Tampilkan postingan dengan label Dami N. Toda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dami N. Toda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia


Nurel Javissyarqi
(kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

I
Wallahualam bissawab, setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, namun air hayati menghempaskannya. Selepas 5 April 2012, saya seakan diringkus takdir besar atau bintang yang menaungi sudah berubah letak edarnya, dan mungkin ini arah ‘terapi’ tersingkapnya Kun Fayakun. Pada periode sebelumnya, perangainya bisa dilihat di bagian XX hingga sekarang.

Jumat, 12 Oktober 2012

Bagian 22: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

 Nurel Javissyarqi
(kupasan pertama dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

I
Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang tepat, ini tidak mudah.  (Aristoteles, 384-322 SM).
***

Senin, 06 Februari 2012

Bagian 18: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

Nurel Javissyarqi
(kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina)  

I
Selalu saja saat mengawali tulisan, diri ini merasakan bergetar dan untuk mengurangi debarannya dengan kata-kata pengantar. Pada awalan kini bercerita tentang pertemuan saya dengan tiga orang gila (balutan fisiknya begitu); mereka merasuki jantung. Orang gila yang pertama sama yang sudah terceritakan di bagian VII, kali itu ia menuju ke arah barat seperti perjalanan saya, demikian juga yang kedua, hanya jarak antara yang pertama dan kedua, satu kilometeran. Yang ke tiga di kota Bojonegoro sewaktu tengah malam, dia meringkuk berlimutkan sampah plastik sebagai penghalau hawa dingin oleh rintikan hujan gerimis.

Jumat, 06 Januari 2012

Bagian 16: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

Nurel Javissyarqi
(kupasan kedua dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

I
Gugatan untuk Anugerah Sastra Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) 2006, dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000, yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun,” (yang dirombak oleh Sutardji ke dalam bahasa Indonesia dengan membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!, serta Jadi maka jadilah!”).

Bagian 14: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

Nurel Javissyarqi

Bagian 13: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

Nurel Javissyarqi
(kupasan keenam dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Mitos angka tiga belas, banyak yang mengira sebagai nomor kesialan, mungkin ada yang menganggapnya hingga ke tataran mempercayai. Sebab kini menemui bilangan ke 13, saya kan membuka selaputan penuh kalimat pada paragraf satu dan dua dari esainya IK, melalui kaca mata tiga dimensi.