Tampilkan postingan dengan label Antologi Sarang Ruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologi Sarang Ruh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Oktober 2010

[ELANG TEGALSARI]

Nafas jiwanya tumbuh mengembang
sejak matahari bertengger di dahan,
ia melewati hutan melintasi sungai
berkaca pada mata air dilaluinya.

Pepohon ia hafal bulan menerpa
musim tertera di sayap-sayapnya,
sendiri berkelana kehendak Kuasa
lelah ngapung di ketinggian cahaya.

Jauh ditempuhnya keringat dahaga
usahanya memanjat langit ia kenal
terbanglah melebihi koakan petapa,
menggetarkan punggung bukit setia.

[HARUM RUH MENUNGGU]

Derap membawa bayangan suara
dari langit merasuki kendi moyang
hening cahaya meneguk keyakinan
berayun awan menanti panggilan.

Senyuman ganjil beranjak sunyi
di awal kantuk menggejala abadi
: mimpi memburu malam berbagi
sebelum mencecap makna sendiri.

Nyala api di tengah bayu memusar
kesaksian tercuri lelap percumbuan
: wajah kekalkan daya mesra pantai
sejauh gelora melukis mata karang
diremas bulir garam selangit kelam.

Burung-burung menyulami daunan
direngkuh resah ruh silam-semilam,
tetapi niat bukan siapa menyerupai
penciuman lekat dahaga terkuasai.

Maka sisirlah rambutmu sayang
sampai pepucuk menyakitkan
serta taburkanlah kembang
bagi musim percintaan.

[MIMPI HUJAN BULAN KEMARAU]

Lewat tangkai gerimis mewangi terobati
kelopakan telaga percikan embun pagi
seharum rupa mendapat kecupan lagi.

Dan seekor elang gerilya mengintai
di cakrawala perburuan angin berita
koakan lara sedenyut nafasan perih.

Habis nyawa sedalam laut merenggut sepi
sampan kecil disambut rangkaian malam
bunga-bunga lelintang bersinar-seminar
sedapat nafas botol diayunan gelombang.

Pelayaran awan ke tengah pulau hilang
tersebab pantai dipeluk fajar kesadaran
:nyata hidup merindu sentuhan lembut
langit biru bunga tersebar di pelataran.

Sayap mengembang di lembaran angin
percikkan hati membuka jendela rumah
manakala lidah surya mengunyah sunyi.

Dicakarnya gosong mata buta
bibir keluh di ruangan tunggu
: surat-surat terhempas waktu
gugur layu memelas musim berganti,
tinta di kertas basah pudar warnanya.

[LAGU KERETA JAKARTA-JOGJA]

Jakarta-jogja jakarta-jogja
suara kereta melaju maju
menembus angin menderu waktu
dari stasiun gambir ke stasiun tugu.

Jakarta-jogja jakarta-jogja
meninggalkan mencipta rindu
dalam kereta bertemu wajah
gadis dulu pernah berjumpa.

Jakarta-jogja jakarta-jogja
melagukan jalan kereta
melintasi pepohonan
menyusuri pesawahan.

Jakarta-jogja jakarta-jogja
merdunya kalbumu setuju
menelusupi lembah pebukitan
berpelukan kembang putri malu.

Jakarta-jogja jakarta-jogja
semakin pelan teriakanmu
menyusupi hutan mengelus awan
terbenam di pegununganmu beribu.

Minggu, 18 Juli 2010

[WAKTU-WAKTUKU BERLALU]

Di dalam kamar terbuka jendela
bertumpuk sobekan kertas lusuh
penuh catatan singkat peperangan.

Hari-hari terkurung malam kelahiran
berpendar menggapai kehendak bulan
:ketinggian bukit gemintang memantul,
selentik kunci waktu memurnikan batas.

Kekupu mengepak ke mana angin pergi
sejarum jam berputar menunggu sunyi
:menyusuri tubuh suara gugusan kastil
di tempat hening raja-raja mati, debu
jantung pasir nadi menggejala abadi.

Kehausan kian tampak bekukan hati
senjakala matang cemas rasa sejati
:dentingan gerimis berat pertempuran
ditikam lelah bimbang menekan dalam.

[ALAMAT PENA]

Petunjuk menekan dahi
bercakap di ruang sunyi
memasuki telinga sepi
mendengar suara hati.

Berbincang hening malam lengang
melengking di kening mata pedang
sepercikan tinta hitam menari-nari.

Cahaya kata tercipta di lembar janji
kedipan bintang-gemintang dini hari
sejauh memandang kehadiran wengi.

Bunyi-bunyian tebing nafas curam
diaturnya dalam runduk hitungan.

Serangga berkomposisi tembang
antara jauh jarak gelisah cepat
nada merayap selubungi masa:

Renungan membelah
rambut pantulkan air,
asalnya menetes pada
decak kagum hati perigi.

[LAGU PINGGIRAN]

Senandung gerimis di jendela kaca
tubuh mengalir menggaris nasibnya
setebas membabat perubahan masa.

Memotong waktu lembar-lembar usia
tangan berlumur tinta di ruang hampa
maka keluar melepas pandangan mata
melihat pesawahan sebatas lereng senja.

Langkah kaki menyapa angin pengelana
seringan pena menarik warangka kata
mencipta tajam malam bulan bintang
sedalam warna dikenal kerap berubah.

Hasrat abadi dalam tungku cakrawala
laparnya menyelinap ke bilik sukma
tangan berkilau menyambar akasia
dahan bakal setua lolongan srigala.

Rindu cemburu lelaki dimarah bahaya
kala awan genap bertemu dada juwita
panggung tujuh samudra dihampirinya
putus sayapnya oleh kelembutan curiga.

[ASHABUL KAHFI]

Lahir meruapi nyawa bertulang
isak tangis ditiup tercipta jasad.

Mendekam rindu merawat cahaya
setiai abad sekuntum jelma bunga.

Kuasa belaian ombak laut memicu
lidah bayu pemangsa jilati karang.

Setajam embun rumput pada kaca
tanpa dikenal ke muka sandikala.

[KELELAWAR PESISIR]

Sore hari petikan daun-daun bergesek
gemuruh ombak memecah udara pasir.

Sunyi kekal angin meninggalkan cahaya
kelelawar terbang menuju pinggiran laut
menanti lampu nelayan juga gemintang.

Senandung membanting tubuh merasuki
hening. Ribuan mil serupa dipukuli resah
oleh barisan waktu berarak makin purba.

Sayap-sayap kecil dipacu ribuan masa
merayapi dinding langit ke astana goa
:
matanya meringkuk disekapan siang
sampai kembali temukan senjakala.

[PENYIHIRAN SENJA]

Mendung berjalan depan dadaku
angin pantai geraikan rambutmu,
layang-layang menari di ubun-ubun
hasrat mengendap rebah memeluk
serindu purnama penyihiran senja.

Jubah langit gemintang persembahan
cahaya menyibak dedaun pekabutan,
ranting kayu rontok di tanah gersang.

Pada telaga kering wajah tersimpan
dalam lubuk hening hati pertapaan
setatap sunyi harapan berpapasan.

Terbuka lelembar gulungan naskah:
surat putri hanya sampai pelabuhan
inginnya menggayuh jemari kekasih
nasib dirundung malang menyendiri.

Senin, 07 Juni 2010

[MENAMPUNG DANAU BALADA]

Untuk W.S. Rendra

Sampai salamku ke lembah-lembah berbaur kabut hijrah
dituntun jalanan setapak bukit tua memetik angin cahaya.

Kicauan burung kabarkan sarang biru, embun terpelanting
menepati janji kenai lantai marmer pendapa nan menyerap.

Kucuran keringat bocah bermelodi kangen halaman rumah
serta rerumputan bersalam pagi membasahi lembaran hati.

Dalam tanjakan gerimis, degup elang melintasi cakrawala
sayap-sayap perkasa selengking gayuhan kisah negeri ini:
orang-orang berduyun pada gerbang kota tertelan warna.

Tatap saja saat ragu kan diperlihatkan kasih sayang merdu
airmata ketenangan jiwa menampung danau-danau balada
dan prahara tinggalkan kelopak-kelopak tanah kan bersemi.

[GETARAN PERTEMUAN]

Getaran dada-dada pertemuan berdegup susun irama
selembut kelopak kembang menoreh lubuk senyuman.

Kisah kangen menanti awan klawu berkerlip pandang
lintang menggapai hening melepaskan tudung kelam.

Rekah bibir-bibir malam mengecup rawa-rawa timur
sekawanan bangau telusuri wewarna bayang ilalang
sebenang merajut kain sampur mematangkan tarian.

Di tungku pertunjukan matamu biru, tangkai sejulur
-julurnya Wijayakusuma, jalan berlenggokan sungai
alirkan persembahan kunang-kunang berhias taman.

Rupa nelayan beserta ikan-ikan mengarus sulur bayu
rambutmu sambut kenang kembalikan lengan menarik
hasrat muda sedekap kabut jilati daun-daun menjulang.

[HASRAT PEMBUKA]

Menghampiri mimpi semalam merindu masa semilam
ziarahi kota-kota lama, menenggak anggur kesunyian
seteguk diminum aroma wangi, telusuri kabut misteri.

Menyulami rasa ketepatan memahami musim berganti
awan bergerilya menelanjangi bulan debarkan jantung,
keheningan memanggil hati mengirisi debu pada mata.

Dentum hujan menandai pergantian waktu dikuliti tabah
peperangan lempar batu terbakar hasrat pembuka abad
susuri sungai ke muara, bertubi keresahan mengisi jiwa.

Memercik garami perjalanan purbawi berlayar menyelami
gelombang, sekuat nafasmu tarikan teman seperjuangan
:ini bukan belenggu, jelmalah dirimu. Kau tak kurang itu.

[LAPAR MENYATUKAN WAKTU]

Memanggilmu pepucuk daun terbakar
awan-gemawan melintasi pegunungan
ke lembah gelombang angin nafasmu.

Kejernihan ombak memantul wajah berseri
pandangan selami laut disentuh keagungan
kecup tebaran bintang ditarik gelap malam.

Tetangkai kumuda merekah di rawa-rawa
gerimis tinggal rindu kelopak-kelopaknya
sekuat tarikan nyawa sang pendaki abadi.

Bibir-bibir ranum kekasih tertawan purnama
: usah ragu, lapar menggairahkan waktumu.
Maukah dikau, menahan lapar bersamaku?

[UNTUK YANG MERASA]

Sampaikan salam pertiwi
lantunkan hujan purbawi,

pengisi dengar para insani
bertembang senjakala hati.

Pahatan malam bersungguh
nyala obor terangi jalan itu:
menelanjang ke altar nurani.

Tuntun gemerincing jiwa-jiwa
sedari kemabukan abad lama.

Gemerlap kota-kota lembah
dermaga dicahayai purnama
segurau gemintang angkasa.

Mentari sebar putik kembang
selautan dengar ikan perkasa.

Jangan terlena
agar bayu tak sobekkan layar

:lembar waktu rambahi rahasia
berlaksa maknawi satukan rasa.

[WARUNG KOPI DI HUTAN NGAWI II]

Di kepung hutan belantara
pepohon kering meranggas
:
tangkai kemarau rontok sudah
taburkan debu-debu memucat
di jalanan berliku pilu sunyinya.

Tiap kali tergilas roda-roda masa
daun-daun berhamburan menyala
:
menari-nari menuju pinggir kaki
berkidung-kidung sedih pertiwi.

Di sebalik mendung temaram
aku memesan segelas wedang
: manis kental panas menguap.

Seorang gadis terhempas melirik
bawakan cawan di ujung geretan:
api tersulut, jantungnya blingsatan.

Melewati jendela terbuka, kupandang
musim gugur menanti mekar bunga:
berharap hijau daun kembali di mata.

Jumat, 04 Juni 2010

[NYAI LORO KIDUL]

(Putri Lara Kadita)

Masuklah penuh kelembutan
seharum bunga sedap malam
nan dinanti di sebrang lautan.

Bayu berkabar bukit keabadian
pesisir remang sekecupan bulan
seranting kayu tinggal lamunan.

Kelepak rambut akasia terhempas
dada berbangkit bawa kalbu sunyi
menjulur berpisah Prabu Siliwangi.

Berderap kencana menggulung awan
ikuti hasrat musim semi menari-nari
menembus abad sedari silam lestari.

Gemintang bersekutu peputik ranum
tutuplah pintu agar matamu terlelap
saat bangun, mimpi dalam dekapan.

Kidung serangga langgam pelaminan
kekal penggalan hati rintihan bambu
tinggalkan nestapa ditiup kabut rindu.

[AKU DAN BURUNG-BURUNG MANYAR]

Burung-burung manyar beterbangan
bayangannya menembus pandangan
:
suaraku ditelan mendung kesunyian.

Indukku menganyam dedaun ranting
pada pucuk-pucuk bambu menjulang
:
pepuncak lain dihiasi puluhan sarang.

Aku paling mungil bermata bening
tiap melihat fajar beradu kicauan
:
diayun lentik angin menari-nari.

Meskipun sayap-sayapku kecil
dorongan mengepak nun jauh
:
tampak mereka pada cemburu.

Aku berlompatan sedari dedahan
dibimbing sorot mata kesangsian
:
getarku mencari muasal keraguan.

[NYANYIAN PANTURA]

Melaju memburu di jalanan, menderu desing waktu,
kuda-kuda besi berpacu gentayangan melintasi pilu.

Bara jiwa melindas debu, runcingkan garam keringat,
pengabnya awan gerilya terhempas desahan senyap.

Lewati hutan pohon trembesi, mahoni, jati dan randu
daunnya bersayap pantai, pucuknya disegarkan bayu.

Batasan setubuh rindu, semak belukar kaktus meliar
:kembang kecurigaan terbakar, kemenyan hati luka.

Gelombang laut tertiup membiru membelai pesisir
rambutmu terurai kibasan hayu berhasrat melukis.

Langit bergelora telanjang, gelegak pecahan ombak
memercik di astana sajak-sajak didekapnya bimbing
:
bergulung menindih matamu ke jambangan karang.

[POTRET DIRI]

Untuk Van Gogh

Melihatmu, jantungku berdetak keras
meronceng kalbu mencerca cemburu.

Adakah senja lamban menyimak usia?
Sedang guratanmu tanpa ragu-ragu.

Sapuan kering kuasmu lumati dunia
segetar penyangga awan berpindah.

Campuran warnamu buyarkan batu
mata kikisan duri tumpulkan belati.

Van Gogh, berilah aku kenekatan
: memotong telingamu yang satu.