pepucuk damai lestari di sisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari Ende menyuguhkan tari Poto Wolo (Poto bermakna mengangkat, kata Wolo; gunung atau bukit). Tari ini dihajatkan menjemput tamu agung atau kepala suku, tokoh adat diangkat secara tradisi. Dipilihnya penari mahir serta rahayu jiwanya. Selendang kain tenunan dikibas-kibaskan bak burung merak tengah menghadapi marabahaya, atau berjemur saja menyaksikan matahari. Gending-gending ditabuh, lengan dan kaki tak henti berlenggok suguhkan purnanya tubuh berprosesi besar menjunjung tinggi derajat orang dirahmati. Para tamu mulia kadang larut senandung decak kagum, menambah lengkap berkendi-kendi toak, anggur lama mengisi kerongkongan dahaga. Nyala obor menjulang, wilayah Kelimutu menambah wibawa. Dedanau berwarna seakan berdendang waktu selalu berlalu. Malam memanjang, sekedipan gemintang melengkapi sedapnya perjamuan. Satu antara penari seperti bermain pandang bersama tatapan mata saya nan jitu, semoga ianya berkenan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kerajaan Manggarai mengetengahkan tari Wasa Wojarana. Dilaksanakan seupacara adat menjelang tanaman padi menguning. Mengisahkan luapan syukur melihat bebuliran padi menjanjikan keberkahan. Serta ungkapan gembira pada Dewi Sri, sekaligus memohon agar panen tak gagal akibat bencana alam dan hama. Irama pelan terkadang bertempo cepat, penari bergayuh ikuti ruh tertinggi memantabkan waktu mengisi kematangan buliran padi, seasap jerami mengepul sedoa mengundang rahmat Ilahi. Kayu-kayu lesung ditabuh berkotekan, menghimpun semarak seturut malam memantuli suara dari pelosok keheningan ke jantung sanubari. Awan tipis di ketinggian merambah maklumat setiap sendi irama dilakonkan. Gerakannya persandiwaraan; adanya mewakili Dewi Sri, petani pun hama atau bencana. Sungguh para penonton terhibur olehnya. Dalam nuansa khitmat jiwa saya melambung ke entah, sekembara jauh yang masih berpijak kesadaran nyata. Seelok mimpi dalam mimpi, di kedalaman hidup menghidupi. Sebutir padi nan tunduk atas fitrohnya bagi kemakmuran insani.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Disusul tarian Todagu asal Ngada melambangkan keperkasaan pemuda Nage Keo dalam berperang. Kumandangnya membangkitkan semangat dasar jiwa, diiringi alat musik bambu serta tambur. Tarian merancap nyaring bersama teriakan kepahlawanan. Tubuh-tubuh terlatih siap bertarung ke medan laga, hentakan yang menggencang menggedor tanah diperebutkan. Tetesan darah tercecer dari pedang penari atas kurba sembelihan berkehendak merangsek lawan. Detik-detik tidak luput perhitungan, sekali silap terputus tumbang. Tarian ini berbahaya disamping bertetap kesakralan. Musik dijejali padat mengundang para kurban berlaga tempo dulu. Jejiwa penari disusupi arwah leluhur, para kesatria pemilik kekebalan, sehingga tak hawatirkan timbulnya cedera. Pemuda Nagekeo terkenal serampangan, selain strateginya matang. Tarian ini dilaksanakan disaat menghimpun kekuatan, pula selepas peroleh kemenangan. Saya seakan tak mampu membedakan; kelicikan dengan taktik, seperti kalimat filsuf bertumpuk-tumpuk makna menopang gagasan diuntah. Dari tekat bulat membobol kemungkinan pun pula dibelakang ide besarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Serasa terbangun dari tidur tak disengaja, tersentak mimpi baru teralami. Bebulir padi menetas bidadari muda yang tiada tumbuh bulu. Ketiaknya mewangi. Menyaksikan pagelaran semalam suntup tarian, menimbulkan kebiasaan segelombang menonton wayang kulit. Ada masa terkantuk berat sedalam ketakmampuan oleh hisapan besar sang dalang. Lamat-lamat saya merapikan kesadaran, meski ingatan tersebut bergayuh pada angan terindah. Entah masih malam, atau langit diselimuti awan-gemawan menebal tapi tak menghawatirkan. Adakah endapan sekepasrahan ikhlas merelakan ruh saya pinjam mampir ke sini lagi? Mungkinkah babad ini patut diterima? Namun semuanya kadung terjadi di lembar-lembar kesaksian malam rabo kliwon. Pelahan tapi pasti, mengangkat keseluruhan diri. Atau Sang Hyang Widhi benar-benar turun merestui. Menanjaklah direbut peredaran angin muson, terlihatlah di bawah; Maumere, Endeh, Bejawa, Ranakah, Rinca hingga Pulau Komodo. Sekejap pula berada di kepunden jiwa, letaknya saya di bencah tanah Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lamongan, Jawa Dwipa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selasa malam Rabo, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;22 malam 23, Novermber, 2011, Masehi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;26 bulan Besar, Rabo Kliwon, 1944, Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;27 Dzulhijjah 1432 Hijriyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="login"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;28 Cap Gwee, Xiao Xue: Xin Mao, Shio Kelinci, 2562, Imlek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-2748972937632973563?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/2748972937632973563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_976.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2748972937632973563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2748972937632973563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_976.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XIV kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiganya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-744285193612681278</id><published>2012-01-06T19:25:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T20:49:52.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dami N. Toda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XIII kupasan keenam dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mitos angka 13 senomor kesialan, mungkin ada yang sampai ke tataran mempercayai. Karena kini menemui bilangan tiga belas, saya kan buka selaputan penuh paragraf satu-dua esainya IK dengan kaca mata tiga dimensi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum mengudarnya, apakah mitos? Ia hadir kala kesepakatan realitas dan angan belum nyambung, dapat dikata putus. Lewat ungkapan tertentu berhadap adanya ikatan memaknai peristiwa secara tepat yang diikuti kerjanya imaji di ruang kesementaraan atau kesepakatan bisa berubah menurut jenjang kedewasaan masyarakat menerima / menolaknya. Misalkan 'bidadari menggendong kucing di bulan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia hadir ada yang melontarkan. Pengungkap dapat disebut penanda yang menandai sesuatu. Sering penanda lebih kuat dari petanda, di sini hukum dialog mitos muncul, kabar diberitakan membentuk wacana lantas menjadi hidup ditafsirkan. Pula bisa berganti balik, petanda lebih menguasai jalannya cerita daripada penanda, saat kata-kata dibentuk mengikat kuat suara awalnya. Tapi betapa pun pewarta menentukan jalannya kisah pada namanya alam mitos.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apa pun bahasanya; lisan, tulisan, isyarat, sampai bahasa tubuh di ruang senggama, memungkinkan masuk menghidupi mitos, kala harapan lebih mendengung datang sambil merangkai kekuatan tak terjangkau yakni Realitas Tunggal. Ini terjadi karena bahasanya merebak dikonsumsi masyarakat, menjalar sejalur wicara atas kekuatan bahasa itu. Dan keseluruhan alam bisa terperangkap jaring mitologi, manakala lahan mensugesti masih subur mendiami setiap kepala. Hanya yang mawas bercuriga tak gampang jatuh ke jurang akal-akalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Olehnya kehendak saya menawarkan kaca mata ini; penanda, petanda dan tanda, di balik itu waktu lampau, sekarang, serta masa depan. Barangkali setelah dedahan ini, tidak mudah terima ungkapan meski dari seorang ternama dengan silap menelan mentah, tapi benar mewaspadai, minimnya duduk di kursi kesadaran seorang terdidik / tidak taklid buta, gampang dibodoh-bodohkan karena tidak melawan arus berkesungguhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pun bahasa seni pahat, gurat lukisan, gambar bergerak / film, iklan-iklannya, sanggup memasuki alam kesementaraan mitos atas dukungan perangkat dimiliki menjebol indra terlena, terpukau diserang dari pelbagai penjuru. Sebab napasan mitos sejenis tambahan, balon udara dipompa berangin -karbit (zat gas), memungkinkan melambung disaksikan banyak orang dengan keheranan awal. IK meniup balon udara / memberi sorot lampu di ruang pameran keramik, kerajinan patung, lukisan juga televisi menyuguhkan tayangan, atau penanda menginformasikan petanda dari tandanya SCB.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;IK penyihir, penyulap membuat orang-orang penasaran, jelas di atas tingkatan sebagai penanda. Dengan 'asap dupa kemenyan,' merobah kata ‘bebas’ SCB ke ‘terobos’ seular &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;melungsungi,&lt;/i&gt; tepatnya akrobatik koin hilang dari telapak tangan dengan kemunculan di telapak lain, atau memberi wejangan ini-itu kepenyairan Sutardji. Jelas SCB saat itu dalam keterpengaruhan gravitasi kecendekiawanan IK, seampuh-ampuhnya petanda lebih mempuni penanda, selukisan van Gogh lebih bernilai ketika ada kurator; mereka memitoskan keberadaannya salah satu pelukis terbaik dunia dipunyai Belanda. Di seberang itu lukisan van Gogh tak luput pembajakan dan masih berkelas dibanding yang diperjualbelikan di trotoar Malioboro. Di sini tanda palsu terimbas mitos, ketika wicara merebak memenuhi semesta wacana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sinyal mitos adanya kesepakatan tak menutup ruang manipulasi dan bisa serempak sebunyi-bunyian lagu himne di media massa, olehnya gerak terpaksa pun saat dalam satu komando, terciptalah sejarah? Ini bisa juga lantaran musiman, pasar kaget tak mendiami bangku hakiki, suara kabur dengungan keras menyumbat telinga. Mereka minder kala para empu mengamini, lalu mitos terjadi tak sanggup dipertanggungjawabkan, akal-akalan dari turunanya. Nyata tergantung pengucapnya, meski porsinya lemah di dalam yang diungkapkannya dan bukan keilmuan, oleh menggeser realitas dengan angan. Atau tingginya bukit mengajak mendongak menyaksikan penyeru walau terpaksa pun manut. Misal pembeli lukisan repro dari karyanya van Gogh berbahagia mengoleksi dengan kebanggaan menelan mitos!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika pembaca di posisi bagian III lalu menyimak paragraf IK di atas, tampak ia memainkan musik keras, ibarat musikus klasik Mussorgsky sekehendak menjatuhkan batu besar ke jurang kesunyian, keheningan, sebab kita sudah tercengang heran, takjub barangkali tersihir; kok bisa ya batu sebesar bukit diangkut ke gunung lalu diterjunkan? Di sisi lain ungkapan Dami N. Toda; "Kalau mata kanan sastra Indonesia Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri mata kirinya" sudah dikutip banyak kritikus. Pada wawancara disiarkan koran Republika "Sang ‘Mata Kiri’ yang Mengembara" 19 Agustus 2007, Sapardi Djoko Damono yang menempatkan julukan itu, demikian labut mitos merebak menguap. Lalu dikemanakan lainnya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mitos tak sanggup bergerak seperti SCB di manapun pengulangan, tiada upaya menerobos gagasannya secara jantan.’ Istilah ‘presiden penyair Malioboro’ pun kandas alias mandul kekaryaannya, barangkali oleh tingginya angin memitos tidak menjabarkan kata-katanya, jua hasil pemikiran menjurus pengertin dipakainya. Kebangkrutan menguat dikarna penerusnya tidak memberi dedahan menakjubkan di alam kesadaran wacana ke jenjang nan digayuh. Bentuk memitos mendapat topangan denting permainan ‘piano’ IK di permukaan Pidato Kebudayaan, yang disampaikan di Malam Puncak Pekan Presiden Penyair di TIM 19 Juli 2007, dimuat Kompas 04 08 2007 tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barangkali sejarah sastra Indonesia dibangun lewat mitos melihat deretan di atas, terbuai seanak balita diayun ibundanya sambil bercerita; 'kalau ada bidadari menggendong kucing di bulan,' 'hujan melalui jendela langit,' 'bidadari mandi keramas di sendang pelangi.' Mitos datang berbentuk buaian, angan melambung merayu orang turut merasai lamunannya, diperkuat puja-puji nyanyian menyenyakkan, kritik bercampur penyedap rasa bahan pengawet tak menyehatkan. Tindak ketidakalamiahan ini saya geser pisaunya Roland Barthes, bahwa mitos menjelma gossip di sini, mungkin iktikatnya mengikuti ungkapan Victor Hugo menjuluki Arthur Rimbaud sebagai 'Putra Shakespeare.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gossip lelucon itu saya tulis berjudul FENOMENA PRESIDEN PENYAIR DAERAH SEBAGAI DAGELAN POPULER, 18 Nov 2008 atau klik http://sastra-indonesia.com/2008/11/fenomena-presiden-penyair-daerah-sebagai-dagelan-populer/ Sebelum berlanjut mari hening sejenak; adakah tiang-tiang susastra kita dengan kritik tajam, selain pujian memabukkan yang dihasilkan dari mitos pun gossip? Bukankah selama ini kita sudah kenyang sanjungan sampai ada ingin jadi tuhan? Tidakkah nalar hidup mengolah bahan melimpah dijadikan santapan lezat nan menyehatkan, setonggak keadaban pantas disegani? Atau terlelap saja dalam lamunan panjang oleh bisikan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika Barthes menyebut mitos ialah sebuah tipe pembicaraan atau wicara (a type of speech), saya mengatakan ‘kedalaman bahasa mata;’ bayang-bayang pula angan di kegelapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selama ini ‘indra penglihatan’ digunakan sealat melihat saja, saksi kejadian tampak lalu terekam di ruang ingatan, seolah tak memiliki kemampuan mandiri kesadarannya! Kini rasakan bagaimana ‘kedalaman bahasa mata’ membentuk asosiasi, melahirkan sebuah pandangan (pemikiran) yang tak kalah penting mempengaruhi jalannya pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya ambil contoh ‘bidadari menggendong kucing di bulan,’ ‘Arthur Rimbaud Sang Putra Shakespeare’ pun ‘Gunung Tangkuban Perahu.’ Pada orang-orang tak mengetahui Arthur Rimbaud pula Shakespeare secara langsung, kehadirannya sebayang-bayang seorang belum pernah ke Gunung Tangkuban Perahu, seorang buta tidak melihat raut bulan di malam hari. Tapi hasananya kuat terekam angan kegelapan, melekat ditopang bacaan cerita sekitar, dan kemampuan berimajinasi ke sebuah ungkapan yang terpaksa diterima seolah masuk akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian ‘SCB Presiden Penyair Indonesia’ yang awalnya dikatakan sendiri sebelum membaca puisinya lantas diperkuat Dami N. Toda; "Kalau mata kanan sastra Indonesia Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri mata kirinya." Itu jadi suatu bentuk (a form -istilah Barthes) yang terjadi diperkuat, diturunkan orang berbahasa menyihir pesonakan mata pada teks -mendengar muatannya, entah sebab titel yang mengatakan membentuk keumuman oleh diumumkan di media. Kita tahu salah satu melemahkan penelitian ialah berharap dipandang, mencari muka seperti yang dikatakan Ibn Khaldun di awal Muqoddimah-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barangkali Sejarah Sastra Indonesia dibangun lewat mitos. Ini kelihatan hampir seluruh penelitian di lapangan sastra pujian, kecil sekali kritik tajam apalagi pengoreksian ulang pada kisaran sekelilingnya. Sejenis dongengan, seakan hidup di awang-awang bersama mimpinya akan sejarah sastra dunia digayuh, seolah sederajat hasil temuannya dengan mensejajarkannya, atas minimnya mencurigai kelemahan yang menjegal diterimanya wawasan. Yang terbit maka persamaan kulit, jika ditelusuri kurban diberikan belum seberapa. Olehnya paling ditekankan mentalitas guna tak cepat puas, apalagi merasa sekelas tapi bertepuk sebelah, kecuali beberapa peristiwa saja dapat didudukkan bijak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ungkapan melambung paragraf IK satu-dua berbentuk meyakinkan seajaib mungkin, namun sudah saya preteli hingga bagian tiga belas ini berlanjut. Jika dapat turunan lagi tanpa penyangkalan, tentu bayangan memitos hidup di angan kegelapan, sastra awang uwung segelembung leher katak bersenandung, itulah mitos memperkosa penalaran. IK berupaya menarik mitos ke dalam bahasa revolusi, tindakan realitas ilmu pengetahuan, lewat merubah kata ‘bebas’ ke ‘terobos.’ Ini sungguh cantik tapi tak lagi menggetarkan, saya juga tak menutup kemungkinan yang tertulis ini kelak malahan jadi mitos terbesar SCB, bagi yang kelebihan muatan angan-angan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Andai menerima nafas realitas tentu jenjang pengetahuan terarah, misal sejarah sastra baru di tingkatan mitos di beberapa kasus. Lalu membekukan sampai penelitian dalam hingga terkuak kelopak kembang sumekar menebarkan harum berangin wacana, yang diberikan kesuntukan mengolah bahan. Tetapi rasanya tidak, serupa ketakmungkinan para astronom awal kali meneliti bulan oleh perkiraan adanya bidadari. Victor Hugo menjuluki Arthur Rimbaud Sang Putra Shakespeare tentu sampai, karena orang-orang tidak masuk akal jika mencari siapakah ibundanya? Dan turunan ke berapa? Mereka paham logika ungkapannya sekadar penghormatan, yang tidak mematikan langkah di alam kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bandingkan ‘SCB Presiden Penyair Indonesia,’ dimana kekuatan politik negara ini sangat kuat mencengkeram kehidupan rakyatnya, maka memaksa angan tersebut siapa rakyatnya? Apa seluruh warga negara Indonesia penyuka sastra? Siapa wakil-wakilnya? Ini jadi lelucon seperti negara federal, karena ada presiden penyair Malioboro, presiden penyair Cirebon, Presiden Penyair Jawa Timur, seterusnya. Seakan obsesinya mereka membentuk negri bayang-bayang, mitos sampai kini diterima tanpa kajian mendalam. Ini berbeda kalau menengok plakat diberikan Hugo, mungkin tertutupi istilah 'anak haram.' Saya kira paling pas, Presiden Penyair Indonesia adanya di dunia ludruk / panggung Petruk, Gareng dan Bagong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penggambaran saya mengenai mitos ‘kedalaman bahasa mata;’ bayang-bayang pun angan di kegelapan, dapat ditaruh perluasan paham Barthes melukiskan tata surya, ia sendiri kemungkinan tidak sengaja / barangkali menyembunyikan langit inspirasinya. Coba cermati tulisannya di buku “Mythologies” (1972), diterjemahkan sedari bahasa Prancis oleh Annete Lavers, “The Eiffel Tower and Other Mythologies” (1979), diterjemah dari bahasa Prancis atas Richard Howard, pada penerbit yang sama New York: Hill and Wang, yang diindonesiakan penerbit Jalasuta, 2007, halaman 299:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Zhdanov mengolok-olok Alexandrov sang filsuf, yang berbicara tentang 'struktur bulat planet kita.' Zhdanov berkata, 'Sampai sekarang dianggap bahwa hanya bentuklah yang dapat bulat.' Zhdanov benar: kita tidak dapat berbicara tentang struktur dalam sudut pandang bentuk dan sebaliknya. Namun di atas bidang 'hidup,' tidak terdapat apapun kecuali totalitas tempat struktur-struktur dan forma-forma (bentuk-bentuk) tidak dapat dipisahkan. Tetapi ilmu tidak berguna bagi hal yang tidak terucapkan itu: ilmu harus berbicara tentang 'hidup' jika ingin mentransformasikannya. Menentang angan-angan tertentu tentang sintesis, yang sangat platonis, semua kritik harus setuju pada kecermatan, pada kecakapan analisis, dan dalam analisis, kritik harus sesuai dengan metode dan bahasa."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambil mempertontonkan saya jawab beberapa lubang belum tertutupi di larik-larik sebelumnya. Jika Oktavio Paz mengakui dirinya ‘antropolog amatir’ yang memiliki iktikad baik di bukunya "Claude Lévi-Strauss An Introduction." Sebagai pengelana, saya girang turut berbagi yang tidak menutup kemungkinan perluasan, meski baru sampiran di sini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perihal mitos dapat dibilang hampir tuntas dibahas Barthes, namun saya memaklumi mengenai ‘ke-sakral-an’ luput dari pengamatannya, mungkin terlalu terpikat 'Mitos Dewasa Ini,' sehingga hal-hal lampau menghantui dunia kini, walau kecil diabaikan. Disadari atau tidak, yang dimitoskan membentuk alam tersendiri, ini wajar sebab mitos membuat pribadinya terpencil. Seperti 'kesunyian bidadari di rembulan,' 'sepi pahitnya hikayat Tangkuban Perah' pun 'kisah Arthur Rimbaud Sang Putra Shakespeare yang menjulang.' Mitos menjauhkan dirinya dari penalaran, memang seungkapkan Barthes “tiada mitos abadi.” Tapi setidaknya mendiami ruang-waktu antara, masa-masa terikat gravitasi sendiri selepas diterima khalayak, meski dengan keragu-raguan penuh sebagai imbas sesuatu 'tak ternalar.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya tersedot legenda dara langsing Roro Jonggrang dari Kerajaan Boko, insan dikutuk dijelma patung bersama patung-patung kembarannya di Candi Prambanan oleh Raden dari Kerajaan Pengging, Bandung Bondowoso, cukup itu mitos setelah para arkeolog bersetia mengidentifikasi usia batuan dll. Dan ketakmampuan orang buta melihat yang didongengkan menjadi 'bayang ingatan,' seperti langkah dikaburkannya beberapa esais sastra mengungkap Sumpah Pemuda serta lainnya, dengan menghapus nama para tokoh penting demi mengekalkan orang-orang berucap setelahnya. Sejauh itu mitoslah terbangun, intinya berhasrat disakralkan sejarah, tentu tak lama sebab secara naluriah insani menginginkan kejujuran, bukan informasi gagah-gagahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita di dunia Timur kerap terlupa, mungkin terlena atas alunan alamnya ditiup angin mendayu setarikan gegaris katulistiwa, tropis nan sentausa. Sampai kejadian beberapa jengkal masa lalu sudah mendiami pekabutan mitos, kadarnya tergantung seberapakah kesadaran membaca realitas. Tengok peristiwa meletusnya Gunung Krakatao, jikalau arsipnya tak ditemukan dan disebar atau terlalu percaya cerita mulut gossip, mitoslah berkembang, lalu terhilangkan kekayaan hikmah yang terbit di sana. Pun menuliskan sejarah tanpa ditali di tonggak semestinya, malah turunannya, dipastikan putus gairah besar yang sepantasnya berkembang senyala api penelitian di masa datang. Maka tiada lain disalahkan tidak jelinya menyerap kabar berita membentuk gemawan memanjakan mereka di bawahnya, padahal dapat terjadi dikala itu sang surya tengah di ubun-ubun sebuah kesaksian terbesar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Upaya para kritikus meninggikan orang-orang dianggapnya jempolan, melupa bandingan hasil capaian mereka pada sandaran dianggapnya –telah pantas, terbentuk nuansa kejauhan namun kental, seakrab warna langit membiru di mata teramat jauh jaraknya; kedekatan ini berasal perasaan “fanatik juga melemahkan daya penelitian,” menyitir Ibnu Khaldun. Seperti kecondongan IK pada esai saya dedah kini serta para penganalisa lain serupa penyeritaan atau tangan menyuarakan ‘wicara’ istilah Barthes, menurunkan mitos lantas otomatis jarak tersebut melembaga ‘kesakralan.’ Setidaknya pandangan lain olahan pengupas mendiami ruang berbeda, pada waktu tertentu ibarat kepercayaan nenek moyang pada animisme, dinamisme. Atau sesegan santri pada kyai juga tempat-tempat keramat yang pendekatannya cenderung keimanan, dengan ragu takut kuwalat mendekati secara kritis, meski beriktikat kedinamisan pada derajad keadaban membangun, misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dapat saja di titik tertentu berkadar masing-masing, contoh lukisan wajah Monalisa karya Leonardo Da Vinci menjelma teka-teki misteri wajah pelukisnya, lukisan Van Gogh, Picasso, menjadi nyanyian tersendiri bagi pelukis pemula. Atau Kitab Hang Tuah, Hikayat Perang Sabil, Syair Lampung Karam 1883, Faus-nya Goethe, Siddhartha-nya Hermann Hesse, Wirid Hidayat Jati-nya R.Ng. Ronggowarsito, Sabda Zarathustra-nya Nietzsche, sekali lagi sebatas tertentu di benak-kepala pembaca bisa membentuk mitos, lantas kembangkan kabut kesakralan serupa kitab suci agama ardhi dst. Kerapkali alam mitos menjauhkan dirinya dari kenyataan, membatasi untuk diteliti / kurang menginsyafi harga penalaran kritis, sehingga terperosok ke jurang kekaguman. Seperti sindiran Hassan Hanafi kepada ulama'-ulama' klasik ditiap pengantar karyanya / ketawadhuan menjerat pencari sejati di jalan kembaranya, yakni tidak berbuat lebih sedari terpesona, tiadanya tindakan dialektika nan dinamis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kala memandang pertumbuhan mitos sastra dewasa ini ialah bentuk ucap pengulangan seragam, tanpa sistem mengkritisi demi kematangan penggalian alam tradisi. Lebih fatal diskusi kejar tayang di setiap minggu pagi, tak lebih polemik itu petasan cepat habis di malam lebaran -yang secara logis Ilahi pun tak mungkin ada rembulan di atas kuburan di malam lebaran, kecuali pembesar keadaan, puitisasi peristiwa agar terlihat bermakna nan mengusung logika sekenanya. Ini jauh panggang dari arang, membaca kilauan hasil tanpa menyelidiki prosesnya, seperti perihal Barthes tiada bisa menolak mitos, misal kaum pedalaman yang tidak percaya jikalau ada manusia turun ke bulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selanjutnya agak menyanggupi kaca mata tiga dimensi bagi tafsiran pada Barthes yang menyembunyikan langit inspirasinya, yakni ‘tata surya’ bidang 'hidup' daripada sebuah bentuk yang hanya bulat pada Zhdanov. Kelak dan mungkin tengah terjadi, webset atau situs-situs perpustakaan beredar di google membentuk kewibawaannya, dan pada drajat tertentu menjelma bahasa ucap antar blogger sampai menempati ruangan mitos, kesakralannya terpantul atas wibawa yang disuguhkannya sebagai mitos jaman mendatang. Seperti gemintang beredar terang ketika malam, dimana alam bawah sadar terangkat, timbullah hawa kurang percaya diri atas hidup. Sehingga berpegangan akar rapuh, ketika temuan mutakhir melecuti hati pikiran insan seakan sia-sia hidup di muka bumi, atau terkenanglah pada kematian Jacques Derrida, Paris, Prancis, 8 Oktober 2004.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai penutup saya kutip ujaran Pablo Picasso; bahwa seni adalah kebohongan yang memungkinkan kita untuk menyadari kebenaran. Ini sangat berbeda jauh dengan alibi!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-744285193612681278?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/744285193612681278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/744285193612681278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/744285193612681278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_06.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XIII kupasan keenam dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-5728006761099277498</id><published>2012-01-05T08:36:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T08:49:08.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XII kupasan kelima dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk menjadi telaah karya yang istimewa harus ada ketajaman dalam menggali kepengrajinan karya, inspiratif dan orisinal, argumentasi yang meyakinkan, dan keberanian menafsir&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (Jakob Sumardjo).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tahun 1999 saya bermain ke TIM dan mendapati buku “The Creative Process” susunan Profesor Brewster Ghiselin, dialihbahasakan Wasid Soewarto, terbitan pertama Gunung Jati Jakarta, Januari 1983. Jauh sebelum itu saya memfotokopinya dari perpustakaan almarhum Gus Zainal Arifin Thoha. Seingat saya di deretan toko buku Jln Semarang kota Surabaya, masih ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bicara proses kreatif memang para seniman saling menyerap, mengisi lengkapi dirasa ada kesamaan. Persilangan terjadi meski lain digeluti, pemusik menimba pengalaman sastrawan, sebaliknya pelukis menyerap pengetahuan penari, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sewali’e&lt;/i&gt; teaterawan menggali manfaat pemahat, seterusnya. Tinggal mematangkan perolehan rangkap bersama temuan di jalanan, yang tidak lantas mengaku kesaksian secepat kilat, apalagi sudah terdengar. Saya kira lebih aman banyak baca, sehingga tak mengambil ihwal terlewat melalui sumber kedua apalagi turunannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam pengelanaan, kadang mendapati nuansa hampir sama kawan sejalan yang memunculkan aura kemiripan kala dituangkan dalam karya, ini bukan jiplakan. Tapi di balik itu pantas merenungi jika menjumputi suara lain, melihat sejauh mana ianya menggali ladang hidup -atau sekadar memetik bunga di taman bacaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang-orang ampuh dikaruniahi daya melimpah berangkat dari kejujuran pencarian, lelangkahnya dipastikan meyakinkan, tiada kegusaran mandul. Meresapi diri selautan tenang memeluk gravitasi berkeindahan, yang decakan gelombangnya menginspirasi sesama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Adapun datangnya kecelakaan terlalu ngefan seorang tokoh, lalu memboyong apa saja disuarakan dengan abai bacaan lebih dulu datangnya. Ketika mengutip sekenanya dipastikan merusak wacana, serupa barang palsu beredar di pasar gelap, padahal yang resmi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;isih &lt;/i&gt;mengedarkan nan lebih terang lampunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya tulis ini tanpa ekspresi serasa sesal tiada guna oleh mengetahui suara turunan berkumandang lantang, tapi... Semoga tak terlambat selagi memegang keterbukaan, menyiduk bening air ketulusan dalam sanubari menuju kematian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berkali-kali saya kagum Presiden Penyair itu, berkali-kali pula takjub Raja Mantra tersebut, berkali-kali tambah seribu pula pesonanya tergerus habis atas bacaan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebenarnya kurang layak &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;cawe-cawe&lt;/i&gt; proses kreatif, toh bagi saya juga lawatan itu sangat lain serta mengalir alami, seakan tiada benar-salah kecuali kesengajaan njiplak. Juga tiada dosa, malah dapat pahala sebentuk ijtihad melawan kebodohan, atau menuntut ilmu sampai liang lahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada beberapa kawan menegur untuk tidak memasuki wilayah berbeda sejenis gugatan, kata Fahrudin cukup buku sebelum ini, kata Binhad mending membuat gagasan tersendiri, tapi adanya pertimbangan diteruskan kini. Pertama mengamini ruh ‘Surat Para Penyair’ di buku sedurungnya, kedua apalah saya berkonsep, ini merambah ke mana-mana jika diurai. Satunya ‘mungkin’ tak percaya serupa pendapat kawan lain pada buku "Balada-balada Takdir Terlalu Dini" dikala terbitnya berkata; "Karyanya lebih cerdas daripada orangnya" pula hal mendangkanlah semisal segi usia, padahal nyata mengalir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya maklum karena rezim sastra di Tanah Air berakar sampai ke sekolah, yang saya kira perlu diuji ulang. Ketiga, sebatu dilempar ke sungai demi menduga susastra pada bangsa di mana saya dilahirkan. Kalau masih percaya mutu daripada kuantitas, mari berhadap lengan berpancar pemikiran, setidaknya menguji keyakinan nan telah-sudah, disamping keraguan terus mendera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata-kata SCB yang saya suka dalam kumpulan esainya ‘Isyarat;’ &lt;i&gt;“Penyair tidak memberikan perundang-undangan pada dunia, seperti yang diharapkan Shelley, tetapi ia dapat memberikan sumbangan lewat karya-karyanya kepada pribadi-pribadi manusia dalam kehidupan mereka di dunia.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Menurut hemat saya, penyair pada hakikatnya tidak menciptakan sajak. Peranannya membuat sajak adalah sangat minim. Asal mula jadinya sebuah sajak adalah kekosongan. Tidak ada apa-apa. Suatu kekosongan yang minta diberi arti, yang mendambakan makna." (halaman 11-12).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut saya tak hemat, di buku itu diulang-ulang bermodel pengucapan beda, padahal unggahannya bisa dikelompokkan suara umum yang khas dari para pencari. Yang jika saya tuangkan tentu diawali kata-kata "ada beberapa paham" biar tak dikira pandangan diri semata. Bukankah bentuk pengawalan sejenis itu lumrah, serasa hormat terhadap para pendahulu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Coba bandingkan ungkapan SCB dengan pernyataan C.G. Jung yang ditulis Brewster Ghiselin pada Introduksi, atas buku saya sebut di halaman 8:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Seorang penemu, apakah dia seorang seniman atau pemikir, menciptakan struktur kehidupan jiwanya dengan karyanya. Sebagaimana dinyatakan oleh C.G. Jung: 'Pekerjaan yang sedang berlangsung itu menjadi nasib si penyair dan menentukan perkembangan jiwanya. Bukannya Goethe yang menciptakan Faust, melainkan Faust yang menciptakan Goethe'."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau bacaan merambah luas, tentu berucap arif tak memboyong secara bakulan wacana yang hendak diperjualbelikan ke pasar kebudayaan. Dan cermat memahami runutan muasal, sehingga tiap nada bisa dirujuk peristiwanya menjelma kesatuan utuh sebuah pandangan yang kehendaknya paripurna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang saya heran, banyak ungkapan tokoh kita kalau ditelusuri seakan tidak murni penggaliannya, ini terpantul semangat juang antara kisaran karyanya. Lagi-lagi para pendahulu sukanya perbesar bayang mewujud patung seolah dewa patut dipuja, tanpa melihat kedalaman lakunya, pengurbanan ruh hayati. Ini karena malas dan ingin sama terangkat segigi tangga membentuk lelucon jika membuka cakrawala di panggung dunia. Sementara karya-karya serta orang-orang berkualitas, malah disingkirkan pelahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjadi tepat yang diragukan Aguk dalam tulisannya menanggapi buku gugatan saya sebahan bedah karya di Jogja kemarin; adanya sastrawan jahiliah yang terus perkuat kejahiliannya. Bagi terpesona bungkus, terperdaya menjumput ungkapannya dijadikan rujukan selentik sulapan permainan jemari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal ini kemunculannya kentara melontarkan kata-kata ampuh, tapi tak merealisasikan ke jenjang penalaran lebih. Pendapat es-trim, selalu dielu-elukan sewarna perlawanan, kepahlawanan patut diteruskan, pantas disebut pembaharu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Agar tak merantak saya turunkan yang dimaksud SCB "Puisi adalah alibi kata-kata." Setelah menjegal paham Shelley lewat kepahaman mirip Jung, dalam lembar yang sama di Pidato Penyerahan Anugerah Sastra Chairil Anwar 1998, halaman 14 buku Isyarat:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎"Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kata-kata cenderung sering terhukum memikul beban makna sesuai dengan yang diinginkan para penguasanya, yakni para pengucapnya. Semakin besar kuasa sang pengucap semakin besar beban makna yang dipikulkan pada pundak kata-kata sesuai dengan kemauan si pengucap."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Kata-kata terhukum, terpenjara dalam kemauan dan penafsiran yang relatif lebih berkuasa, oleh basa-basi, inhibisi, dan feodalisasi pengucapan."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Keluar dari suasana kesehariannya, dalam rendezvous-nya dengan penyair, di suatu tempat yakni dalam baris-baris puisi yakni dalam baris-baris sajak, kata-kata mendapatkan alibinya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Puisi adalah alibi kata-kata."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Para pembaca puisi, yang dalam kehidupan sehari-hari sering hanya bertemu dengan kata-kata yang terpenjara dalam makna yang diinginkan oleh penguasanya, mengandung kepalsuan dan hipokrisi, tidak lagi akan menyalakan kata-kata. Dengan puisi orang tahu, kata-kata sebenarnya bebas, tidak terhukum dengan beban makna, yang diinginkan para penguasanya, karena kata-kata berada di tempat lain, memiliki alibinya dalam puisi."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Mengingat kata-kata masih memiliki alibi, orang bisa mendapatkan optimisme dalam keabsudan hidup sehari-hari yang sering penuh tekanan dan hipokrisi, karena makna kata sebenarnya ada di tempat lain dalam puisi."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Larik-larik tersebut mendapat tekanan nadannya di halaman 18, olehnya saya kopas juga:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Maka para penyair, jadikan dirimu lagu dan nyanyikan sendiri dengan girang, walau engkau menyanyi lewat mulut luka. Para penyair carilah dirimu, carilah makna, dalam keanekaragaman nuansa dalam keanekaragaman warna kehidupan. Jangan mudah menghukum, jangan mudah melarang. Bahkan melayang merokok pun jangan. Bakatmu bukan untuk melarang. Percayalah pada manusia. Penyair bukan pembuat undang-undang untuk dunia. Puisi adalah dalih, kilah untuk dunia. Agar ada alasan untuk hidup di bumi ini dengan makna. Agar engkau punya alibi demi kehidupan. Wahai para penyair, marilah gembira, bernyanyi, carikan alibi girang untuk luka kita. Puisi bukan aksi untuk dunia tetapi reaksi terhadap dunia. Karena engkau berada dalam dunia kehidupan, engkau bereaksi terhadap kehidupan, engkau memberikan makna terhadapnya."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini saya tak menutup pintu kemungkinan yakni mengikuti IK hanya melontarkan ungkapannya, lagian kata-kata tersebut lebih banyak menyerang dirinya sendiri. Pun bisa terjadi ungkapan SCB (halaman 11-12) itu murni temuannya berbanding lurus psikiater Swiss C.G. Jung, seorang yang berseberangan dengan kawannya Sigmund Freud.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lantas saya bayangkan Sutardji bersurat-suratan dengan salah satu sastrawan, pada uraiannya ada penyelidikan mendalam menghasilkan temuan yang terujar sepokok gagasannya. Sebab tulisan saya bukan jawaban finis tapi serupa pertanyaan, siapa tahu kelak terbit semacam surat-surat Jung bersama Freud atau bentuk lain bersikap. Olehnya atas rasa tenggang juga sama berkesempatan, tak menutup ruang bantahan yang terurai ini. Tentu diterjamah sendiri lebih lapang isinya daripada pengelana. Maka yang tertanda bisa disebut dugaan awal, yang sudi didialogkan jikalau hadir sanggahan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya baca ulang kata ‘alibi’ yang muncul dalam ungkapan Sutardji Calzoum Bachri, adanya jasad terkandung makna; (‘Pem-benar-an’ kata-kata atau kata-kata tepat demi ‘alasan’ terbaik). Tampak kentara titik pusar yang ditekan berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Puisi adalah dalih, kilah untuk dunia. Agar ada alasan untuk hidup di bumi ini dengan makna. Agar engkau punya alibi demi kehidupan. Wahai para penyair, marilah gembira, bernyanyi, carikan alibi girang untuk luka kita."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dugaan kian larut menurut SCB ‘alibi’ sekadar dalih, kilah, alasan. Bukan mencari obat penyembuh luka, tapi berlari girang menari demi melupakan luka, membiarkan borok yang ada dalam kehidupan. “Merasa manusia diberkahi untuk bebas,” bukan “Manusia dikutuk untuk bebas,” seperti kata Sartre.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejauh ini belum saya temukan gagasannya yang cemerlang dalam dedahan menjanjikan rimbunnya pemikiran hidup, yang ada pohon plastik ditanam sendiri serta orang lain yang akarnya tidak menyerap saripati. Namun saya tetap menanti rahmat terkasih bisa dibanggakan bagi warisan mapan, bukan alibi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-5728006761099277498?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/5728006761099277498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_05.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/5728006761099277498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/5728006761099277498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_05.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XII kupasan kelima dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-7807066410385964385</id><published>2012-01-02T09:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T10:17:44.442-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XI kupasan keempat dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengenai Sartre bisa dilihat tulisan saya diterjemahkan Agus B. Harianto di http://pustakapujangga.com/2010/11/why-does-jean-paul-sartre-stay-exist/ Kini mengudar pahamnya "Man is condemned to be free" &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(Manusia dikutuk untuk bebas)&lt;/i&gt; yang saya benturkan "Man is blessed to be free" &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(Manusia diberkahi untuk bebas)?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini bukan mensejajarkan SCB! Hanya pengertian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"puisi adalah alibi kata-kata"&lt;/i&gt; memang empuk disadap, selembek gudir tak banyak keluarkan tenaga, bisa dicuik pakai sendok atau langsung jemari. Sosok Sartre terpaksa menyadari ‘diri’ dilahirkan sebagai manusia sekondisional keterpaksaan Adam as. diturunkan ke bumi bersama Siti Hawa. Kutukan tersebut dipahami seinsan menjelajah mencari obat, dengan menyusuri semak berduri pertaubatan yang selalu diuji di segenap tingkap situasi nan melingkupi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang-orang terkutuk sadar kedudukannya dalam menapaskan aura kesejatian, sedari lawatannya pada tangga keinsafan. Mereka paham ujung perjalanan, sebabnya mencari pelbagai kemungkinan dicoba di tingkatan tertentu dipegang kuat / dilepas demi rahmat memurnikan eksistensinya. Kegelisahannya liar menjajaki kasus menghadang, apakah absurditas Camus? Sehingga tercapilah sepakat mengeruk perolehan hayat, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘imajinasi merupakan kesadaran’ &lt;/i&gt;dengan bukti kitab tebalnya "The Psychology of Imagination." Yang menampilkan pencapaiannya membumi se-makluk terkutuk kudu disyukuri, menggapai yang menjadi takdirnya di muka bumi. Bukan ‘merayakan kutukan,’ mengumbar senang tanpa perolehan wajar; insan dikebebasan menentukan tafsiran di lembar kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini (dapat dibilang) perekat paragraf IK yang pertama dan kedua. IK mengganti kata ‘bebasnya’ SCB dengan ‘terobos’, dapat diwakilkan sekutukan wajib dipelajari. Jauh dari perayaan atau bukan parade ugal-ugalan sampai bebas dari beban makna. Tapi mencanangkan terobosan, serupa kekaryaan Sartre menjlentrekkan imaji ke ambang batas. Keuletannya identivikasi imaji demi kesadaran hidup terikat realitas / tradisi, bukan asal bunyi yang kengawurannya dimaknai pencapaian? Sementara daya tarik kritikus dengan karya tak sudi dimaknai ialah fenomena lucu. Mana kala tafsiran karyanya (-SCB) dianggap kurang tepat, dibilang kritikus asal nyanyi? Ini aneh, jika tidak dibilang mau menangnya sendiri atas ajimat kata ‘bebas.’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kutukan terus menggali tanah pekuburan warisan moyang, tidak menerbangkan bakat bersuka ria lepas kecurigaan diri lingkungan, namun juga memaklumatkan tekat menghabisi bentukan dangkal / pendangkalan dari fitroh. Belajar pahami tiap tapak bukan sekesan warna, tetapi mengudar gagasan ke tahap akli, tak hanya menafsir lokalitas, juga kembangkan daya pencapaian kala meleburkan jiwa-raga semateri penganalisaan menuju jenjang nyata. Pribadinya tidak berleha menikmati topangan pelabelan perkuat langkah. Tapi memaksimalkan indra penyerap serta menampung seluruh kemungkinan, pada gilirannya melahirkan wacana lebih menantang, bukan kesan di sebuah alam puitik. Dan penghargaan dihayati, tak mengalami kemerosotan dari hari lalu. Di lihat pamornya kepurnaan ataukah mengamini yang ada pengadaan semu!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perolehan dari isyarat tak menghadiahi kesegaran, meski berharap gumpalan kegembiraan. Adalah patut disuarakan, “Tanpa usaha keras, kebahagiaan tidak akan meningkatkan drajad seperti perasaan puas memandulkan realitas.” Kala ‘diberkahi’ bebas, memanfaatkan jalan warisan, meski tampilkan 'sidik jari' lain yang hakikatnya beraneh-aneh demi membebaskan hasrat beralibi. Walau tampilannya beda sejatinya pengulangan, lebih parah ketumpulan tidak menguraikan gagasannya. Maka bukanlah konsep, tapi kesan dibalut kalimat mengkilat, yang terpesona lantaran tidak mencurigai suara-suara pendukungnya, seperti orang takjub patung besar di tengah kota yang melupa orang-orangan sawah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang merasa ‘diberkahi’ mengira dinaungi keberuntungan dari coba-coba, mematenkan kesan, tiada keberanian menerobos sebentuk sungai kearifan demi sesama, tidak meningkatkan jenjang pemikiran. Ini bertolak dari gerak hayat yang selalu perbaharui cakrawala kesadaran berbudaya. Parahnya, kesan ditancapkan kuat generasi setelahnya berpesona tidak kalah ampuh, tapi tetap dari jiwa keragu-raguan tak mengaduk masa silam. Ditutupi, sebab pendahulunya juga mengaburkan jejak lewat keniscayaan semu (baca “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair” SCB, lalu simak esainya Sihar Ramses Simatupang di Sinar Harapan, "Indonesia, Puisi, dan Teks Sejarah" 20 Agustus 2011 atau ini http://sastra-indonesia.com/2011/08/indonesia-puisi-dan-teks-sejarah/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Betapa menyebut kejadian Sumpah Pemuda, lagu Indonesia Raya, Pancasila, UUD 45, dengan menghapus nama-nama besar di sekitar peristiwanya; M. Yamin, Bung Karno, Bung Hatta, W.R. Supratman serta para insan benar-benar andil dalam pergolakan. Mereka juga pengarang yang suara gagasannya membumi, daripada ungkapan menyepadani jejaknya terbaca untuk kemauan sempit agar dunia sastra bermartabat di hadapan masyarakat luas, namun mencabut batang pohon tanpa akarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melupa orang-orang penting sebab merasa profesi melekati dirinya lebih penting, terus terjun bebas sepulung ‘berkah’ yang sejatinya bukan apa-apa. Karena tidak menginsafi kejatuhannya se&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“manusia dikutuk untuk bebas;” &lt;/i&gt;mematangkan sekeliling realitas. Maka jadilah sulapan seakrobatik mencopet sejenis keahlian jemari. Padahal mereka juga saksi sejarah, tapi begitu rupa jadi meloloskan dirinya paling berjasa. Baca Bung Tomo membaca sajak di TIM yang direkam jejaknya oleh tempointeraktif, 03 September 1977 atau klik http://sastra-indonesia.com/2011/08/bung-tomo-bersajak/ Seyogyanya generasi setelah benih itu, akar kebangsaan disebar-dirawat, tidak dihapus meski berbalutan pesona. Senada unen-unen; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“bangsa yang besar mampu menghargai jasa para pahlawannya,” &lt;/i&gt;tidak malah menjadi pahlawan kesiangan, lewat alibi-alibi memukau mereka yang terkena imbas media massa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai penutup saya urai sedikit alibinya SCB dari Kredo Puisi-nya, bertautan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"antara gerak dan pengertian."&lt;/i&gt; Gerak ialah perpindahan tempat pergeseran letak, pun mengalami getaran melahirkan nafas pengertian. Pada benda mati sebatu beserta namanya, tiada peroleh sebutan, kalau tiada yang menyatakan. Pemberian titel merupakan gerak dari luar, pemikiran seorang / kelompok masyarakat. Batu dan namanya tak berpengertian, jika yang menyebut tidak meresapi manfaat menyatakan. Batu, pisau, tidak bermakna kalau sebelumnya tak memberi / mengetahui fungsinya. Hadirnya pengertian sebab telah tertanam kenangan pada benda dan namanya. Sebutan batu, pisau dan barangnya, tidak punya arti, kala tak mendapati gerakan / sebutan dari luar (insan menyatakan bersimpan kenangan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benda ditambahkan namanya tiada pengertian, tidak berfungsi di wilayah kebebasan kecuali ngawur. Bagaimana berpengertian, jikalau yang menyebut tak punya kenangan / pengalaman darinya? Seperti kata dan benda tidak / belum berfungsi, dia hadir dalam bentuk tak (belum) berpengertian. Seperti itu kosong serta bebas dimasuki juga dapat menghadirkan pengertian anyar. Saat balik maksud benda dan namanya berpengertian, maka keliru, tersebab makna hadir lantaran danau kenangan insan pada yang dinyatakan. Mari amati ungkapan SCB:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata (sebutan, titel, namanya) beserta bendanya; apakah pisau, kursi, batu, tidak berpengertian, jika tidak punya kenangan pada benda serta namanya. Ini lumpah, hukum saklek menimpai benda juga namanya. Pengertian ada, kala menggapai fungsi nama dan barangnya, pula mengalami pergeseran yang menimbulkan makna. Sejauhnya SCB membebaskan kata dari makna, tetaplah terkenang hal sebelumnya yang tetap menghadirkan kata ‘memotong / menikam’ pada kata ‘pisau.’ Sekurangnya mendekatkan pengertian asal sedari fungsi barang yang dikatakan. Meski sebilah sabit dipajang di dinding ruang tamu yang keluar dari fungsinya, tetap sabit punya pengertian selain alat memenggal dahan. Pengertian hadir, dibarengi rekaman sedurungnya, meski berpindah fungsi hiasan, tetap arit (sabit) hadir berpengertian, dikarena insan (bersimpan kenangan) menyebut benda dengan namanya. Intinya tidak akan lahir pengertian, jikalau tidak memiliki kenangan atau sejarah. Tanpa kenangan, hanyalah sulapan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai jawaban lain alibinya SCB, bisa simak ulang bagian III, dan penutup di buku "Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri" halaman 79 berlabel “Akhirnya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-7807066410385964385?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/7807066410385964385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/7807066410385964385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/7807066410385964385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2012/01/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XI kupasan keempat dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-2590305120026638632</id><published>2011-12-31T04:34:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T07:53:54.277-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taufiq Ismail'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian X kupasan ketiga dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebelum masuk bagian ini, izinkan menulis perihal keheranan saya pada penyair atau yang mengakuinya, namun ungkapannya telah melampaui batas sejarah kodrat iradat insani. Oleh sangking keterlaluan menggumuli kata, seakan ‘kata’ menjelma sekutu terbaik, seolah gerak hasratnya mampu memerintah kalimat, bahasa sedari kekuasaan hidup dengan pandangan sebelah mata, tidak menengok profesi lain juga memakainya. Atau hilaf tak merasai gerakan terlembut kehidupan dari Sang Maha Hidup yang senantiasa mengatur segenap indra, mengurus planet-planet beserta peredaranya, tak terkecuali menghadiahi nafas bagi tukang-tukang syair.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sepengetahuan saya, ungkapan bombastis apakah tentang tuhan telah mati, senjakala sejarah, -hal keterlaluan, biasanya diusung bersegenap gegugusan wacana argumentatif, sehingga kehadirannya tidak sepintas slogan yang kelak menjadi dagelan. Sekiranya ucapan orang ditokohkan tampak kebiasaannya membuat gosip, atau pendapat asal-asalan dekat keangkuhan, merasa ampuh sampai lepas dinaya ingat awalnya belajar menuntut ilmu. Kian gagal diikuti generasi bermental penurut, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘nerimo eng pandum’&lt;/i&gt; cepat-cepat puas, tidak menyelidik kehendak dikunyah. Pembodohan ini berantai sejauh kekuasaan penguasa tersebut, entah dari kekuatan modal / jargon lain terlihat mentereng angker bertuan, tetapi tidak bertuah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semalam saya menemukan artikelnya seorang dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Elisa Dwi Wardani berjudul "Sastra dan Identitas" diterbitkan koran Kedaulatan Rakyat 10/05/2008, yang mengundang daya ganggu. Sepertinya sesuai alur jika diilustrasikan pada bacaan menguak SCB dari IK, sejenis guyonan namun tak lepas minat keseriusan. Di bawah ini larikannya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagaimana dikatakan oleh penyair Taufiq Ismail, penyair adalah penguasa kata-kata. Walaupun seorang penyair, seperti kata Taufiq Ismail, mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Selengkapnya di sini: http://sastra-indonesia.com/2011/08/sastra-dan-identitas/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh saya kagum orang-orang di bidang sastra, mereka mampu mengungkapkan, mengatur baik irama ‘kata’ sampai batas tertentu mengaburkan demi mendapati temuan yang kehendaknya diterima khalayak. Dengan mengurangi tumbuhnya bibit protes, oleh tekanan musik dipunyai berlipat makna tergantung indra penerimanya, lewat menentukan jatuh-bangunnya menggurati kalimat. Keberhasilannya menuangkan kata-kata mempengaruhi kejiwaan pembaca, membuka kalbu seluas-luasnya menuju hawa kemungkinan rahmat nan terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mari mencermati apa yang membentuk pola paragraf di atas, tentu tak lepas riwayat ‘kata’ serta kisah orang yang berada di dalamnya, untuk pahami seluk-beluk kenapa hal itu hadir?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sosok Taufiq Ismail (TI) berpribadi ta'at dari awal berkarya hingga kini, setidaknya kerap memakai songkok. Kesetiaanya di jalan tersebut bukan kemarin sore, pasti didukung bacaan, serta gerak peribadatan di rumah tuhan juga pengabdian ke masyarakat. Pada dunia sastra seminimalnya penjaga gawang majalah sastra Horison. Muslim baik hati tentu terpaut sungguh keyakinannya, memiliki benteng kala menyikapi godaan-rayu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada makolah; "Perang terbesar memerangi hawa nafsu sendiri, yang tergantung profesi diembanya sebagai jalanan memakmurkan hayati." Dan pengalaman TI mengalir dibagi-bagikan bagi terima berlapang dada, tiada ketulungan pengurbananya di alam susastra Indonesia, menyumbangkan dinaya nalar-perasaan; puisi-puisinya mencapai berbantal-bantal tebalnya, ceramahnya menyegarkan kalbu sesama. Sampai saya mencurigai, jangan-jangan termasuk Islam garis keras yang mengharamkan rokok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengabdian besar tidak lepas hilaf dan semoga yang diungkapkan Elisa Dwi Wardani hanyalah keterlepasan tak pakem masanya. Entah sehabis mendapati menghargaan, sesudah syuting baca puisi di sebuah stasiun televisi, atau teringat telah mengangkat banyak penyair hebat dari majalah sastra dipandeganinya, SCB misalnya. Lantas angin bertiup kencang mengaburkan paham meninggikan drajat kepenyairannya, sampai-sampai seolah penguasa kata-kata di jagad raya, atas nada:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"penyair adalah penguasa kata-kata" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengan menurunkan melodinya&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; "mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan.”"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi saya yang awam mengenai soal agama, istilah ‘penguasa’ sedari perkembangan sejarah ajaran Islam memiliki dua tafsir; yakni Tuhan (juga berhubungan rasul-Nya, Muhammad SAW), kedua sultan / raja bersama pemerintahannya. Yang pertama maknanya tidak berubah, sedangkan kedua mengalami pergeseran, bisa jadi sosok intelektual sebagai penggerak laju keadaban? Namun saya tidak habis pikir ini: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"penyair adalah penguasa kata-kata."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘penguasa’ di hadapan saya sungguh agung, jikalau ditempatkan kepada sebutan tuhan, maka yang mengatur / penguasa terbitnya fajar hingga bertemunya senja, mentari, gemintang, di sisi kecantikan bulan dan lainnya, merupakan tanda-tanda kuasa-Nya. Dan kuasa pemerintah, raja, sultan adalah bersegenap tanah air sebatas garis kerajaannya, ini diwarnai pergolakan intrik jegal tidak sedap dipandang mata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyair di suatu negara, tentu memegang tanda kewarganegaraan, sekecilnya punya rasa cinta kepada tanah airnya. Meski kalimatnya mampu menembus belahan bebangsa, juga abad-abad di depannya, tetaplah manusia mengabdi pada kata, seperti pedagang mempunyai ‘kata sepakat’ di dalam pertukaran barang dagangannya. Profesi lain demikian adanya, menggunakan kata-kata untuk lajuan sejarah insan sebagai rangkaian menjelma panji-panji peradaban di masanya. Jadi bukan penyair saja, jika kata ‘penguasa’ ialah turunan dari kekuasaan lebih besar darinya. Sungguh sembrono sebola ditendang melambung tinggi, mengingat pendapat TI di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya kira lebih tepat, penyair menggunakan kata-kata dalam kerja kepenyairannya. Mereka mengaduknya tak hanya indah, namun juga menyembulkan makna di kedalaman syair-syairnya, dan bukan sosok penguasa kata-kata. Ketika saya raba seungkapan TI muncul, mungkin sebab kejiwaan senioritasnya, merasa berkuasa menjadikan orang lain penyair atau sebaliknya. Maaf jika salah menduga wujud keblingernya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mari susuri turunan melodinya yang saya bagi tiga belahan: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur (1)” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya (2), dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan (3).”"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ungkapan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"penyair adalah penguasa kata-kata."&lt;/i&gt; Lantas mengalami turunan nilai saat dapati awalan ‘mungkin’ di belakangnya ialah sudah terkena pembatalan. Sebab kata ‘penguasa’ (kuasa) merupakan hal tak tertolak dengan apa pun. Karena kata ‘kuasa’ berdekatan kata ‘mutlak,’ (maha) berkehendak (perintahnya). Jika nada ini saya rendahkan sedikit menerima kata ‘penguasa’ sekadar pemanis, menjadi tak penting abang-abang lambe, gincunya perayu bagi yang tidak jeli selidiki drajat ‘kata’ sebagai pribadi nan mandiri maknanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;TI sepertinya mengajak bercanda, kalau tak mau menerima disebut angkuh oleh berpaham penyair ialah penguasa kata-kata. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur (1)” &lt;/i&gt;Saya kira tidak sekadar tukang syair saja memiliki kemampuan demikian lihai berujar, jika kata ‘kuasa’ sebagai turunan dari perihal kedua saya sebut di atas (tuhan dan sultan). Lalu semakin menggelikan membaca cermat kalimat di dalam tanda petik itu serupa dinaya tarik mengelak sedari kesombongan awal daripada profesi lain. Gerakan suatu ‘kata’ yang meluncur dari orang-orang berkemampuan piawai pun tak &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"secara otoriter, memangkas ataupun mencukur (kata-kata)."&lt;/i&gt; Para sejarahwan, filsuf, psikolog sampai akuntan, kerja kata-katanya tak lebih mendialogkan yang jadi permasalahan diunggahnya. Malah kadang jadi titik temu kepahaman yang mengutarakan dengan para penerimaannya, sebagai bentuk ukuran tertentu yang memang tiada mutlak sama keadaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya (2)."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Sungguh geli ungkapannya yang saya kira lebih dekat seorang guru / pendidik yang memiliki kuasa kata-kata, jikalau dimaksud penguasa ‘kata’ sekadar ke tataran insani. Betapa sang pengajar di suatu kelas misalkan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"membiarkan kata-kata mengukur emosinya"&lt;/i&gt; dan sedapat mungkin para murid menerima dengan kadar keinsfaan atas keilmuan tengah direguknya. Kalau TI mengelak, berpaham penyair sama persis profesi lain, kenapa mengangkat penyair saja? Apakah dekat profesinya? Ini serupa pribadi menutup diri di belahan bidang kehidupan lain di luar keahliannya, sampai mewujud undukan pasir aneh. Atau kacamata kuda tak tengak-tengok luasnya cakrawala, yang dianggapnya kerja bersyair lebih agung daripada pedagang klontong contohnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan (3).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Saya terbayang ibunda atau bapak menggendong anaknya, untuk ditidurkan di ayunan tangannya. Mereka bernikmat-nikmat dengan kata-kata demi mendapatkan pencerah, yakni ruang penjumlahan aktivitas sehari-hari, dipantulkan berkasih sayang yang menghibur diri jua demi sang anak ialah penyejuk berkekuatan di atas kerja selanjutnya. Dan ‘kumandang lagu tidur’ bisa terjadi spontanitas oleh rindu menggebu, sehabis seharian berpeluh keringat mencarikan nafkah. Atau sosok pelajar ingusan mangalami jatuh cinta, bernikmat kata-kata untuk mendapati pencerah lewat surat-surat digubah demi kekasihnya. Begitukah penyair? Lalu kasir toko menikmati ‘angka-angka’, meski uang yang dihitung milik majikan dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian nikmat diberikan Sang Penguasa tak terkira nan teraba di belahan lain, rasanya enak berdialog saling menyepadankan paham sama menghargai. Menunjuk betapa indah kehidupan dengan tidak membentuk jalur kekuasaan ‘menindas’ profesi lain, meski berirama santun; nada dan dakwa istilah Roma Irama. Atas musik ini, alunan kehidupan harmonis seperti usaha majalah membutuhkan kerjanya distributor, agar tak kembang-kempis kerap mendekati nasib kolap. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebagai penutup, kala pelaku sebelumnya sudah merasa sebagai ‘penguasa kata-kata,’ maka turunannya mengalami kemalangan menjelma penyair ‘suka beralibi.’ Dan sepengetahuan saya, para intelektual muslim / sastrawannya yang diakui ketokohannya oleh dunia, dari generasi awal sampai akhir, belum saya temukan paham mereka senekat ungkapan tuan Taufiq Ismail tersebut. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wallahualam bi shawab.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-2590305120026638632?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/2590305120026638632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2590305120026638632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2590305120026638632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_31.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian X kupasan ketiga dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-6192459026316303106</id><published>2011-12-28T19:47:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T19:48:33.922-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chairil Anwar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian IX kupasan kedua dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi bukan sosok gagasan / bayangannya, pula bukan anak kembaran, tapi duplikat, palsu, plagiat. Bukan cahaya atau ditempainya, tidak. Namun arsip bodong sengaja mencipta penggandaan semu, mengada sedari perkiraan, direka-reka keberadaanya, demi memperkuat nafsu yang tak terlaksana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tubuh alibi menempati ruang asing tak berpijak detikan debu, namun tetap mengusahakan dirinya demi dihayati kedudukannya sebagai materi, dengan membikin hukum kausalitan akalan. Mereka terus memposisikan ada, bukan di seberang jalan, tetapi pekabutan kosong di sebaliknya. Kala berkeras melacaknya sampai dasar tragedi, tiada alam puitik kecuali hampa tidak berlandaskan kenyataan. Di sana tipuan mudah diungkap kecerdikannya yang dangkal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi semacam mata rantai -kebohongan pohon dari bahan plastik yang cecabangnya tidak berkembang alami, mandek sepanjang prodak kepalsuan meninggikan ranting. Terjatuh pada ungkapannya yang otomatis tak mungkin rimbun pada sebuah taman pemikiran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sini tiada harum sedap daun kecuali aroma-aromahan. Barangsiapa menanamkan alibi, enggan bertanggugjawab kala sudah diketahui khalayak. Seperti seorang tak merasa bersalah menghiasi ruangan dengan bunga-bungaan plastik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi mengusung menitan data untuk dipertaruhkan di meja hijau demi dihadapkan pada bukti lain berlawan. Dan nyata alibinya- ditempa hukum situasional yang dikandungnya. Tak sekadar alasan, juga menancapi bukti meyakinkan / sugesti, agar patungnya hadir -seolah-olah pernah ada, walau pun menjalar di sebrang ingatan. Di mana bahan plastik tersebut? Ialah hasil para kritikus mengusahakan sederajad kekisah tokoh sebelumnya, mendempul dengan kurang peduli bahan garapannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi bukan proses kloning, radak mendekati daya pencar rapalan kanuragan pancasona tetapi tidak. Lebih tepatnya membikin jejak palsu dari seorang buruan dikejar tentara, kaki gemetar simbah darah oleh keterbatasan capaiannya. Tetapak kakinya berpencar sedari titik persinggahan yang diketahui pemburu, ke utara, selatan, timur, barat, bolak-balik sebelum menjatuhkan pilihan ke arah persembunyian. Agar para pencari terperdaya serupa drama televisi perbesar glamor mengejar reting, meski berpaling dari balada paling nyata di hadapan pemirsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya cari padanan sesuai untuk ketahui seluk-beluk maksud SCB dilontarkan Dr. Ignas Kleden lewat menyusuri jejakan lama. Setelah menampilkan kata ‘imitasi’ melalui rerongga lain membuka kemungkinan penghampiran kata; duplikat, palsu, plastik. Dengan menengok buku &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Aristotle Poetics" translated with an Introduction and Note&lt;/i&gt; by Gerald F. Else, terjemahan Sugiyanto, Penerbit Putra Langit, 2003 Yogya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Bagi Plato, "imitasi" merupakan aktifitas yang mengalahkan diri sendiri dan tanpa muatan, maka bagi Aristoteles hal itu merupakan aktifitas yang positif dan subur -dalam batas-batas yang diperbolehkan"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; (pengantar, hal 13). Dan pada Catatan di halaman 104: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Mimesis, 'imitasi atau peniruan', juga berlaku aktif (memiliki sufiks yang sama -sis, = pe-, sebagaimana poiesis). Arti dari imitasi dalam pemikiran Aristoteles akan muncul secara bertahap. Memang ini bukan berarti sekedar penyalinan dari detail yang bermacam-macam. Namun "penyajian" atau "representasi" cenderung menyajikan suatu gagasan yang teramat abstrak. Akar mimesis adalah naluri mimikri manusia."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terlihat SCB membeletat kabur dari kearifan Plato serta Aristoteles dengan istilah Alibi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(puisi adalah alibi kata-kata), &lt;/i&gt;sikapnya senyawa pandangan yang bertumpu kata ‘bebas.’ Sehingga Sutardji Calzoum Bachri mematenkan perihalnya "tidak bertanggungjawab atas karyanya.” Ini menyimpang jauh sedari pemikiran kedua filsuf itu yang masih memiliki bayang realitas, apalagi mimesis ialah naluri mimikri insan. Sebab proses mimikri pun tidak lepas setubuh dilakoninya, seperubahan warna bunglon melindungi diri dari predator.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara SCB berupaya menduplikat untuk meloloskan diri, seuraian IK di paragraf keduanya: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau baca gelagat IK tersebut tak mau beresiko terlalu tinggi menuruti hasrat SCB, yang mana sebelumnya IK merombak kata ‘bebas’ ke ‘terobos.’ Namun atas alam kesadarannya, IK melepas jejak kaki duplikat penyair, sebelum ke arah persembunyian (Alibi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;IK paham jika terlampau jauh membentuk ulang garapan SCB, kurang menghargai capaian penyair oleh keimananya yang terlalu. Karenanya dengan ketentuan digenggam kuat pada esainya berusaha menampilkan kadar berbeda, antara menghargai juga menentang secara sembunyi atau teguran samar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Umpama bercermin pada terbunuhnya Socrates menenggak racun abadi, serta dihadapkan paham Plato dalam kitabnya Republic, yang teringas di buku saya sebut di atas: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"(1) penyair adalah peniru (imitator) benda, kemudian menghilang dari kenyataan, dan (2) penyair melayani emosi kita, yakni bagian tidak rasional dan anti rasional dari sifat dasar kita, khususnya kecenderungannya pada rasa kasihan dan ketakutan”&lt;/i&gt; (halaman 10-11). Lalu berbalik ke suguhan tahapan mimesis Aristoteles, maka terlihat SCB ingin lepas daripada kebenaran Socrates. Atau tidak menenggak racun kebajikan lewat membuat alibi sebagai dasar kepenyairan, melarikan diri dalam berpuisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kalau pahami alibi ungkapannya SCB, serupa menancapi tiang bendera yang dengan itu tidak mau dimaknai, tapi mengartikan sendiri meski gagap. Ia tinggal jejak palsu, demi menarik simpati para ‘pemikir’ terhanyut. Padahal tipuan lampu tengah malam, setarian telanjang tiada kompromi, sebab sudah birahi di dalam ketegangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan sangat kumprung, jika konsep membebaskan kata dari makna lalu kemudian hari ada memaknai. Sejenis guyonan tak masuk akal, permainan yang jatuh-bangun tergantung pemain / kritikus dalam mengamati keliarannya berkreasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pun tidak berdaging segar, ditengok esai-esainya belum membongkar pemikirannya mengenai kata ‘bebas’ atas khasana bahasa, alias belum punya bangunan nan bisa sebagai pegangan pembacanya. Maka yang terjadi para pembaca dan kritikus mencari-cari gapaiannya, menduga adanya ranting samar, jika tak sopan dikatakan tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentu jadi guyonan terang, sekiranya penyangkalan saya dianggap menumbangkan patung raksasa. Ini timbal-balik koreksi-mengisari, demi pengadaan diungkap, didudukkan pada porsiya. Tidak me-makhluk asing sedari jemari tangan kesusastraan yang entah sudah terlanjur dimitoskan sebagai mata lain sastra, di sebelah penyair penyadur Chairil Anwar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidakkah hal menjauhkan realitas makna mewujud dalil hayalan, kembali ke jaman kebodohan, karena jauh dari hukum kritis semata cemerlang elang. Yang ditinggikan tanpa membangun realitas nalar, pasti terbuai angan tak menurunkan benih hujan kemungkinan rahmat kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi bukan bayangan, meskipun liar cahaya menempa tubuh tetap melekati hukum kepastian yakni setiap gerak bentukan realitas. Alibi berkemiripan sesosok perompak bajing loncat, membuang barang muatan truk di tengah malam, dari truk satu ke truknya. Kelihaiannya mampu mengambil dokumen surat jalan, yang sampai gardu pemeriksaan aman telah mencuri, sedang pemilik barang truk aslinya kehilangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alibi berada di kelas ketiga, lulus keberanian juga lepas kejujuran. Yang terjadi memindahkan realitas ugal-ugalan, hanya mengandalkan surat jalan atau bakat. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh jua. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian pemaknaan pengelana yang bukan kritikus, tidak pembaca sastra yang terbaik, melainkan amatir –mengenai ‘alibi.’ Menurut anda bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-6192459026316303106?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/6192459026316303106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_3892.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/6192459026316303106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/6192459026316303106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_3892.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian IX kupasan kedua dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-5550839084732196600</id><published>2011-12-28T03:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T01:28:48.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peribahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VIII kupasan pertama dari paragraf keduanya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif][if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif][if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Di bagian V saya menyebut, "...alunan peribahasa yang secara tak kentara membentuk pola bernalar.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Sebelum baca paragraf kedua esainya IK, saya kan kupas kulit luar demi ke dalam. Ada peribahasa melayu berbunyi "Jika intan keluar dari mulut anjing sekalipun, bernama intan juga." Maknanya, "Perkataan yang baik biarpun keluar dari mulut siapa juga, tetap baik pula." Yang hendak saya benturkan ke pemahaman; "Tak mungkin ada intan dari mulut anjing, kecuali curian!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kemungkinan terdekat, sumber kekayaan peribahasa suatu bangsa menentukan watak bangsanya. Entah lambat laun bergeser atau tetap bertahan, yang kadar munculnya melalui lorong di bawah sadar masyarakatnya. Minimal kala tertimpa bencana, orang-orangnya kerap balik ke akar rumpun. Walau ada beberapa peribahasanya lepas logika, sebab menuruti perasaan semata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Di sini tak melulu menampilkan peribahasa mana saja masih teguh alam penalaran, ataukah radak melenceng dari kodratnya. Meski bisa dikategorikan ‘benar’ -tiada masalah- karena ‘sekadar’ peribahasa yang ‘mungkin’ terpenting mereka ialah maknanya. Dan kesempatan kini saya berfokus mengudar peribahasa tertutur di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Mari melihat peristiwa lukisan ini, "Jika intan keluar dari mulut anjing sekalipun, bernama intan juga." Secara alami, anjing tak kan mengeluarkan emas apalagi intah, ia hanya memproduksi liur, atau potongan tulang atas pemberian tuannya, dan bisa jadi curian di tengah pasar padat keramaian, yang rapat kehilafan tipudaya. Kata tulang, diganti intan untuk meninggikan derajat barang pemberian / curian, yang pemilik intannya ‘entahlah siapa,’ anjingnya kepunyaan ‘siapa pula.’ Siapa juga awal pencipta peribahasa begitu dekat perasaan terjepit, hingga terlupa menimbang logika penceritaan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Ada bantahan, “itu kan peribahasa, tak bisa dipreteli semena-mena, karena terpenting pengertian terkandung di dalamnya.” Namun jika mencermati daya ruhani ungkapan membumi yang mewataki kaum peribumi, maka bisa dimulai jalan pembongkaran ini. Dan saya kira syah bagi jiwa berpribadi maju, demi kesiapan bangsa menyogsong hari lebih tepat sasaran busurnya, sedenyar senandung merdu “sedia payung sebelum hujan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Dahan ujaran yang nyempal dari pohon logika, biasanya digunakan orang bermental "lempar batu sembunyi tangan," tak mau bertanggungjawab dengan banyak alasan. Malah sering sebagai dalil penguat kejadian lemah, seperti "menabur garam di lautan;" kesia-siaanya atau semua kasus di hadapannya sama dalam menyelesaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Yang saya unggah tersebut betapa sering dipakai menutupi masalah belum teratasi menyeluruh. Tapi karena terpesona ungkapan sekemilau intan, cepat-cepat mereka mengambil tanpa diselidiki riwayatnya? Bisa jadi dahan itu hasil cangkokan dari pohon lain serta tidak kuat, lalu menyempal sebelum masanya. Dan sewaktu ditanam berakibat matinya pengertian yang ada, tetapi masih disirami lewat riak air paribasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Mari saya bikin nada lain atas hukum balik dari kebiasaan yang muncul dalam realitas di negara ini, "Walau pejabat korupsi berkali-kali sekalipun, masih pejabat juga." Tidakkah nada tersebut mirip peribahasa yang saya soroti dari awal? Pejabat itu seolah intan keluar dari mulut ‘kasus’ anjing menjilati tubuh para atasannya. Nyata sungguh melimpah para pejabat terkena kasus sampai maha kasus, tapi masih berleha-leha di kursi kekuasaannya, dapat jatah gaji kepegawaian, atau dalam terali besi difasilitasi melebihi rakyat pengangguran, orang-orang terlantar yang dalam undang-undang kaum papa wajib dipelihata negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kalau memakai dinaya kemiringan, peribahasa saya urai terdapat banyak kelemahan. Pada tingkatan kebohongan, dari orang-orang sudah dikenal berdusta di suatu kampung misalkan; seorang terkenal gembong pencuri pada suatu waktu memimpin khotbah di kampung lainnya, apakah ini tidak mengsle kejadiannya? Ketika pendengarnya tak tahu yang berdiri di podium, seorang yang masih melakukan tindak kejahatan di wilayah lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Mungkin salah satu alur pembenahan kondisi kebejatan moral suatu bangsa; revisi dulu peribahasanya, membongkar nafas-nafas menghidupi tanah pertiwi sebagai kesadaran berbangsa di samping mencuriga tahap gejala yang bangkit karenanya. Juga meluruskan kata-kata yang keluar dari mulut pejabat, orang-orang ditokohkan, sebab hembusannya sewarna tataran konsep baku nan menyebar di batok kepala penghuninya yang tertunduk takut, pada pribadi nanggung lainnya. Ini membekukan persoalan jadi timbunan sampah menggunung, sekasus tiadanya jalan penyelesaian, sekewajaran hutang negara kian waktu bertumpuk atas sosok pemilik kuasa semakin ngawur seenaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Dapat dipastikan anjing yang tak terlatih (dalam peribahasa itu tak menyatakan mahir atau bukan, maka bisa menimpai semua jenis anjing). Oleh karenanya saya mungkinkan intan pada ungkapan itu bukan sungguhan, tapi aspal. Serta pejabat terjerat kasus bisa terjadi ijazanya palsu, maka kian rusak jika tak cermat memahami peribahasa adiluhung dengan satu sudut pandang. Yang dapat pula dikategorikan sindiran bagi bangsanya sendiri, nan terlalu percaya kata-kata manis mentereng tanpa landasan realitas!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kalau diturunkan sejenak menginsyafi bahwa nenek moyang kita sejatinya bodoh; kenapa pencipta paribasan (peribahasa) tidak berpikir masak-masak sebelum disebarkan, sehingga di titik kurun waktu tertentu berimbas fatal disalahgunakan mereka yang pendek langkah pikirnya, diterima oleh yang cupet jangkauan telisiknya. Padahal ungkapan serupa kata mutiara itu kedudukannya kokoh manakala menjalari napasan kesadaran umat laksana ayat-ayat kitab suci, mitos tidak goyah, meski digempur pelbagai wacana. Oleh kidungannya mampu menjangkau ratusan generasi, bahkan jutaan tahun menyusupi jejiwa lemah bertaat buta, taklit gelap berbahagia, tanpa berusaha menggali kebebalan demi tapakan imanya pada derajat kepribadian semestinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Saya lanjutkan setelah beberapa hari catatan ini saya tinggal karena bedah buku MTJK-SCB di Yogya yang dikupas Aguk Irawan MN (berbarengan novelnya Jusuf AN, pembedah Hamdy Salad, antologi puisinya Syaifuddin Gani oleh TS Pinang), yang acaranya dipanitiai Indrian Koto, Andika Ananda, Munajat Sunyi, bertempat di Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda "Karta Pustaka." Buku saya sendiri sebelumlah sudah dibahas di beberapa kota; Jombang, Trenggalek, Ponorogo, Malang, lalu entah mana lagi kan disinggahi. Setidaknya rekaman singkat saya diluar dugaan, seakan tanpa perencanaan berjalan mulus, disamping tulisan kawan-kawan yang beredar di google sedari beberapa kepulauan di Nusantara turut mengapresiasi. Dan kejadian di Jogja sedikitnya menguak tabir sampai titik tertentu kandungan buku, makna kata saksi nan berangkat dari jalur gerilya, serupa dalil “apa yang tertulis, itulah yang terlaksanakan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kiasan anjing dan intan sampai membuka keketulan nenek moyang, kian kentara menelusuri barisan kegagalan bangsa kita, yang sebelumnya berbangsa-bangsa bersebut suku bangsa di pintu gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ialah masa lampau berhimpit berdesak-desakan kepentingan dari bentuk pemerintahan kerajaan yang bersimpan pertikaian saudara, juga penjajahan dari bangsa Eropa yang berakar ratusan tahun atas sistem adu domba. Meski tak menutup mata juga pembangun keadaban purna semisal berdirinya candi Borobudur nan megah, serat-serat susastra walau sebagian perembesan ujaran keadiluhungan bebangsa lain di dunia; India, Arab, Cina dan lainnya, atau dari sana saling mematangkan sederajat kemakmuran berperikemanusiaan damai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kini saya lebur perolehan ini, tepatnya bunuh diri besar-besaran antara persinggungan nenek moyang cerdas ataukah kita yang dungu. Di balik penglihatan lanjut pada gagasan yang diusung ulang kabarnya oleh Ignas Kleden dalam paragraf keduanya, berharapan mencapai poin penting membuka hijab perangai perlambang disaat menengok ungkapannya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;"Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut." (IK).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Memang paragrafnya bukan peribahasa, tapi ketika ungkapan turun pada orang lain untuk dijejalkan lagi, terjelma kemampuan mendoktrin, entah setengah samar, terang-terangan. Namun, sebelum jauh saya urai pertentangan belahan pokok bagian ini di lembar IX, akan saya buka sedikit apakah itu “alibi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Alibi ialah sebuah kata dari bahasa Latin yang artinya di tempat lain; merupakan derivasi dari kata “alius-alia-aliud” (maknanya yang lain) dengan kata “ibi” (menunjukkan tempat). Atau suatu keterangan yang menyatakan seseorang berada di tempat lain, ketika peristiwa terjadi. Alibi yang kuat disertai alasan dan bukti ampuh demi terhindar jeratan hukum, karena pada beberapa tempat seseorang dapat terkena hukum pidana, jikalau tak bisa membuktikan alibinya; makna kata alibi palsu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-5550839084732196600?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/5550839084732196600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/5550839084732196600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/5550839084732196600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_28.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VIII kupasan pertama dari paragraf keduanya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-2999821683066077084</id><published>2011-12-27T18:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T19:28:49.262-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maman S Mahayana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sapardi Djoko Damono'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VII kupasan keenam dari paragraf awalnya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif][if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif][if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Ini menuntasi tulisan-tulisan sebelumnya mengenai paragraf awal IK, sebalutan muakhir demi pijakan lanjut. Saya mulai sedikitnya merevisi pandangan kritikus Maman S Mahayana di bukunya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“9 Jawaban Sastra Indonesia” sebuah orientasi kritis, &lt;/i&gt;diterbitkan Bening Publishing, cetakan 2005, Bagian IV: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Sarana Pendekatan Sastra,&lt;/i&gt; dahan ke 8 berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;‘Sastra dan Filsafat’&lt;/i&gt; halaman 343. Di bawah ini terambil dua paragraf pembukanya bagi pondasi langkah ke muka. Nan disesuaikan keimanan sorot mata saya berproses kreatif, yang berangkat dari buah keyakinan setelah baca ke belakang, demi peroleh kepurnaan sepaduan kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;"Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Masalahnya, karya sastra membicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat. Betapapun penekanannya pada usaha untuk mempertanyakan hakikat dan keberadaaan manusia, sumbernya tetap bermuara pada manusia sebagai objeknya. Jika demikian, apakah kemudian itu berarti karya sastra identik dengan filsafat? Tentu saja tidak. Mengapa tidak? Di mana pula letak persamaan dan perbedaannya? Justru dalam hal itulah hubungan sastra dengan filsafat lalu melahirkan masalah sendiri."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;"Secara asasi, baik karya sastra maupun filsafat, sebenarnya merupakan refleksi pengarang atas keberadaan manusia. Hanya, jika karya sastra merupakan refleksi evaluatif, maka filsafat merupakan refleksi kritis. Apa yang diungkapkan filsafat adalah catatan kritis yang awal dan akhirnya ditandai dengan pertanyaan radikal yang menyangkut hakikat dan keberadaan manusia. Sastra mungkin juga mempertanyakan hakikat dan keberadaan manusia, tetapi dalam bentuk yang lebih menekankan pada nilai-nilai estetik daripada logika atau pemikiran yang dalam filsafat justru sangat penting. Itulah, di antaranya, yang membedakan karya sastra dan filsafat."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt; (Maman S Mahayana)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Di dua paragraf itu kritikus berusaha memisahkan dua sisi mata uang gambarannya nan elok, tentu atas kepentingan jalur pendidikan. Atau dilandasi hadirnya dua cabang sah, yang sudah diterima masyarakat dunia meluas. Ini wajar sebagai insan di luaran; pengamat, peneliti, namun tak otomatis menjadi dua cabang jiwa dalam diri pelaku. Masalahnya bisa ditemukan pada contoh yang diunggah kritikus pula pada terusan esainya, yang hanya saya jumput lapisan muka di atas. Yakni karya-karya sastra terbaik tak lekang jaman, tidak bisa lepas nilainya filsafat, dan gagasan filosofi ampuh menembus abad-abad, kerap kali kalau tak boleh dibilang pasti, berbalutan unsur sastrawi. Maka tegas saya bertanya pada sejarah jua kepada para pelakunya; Adakah karya sastra mempuni, yang tidak punya kandungan filsafat? Adakah karya filsafat tangguh usianya tanpa paras ayu sastrawi? Atau tidakkah keindahan berpikir, reruang ayu merenung, hasil olahan nan melimpah di dalamnya bersimpan nilai tampan, bagi syarat memasuki alamat susastra?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Seingat saya (dalam arti semoga kelak ada merevisinya), penerjemah, sastrawan, kritikus Sapardi Djoko Damono pernah menghimbau agar karya sastra dijauhkan dari ilmu pengetahuan (Sapardi Djoko Damono: Jadikan Sastra sebagai Seni Bukan Ilmu di Sekolah, Kompas, 14 Oktober 2010). Otomatis bisa dibilang menghasilkan karya klangenan, bobotnya lamunan, mentok bikin rindu tak ketulungan pada gergaji kepenyairannya, ini dapat dirujuk kepastian ke puisi-puisinya. Secara terbuka saya lebih condong penyair, politikus Muhammad Iqbal, pula filsuf Jacques Derrida yang tegas berpendapat; “puisi ialah filsafat atau pun filsafat adalah sastra (puisi)” [kalau tak keliru pada bukunya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Iqbal) dan “Margins of Philosophy” (Derrida)]. Sekadar menyebut nama yang tampak dalam karya-karyanya; Goethe, Nietzsche, Leo Tolstoy, Hamka serta para insan langgeng dalam sejarah, sekecilnya diterima sebagian bangsa dunia. Mereka menginsyafi logam mata uang itu sangat bernilai gambaran sisi-sisi mata uangnya, terlihat jelas teksturnya saat ditimpa sorot cahaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Walau kritikus Mahayana mengudar perbedaannya, tetap insaf selogam mata uang pada paragraf 15-nya: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Begitulah, betapapun karya sastra berbeda dengan filsafat, dalam semua karya sastra —yang bermutu— akan selalu terkandung nilai-nilai filsafat, entah menyangkut sikap dan pandangan hidup tokoh yang digambarkannya atau tema karya sastra itu sendiri. Semakin bermutu karya sastra itu, semakin mendalam pula kandungan filsafatnya. Oleh sebab itu, dalam karya sastra yang agung, nilai-nilai filsafat yang dikandungnya akan terasa lebih mendalam dan kaya. Sangat wajar jika kemudian orang mencoba mencari nilai-nilai filsafat pada karya sastra yang agung, dan bukan pada karya sastra picisan."&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Jika volumenya saya tinggikan, tidakkah kitab-kitab suci menapas harumi gerak hayati insan, apakah bersebut agama samawi, ardhi, agama langit pula bumi. Ajarannya sangat dalam filosofi jua tinggi derajat kesastrawiannya, ruhaniah sejarah mewangi terkandung berbalut psikologi demi dijiwai pengikutnya, disamping hitungan matematis Ilahi dan lainnya. Olehnya patut disayangkan kalau ada paham menceraikan sisi-sisi mata uangnya, apalagi terang-terangan dipastikan ambruk ke lembah kejahiliaan. Sekadar permainan tak beri faedah kecuali kesenangan indrawi, jauh dari cahaya luhung kesabaran, kesahajaan, perangai keagungan. Namun sebaliknya tampak coba-coba, spontanitas nanggung, grusa-grusu membawa kaki-kaki kepincangan yang diperindah bebusana imaji, tanpa benang sutra realitas murni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Memang kedua kaum pemeluk bentukan ajaran agama tersebut, banyak kurang terima disaat lelembar ruhaniah akidahnya dikaitkan arus sungai anak filsafat, sastra dan lainnya. Setidaknya jadi patokan, sebuah karya besar tentu bersimpan pelbagai keilmuan, serupa fitroh keuniversalan nilai terkandung di dalamnya, demi dinaya abadi menerobos hukum kausalitas yang juga menentukan corak digelarnya. Tafsiran muncul kemudian, kembangkan kuntum-kuntum kembang peradaban harum mewangi memelanting tirta embun pagi pemikiran bagi bumi-hati para insani. Ini terus berkumandang, sejauh penerusnya mampu berdialog dengan jaman dilakonkan. Sedangkan karya pincang, picisan, kurang bersimpan pengetahuan, hanya kelangenan, iseng sekadar sugesti akal-akalan, dapat dipastikan terlempar ke jurang kekelaman, buntu sehawa desas-desus mengumbar senang tanpa kumandang kehakikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;‎*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Catatan di atas saya tinggal beberapa hari, maka agak sulit melanjutkan. Demi menyambung secara mencari tertanda, saya bercerita pengalaman malam kemarin, kehendaknya mengikat benang kemungkinan menjelma sambungan rahmat perolehan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Seperti biasa saya jalan menuju rumah saudara di sebrang desa, kerap berpapasan orang gila (balutan fisiknya begitu). Yang membuat senang bersisipan dengannya kemarin, langkahnya dipercepat, tidak sebiasanya lamban, malahan kadang jalan sepersenti jua berhenti saat menjumpai. Terus terang seraya ada magnetik tiap bertemu, terpantul dari sikapnya dalam jiwa saya sejenis teguran, bahasa tanda harus dicermati dalam. Meski tak saling kenal, saya yakin ia pun penasaran dengan bobot sama, pula soal pemikiran seakan telah paham tindak prilaku saya sehari-hari walau jarang bertatapan muka, sewujud sederhana dapat disebut guru spiritual. Memang saya kerap berpapasan orang gila dan ia istimewah, seolah peroleh pencerah meski tak saling sapa. Entah ada ikatan energi apa, mungkin bisa dimaknai kekuatan ‘bahasa diam’, yang pesonakan mata dan telinga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Dengan tubuh agak-agak saya miringkan serupa belajar dari keadaan “kekaburan arti (vagueness), kemaknagandaan, ketidak-eksplisit-an (inexplicitness), terlalu tergantung konteks (context dependence), dan menyesatkan (misleading)" kala berjalan mengamati orang itu. Mungkin IK atau orang gila termaknakan ini filosof, sosiolog, antropolog, kritikus atau sejarawan yang tengah mengalami keterlepasan, kala memadukan nilai-nilai di dalamnya hingga terbentuk pengertian berbeda. Olehnya di lelembar selanjutnya saya mencoba, tentu tak coba-coba asal-asalan, namun demi pemahaman berpijak di jalur semestinya, mengungkap kekuatan bahasa ‘diam’ dari mereka atau seorang saja, Ignas Kleden.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Setidaknya berjalan tubuh dimiringan tetap berposisi imbang kesadaran mawas, peroleh makna belum terungkap. Mungkin istilah ‘membongkar’ kurang tepat, tapi telisik membaca ulang membuka reruang penalaran lain masuk menentukan apa saja yang terbit dari uraian teks terbaca, dengan harapan menyibak ladang kemungkinan seluas-luasnya, atau ketunggalan anak sungai tersempal dari sungai besarnya. Ini bukan tak fokus, tidakkah anak-anak sungai dipastikan menuju muaranya masing-masing? Dan sempalan terjadi membentuk sejarah drajadnya kemudian hari, di sisi mengurangi bencana luapan membanjir di atas ketunggalan sungai asal; ego. Inilah arus bebidang pengetahuan sebagai fitroh nilai dikandung dalam teks itu, maka sekiranya teks melimpah ruhaniahnya, akan memantul kejayaan sepadan imbang kodrat-iradat kehadirannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Demikian bagian VII. Untuk paragraf dua dan selanjutnya dari esai IK, akan diperlakukan separagraf pertama. Jika pembaca kurang sepakat, boleh bongkar balik nan tentu saya jawab kalau umur masih bersarung badan. Dengan catatan melalui buku atau tulisan sepadan, demi media dialog mambangun wacana berlanjut, yang saya pikir lebih menantang daripada kupasan menghakimi lewat beberapa lembar merasa sudah. Oleh saya telah habis tertarik pesona, karena ‘orang-orang gila’ lebih mempesona di jalan-jalan pengetahuan hidup. Mereka penuh beraura, berdaya hipnotis nilai murni daripada kata-kata bermakna tunggal dekat superioritas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Akhirnya saya ambil ujaran lama, “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor” &lt;/i&gt;(Wirid Hidayat Jati, R. Ng. Ronggowarsito) makna bebasnya, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Manakala detikan takdir telah terpastikan, maka tiadalah yang sanggup menghentikan.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;____________________&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Keterangan Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Surat masuk facebook dari Maman S Mahayana, selepas uraian saya di atas: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;“"Hubungan Sastra dan Filsafat." Dalam perkembangan pemikiran saya, memang tak sedikit filsafat yang ditulis dalam bentuk karya sastra; atau karya sastra yang sesungguhnya filsafat. Sebutlah Bagawat Ghita, Homerus, Mahabharata, Ramayana, bahkan Javid Namah (Iqbal) dan Hayy Ibn Yazhan (Ibn Thufail), Orang Asing (Camus), tidak sedikit yang memperlakukannya sebagai karya filsafat. Perdebatan itu sampai sekarang belum selesai. Intinya: ada yang kukuh mengatakan itu karya filsafat; ada pula menempatkannya karya sastra; tetapi ada juga memasukkannya ke dalam karya filsafat sekaligus sastra, atau sastra sekaligus filsafat. Jadi, analogi pembedaan dua sisi mata uang itu dalam hubungan sastra-filsafat, sekadar hendak menegaskan, bahwa sastra-filsafat begitu erat kaitannya, sehingga tidak gampang dipisahkan. Di sinilah kelebihan sastra, sebab sastra dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Piramida Korban Manusia karya Peter L Berger, merupakan karya sosiologi yang sengaja dikemas dalam bentuk karya sastra. Sekarang Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) dijadikan bahan kuliah antropologi tentang kemiskinan strutktural. Tetralogi Pram, juga banyak digunakan sebagai bahan untuk menelusuri sejarah awal kebangkitan Nasional (Indonesia). Begitulah, posisi karya sastra yang dapat memasuki berbagai wilayah ilmu lain menyebabkan karya sastra tak jarang diperlakukan sebagai karya sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Jadi, pada akhirnya pemisahan sastra dan filsafat itu, bisa saja akan sulit dilakukan ketika kita berhadap dengan mahakarya yang di sana, filsafat dan sastra berkelindan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-2999821683066077084?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/2999821683066077084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2999821683066077084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2999821683066077084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VII kupasan keenam dari paragraf awalnya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-2451206830361216684</id><published>2011-12-26T21:53:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T18:54:21.279-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VI kupasan kelima dari paragraf awalnya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya bayangkan kelas Dr. Ignas Kleden berdalih bahwa peleburan, pembelokan, perubahan atau perombakan dari ‘bebas’ ke ‘terobos,’ semacam mengikuti hukum situasional nan ditangkap daya indrawi, seirama ungkapan filsuf berjiwa keragu-raguan kuat, John Langshaw Austin (1911 – 1960). Di sini saya menangkap pelahan, demi mencapai temuan yang bukan sekadar main-main, pula tidak asal-asalan memenuhi halaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di hadapan saya ada gelas bening berisikan air yang saya taruh pena di dalamnya. Pena itu terlihat tidak lurus alis mengalami pembengkokan, hampir serupa sulapan paling sederhana. Pun kita kerap terperdaya hadirnya sorot cahaya, yang menentukan jatuhnya bayang-bayang. Keterbatasan kemampuan dinaya tangkap menjadi alasan Austin, ialah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“kita sebetulnya tak pernah mengalami secara langsung benda-benda materi, tapi kita hanya dapat mencerapnya saja dengan data indrawi (sense data).”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memang para filsuf mengalami ribuan keraguan, bahkan hampir setiap hari mungkin. Di samping keyakinan pada temuannya, pun masih selalu terusik rasa ketakpurnaan jalan yang ditempuh. Tapi tidakkah tiap sandaran patut diuji dan hasratnya demi sedekat pengertian hakiki, agar sampai kemungkinan terbaik. Maka sokongan juga jegalan terus hadir, yang iseng menggurit terlempar dari sejarah pengetahuan, masih mending situs bersejarah dibongkar keberadaannya. Tetapi betapan banyak jaman gelap gulita tersebab sloga-sloga belum dewasa, durung matang sudah didengungkan keras, mendatangkan orang-orang tanggung mengikuti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untuk penyair mengandalkan kemampuan puitis saja, apalagi pura-pura puitis dengan tidak memaksimalkan akar-akaran nalar demi menghisap sumber mata air hayati ke jantung nafasnya, apalagi ruhaniah mampu mencahayai karyanya. Maka dapat dipastikan karya-karyanya jatuh pada hiburan, menyenangkan para kritikus yang tak berani tantangan karena mandek terpuaskan -memalukan, jika dihadapkan deretan buku-buku di perpustakaan atas keringat para penemu, yang siang malam menimbang musik jiwanya. Pelopor yang sewaktu-waktu meloloskan gagasan gemilang sedari kematangan berpijak, lalu menentukan langkah dialog tidak terbantah, kecuali dengan pengujian sama baru ditentukan medium pada gagasan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teks tanpa kehadiran, hanyalah imajinasi? Saya lanjutkan kembali setelah tertinggal catatan ini beberapa hari dengan bertumpu pertanyaan di atas. Saya ibaratkan realitas adalah pena dan air di dalam gelas itu gerak kehidupan. Pena yang terlihat bengkok sebagaimana teks hadir melambung, mengendap pun jatuh, tergantung kekuatan penulisnya menyatakan kenyataan, hingga timbul jarak membentuk paham yang dipegang Austin. Tapi tidakkah kita ketahui, sekalipun wujud teks mendiami alam fiksi, tetap berpijak realitas, sekurang-kurangnya dicipta dalam kondisi sadar, -pula berkeadaan mabuk -berlebihan. Lebih lajut, tidakkah batas sadar dan mabuk, masih bertumpu hukum, mempunyai nilai masing-masing? Nilai tersebut dapat dikategorikan realitas mendasar, sepengamatan mendalam pada kondisi pena dengan sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat IK hendak berjarak dengan SCB dari kata ‘bebas’ ke ‘terobos,’ pastilah mengalami resiko berlainan, tak nyambung, mengsle, sengaja direnggangkan sebagai tafsiran berbeda dari realitas jauh berbeda pula. Tidakkah ini manipulasi? Padahal teks sendiri secermin bentuknya menggelombang, seperti air di dalam gelas. Dan manakala dua cermin yang parasnya mengombak saling berhadapan, tidakkah makin kacau gambaran obyek yang ada di tengahnya, saat sampai di bidang cermin (teks). Olehnya, bentuk pengkajian IK tidak berlandasan untuk mencari kebenaran dari kredonya Tardji, malah kabur demi meloloskan yang diinginkan IK, sama-sama lolosnya yang digagas SCB di hadapan para kritikus lain yang memujanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pesona kerap muncul berlebihan, ketajaman pun ketumpulan lebih juga meghantarkan daya pukau. Tapi bagi selalu mawas berdialog dengan penjajakan kian hari mematang, lewat mencari pepadanan lain menguji sejauh mana daya pamor diteliti, sehingga tahu derajat sebenarnya; apakah iseng, kecerdikan atau sudah sampai. Ini jauh dari akal-akalan logis pembenaran pula mencari-cari kebenaran dalam menopang yang diunggah, namun selektif. Dan IK memulai (dari kata ‘bebas’ ke ‘terobos’) sengaja merombak yang dianggap kebablasan. Kiranya dari sana IK tak mau terjebak menuruti keinginan tanpa landasan hakiki, lalu berupaya membentuk tafsiran berbeda, tetapi bagi bermata tak jeli tersebab silau, seolah sudah tepat sasarannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seorang kawan, Zawawi Se memberikan masukan lewat kata ganti pada bagian V, tepatnya komentar singkat, mungkin perlu direnungkan: "upaya=coba-coba?" (kata ‘upaya’ itu kata di awal paragraf IK). Saya teringat perolehan bagian IV yang menyebutkan: "...kata ‘upaya,’ masih melihat gelagat bangunan SCB, sebab kata ‘upaya’ memiliki pembatas yang tidak menjatuhkan hukum pula tak menolak tegas!" Tidak menjatuhkan hukuman juga tidak menolaknya tegas, semacam itulah IK berhadapan SCB. Semakin nyatalah bangunan esainya setengah hati, ragu-ragu, jangan-jangan coba-coba; Tardji coba-coba membikin kredo, IK coba-coba mengupasnya dengan standar keilmuan dimilikinya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin wujud coba-coba terbit, lantaran desakan kondisi mentalitas SCB yang banyak kritikan waktu itu, minimal H.B. Jassin awalnya menolak puisi-puisi Sutardji dimuat di majalah Horison, dan rupanya langkah coba-coba IK karena menghormati ulang tahun SCB seperti keterangan di bawahnya: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“Esai ini berasal dari Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada Malam Puncak Pekan Presiden Penyair di TIM, Jakarta, 19 Juli 2007, untuk menghormati penyair Sutardji Calzoum Bachri 66 tahun.” &lt;/i&gt;Mau tak mau ‘coba-coba’ pula menghargai karya penyairnya. Namun tentunya kita teringat adanya makolah, "kesalahan berulang-ulang, dikupas terus-menerus, diiklankan senantiasa, dipastikan menjelma benar (membentuk takdir pembenaran tersendiri) sebab dukungan banyak lapisan," apakah sokongan kritikus sebelum generasi SCB, seangkatannya, lebih-lebih setelahnya, olehnya upaya apa saja digarap serius demi kukuhkan label menghormati perjuangannya atau istilah sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-2451206830361216684?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/2451206830361216684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_8478.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2451206830361216684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/2451206830361216684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_8478.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VI kupasan kelima dari paragraf awalnya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-4878353230520379614</id><published>2011-12-26T20:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T02:48:46.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian V kupasan keempat dari paragraf awalnya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Awal paragraf tersebut masih ingin diudar, kali ini menyoal kata ‘dan’ yang ada di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita tak lepas ‘kata penghubung,’ seruang kerjanya nafas dengan tubuh, sewaktu panca indra dan kesaksian, alat perundangan jua pelaksanaannya. Pun perihal lain bergelayut semata air anak-anak sungai beserta alirannya, dedaun bergoyang oleh tiupan bayu, rasa penasaran diberkati misteri. Para pencari ilmu bergandeng kesuntukannya, kasih sayang disambut kerinduan dalam, lelaki bercampur perempuan, wewarna saling mematangkan makna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada cahaya-gelap memberi kejelasan, tinggi rendah di atas jarak pandang, kecil-besar bertumpu kehadiran, matahari, bumi berputar di bentangan biru langit. Kecupan memberi aroma, dasarnya semua menyatu bersedekap laksana bibir pantai dicumbui gelora laut tiada jemu meremajakan alam. Gerimis, hujan, dinaungi berkah gravitasi dan kita menjelma ada karena bersama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam khasana kebahasaan, kata-kata kita miliki sungguh elastis, tentu tidak lebih berkah nilai-nilai ditanamkan para leluhur serta maknanya. Suhu drajadnya memukau bagi berkenan khusyuk menggali perbendaharaan di bawah pantulan kecantikan alam Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai suatu ketika mencipta citraan lain, penghubung tidak langsung tapi membentuk keunikan rasa pun suaranya. Misal kembang ‘Kumis Kucing’ Jawanya ‘Prabusertama,’ tanaman ‘Putri Malu’ atau alunan peribahasa yang secara tak kentara membentuk pola bernalar. Kerjanya kata penghubung / sambung, menentukan kelas tertentu di suatu bidang kajian yang ditempa. Sejenis rongga antara senar di tubuh gitar atau persinggungan, tepatnya pergeseran dialektika menambah harmoninya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Guna tak lama-lama dan pembaca suatu saat rela menganggut emas melimpah di atas. Kini saya turunkan satu kata sambung ‘dan’, yang tak menutup kemungkinan bernilai sebar ke ubun-ubun padanannya, serupa sebutir jagung di tangan filsuf Thales, bertebaran ke segenap penjuru dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘dan’ mempunyai kembaran-kembarannya ialah kata "serta, dengan, tambah, pun, pula," di samping wujud lain menyerupai, sekuat kemampuan penulis mengola dalam memakmurkan bahasa. Apalagi bidang sastra, seyogyanya keahlian penulis jadi cerminan guna menambah pamor karyanya, yang tak terikat kuat aturan tata bahasa. Dan karya sastra dari Persia dapat memberi contoh sebagai kehadiran karya-karya terbaik, yang tak kaku memakai pedoman buta, mungkin di sini kajian filsafat analitik menemui muaranya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada tiga kata ‘dan’ di paragraf awal esai IK yang berjudul "Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri." Karena jarak tulisan saya radak jauh antara kupasan II dan bagian V ini, maka saya taruh ulang agar tidak lama membuka lelembar halamanya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘dan’ yang pertama bukanlah penghubung adil seimbang, meski kehendaknya menyebandingkan, di sisi adanya indikasi menguatkan. Antara kata ‘dan’ tersebut (upaya - perjuangan) tak sepadan nilainya, dapat dibilang radak njomplang serupa sekelumit udaran di laman sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Andai kata ‘upaya’ diganti kata ‘semangat,’ tentu memiliki daya keterkaitan ampuh saling menopang, memakmurkan yang hendak digagas, di sini kembali tercium keraguan IK pada SCB. Seandainya IK memberi respon dari sesuatu keraguan menuju keyakinan, tetap dapat disangkal berikut digagalkan. Karna kata ‘semangat,’ mencerminkan kata ‘upaya’ yang lebih berlandaskan keyakinan waktu di depannya, yakni perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam beberapa hal memang bahasa pun kata “bebas” dipergunakan demi satu nilai tertentu tafsirannya di bidang masing-masing, kalau berpatokan dasar standarisasi karya atas bentuknya. Tapi usaha ini menerobos inti dari partikel terkecil untuk mengetahui sejauh mana kata-kata sebagai wakil suara terdalam atas sikap, watak penulisnya di dalam menentukan nilai yang disuguhkan, demi menjawab perihal apa saja kemungkinan dibalik terucap, terkatakan (teks).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembongkaran ini menempuh jalan hakiki seselidik fungsi ruh pada kerjanya tubuh, seperti yakin adanya Tuhan Yang Esa, meski tak pernah bermuwajaha nyata, namun melalui firman serta ciptaan-Nya. Mungkin perlu ditandaskan di sini, di pelbagai kesempatan, kala saya menggunakan kata ‘bebas’ dengan tanda petik pun tidak, bukan bermakna sebebas asap diterbangkan angin. Namun bebasnya daun berguguran menuruti hukum yang terkandung di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘semangat’ yang mendadak saya munculkan sebagai pengganti kata ‘upaya’-nya IK, ialah berlainan makna kalau menelusuri daya pantul asas kelahiran menaunginya. Hanya tidakkah perbedaan, kecondongan, kecuraman nilai berlainan, kadang membentuk pengertian lebih kukuh atau sebaliknya, tergantung konteks digapainya. Dan pengadaan saya unggah bisa dipertangjawabkan di kisaran keseluruhan makna yang dibangun IK, jikalau respek pada SCB.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘dan’ kedua sekadar pasal sambungan dari sebelumnya, kabel telephon, tali rantai, besi pengikat gerbong kereta api satu dengan lainnya. Ia digunakan demi permudah tubuhnya berbelok, ketika dihadapkan jalan rel berliku. Buah tata cara kelenturan juga penguat kehadiran bersama, yang terangkut dengan disempurnakan apa saja di kandungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini perkokoh lolosnya suatu anggapan, pernyataan. Yang muncul kemudian, nafas panjang berikhtiar mengajak pembaca menerima bayu ketinggian, di puncak pegunungan dengan realitas hawa udara berkesadaran rendah. Menarik nafasan panjang demi menggapai penerimaan jernih ataupun penyelaman ke dasar sungai bertempo lama, memperoleh kesadaran lebih tak terkira. Maka yang terjadi seolah tak tersangkal, berat rasanya menolak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya kira alunan panjang menyusup anggun itu sudah diperhitungkan masak-masak IK. Olehnya jika membaca tanpa adanya kecurigaan, kan terjeblos ke ruang penjara kemauannya. Lantas dengan kesadaran rendah dalam diri pembaca, ditanamkan rasa mengamini, inikan sanget kentara disaat menemui kata ‘dan’ bagian ketiga. Tentu saja hal-hal tidak mungkin sekalipun tetap diterima, sebab telah tersirap alunan jauh membentang kata-kata (kalimat) sedurungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Demikian sihir IK saya tangkap dalam mengurai makna kata -kalimat lewat tataran logika. Umpama ada yang tak berkenan saya bertingkah demikian, tetapi lebih condong bahwa makna kata atau kalimat ditentukan penggunaan dalam berbahasa, seperti fahamnya Ludwig Wittgenstein (1889—1951), maka kian melenceng lewar paragraf awal IK, dikala merujuk ke kredonya SCB.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3827170375495671171-4878353230520379614?l=nurelj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurelj.blogspot.com/feeds/4878353230520379614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/4878353230520379614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3827170375495671171/posts/default/4878353230520379614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurelj.blogspot.com/2011/12/membaca-kedangkalan-logika-dr-ignas_26.html' title='Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian V kupasan keempat dari paragraf awalnya) bahan mentah'/><author><name>PuJa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12960711879529592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_O4osVa8ntqo/TDC98NcrH7I/AAAAAAAAAzY/6veb7TcIPXw/S220/%5BTrilogi+Kesadaran%5D.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3827170375495671171.post-6406776890050250873</id><published>2011-12-25T22:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T04:46:20.140-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sutardji Calzoum Bachri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nurel Javissyarqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian IV, kupasan ketiga dari paragraf awalnya) bahan mentah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika pembaca ingin paragraf awal IK saya kupas mendekati ampas, bisa dibilang sebelumnya baru separuh kurang. Untuk percepat, kan dibelah di tengah atas asas ketidakmungkinan, &lt;span class="textexposedshow"&gt;barangkali keisengan nekat. Sebagaimana watak insan kerap membenarkan kekeliruannya, bertopangan meyakinkan pada saksi dan lawan bicara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya keluarkan dulu gumpalan mengendap di dada, agar mengudar dalam ketenangan meluas. Setidaknya berkurang tekanan menyesak tidak nyaman nan mungkin perasaan saya atau perasaan anda kerap meremaja, jikalau aneh dibilang tak dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita sering memandang sinis pengkritik, meski mereka menempati realitas data terbaca lain dari penglihatan lama. Serupa kita nikmati karya sastra menemukan kilau makna di masa suasana berbeda. Ini wajar, sekewajaran bangsa kita terjajah beratus tahun sebab tidak mampu mengoreksi diri, tidak ingin melihat borok sesama. Hingga penyakitnya menjalar sulit disembuhkan kecuali diamputasi, misal Timur-Timur menjadi Republik Demokratik Timor Leste atau kasus-kasus lain yang merugikan bangsa dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menengok bukunya K'tut Tantri "Revolusi di Nusa Damai" (Gunung Agung 1964), bayangan insan Indonesia banyak pemalas, mencari puas atas derita seperjuangannya. Harta penyokong kemerdekaan dibawa kabur keluar negeri berfoya-foya. Bencana korup membelah kekuatan pemerintah sehingga ompong tak berwibawa, seperti tikus-tikus pasar tidak gentar menatap kucing. Ini sekutukan jaman dan keterlambatan sering mencipta spontanitas balasan, meski belum maksimal dapat dimatangkan, jika ingin lempengan keampuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘kritik’ saya bayangkan sebatu mencelat ke jidat. Ialah bukan jatuh dari langit, tapi mencoba melawan gravitasi. Tentu seolah tak mungkin, tapi tidakkan usaha sebutir batu terbang setelah tergencet. Lencungan pencarian jejak demi ketahui sejauh mana melengking, perpindahan dari titik satu ke titik lain seperti jalan tak tertempuh sebelumnya; penjajakan realitas kesadaran lewat menebar jaring meluas, tak membentuk kebekuan menindasnya jua nasib sekitar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kritik lebih terhormat daripada penjiplak dari mentalitas pecundang yang disebut-sebut semangat mudanya. Padahal di negeri ini tumbuh subur para penulis, tapi tak pernah dianggap keberadaannya. Serupa nama-nama diserukan sudah menjadi pahlawan, meski semasa hidup sebagai bandar koruptor yang berfasilitas mewah di penjara, juga manipulasi lain segolonganan melanggengkannya, tidak lebih rasa hormat salah tempat. Sering kritikan dianggap pujian meramaikan, yang tajam dikira dengki. Lalu saya tanya, sudah siapkah merdeka?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengingat para pejuang tempo dulu siang-malam umurnya diuntit malaikat pencabut suka, tercerai keluarga demi bergabung pasukan gerilya, menjual harta-benda demi mimpi kemakmuran bangsanya. Sementara kita tak lagi ditekan waswas membahaya, lupa kucuran keringat bercampur darah. Malah mengejar mimpi tidak berlandas realita, gagasan tak berakar tradisi, malah menyeleweng berfaham lain tak membumi. Asal-asalan tidak diperbaharui daya pengalaman kala menelusuri anak sungai hayati. Kekentiran itu malah ditafsirkan lain terlihat mentereng di tingkatan tertentu seolah tidak terganggu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="textexposedshow"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya adalah jurang menganga, kelak meminta tumbal besar-besaran, jika tiada jembatan dialog mengingat, karna kesalahan perjuangan dapat disiasati, dikurangi gelagat rupa kebocorannya, selangkah pelahan menginsafi temuan bagi kemajuan. Sekecilnya keadaban dibangun kebersamaan mawas seimbangkan cakrawala nalar-kalbu membentuk pijar cahya menerangi pelosok sejati rasa, sekebiasaan berbenah sebelum melangkah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata ‘upaya’ menempati ruang-waktu, letak mendudukkan makna penting sebuah kesadaran itu konsekwensi niatan. Di hadapannya kabut, kadang memunculkan kepastian berpantul balik membentuk keyaki&lt;span class="textexposedshow"&gt;nan. Karena berada pada titik awal, meruaplah tenaga besar dibayangi hantu kegagalan. Boleh jadi separuh arti berasal ikhtiar IK dikala membuka tulisan. Sebab yang muncul pertama, kerap berasal kondisi tertentu kejiwaan penulis, dan lukisan membentang sesayap gagasan pribadinya. Atau kata ‘upaya’ peleburan kreatif yang nanti mematenkan ketentuan bagi sikap pendiriannya berkarya dan karya itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang bisa disebut menyerupai ‘upaya;’ usaha, ikhtiar, krentekan niat. Ini sering mengalami penurunan nilai, kala dihadapkan keimanan. Di balik itu mendapati dorongan kuat seimbang gelombang kes&lt;span class="textexposedshow"&gt;adaran; titik stabil menjadi santapan empuk godaan kemandekan. Atau puas sebelum mengetahui seberapa keringat menakar garam pengalaman. Kebuntuan tercermin keraguan, waswas tak berdasar pun beralasan, tapi tidak perbaiki dengan pengoreksian berani!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika jenis kata ‘upaya’ ditempatkan di muka, ia inginkan kepastian atau sudah perkirakan takdir kejatuhannya. Punya sketsa yang bisa menjerumus pada tindak&lt;span class="textexposedshow"&gt; ketidakobyektifan, oleh gangguan bayang-bayang. Tapi nilai ini dapat gagal, ketika IK telah tanak kajiannya, tentu mendapati arus pergesekan saat melayari arti ruang-waktu melingkupi. Boleh jadi yang tertera, teks mencerminkan patokan, dan pembongkaran saya, ingin tahu sejauh manakah perilaku kata dinapaskan, sehingga dapat mengambil tersurat jadi siratan takdir bagi kaca benggala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Umpama menilik unsur bunyi dalam bahasa Indonesia, kata ‘upaya’ memiliki tekanan rendah, karena adanya kata lain nadanya serupa ‘payah’ suatu gerak lemah, irama lamban, kepayahan mencapai sia-sia. &lt;span class="textexposedshow"&gt;Kenapa tidak kata ‘usaha’ atau ‘ikhtiar?’ Di mana kata ‘usaha’ jika mencari padanan bunyi dapat disandingkan kata ‘kuasa,’ dan kata ‘ikhtiar,’ peroleh padanan lain di belakannya seperti ‘tirakat.’ Maka secara ragu pun dapat ditentukan, pilihan IK di kata ‘upaya,’ masih melihat gelagat bangunan SCB, sebab kata ‘upaya’ memiliki pembatas yang tidak menjatuhkan hukum pula tak menolak tegas!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di simpul sementara, IK radak enggan menengok corak kata Tardji, tak mau beresiko tuntutan sekeengganan para kritikus membanding SCB dengan para &lt;span class="textexposedshow"&gt;tokoh dunia, tetapi tidak mensejajarkan karyanya, hanya mengguna keahliannya menguntai kata untuk berjarak yang ditulis, tentunya dimaksudkan menggiring pembaca. Saya kira buku "Raja Mantra Presiden Penyair" dapat diteliti ulang berpola demikian, agar mencapai letak kesadaran singgung realitas, bukan menjerumus keterpukauan lewat membaca secara dangkal menerima apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selanjutnya kata ‘perjuangan.’ Lengkapnya dengan pemberhentian koma, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;"Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata."&lt;/i&gt; Istilah ‘perjuangan,’ lekat pengurbanan, peribadatan, pelaksanaan sungguh sedari kemaua&lt;span class="textexposedshow"&gt;n terbesar. Di sana merentang napas usia budhi pekerti, hal-hal memaknai tertanamnya nyawa
